MUJAHIDDAKWAH.COM, BONE – Kejuaraan Karate yang diselenggarakan oleh Federasi Olahraga Karatedo Indonesia (FORKI) Bone pada 6-8 September 2024 di Gedung Pemuda, Kabupaten Bone, bukan hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga sebuah momen kebanggaan dan refleksi bagi Pesantren Tahfidz Ibnu Abbas dibawah naungan Yayasan Ibnu Qayyim Wahdah Islamiyah Bone.
Dengan dihadiri oleh 312 atlet dari 15 tim dan 8 perguruan, kejuaraan ini menunjukkan betapa seriusnya komunitas karatedo dalam mengembangkan bakat dan prestasi di tingkat lokal.
Santri Pesantren Tahfidz Ibnu Abbas tampil memukau dengan meraih sejumlah posisi bergengsi. Kemenangan M. Tri Fauzan di kelas Under 21 -55 Kg putra dan Dhirga Dwi Putra di kelas Kadet -63 Kg adalah bukti nyata dari dedikasi yang ditanamkan oleh pelatih dan pembina mereka. Juara dua Muh Zafran di Pemula Kumite +57 Kg serta Ahqam Khaidil di Kadet Kumite -63 Kg putra menunjukkan bahwa pesantren tidak hanya fokus pada sektor pendidikan keislaman saja, namun juga menjadi wadah atlet yang berbakat.
Prestasi lainnya, seperti juara tiga yang diraih oleh Al Kahfi Dalpa di kelas junior Kumite -55 Kg, Rajul Al Ghadi di Junior Kumite -61 Kg putra, Akbar Difra Asrida di Junior Kumite -68 Kg putra, Ahmad Dzaky di +68 Kg putra, Hadi Aspari di Under 21 -55 Kg putra, dan Muh Abiyyu Fadlurrahman di Pemula Kumite -52 Kg putra, menegaskan bahwa pesantren ini tidak hanya fokus pada pemenang, tetapi juga menghargai setiap usaha dan pencapaian yang diraih oleh atletnya.
Ustadz Nasaruddin, sosok yang dipanggil senpei atau pelatih karate di Pesantren Tahfidz Ibnu Abbas Wahdah Islamiyah Bone, mengungkapkan rasa syukurnya.
“Prestasi ini adalah hasil dari kedisiplinan, kesungguhan, dan doa yang terus menerus dari para santri dan pembina. Penekanan pada kedisiplinan dalam latihan dan kesungguhan dalam berlatih adalah kunci utama dalam meraih hasil terbaik. Selain itu, dukungan dan ridho dari pembina memberikan dorongan yang sangat berharga,” ujarnya.
Namun, yang patut dicatat adalah bahwa meskipun banyak medali yang telah diraih, ada juga atlet yang belum berhasil mendapatkan podium. Ini bukanlah akhir dari perjuangan mereka, melainkan sebuah motivasi untuk terus berlatih dan belajar.
“Ini sebuah kebanggaan yang harus terus kami syukuri, adapun atlet kami yang belum mendapatkan medali Insya Allah kami akan terus berlatih dan terus belajar demi meraih kembali performa terbaik atlet kami, Oshhhh,” lanjut senpei Nasar.
Kejayaan di arena kejuaraan karate ini bukan hanya tentang medali, tetapi juga tentang proses belajar, pembentukan karakter, dan kebanggaan kolektif. Pesantren Tahfidz Ibnu Abbas telah menunjukkan bahwa dengan semangat, dedikasi, dan dukungan yang kuat, impian untuk mencapai prestasi tinggi dapat menjadi kenyataan.
Laporan: Nasaruddin
Editor: Admin MDcom
















































































