Tidak Mengolok Orang Lain
Sesungguhnya kepribadian wanita Muslimah yang telah diselimuti kecintaan terhadap sifat tawadhu’ (sikap merendahkan diri), dan jauh dari sifat takabbur (sombong) tidak mungkin akan memperolok seseorang. Yang demikian itu karena petunjuk Al-Qur’an yang telah menanamkan dalam dirinya kecintaan pada sifat tawadhu’ dan benci pada takabbur adalah yang melindunginya dari memperolok wanita lain dan menghina mereka.
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, karena boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebin baik dari mereka (yang mengolok-olok). Dan, jangan pula wanita-wanita mengolok-olok wanita yang lain, karena boleh jadi mereka (yang diolok-olok) itu lebih baik dari pada mereka (yang mensolok-olok). Dan, janganlah kalian mencela diri kalian sendiri, dan janganlah kalian panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah panggilan yang buruk sesudah iman. Dan, barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim.” (Al-Hujurat: 11)
Wanita Muslimah yang aktif menyerap akhlak tawadhu’ ‘dan sopansantun, serta menjauhi kesombongan, memperolok dan menghina orang lain, karena dia selalu mengingat sabda Rasulullah yang menjelaskan bahwa
“menghina orang Muslim merupakan suatu kejahatan, Cukuplah seseorang disebut berbuat jahat dengan menghina saudaranya yang Muslim.“(HR. Muslim)
Lemah Lembut kepada Orang lain
Di antara karakter wanita adalah lemah lembut, dan itulah yang memang layak baginya. Beranjak dari hal itu, wanita disebut sebagai makhluk yang lembut.
Wanita Muslimah yang telah mereguk petunjuk agamanya lebih lembut kepada orang-orang yang berada di sekelilingnya dan halus dalam mempergauli mereka, karena kelembutan dan kehalusan merupakan karakter yang sangat disukai Allah, di mana karakter itu menjadikan pemiliknya lebih didekati dan disenangi oleh orang lain.
“Dan, tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orangyang sabardan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar p (Fushshilat: 34-35)
Banyak nash-nash yang menganjurkan kita supaya bersikap lemah lembut, dan menekankan bahwa lemah lembut itu merupakan sifat yang tinggi yang harus ditumbuh suburkan di masyarakat Islam dan dijadikan pegangan oleh setiap orang Muslim yang berada di masyarakat ini, yang menyadari hukum-hukum agamanya dan mendapat pancaran petunjuk agamanya. Cukuplah wanita Muslimah mengetahui bahwa kelembutan itu merupakan salah satu dari sifat Allah Subhanahu Wata’ala yang tinggi, Dia menghendaki supava sifat tersebut tertanam dalam diri hamba-hamba-Nya dalam setiap hal,
“Sesungguhnya Allah itu lembut, menyukai kelembutan dalam seluruh perkara.” (Muttafaq Alaih)
Lemah lembut ini merupakan sifat agung yang diberikan pahala yang besar, yang tidak diberikan kepada sifat yang lain,
“Sesungguhnya Allah lembut menyukai kelembutan, dan memberikan pada kelembutan sesuatu yang tidak diberikan pada kekasaran dan tidak diberikan kepada sifat-sifat yang lainnya.” (HR. Muslim)
Petunjuk Nabawi yang sangat luhur itu telah memperkuat sifat lemah lembut, sehingga menjadikannya sebagai perhiasan dalam segala hal, yang apabila diterapkan akan disukai oleh semua jiwa dan pandangan, dan apabila dilepaskan akan menjadikan hati dan jiwa menjauh darinya.
“Sesungguhnya kelembutan itu tidak ada pada sesuatu melainkan ia sebagai penghias, dan tidaklah kelembutan dilepas dari sesuatu melainkan ia menjadi sesuatu itu buruk.” (HR. Muslim)
Rasulullah mengajarkan kelembutan kepada kaum Muslimin dalam bermu’amalah dengan orang, dan mengarahkan mereka pada tindakan yang baik lagi indah yang sesuai dengan predikatnya sebagai seorang Muslim yang senantiasa menyeru kepada agama Allah Yang Maha Penyayang, Mahalembut terhadap hamba-hamba-Nya, meski keadaannya mengundang kemarahan.
Dari Abu Hurairah pernah berkata, “Ada seorang Badui yang kencing di masjid, lain orang-orang berdiri menghampirinya untuk memarahinya’, maka Nabi bersabda, ‘Biarkanlah dia, dan siramlah air kencingnya itu dengan satu ember air, sesungguhnya kalian diutus untuk memberi kemudahan bukan untuk menyulitkan.” (HR Bukhari)
Dengan kelembutan dan kemudahan serta toleransi, maka pintu-pinu hati akan terbuka dan manusia pun mau menerima kebenaran. Demikian sebaliknya, dengan kekerasan dan kesulitan. Beranjak dari hal tersebut, Rasulullah memberikan petunjuk mengenai hal ini,
“Berikanlah kemudahan dan jangan kalian mempersulit, berikanlah berita gembira dan janganlah kalian menakut-nakuti mereka. (Muttafaq Alaih)
Yang demikian itu, karena manusia secara alami akan merasa takut dan lari dari kekasaran dan kekerasan, dan mereka menyenangi kelembutan dan keramahan. Oleh karena itu, Allah befirman,
“Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (Ali Imran: 159)
Itu merupakan ucapan abadi sekaligus sebagai hukum yang permanen bagi setiap wanita yang berdakwah mengajak kaum wanita menuju jalan petunjuk, di mana dia harus bisa menyentuh dan masuk ke dalam hati mereka. Untuk itu dia harus menggunakan kelembutan dan keramah- tamahan. Apabila orang-orang yang diseru itu menentang dan melakukan tindakan bertolak belakang dengannya, maka dia harus menggunakan kata-kata baik dan lembut serta penuh cinta kasih agar bisa menyentuh jiwa mereka. Inilah yang dipesankan oleh Allah kepada Nabi Musa dan saudaranya Harun, yaitu ketika Dia nmengutus keduanya kepada penguasa lalai, Fir aun,
“Pergilah kalian berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas, Maka bicaralah kalian berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia ingot atau takut. ” (Thaha: 43-44)
Maka tidak heran, bila kelemahlembutan dalam agama ini merupakan kebaikan seluruhnya. Oleh karenanya, barangsiapa menerapkannya, maka dia akan memperoleh kebaikan seluruhnya. Barangsiapa tidak mau menerapkannya, maka diharamkanbaginya seluruh kebaikan. Hal itu telah citerangkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Jarir bin Abdullah, dimana dia menceritakan, aku pernah mendengar Rasulullah bersabda,
“Barangsiapa tidak memiliki kelemahlembutan, maka diharamkan baginya kebaikan seluruhnya. ” (HR. Muslim)
Petunjuk Nabi telah menjelaskan bahwa kebaikan akan diperoleh oleh setiap individu, keluarga dan kaum apabila mereka membudayakan kelemahlernbutan dalam kehidupan mereka. Mengenai hal itu kita dapat melihatnya dalam hadits Aisyah yang di dalamnya Rasulullah bersabda,
“Wahai Aisyah, berlemahlembutlah, sesungguhnya apabila Allah menghendaki kebaikan bagi sesuatu keluarga, Dia menunjukkan kepada mereka kelembutan. “(HR. Ahmad)
Sedangkan dalam suatu riwayat disebutkan,
“Jika Allah menghendaki suatu kebaikan bagi ahlul-bait, maka Dia masukkan ke dalam mereka kelembutan.”(HR. Al-Bazzar)
Dari Jabir, bahwa Rasulullah bersabda,
“Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi suatu kaum, maka Dia masukkan kepada mereka kelembutan. “(HR. Tirmidzi)
Kebaikan apa yang lebih agung dari akhlak yang dijadikan perhiasan manusia ini sehingga mereka dapat selamat dari api neraka? Seperti yang diberitahukan Rasulullah dalam hadits lain,
“Maukah kalian aku beritahukan tentang orang yang diharamkan masuk neraka? Atau tentang orang yang neraka haram baginya? Neraka itu haram bagi setiap orang yang akrab, yang suka memberi kemudahan, lemah lembut dan tidak bertele-tele. “
Petunjuk Nabi ini membawa manusia kepada derajat yang tinggi, di mana petunjuk ini menanamkan ahlak kelembutan pada diri mereka dan menuntut mereka supaya berlemah lembut sampai kepada binatang yang akan disembeilih. Hal itu merupakan tingkatan tertinggi yang telah berhasil dicapai oleh orang-orang bertakwa dan shaleh,
“Sesungguhnya Allah telah menetapkan kebaikan bagi segala sesuatu. Oleh karena itu, apabila kalian hendak membunuh, maka membunuhlah dengan cara yang baik. Dan, apabila kalian hendak menyembelih binatang, maka sembelihlah dengan cara yang baik. Dan, hendaklah salah seorang di antara kalian menajamkan mata pisaunya dan senangkanlah binatang sembelihannya itu.(HR.Muslim)
Saudariku, demiakianlah sikap lemah lembut yang sangat besar dampak yang diberikan kepada mereka yang menerapkannya. Salah satunya yaitu sebagai sumber kebaikan seluruhnya yang tentunya semua orang mendambahan hal ini. Semoga Allah senantiasa menghiasi diri-diri kita dengan sikap lemah lembut. Allahumma Aamiin..
**********
Penulis : Syaikh Dr. Muhammad Ali Al-Hasyimi
(Di Sadur Dari Buku Jati Diri Wanita Muslimah, h. 316-321)
Demikian Semoga Bermanfaatโฆ
@Wallahu โalam bishowabโฆ
Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qurโan dan Sunnah)













































































