MUJAHIDDAKWAH.COM,ย DELI SERDANG – Deru mesin kendaraan itu akhirnya mereda di Tanjung Morawa, Deli Serdang. Kamis (25/12), Posko Utama Tanggap Darurat Bencana Laznas BMH resmi menerima kedatangan tim transisi dari Jakarta.
Wajah-wajah lelah namun puas tampak dari para relawan. Mereka baru saja menuntaskan sebuah etape panjang โmembelahโ Pulau Sumatera. Misi utamanya satu: memperkuat barisan kerelawanan untuk penanganan banjir di Aceh Tamiang.
Perjalanan ini bukan sekadar memindahkan raga dari Jakarta ke Sumatera Utara, tapi intinya semangat keimanan dan kemanusiaan. Dimulai sejak Senin (22/12), tim harus bertarung dengan durasi dan stamina hinga Kamis, 25 Januari 2025.
Kepala Humas BMH Pusat, Imam Nawawi, yang memimpin rombongan, menggambarkan perjalanan ini sebagai ujian ketahanan fisik sekaligus mental.
โBisa dibilang, kami menempuh perjalanan โtiga kali 12 jamโ, meliputi Palembang-Jambi, Jambi-Pekanbaru dan Pekanbaru-Medan. Rute ini penuh kejutan. Hanya ruas Lampung-Palembang yang ramah dengan waktu tempuh 4 jam,โ ujar Imam seraya menyeka keringat.
Selebihnya adalah tantangan. Ada rute yang memaksa tim berkendara konstan selama 12 jam, bahkan ada satu etape yang tembus hingga 17 jam perjalanan tanpa henti.
โIni satu sisi tantangan, tapi di sisi lain adalah pelajaran mahal. Bahwa mengantar kebaikan lewat jalur darat memang menuntut stamina baja dan semangat yang tak boleh padam,โ tambahnya.
Di tengah himpitan aspal panas dan lelah yang mendera, tim menemukan oasenya saat bersilaturahim ke basis-basis dakwah.

Di Jambi, mereka disambut hangat oleh Ust. Arif Abidin, sosok dai tangguh BMH setempat. Kegembiraan serupa terulang di Pekanbaru saat bertemu Ust. Suheri Abdullah. Pertemuan singkat di dua titik Pesantren Hidayatullah ini menjadi charger energi bagi tim. Doa-doa tulus dari para dai di daerah menjadi bekal paling berharga untuk melanjutkan roda kendaraan menuju utara.
Bagi Imam Nawawi, perjalanan Jakarta-Medan ini melahirkan sebuah kontemplasi mendalam. Jika hari ini perjalanan dengan kendaraan modern saja terasa begitu berat dan melelahkan, bagaimana dengan para perintis dakwah dahulu?
โAda hikmah besar yang kami rasakan. Sekarang saja perjalanan ke Sumatera terbilang panjang dan melelahkan. Terbayang betapa hebat dan luar biasanya para dai senior dahulu,โ renung Imam.
Ia membayangkan masa-masa awal perintisan pesantren di sepanjang titik Sumatera, di mana akses dan fasilitas belum secepat hari ini.
โSungguh, napas perjuangan mereka sangat luar biasa,โ pungkasnya.
Kini, dengan lelah yang telah diletakkan, tim BMH bersiap untuk tugas sebenarnya: menyalurkan amanah kebaikan bagi penyintas banjir di Aceh Tamiang. Perjalanan panjang telah tuntas, namun aksi nyata baru saja dimulai.
Laporan: Humas BMH
















































































