Hari ini Ramadhan memasuki hari ke-20. Artinya kita sudah sampai pada hari yang malam-malamnya penuh kemuliaan, khususnya pada malam ganjil. Allah memotivasi kita agar di akhir Ramadhan ini kita giat beribadah. Seperti dalam pertandingan lari marathon atau MotoGP, menjelang finish para runner dan rider makin mempercepat lajunya agar berakhir menjadi pemenang.

Agar perilaku kita seperti mental para juara itu, Allah memberikan motivasi berupa malam (lailatul) qadar, di mana apabila kita beribadah di malam itu pahalanya lebih baik daripada ibadah selama 1000 bulan. Siapa tidak ingin mendapatkannya, beribadah satu malam bernilai lebih baik daripada beribadah 83 tahun 4 bulan. Namun, kapan malam yang memotivasi ibadah itu terjadi?

Paling tidak ada tiga kelompok pendapat. Kelompok pertama, yaitu yang berpendapat bahwa Allah merahasiakan kapan malam itu hadir. Yang jelas Nabi saw menyuruh kita “mencarinya” di 10 malam terakhir bulan Ramadhan, khususnya di malam-malam ganjil. Bisa malam 21 (nanti malam), malam 23, 25, 27 atau 29 Ramadhan.

Rahasia Allah merahasiakan hadirnya malam ini agar semua mukmin selama akhir Ramadhan ini tetap giat beribadah tanpa pilih-pilih malam. Sebagaimana waktu terkabulnya doa di hari Jumat, Allah merahasiakan kapan waktunya dan kita dianjurkan berdoa sepanjang waktu di hari Jumat itu.

Dirahasiakannya hadirnya malam qadar ini, menurut Fakhruddin ar-Razi, adalah bukti kasih sayang Allah kepada umat-Nya. Jika malam qadar ini diberitahu kepada manusia, bisa jadi ada orang yang melakukan maksiat pada malam itu padahal dia tahu itu saatnya malam qadar. Adalah dosa besar melakukan suatu kemaksiatan padahal ia mengetahui itu malam yang mulia.

Kedua, kelompok yang berpendapat -berdasarkan ijtihadnya, hadirnya malam kemuliaan tersebut terjadi pada hari tertentu. Sebagai contoh, Ibnu Abbas berpendapat bahwa malam qadar terjadi pada malam ke-23. Ketika ditanya Khalifah Umar bin Khatab, Ibnu Abbas menjawab, “Allah itu ganjil dan mencintai yang ganjil. Dia menciptakan tujuh langit, menjadikan bilangan hari tujuh, mensyariatkan thawaf di Baitullah tujuh putaran, menciptakan manusia melalui tujuh tahap dan memberikan rizki-Nya dalam tujuh macam.” Umar bertanya, “Bagaimana Allah menciptakan manusia melalui tujuh tahap dan menciptakan rizki-Nya dari tujuh macam? Engkau memahami apa yang tidak aku pahami.”

Kata Ibnu Abbas, “Allah menciptakan manusia dalam tujuh tahap seperti dalam surat al-Mu’minun 12-14 dan menciptakan tujuh rizki-Nya dalam surat Abasa 27-31. Maka aku berpendapat, wallahu a’lam, malam qadar terjadi pada malam ke-23 karena sisa bulan Ramadhan tinggal tujuh hari lagi.” Umar pun setuju dengan pendapat Ibnu Abbas (lihat Tafsir ad-Durul Mantsur fil Tafsir bil Ma’tsur karangan Imam Suyuthi).

Semalam saya mendengarkan penceramah kultum di masjid kompleks yang mengetengahkan -saya sebut, teori uthak uthik gathuk, walaupun di mimbar beliau menyatakan hal itu sebagai keajaiban matematika al-Quran. Sang penceramah mengatakan, dalam Surat Al-Qadar kata Lailatul Qadar disebut 3x. Sedang huruf-huruf yang membentuk kata lailatul qadar (lam, ya’, lam, ta’, alif, lam, qaf, dal, ra’) ada 9. Jadi 3×9 ada 27. Maka malam qadar jatuh pada malam ke-27. Wallahu a’lam.

Kelompok ketiga adalah yang menetapkan malam qadar terjadinya berubah-ubah setiap tahun. Para ulama berusaha meneliti pengalaman mereka dalam menemukan lailatul qadar, dan di antara ulama yang tegas mengatakan bahwa ada kaidah atau formula untuk mengetahui itu adalah Imam Abu Hamid Al-Ghazali (450 H- 505 H) dan Imam Abu Hasan as Syadzili. Bahkan dinyatakan dalam sebuah tafsir surat al-Qadr, bahwa Abu Hasan semenjak baligh selalu mendapatkan Lailatul Qadar dan menyesuai dengan kaidah ini.

Menurut Imam Al Ghazali, cara Untuk mengetahui hadirnya malam Qadar bisa dilihat dari permulaan atau malam pertama bulan Ramadan:

1. Jika hari pertama jatuh pada malam Ahad atau Rabu maka Lailatul Qadar jatuh pada malam tanggal 29 Ramadan

2. Jika malam pertama jatuh pada Senin maka Lailatul Qadar jatuh pada malam 21 Ramadan

3. Jika malam pertama jatuh pada Kamis maka Lailatul Qadar jatuh pada malam 25 Ramadan

4. Jika malam pertama jatuh pada malam Sabtu maka Lailatul Qadar jatuh pada malam 23 Ramadan

5. Jika malam pertama jatuh pada Selasa atau Jumat maka Lailatul Qadar jatuh pada malam 27 Ramadan.

Jadi, karena tahun ini Ramadhan 1442 H dimulai hari Selasa berarti, sesuai kaidah no. 5 di atas, malam qadar insya Allah jatuh pada malam 27 alias malam Ahad tanggal 9 Mei 2021. Wallahu a’lam.

Tentu yang paling pertama yang paling aman. Tapi jika kita tidak sanggup, paling tidak kita hadir beribadah di malam-malam ganjil. Dan malam itu, di mana kita merasa malam qadar hadir, ucapkan -sebagaimana nasihat Nabi saw kepada Siti Aisyah, “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni. Ya Allah, sesungguhnya Engkau Dzat Yang Maha Pemaaf dan Pemurah maka maafkanlah diriku.” (HR. Tirmidzi no. 3513 dan Ibnu Majah no. 3850)

Semoga kita semua diberikan kekuatan untuk terus beribadah di akhir Ramadhan ini dan mendapati malam kemuliaan ini dalam keadaan beribadah. Amiin.

************

Penulis: Dr. Budi Handrianto
(Sekprodi S3 Sekolah Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor dan Peneliti Senior INSISTS)

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

Tinggalkan Balasan