Bagaimanapun keadaan seseorang, apakah dia nakal, malas, bodoh. Akan tetapi masih memiliki harapan untuk berubah menjadi lebih baik. Walaupun sering ingkar, tapi kita kadang kerap โberjanjiโ pada diri-sendiri. Berjanji pada diri-sendiri adalah salah satu spirit, motovasi bagi jiwa kita untuk berubah. Aku ingin rajin belajar tak akan malas lagi, membuat sebuah perjanjian pada diri kita sendiri.
Perlu diketahui dalam tubuh kita ada seekor singa yang berwarna putih dan seekor singa yang berwarna hitam, mengapa demikian? Perkelahian terjadi diantara mereka, ketika singa putih menang, maka terkadang kita lebih giat untuk belajar dan bekerja. Begitu sebaliknya ketika singa hitam itu yang menang, terkadang hidup kita menjadi buram. Apa maksud dari semua ini, saya cuma ingin mengingatkan kembali kepada kita bagaimana perang hati dalam menentukan setiap langkah apa yang kita akan kerjakan.
Hati, tak satu orangpun yang tak mengenal hal ini. Akan tetapi, apakah kita tahu perang hati dalam kehidupan kita, dan bagaimana hati melawan musuh-musuhnya dalam diri kita? Perubahan akan terjadi pada diri kita, ketika hati itu telah melawan musuh yang ada pada diri kita yang bernama โhawa nafsuโ. Orang yang diperbudak dengan hawa nafsunya maka lihatlah kehidupan mereka. Ketika hati tidak lagi diberikan kesempatan untuk muncul dimuara untuk memberikan cahaya ditengah kegelapan. Ketika akal dan hawa nafsu menguasai diri kita, maka tidak ada lagi ketenangan dalam hidup kita.
Hidup tanpa sebuah perubahan itu adalah sebuah kerugian, perubahan yang kita maksud adalah bukan dari masa kecil keremaja bahkan sampai dewasa. Akan tetapi perubahan yang sifatnya batiniyah, perubahan akhlakโ Maka bertambahnya umur maka seharusnya semakin baik akhlak dan perilakunya, ketaantanya kepada Allah ย semakin besar.
Seorang penuntut ilmu yang sering diibaratkan sebuah padi yang ditanam disebuah persawahan. Padi itu tumbuh dengan perjuangan, kesabaran untuk bertahan dibawa terikrnya matahari dan derasnya hujan. Akan tetapi, apakah padi ini tidak berbuah. Padi itu tetap berbuah, bahkan memberikan contoh dan teladan yang baik. Menandakan bertambahnya umur, ilmu pengetahuan, sekolah yang tinggi seharusya bisa menjadi padi tersebut, semakin berisi maka semakin menunduk, tidak menyombongkan diri atas apa yang dimilikinya.
Perubahan pada hakikatnya ada tiga. Perubahan intelektual, perubahan ini kita akan dapatkan ketika kita belajar, dari bodoh menjadi pintar. Perubahan emosional, perubahan dari segi perilaku dan sikap seseorang perkataan yang kasar menjadi lembut dll. Perubahan spiritual, perubahan ini adalah hakikat segala perubahan yang harus kita perjuangkan. Dulunya dikenal malas beribadah, tidak pernah puasa, namun diberikan hidayah oleh Allah ย untuk taat dan rajin beribadah.
Yang menjadi pertanyaan adalah siapakah yang mendatangkan perubahan itu pada diri kita, Allah ย atau Diri kita sendiri? Dan bagaimana perubahan itu bisa didapatkan? Apa sih yang melatarbelakangi kita harus berubah? Kenapa kita selalu mengalami perubahan? Setiap individu selalu mengalami proses perubahan yang ditandai adanya perkembangan ataupun penyusutan.
Seorang anak ketika mulai mempelajari sesuatu, senang sekali mencoba berulang-ulang agar dia mampu melakukan apa yang dilihatnya, yang tadinya tidak bisa menjadi bisa, yang tadinya tidak mengerti menjadi bisa mengerti. Yang tadinya tidak baik menjadi baik. Dan ternyata bergerak menuju proses perubahan itu tidaklah mudah untuk dilakukan. Pada saat kita sudah nyaman dengan kondisi tertentu enggan rasanya untuk pergi, enggan rasanya untuk berpisah, tetapi ketika dihadapkan dengan kenyataan bahwa untuk berubah kearah lebih baik kita harus memasuki arena tindakan. Kadang kadang kita harus mundur 1 langkah (sebagai ancang-ancang) jika kita ingin melesat lebih maju. Kita harus berkorban lebih besar jika kita ingin mendapatkan yang lebih besar.
Sebagai manusia yang sudah hidup bertahun-tahun, yang sering melakukan kebiasaan berulang-lang, kita tidak mudah untuk mengubah pola pikir, perasaan dan perilaku yang telah merusak diri dan telah berlangsung lama. Coba saja kita bayangkan, pada saat kita berjalan-jalan di suatu keramaian, tiba tiba kita mendengar ada orang teriak โCopeeeeeetโฆ!!!!โ, respon apa yang sampai ke otak kita? Respon setiap orang pasti berbeda-beda, biasanya respon akan muncul berdasarkan pola yang sudah terbentuk pada saat itu. Ada yang langsung memukul orang yang diteriaki copet, ada yang terdiam dan beranalisa yang mana si copet itu, biasanya kalo ibu-ibu langsung menyelamatkan tasnya didepan perutnya.
Hal ini sebagai sebuah indikator bahwa karakter individu dapat terbentuk dari didikan, binaan, kebiasaan, latihan yang dilakukan secara berulang-ulang sehingga menciptakan pondasi yang mendasari potensi dan respons tindakan kita. Kebiasaan-kebiasaan yang kita lakukan ini dapat menjadi perilaku alam bawah sadar kita yang akhirnya terbentuklah sesuatu yang dinamakan karakter atau malakah.
Kita terbentuk oleh lingkungan disekitar kita, tetapi ketika lingkungan itu lebih dominant berefek negatif, lebih baik kita berhijrah. Seperti halnya Rasulullah ย dan pengikutnya yang berhijrah dari mekah ke madinah (Yatsrib), dengan semangat juang yang tinggi, keyakinan kepada Allah ย dan juga optimis yang besar untuk menegakkan syariat dan hukum Allah ย (Islam), beliau berhijrah (mengubah) dari hal-hal yang kurang baik menuju hal yang jauh lebih baik. Pada saat di mekah, nabi dan pengikutnya diintimidasi, dianiaya bahkan mau dibunuh, tetapi di Madinah mereka sangat dihormati, dihargai, disambut dengan suka cita, dan akhirnya syariat dan hukum Islam pun berkembang sangat pesat didaerah ini bahkan sampai meluas ke Iran, Iraq, Syam dan sebagian Afrika.
Untuk berubah pribadi kita butuh kreativitas, butuh strategi, butuh pikiran dan jiwa yang totalitas. Ketika kita menyadari akan perilaku dan bahasa kita yang membuat orang tidak nyaman (contoh : marah, mengejek dll), tetapi kita tetap merasa nyaman-nyaman saja, walaupun orang lain sudah mengingatkan kita berulang-ulang. Kita tetap tidak mau berubah, malah kita ย berharap orang lain mau memahami perilaku kita, sungguhpun itu merupakan suatu malapetaka besar terhadap diri kita.
Jangan sampai kita terjebak dengan paradigma seperti itu. Ingat, bahwa apa yang kita hadapi adalah cerminan diri kita. Tentunya kitapun tidak mau orang lain berbuat demikian terhadap kita bukan?. Khilaf suatu hal yang manusiawi, tetapi ayo kita sama-sama saling mengingatkan dan mau mendengarkan nasehat benar dari orang yang benar. Penulis pun berharap selalu diingatkan, jangan sampai ketika kita sudah tidak menggubris nasihat baik dari orang lain, kita jadi harus diingatkan oleh Allah ย langsung melalui ujian-ujian. Semoga kita termasuk golongan hamba-hamba yang selalu dekat kepada-Nya.
Kita selalu berubah seperti halnya dunia yang terus bergerak dan hidup yang selalu mengalami proses. Salah satu indikator kita malas berubah dan tanpa disadari adalah kita mengalami kejenuhan dan demotivasi. Tidak dapat dipungkiri ternyata niat dan motivasi yang kuat merupakan factor besar jika kita ingin berubah. Ternyata tidak hanya itu, kita juga butuh energi lebih (pengorbanan) untuk mencapai hasil yang maksimal.
“Niat adalah ukuran dalam menilai benarnya suatu perbuatan, oleh karenanya, ketika niatnya benar, maka perbuatan itu benar, dan jika niatnya buruk, maka perbuatan itu buruk.” (Umar bin Khattab radhyallahu anโhu).
***********
Bersambung, Insya Allahโฆ
Penulis: Muhammad Akbar, S.Pd
(Penulis Buku, Pendiri Madani Institute, Ceo Mujahid Dakwah Media, Aktivis Media Islam, Pembina Daar Al-Qalam dan Founder www.mujahiddakwah.com)
Sumber: Buku Meraih Kesuksesan dalam Benih Kegagalan
Demikian Semoga Bermamfaatโฆ
@Wallahu โalam bishowabโฆ
Artikel:ย www.mujahiddakwah.comย (Menebar Dakwah dengan Al-Qurโan dan Sunnah)














































































