Perjalanan kehidupan manusia tidaklah selalu sesuai diharapkan, terkadang seorang manusia harus melewati jalan terjal setelah beberapa waktu menikmati jalan yang landai. Hari-harinya pun penuh warna, terkadang gembira namun sewaktu-waktu ia dihampiri rasa sedih, duka dan nestapa, inilah tabiat kehidupan. Tak ada yang dapat mengelak dari kenyataan ini, Allah berfirman:
โSesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.โ (QS. Al-Balad: 4).
Di antara kesedihan yang banyak menimpa manusia adalah kondisi dimana seseorang mendapatkan sesuatu yang tidak diharapkannya.
Banyak orang yang berusaha menggapai sesuatu yang kelihatannya baik, ia mati-matian mendapatkannya dan mengorbankan apapun yang ia miliki demi terwujudnya impian itu. Tetapi tanpa disadari hal itu tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Ketika hal seperti ini terjadi, tak sedikit orang yang menyalahkan pihak lain, bahkan Allah, Rabb yang mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya pun tak luput untuk disalahkan.
Orang-orang seperti ini, hendaknya mengingat sebuah firman Allah
โBoleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.โ (QS. Al-Baqarah: 216).
Ayat ini merupakan kaidah yang agung, kaidah yang memiliki hubungan erat dengan salah satu prinsip keimanan, yaitu iman kepada qadha dan qadar. Musibah-musibah yang menimpa manusia semuanya telah dicatat oleh Allah lima puluh ribu tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi. Meletakkan ayat di atas sebagai pedoman hidup akan membuat hati ini tenang, nyaman dan jauh dari keresahan. Andai kita mau kembali melihat lembaran-lembaran sejarah di dalam Al-Qurโan, membuka mata tuk mengamati realita yang ada, niscaya kita akan menemukan pelajaran-pelajaran dan bukti yang sangat banyak. Bukti yang menunjukkan bahwa keputusan Allah adalah yang terbaik, di antaranya adalah:
Kisah ibunda Nabi Musa โalaihissalam yang menghanyutkan anaknya di atas laut. Lihatlah, kecemasan dan ketakutan yang luar biasa menginggapi saat mengetahui anaknya berada di tangan keluarga raja Firโaun. Tetapi, tanpa diduga tragedi itu berbuah manis di kemudian hari.
Perhatikan pula dengan seksama kisah hidup Nabi Yusuf โalaihissalam, maka kamu akan menemukan bahwa kaidah ini cukup menggambarkan drama mengharukan antara Nabi Yusuf dan sang ayah, Nabi Yaโqub โalaihimassalam.
Inti dari semua ini adalah sebagaimana yang dinyatakan oleh seorang penyair, Seseorang seharusnya berusaha sekuat tenaganya mendapatkan kebaikan Tetapi, ia tidak akan bisa menetapkan keberhasilannya.
Segala sesuatu yang terjadi pada seorang muslim dan hal tersebut tidak sesuai dari apa yang diharapkannya adalah salah satu bentuk kasih sayang-Nya. Ujian itu hadir dengan tujuan menuntut mereka menuju kesempurnaan diri dan kesempurnaan kenikmatan-Nya. Jangan buru-buru mencela musibah yang Allah berikan, yakinlah ketetapan Allah adalah yang terbaik. Allah juga berfirman:
โMungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.โ (QS. An-Nisaโ: 19).
Setiap hari kita dihadapkan pada kondisi dimana kita harus selalu mengambil keputusan untuk hidup kita sendiri. Dimulai dari bangun tidur, kita harus memutuskan apakah akan langsung bangun, atau tidur lagi.
Apakah kita memutuskan untuk membaca doa bangun tidur atau mengecek handphone kita ada notifikasi atau tidak. Setiap detik adalah pengambilan keputusan. Kadang, saya berpikir bahwa takdir sebenarnya adalah keputusan yang kita pilih sendiri. Apakah kita akan menjadi orang yang berguna dan berdaya atau tidak, itu adalah takdir yang kita pilih.
Apakah kita akan berbuat baik atau jahat, itupun sebuah pilihan dan menjadi takdir yang bisa kita pilih.
Hanya saja, banyak hati dan pikiran manusia yang terlanjur mati oleh rutinitas. Menganggap bahwa apa yang terjadi setiap detiknya adalah hal yang wajar, biasa saja, dan sudah berjalan sebagaimana mestinya. Setiap hari melakukan hal yang sama, selalu serupa. Mengulang-ulangnya tanpa sedikitpun berusaha untuk mengubahnya menjadi lebih baik, lebih efisien, atau lebih bermanfaat. Kita menganggap apa-apa yang sewajarnya, ya disikapi sewajarnya. Lantas ketika kita berhadapan pada kondisi yang tidak sesuai, kondisi yang tiba-tiba mengacaukan rutinitas kita, kondisi yang membuat apa yang tadinya biasa kita lakukan menjadi tidak bisa Kita kalang kabut. Kita menolak, tidak menerima dan bahkan memberontak dan murka pada Sang pemberi keputusan.
Biasa bangun jam 8 pagi, dipaksa bangun jam 3 pagi. Biasa tidak pernah sarapan, dipaksa sarapan. Takdir, seringkali bertindak sesederhana itu.
Hanya saja, kita tidak pernah siap. Dalam kondisi ekstrem, takdir bisa mengubah rencana hidup kita secara total. Bisa membelokkan arah hidup kita secara dratis. Kehilangan orang terkasih, orang tua, anak, Istri atau suami. Maka di saat itulah, kita mungkin baru merasakan bahwa hidup ini tidak mengalir begitu saja.
Saya menyaksikan bahwa takdir itu bekerja melampaui asumsi hidup itu sendiri. Saya pernah bercita-cita menjadi sesuatu, ternyata proses hidup kita menunjukkan jawaban yang lain.
Mungkin hari ini kita mendamba pasangan hidup yang seideal mungkin, tapi bukan tidak mungkin semuanya menjadi berbeda. Kita memilih orang yang penuh dengan rasa kasih sayang ternyata yang hadir adalah sebaliknya. Pada dasarnya kita bergerak pada perjalanan yang kita pilih.
Apa yang sedang kita lakukan pun turut mengubah jalan hidup orang lain.
Kita bergerak sekaligus digerakkan. Kita banyak tidak menyadari perubahan hidup kita karena kita terlalu sibuk dengan keinginan-keinginan. Setiap kali kita membuat keputusan, saat itulah cerita hidup kita berubah.
Kita jangan menutup diri atas semua kemungkinan. Kita jangan menutup dir atas perubahan hidup kita nanti. Kita pun tidak perlu khawatir bila apa yang kita cita ataupun dambakan tidak sesuai ekspektasi rencana yang kita buat. Karena ada alasan atas semua itu. Ada pesan yang sedang ingin disampaikan kepada kita. Kita hanya perlu menjalani dengan sebaik-baiknya apapun yang sedang kita jalani hari ini.
Tidak ada masalah yang besar karena kita memiliki Allah Yang Maha Besar.
Tidak perlu khawatir karena kita memiliki senjata terkuat untuk menjaga langkah hidup kita tetap dijalan-Nya. Doa Semua yang terjadi di dunia ini, hidup- mati, rezeki-jodoh, semua berjalan atas ketetapan Allah yang telah termaktub dalam sebuah kita yang kita kenal dengan nama Lauhul Mahfudz’. Yang demikian juga disebut dengan istilah takdir.
Yang menarik dari takdir Allah bahwasanya ia adalah suatu misteri. Suatu rahasia Allah yang tidak dapat dijangkau oleh apa dan siapa pun. Hanya Allah yang mengetahui. Dan misteri itu baru diketahui ketika ia hadir di dunia ini. Ketika ia dirasakan keberadaannya oleh makhluk Allah.
Takdir adalah misteri. Dan suatu misteri dapat kita rencanakan dengan sangat indah kejadiannya. Bukankah takdir diciptakan Allah secara misteri agar kita terus berikhtiar dan terus bertawakal? Bukankah karena takdir adalah suatu misteri maka Allah memberikan keluasaan bagi kita untuk mencitakan dan merencanakannya dengan harap yang tinggi, semangat yang membara, dan motivasi yang kuat untuk menggapainya? Sungguh karena takdir adalah suatu misteri maka tugas kita adalah mengukir perencanaan terbaik baginya dan menyerahkannya kepada Allah agar Dia mengabulkannya tanpa mengubah karunia sedikit pun.
Bukankah kematian pun dapat kita citakan bentuk dan rupanya? Mari kita tengok kisah para sahabat Rasulullah yang sangat indah merangkai kematiannya dengan kedudukan yang tertinggi. Pasca perang, sungguh bermakna untaian kata seorang sahabat yang menolak harta rampasan perang dan berkata, “Tidak Ya Rasulullah, bukan untuk ini. Aku berperang agar ini.” la menunjuk satu titik di nadi lehernya. Kemudian Rasulullah berkata, “Jika dia jujur kepada Allah, maka ia akan mendapatkannya.” Dan ternyata benar, di perang berikutnya sang sahabat mendapatkan apa yang dicitakannya. Sebuah anak panah menancap tepat di titik yang dulu dia tunjuk dengan jarinya.
Suatu kesempatan Hafshah radhiyallahu anha kaget mendengar doa sang ayah yang meminta agar AIlah menggugurkannya di Tanah Nabi Allah.
Itulah doa yang diucapkan oleh Amirul Mukminin Umar bin Khathab. Yang membuat kagetnya Hafshah adalah bukan karena doa sang ayah yang berkeinginan untuk syahid di jalan Allah, namun mengapa sang ayah ingin syahid di Madinah, di mihrab Rasulullah, bukan di medan jihad seperti Syam, Persia, Romawi, dan lain-lain? Apakah ini berarti musuh Allah akan kembali menyerang tanah yang menjadi saksi tinta sejarah perjuangan Rasulullah dan sahabat untuk mengangkat bendera Allah? Dengan lembut Umar berkata, “Wahai putriku, sesungguhnya Allah Maha Kuasa untuk mengabulkan permohonan hambaNya tanpa mengubah karuniaNya bagi yang lain.” Dan doa Umar diijabah Allah, Dia benar-benar syahid di mihrab Rasulullah dengan tikaman Abu Lu’Lu, pendendam besar Islam dari Persia.
Begitu indah uraian kata yang disusun oleh Salim A. Fillah, “Jika kematian yang begitu agung bisa digambar dengan gamblang dalam benak dan mernjadi cita nyata; tentu kehidupan juga berhak diperlakukan sama. la harus disi dengan cita-cita. la harus tersusun atas rencana- rencana”
Dan suatu hal yang pasti adalah bahwa rencana Allah selalu jauh lebih indah dari prasangka hambaNya. Maka, hadirkanlah cita dan ukiran perencanaan terbaik atas misteri takdir Allah terhadap kita. Buatlah rencana-rencana yang bernilai tinggi. Mari rencanakan untuk menjangkau sesuatu yang tak terjangkau dan biarlah Allah yang menjangkaunya untuk kita.
Tidak ada yang mustahil. Semua tersusun rapi dengan perencanaan yang besar dan matang, maka yang hadir adalah keniscayaan. Keniscayaan untuk menerima kenyataan hadirnya cita tersebut. Gandengkan perencanaan kita dengan perencanaan Allah. Jangan pernah mensugesti diri bahwa semuanya adalah takdir Allah yang harus dijalani tanpa ada usaha nyata dari diri. Dan jika takdir Allah berbicara lain, maka ambillah ia dengan bentuk penerimaan terbaik, yakni keikhlasan. Karena Allah pasti memiliki rencana lain atas perencanaan kita. Dan teruslah berdoa agar Allah selalu mengaruniai kita dengan pribadi yang tiada pernah putus asa dari kasihNya, selalu berharap terbaik dariNya, dan agar berani bercita-cita serta merencanakan hidup yang indah dengan orang-orang mulia.
*************
Sumber : Majalah SEDEKAHPLUS, Edisi 47, Desember 2017
Demikian Semoga Bermamfaatโฆ
@Wallahu โalam bishowabโฆ
Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qurโan dan Sunnah












































































