KENANGAN PAHIT BEBERAPA TAHUN SILAM
Sejak adanya perjajian Oslo tahun 1993 dan Camp David II tahun 2000 silam. Yang bertujuan membuat hubungan Palestina-Israel damai-tentram. Tetap saja masalah status kepemilikan Jerussalem tidak kunjung padam.
Mari kita flashback sebentar ke tahun 1917 saat Deklarasi Balfour terjadi. Inggris memberikan hak untuk tinggal di Palestina kepada bangsa Yahudi. Nyatanya, mereka justru menjajah dan mengusir tuan rumah dari tanahnya sendiri. Sampai 14 Mei 1948, para penumpang itu malah mendirikan negara sendiri.
Saat itu Zionis baru menguasai setengah Palestina. Setengahnya lagi, disahkan oleh Perserikatan Bangsa Bangsa. Tapi tragedi berdarah itu tidak berhenti begitu saja. Tatkala perang selama 1 tahun (1948-1949) di sana. Israel menang dan mampu menguasai lebih banyak wilayah Palestina.
Tahun 1967, setelah kembali memenangkan peperangan, akhirnya Israel mampu mendapatkan 80% tanah jajahan dan hanya Jalur Ghaza dan Tepi Barat, 20% nya yang disisakan. Resolusi 242 & 338 pun segera PBB keluarkan dengan tujuan tidak mengesahkan pendudukan Israel atas wilayah yang 20 persen.
Namun, para penjajah masih belum puas berkuasa. Wilayah yang 20%, Tepi Barat khususnya, pun diminta & direbut paksa. Karena disitulah tempat Jerussalem berada yang merupakan inti dari Eretz Yizrael atau Israil Raya. Semua wilayah antara Sungai Nil sampai Eufrat cakupannya. Mulai dari Palestina, Sinai, Jordan, Syria, Lebanon, dan Turki sebagiannya.
Kerakusan untuk merebut wilayah, katanya ada landasannya yakni berdasarkan klaim sejarah dari kitab suci mereka yang kononnya menyatakan bahwa Israil Raya adalah tanah yang dijanjikan Tuhan kepada mereka.
Bagi Yahudi Radikal, siapapun yang mencoba memberikannya kepada bangsa selain Yahudi, maka nyawa taruhannya perdana menteri Israel Yitzak Rabin lah contohnya yang ditembak sampai kehilangan nyawa. Oleh salah satu perwakilan kelompok Yahudi Radikal โMeir Kahaneโ, Yigal Amir namanya.
GARA-GARA HERZL
Semua ini berawal ketika Theodore Herzl mencetuskan ide kepada bangsa Yahudi supaya mandiri dengan mendirikan negara sendiri sebagai seorang wartawan, faktor utamanya sudah Herzl pahami yakni merebaknya teriakan-teriakan anti-Yahudi khususnya ketika kasus Alfred Dreysfus mulai meninggi teori asimilasi dengan bangsa Eropa pun tidak Herzl setujui.
Lalu pada 1896, buku โDer Judenstaatโ (A Jewish State) pun ditulisnya tahun 1897, kongres Zionis pertama di Basel diadakannya. Herzl sadar, bahwa ide โgilaโ ini masih dikecam, ditolak dan tidak diterima. Oleh kawan-kawannya di Eropa karena sudah terlanjut “betah” tinggal di sana
Ia juga paham, bahwa hambatan terbesar untuk mewujudkan ide gilanya datang dari Turki Utsmani, terutama dari Sultan Abdul Hamid kedua yang saat itu mempunyai hak penuh atas tanah incaran Herzl, Palestina. Meski begitu, ia tetap bersikukuh untuk merealisasikan idenya
Demi memperlancar usahanya, berbagai lobi pun dimainkannya dari sang Sultan, beberapa pemimpin negara, sampai pengusaha kaya, ia ajak bicara bahkan, saat tahu Turki Utsmani sedang mengalami problem ekonomi luar biasa ia pun membujuk sang Sultan dengan iming-iming bahwa hutang Turki Utsmani akan ia lunasi semuanya!
Namun, Abdul Hamid II tetap menolak dengan berkata, tanah Pelastina bukan miliknya, melainkan milik umat Islam sepenuhnya, tapi apa daya, fakta sejarah memilih Herzl sebagai pemenangnya.
Dengan gerakan โsmart rebellionโ atau โclandestineโ yang diusung Herzl dan para penerusnya Khilafah Turki Utsmani pun mengalami konflik internal dan runtuh pada akhirnya.
Bisa dibilang, demi terwujudnya ide ini, Herzl harus berperan ganda mulai dari penulis skenario, sutradara, aktor utama Zionisme, sampai produsernya yang rela menggalang dana dengan kelihaian lobi-lobinya untuk menyukseskan aksinya.
Jauh sebelum itu, Herzl sudah menentukan bahwa objek sasarannya adalah Palestina. Karena, dengan menggunakan Palestina sebagai objeknya, dalil-dalil agama akan mudah digunakan dalam rangka memperkuat idenya, serta membuat masyarakat menerima dan mendapat sokongan dalam pelaksanaannya. Maka sebetulnya, Zionisme adalah gerakan sekuler yang haus kuasa yang hanya butuh negara sendiri, tanpa peduli dengan semua dalil agama, khususnya terkait klaim historis dari kitab suci mereka yang katanya menyatakan bahwa Eretz Yizrael adalah tanah yang dijanjikan Tuhan kepada mereka.
Yang menarik, adalah ketika Herzl dalam catatan hariannya. Yang ditulis tahun 1898 dan terkenal setelah kongres Zionis pertama berkata,
โSaya telah mendirikan negara Yahudi. Jika hari ini aku mengatakannya, aku akan ditertawakan oleh seluruh alam semesta. Tapi dalam waktu lima tahun, mungkin saja, dan dalam waktu lima puluh tahun pastinya, setiap orang akan menyaksikannyaโ.
Dan dalam novelnya, โAltneulandโ yang ia tulis pada 1902. Kalimat โif you will it, it is no dream,โ pun menjadi pegangannya dan benar saja, pada 14 Mei 1948 negara Israel pun berdiri dengan sombongnya. Bertepatan dengan 50 tahun 3 bulan setelah Herzl menulis catatan hariannya.
Kisah Herzl Inilah yang mesti diambil pelajaran, khususnya oleh kita meskipun jumlahnya sedikit dan ditolak oleh mayoritas manusia orang-orang Yahudi terutama Herzl, tetap punya semangat dalam jiwa.
Juga kemauan, kegigihan, dan planning dalam mewujudkannya. Maka, tidak salah jika Herzl sangat dihormati oleh sesamanya bahkan disebut sebagai โthe father of modern Zionismโ oleh para pemujanya.
Mungkin saat negara Yahudi berdiri, Herzl sudah tidak ada sebab tahun 1904, ia sudah tutup usia. Tapi, semangat dan rencana yang ia gagas, terus dilanjutkan oleh generasi-generasi sesudahnya. Hingga membuat ide yang awalnya terkesan tidak mungkin bahkan gila menjadi suatu hal yang waras dan sangat mungkin terjadi bahkan nyata.
RAMAI-RAMAI MENGUTUK ZIONISME DAN SEGALA PRAKTIKNYA
Melalui teks Pembukaan UUD 1945 pada alinea pertama, Indonesia jelas mengutuk dan mengecam tindakan Zionis atas Palestina. Roeslan Abdulgani (menteri luar negeri Indonesia periode 1956-1957) pun berkata bahwa semangat anti Zionisme telah menjiwai konferensi Asia-Africa tahun 1955 โThe Blackest Imperealismโ adalah sematan paling tepat bagi mereka.
Karena mereka tidak hanya menjajah sebagaimana tiga negara Eropa menjajah kita. Tapi juga sampai mengusir penduduk Palestina yang tidak sedarah dengan mereka. Itulah mengapa โthe Jewish Stateโ atau negara khusus orang Yahudi menjadi tujuan utama. Saat itulah rasisme sebagai ideologi khas bangsa Yahudi, terpampang begitu nyata.
Sebagaimana yang Allah firmankan dalam surat Al-Jumuโah ayat 12 bahwa orang Yahudi mengaku sebagai the choosen people atau satu-satunya bangsa pilihan Tuhan mereka karena begitu berbahayanya ideologi ini, Prof. Ismail Raji Al-Faruqi sampai berkata.
“Bahkan jika negara Yahudi hendak didirikan di bulan, ide itu tetap harus ditolak bersama,”
Sebetulnya, Majelis Umum PBB sudah mengeluarkan resolusi pada tahun 1975, bahwa Zionisme adalah bentuk rasisme dan dikecam oleh banyak negara.
Namun, kecaman itu tetap tak berarti karena kalah dengan suara 15 negara yang masuk ke dalam anggota security council (dewan keamanan) tingkat dunia. Masalahnya, lima anggota (Amerika, Rusia, China, Inggris, dan Perancis) adalah anggota tetap dan hak veto berada di tangan mereka. Jadi, meskipun 99% anggota PBB setuju untuk mengecam tindakan Israel atas Palestina, kalau salah satu negara dewan keamanan itu tidak setuju, maka kecaman itu menjadi sia-sia.
Lebih-lebih, Israel sudah โpunyaโ salah satu negara pemegang hak veto, Amerika. Maka, meskipun PBB sudah menemukan banyak pelanggaran HAM di Palestina. Selama Amerika tidak setuju, maka semua itu tidak berarti apa-apa.
Ingatlah, ketika tahun lalu dikabarkan bahwa Tepi Barat akan dicaplok secara serius saja, hampir seluruh dunia mengecam dan mengutuk tindakan bangsa diaspora. Mulai dari Rabi Yahudi yang anti Zionis, ribuan warga Palestina, Hamas dan Fatah, PBB, Liga Arab dan 25 negara Eropa (Belgia, Inggris, Estonia, Perancis, Jerman, Norwegia, Irlandia, dll), negara-negara Arab (Yordania, Mesir, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi tentunya), OKI (Organisation of Islamic Cooperation, yang terdiri dari 57 negara), Xi Jinping (Presiden China), Muhyiddin Yassin (Perdana Menteri Malaysia) Boris Johnson (Peradana Menteri Inggris), Vatikan, dan tidak lupa Indonesia lewat Kementerian Luar Negeri-nya.
Demi mengehentikan aneksasi Tepi Barat, Semuanya bersuara sekeras-kerasnya. Bahkan Hamas sudah siap perang dengan segala persenjataan yang dimilikinya, kalau rencana tersebut tetap dilaksanakan juga.
Begitu pula dengan kejadian baru-baru ini di penghujung bulan yang mulia. Berupa serangan terhadap umat Islam dan Masjid al-Aqsha secara membabi buta. Tak peduli kapan, siapa, dimana, dan sedang apa bahkan yang sedang ibadah pun dihujani bom, peluru, dan gas air mata kebengisan, kekejaman, kekejian, sampai diskriminasi, masih menghujam fisik dan jiwa umat Islam di sana.
Tentu saja mayoritas umat Islam di dunia mengecam tindakan mereka khususnya Erdogan, masyarakat Turki dan Indonesia atas dasar negara dan agama. Tapi, mereka yang menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia pun seharusnya ikut mengecam, apapun agama dan ideologinya.
Hanya mereka yang kurang akalnya dan yang tertutup hati nuraninya lah yang tega membenarkan bahkan mendukung tindakan biadab, kurang ajar, dan terkutuk di sana
APA & BAGAIMANA SIKAP KITA?
Bukan lagi saatnya kita berdiam diri menatap tragedi yang sedang dan akan menimpa Palestina dengan penuh duka dan luka.
Sakit rasanya ketika kesalahan yang sama terus berulang seperti tahun-tahun sebelumnya saatnya memberikan kontribusi semampu kita. Kalau saat ini tidak bisa lewat fisik, mari optimalkan lewat yang lainnnya. Entah lewat keilmuan, harta, ataupun doa.
Ingatlah, Herzl memulai gerakannya bukan dengan perang senjata, melainkan dengan semua keilmuan yang ia miliki sebagai seorang wartawan luar biasa. Ia yang menggagas, merencanakan, melobi, mencari dana dan pendukung, meyakinkan banyak orang, dan lain sebagainya.
Meski butuh 50 tahun 3 bulan untuk mendirikan negaranya sendiri, ia tidak pernah putus asa. Artinya, di samping tidak pernah pantang menyerah dan tak kenal lelah, ia juga sabar menanti hasil panen yang sudah ia tanam sejak lama.
Maka kalau mau lihat hasilnya, lihatlah kondisi Palestina yang saat ini penuh duka dan luka. Dan lihatlah bangsa Yahudi yang sekarang ini sedang menikmati hasil jajahannya dengan wajah tanpa dosa
Meskipun baru-baru ini TelAviv mendapat paket spesial dari al-Qassam sehingga membuatnya berduka untuk sementara
Ingatlah, masalah Palestina adalah masalah seluruh umat Islam di dunia, termasuk kita. Keimanan lah yang mempersaudarakan kita. Kita semua, termasuk Semua Muslim Palestina ibarat satu bangunan yang saling menguatkan satu dengan lainnya.
Juga ibarah satu tubuh yang sama-sama ikut merasakan suka dan duka. Maka, jangan sampai menjadi orang yang acuh dan tidak peduli segalanya.
“Barangsiapa yang bangun pagi tetapi dia tidak memikirkan kepentingan umat Islam lainnya, maka dia bukan termasuk umatku,โ sabda Nabi termulia.
************
Penulis: Fatih Madini
(Mahasiswa At-Taqwa College Depok, Penulis Buku dan Kontributor mujahiddakwah.com)
Demikian Semoga Bermamfaatโฆ
@Wallahu โalam bishowabโฆ
Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qurโan dan Sunnah)
















































































