Tokoh Pendidikan dalam al-Quran Luqman al-Hakim berpesan kepada anaknya: “Wahai anakku, dirikanlah shalat, dan berjuanglah untuk menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, dan bersabarlah atas apa yang menimpamu. Sesungguhnya itu termasuk perkara yang besar!”

Umat Islam adalah ummatud-da’wah, ummatur-risaalah. Mereka mendapat amanah untuk melanjutkan tugas Rasulullah saw, yaitu menegakkan tauhid, menyempurnakan akhlak, dan mewujudkan rahmatan lil-alamiin.

Dalam Khutbatul Wada’, di hadapan ribuan kaum muslimin, Rasulullah saw berkali-kali bersaksi, bahwa beliau sudah menunaikan amanah risalahnya. “Allaahumma, qad ballaghtu, Allaahumma fasyhad!” Ya Allah, sungguh aku telah sampaikan. Ya Allah, saksikanlah!

Itulah momentum serah terima amanah risalah. Begitu pentingnya masalah dakwah ini bagi keberlangsungan kehidupan umat Islam dan keselamatan umat manusia.

Dalam kitabnya, Ihya’ Ulumiddin, Imam al-Ghazali menulis bab khusus tentang “amar ma’ruf dan nahi munkar”. Begitu pentingnya aktivitas amar ma’ruf nahi munkar, sebab ini adalah kutub terbesar dalam urusan agama.

Karena misi itulah, tulis al-Ghazali, maka Allah mengutus para nabi. Jika aktivitas ‘amar ma’ruf nahi munkar’ hilang, maka syiar kenabian hilang, agama menjadi rusak, kesesatan tersebar, kebodohan akan merajelela, satu negeri akan binasa. Begitu juga umat secara keseluruhan.

Juga, Allah SWT berfirman, yang artinya: “Telah dilaknat orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa Putra Maryam. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” (QS al-Maidah: 78-79).

Kita berharap, makin banyak orang tua yang bangga anaknya dididik menjadi dai, pejuang penegak kebenaran yang professional. Mereka tidak ragu memasuki bangku kuliah dan mengambil program studi ilmu dakwah. Dengan tujuan utama: menjadi dai, menjadi pejuang untuk melanjutkan perjuangan Rasulullah saw.

Soal lapangan kerja dan penghasilan, Allah sudah menjamin: “Jika kamu menolong agama Allah, pasti Allah akan menolong kamu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS Muhammad: 7).


Demi melaksanakan tugas kenabian yang begitu mulia itu, maka umat Islam diperintahkan untuk menjadi umat terbaik, menjadi khaira ummah. (QS Ali Imran: 110). Bahkan, Nabi Muhammad saw menegaskan, bahwa mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.

Allah SWT mengingatkan kepada kita semua: “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal saleh, dan berkata: ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim!” (QS Fushshilat: 33).

Ayat al-Quran itu sangat terkenal di kalangan para dai dan mahasiswa bidang studi ilmu dakwah. Logisnya, anak-anak muslim berebut dan bangga menjadi dai. Begitu juga mereka dan orang tua mereka, harusnya bangga menjadi mahasiswa ilmu dakwah. Sebab, berdakwah dan menjadi dai adalah aktivitas paling mulia.

Pada saat yang sama, Perguruan Tinggi Islam, harus bekerja keras menjadi kampus yang profesional. Kampus terbaik yang benar-benar menanamkan iman, taqwa, akhlak mulia, dan menyiapkan lulusannya menjadi dai-dai profesional. Ia harus profesional dalam berdakwah. Ia harus memiliki ilmu dakwah yang mumpuni, dan memohon kepada Allah agar diberikan hikmah. Ia pun harus ikhlas dan mengerahkan segenap ilmu dan kemampuannya.

Pada saat yang sama, seorang dai pun harus menguasai ilmu-ilmu tertentu, untuk dia bisa hidup mandiri dan tidak bergantung kepada orang lain. Khususnya bagi kaum laki-laki yang diamanahi menjadi kepala keluarga. Karena itulah, dalam program pendidikan dai atau studi ilmu dakwah, para calon dai juga dibekali dengan profesionalitas tertentu; misalnya dibekali skill jurnalistik, Teknologi Informasi, bisnis online, pertanian mandiri, dan sebagainya.

Inilah yang selama 20 tahun dilakukan oleh STID Mohammad Natsir, kampus Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII), yang menyelenggarakan pendidikan dai secara profesional. Beberapa tahun terakhir ini, STID Mohammad Natsir, dibanjiri pendaftar sekitar 1200 orang. Yang diterima hanya sekitar 200-300 orang. Mereka diberi beasiswa penuh oleh Dewan Da’wah.

Setiap tahun, STID Mohammad Natsir meluluskan ratusan sarjana dakwah yang dikirim ke daerah-daerah, seperti ke Mentawai, Seram, NTT, Sulawesi, dan daerah-daerah perbatasan di Indonesia. Mereka harus melaksanakan program pembinaan masyarakat selama dua tahun.

Alhamdulillah, hingga kini, STID Mohammad Natsir sudah meluluskan lebih dari 600 dai. Sekitar 30 persen para sarjana dakwah itu menetap di tempat praktik dakwahnya. Ada yang menikah dengan perempuan setempat. Beberapa diantaranya, kini memimpin pondok pesantren. Puluhan diantara lulusan STID kini telah menjadi doktor dan berkiprah di tengah masyarakat dalam berbagai bidang kehidupan.

Apa yang dilakukan oleh STID Mohammad Natsir sejatinya mendahului konsep ”Kampus Merdeka” yang diterapkan pemerintah. Para mahasiswa STID Mohammad Natsir digembleng jiwa raga dan profesionalitasnya. Mereka terjun langsung ke masyarakat, untuk memecahkan masalah yang dihadapi masyarakat. Inilah model pendidikan ideal.

Kini, kita sedang memasuki era disrupsi. Ada ”empat C” yang harus dikuasai setiap mahasiswa, untuk eksis dan berperan di zaman ini. ”Empat C” itu ialah: Critical thinking, creativity, communication, dan collaboration.

Untuk itulah, STID Mohammad Natsir membuka program baru: ”Kelas Jurnalis Profesional”. Tujuannya adalah melahirkan para dai (pejuang dakwah) yang memiliki skill jurnalistik. Alhamdulillah, banyak jurnalis profesional dan dai-dai senior DDII yang siap mengajar di program ini.

Sebagai praktisi pendidikan, saya tidak ragu untuk menyatakan, bahwa ”Kelas Jurnalis Profesional” STID Mohammad Natsir ini merupakan salah satu Pendidikan Tinggi Terbaik. Karena itu, saya pun tidak ragu mendorong anak dan santri-santri saya terbaik untuk memasuki Program ini.

Saya sampaikan kepada mereka, ”Jika kalian mencari ilmu yang benar dengan sungguh-sungguh, berguru kepada guru-guru yang benar, dengan niat ikhlas dan adab yang benar, jangan takut tidak bisa cari makan. Sebab, Allah sudah menjamin kehidupan para pejuang di jalan-Nya!”

Inilah salah satu aplikasi Peta Jalan Pendidikan kita untuk melahirkan Generasi Gemilang yang – insyaAllah – akan memimpin Indonesia di masa depan! Semoga Allah SWT meridhai usaha kita. Aamin.

***********

Depok, 7 Juli 2021

Penulis: Dr. Adian Husaini
(Pendiri INSISTS, Ketua Program Doktor UIKA Bogor, Penulis Buku, Pendiri Pesantren At-Takwa Depok dan Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia)

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

Tinggalkan Balasan