Rihlah, ternyata merupakan tradisi yang sangat penting dalam peradaban Islam. Jika kita bicara kebesaran peradaban Islam, maka salah satu penopangnya ialah rihlah. Rihlah bukanlah sekadar jalan-jalan seperti yang dipahami secara umum saat ini, namun lebih bermakna sebagai petualangan.

Sebagaimana rihlahnya Ibn Jubair saat terjadi Perang Salib di Syam, tentu ini bukanlah jalan-jalan. Begitu juga dengan rihlah Ibn Battuta sampai ke Srilanka lalu masuk ke perairan Selat Malaka yang mempertaruhkan fisiknya hingga nyaris mati, namun karena memiliki fisik yang kuat ia mampu bertahan. Jadi rihlah bukanlah jalan-jalan, tapi lebih tepat petualangan yang penuh tantangan.

Sebagai pengejewantahan dari misi besar peradaban Islam yang tercantum dalam firman-Nya, “Katakanlah, Jelajahlah bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan makhluk dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS al-`Ankabut: 20)

Tafsir ayat ini bukan hanya membicarakan proses penciptaan manusia. Qul siiruu fil ardh, “Katakanlah”, ini perintah Allah pada Nabi Muhammad Saw agar mengajarkan pada umatnya, “jelajahlah bumi ini!” Tujuannya untuk nadzhar; mencermati, meneliti, menjelajah, bukan sekadar cuci mata. Allah menekankan dari nadzhar ada proses lahir, bangkit, jatuhnya peradaban. Ayat ini merupakan perintah Allah untuk umat Islam menjelajahi bumi.

Banyak faktor yang memotivasi para petualang muslim melakukan penjelajahan, seperti ingin pergi haji, berdagang, tugas negara, dan lain-lain. Namun faktor utama tentu disebabkan karena ingin melakukan eksplorasi ilmu. Dan menariknya, mereka memiliki kebiasaan menuliskan hasil rihlahnya.

Bedanya, saat petualang muslim berkelana, di masanya belum ada media sehingga hanya tertuang dalam buku. Artinya eksplorasi ilmiah awalnya adalah tradisi Islam. Kita tidak akan membayangkan di masa sekarang ada orang yang berjalan sampai ratusan ribu kilometer dan sambil berjalan ia mengamati, meneliti, dan itu merupakan bagian dari rihlah dalam Islam.

Nama petualang dan karya-karyanya. Seperti, Abu al-Qasim Ibn Khardazbah, di abad 3 H/9 M, memiliki karya yang berjudul al-Masalik wa al-Mamalik yang berisi tentang geografi dan kerajaan yang dikunjunginya. Karyanya mencatat masalah pemerintahan dan keuangan serta rute perjalanan yang ia lalui, sumber-sumber daya alam di negeri tersebut, dst. Artinya saat melakukan rihlah, sekaligus ia membuat penelitian.

Selain itu, ada Abu Ishaq al-Farisi di abad ke 4 H/10 M, judul karyanya al Masalik al-Mamalik. Dari hasil penjelajahannya ia membuat teori, bahwa wilayah Islam yang luas di masa Abbasiyyah bisa dibagi menjadi 20 bagian. Dengan pertimbangan membandingkan potensi di setiap daerah seperti hasil bumi, tambang, budaya masyarakatnya dst, dan titik pusatnya ia tentukan di Hijaz.

Petualang muslim lainnya yang memberi sumbangsih karya bagi peradaban dunia ialah Al-Idrisi di abad 6 H atau 13 M. Ia berpetualang sejak usia 16 tahun. Petualangannya ke beberapa negara sampai mengukur jarak antar kota, jarak sungai dan dari hasil catatannya dibuktikan di zaman modern ini hanya sedikit melesetnya. Ia juga membuat bola peta dunia yang bahannya terbuat dari perak atas permintaan Raja Roger II, saat ia ke Sisilia, Italia. Dan setelah diteliti melesetnya hanya sedikit dari peta sekarang.

Karya hasil petualangan Al Idrisi sangatlah banyak dan yang paling terkenal ialah ensklopedianya. Ia mulai membukukan catatan perjalanannya setelah selesai berkeliling hingga 20 tahun lamanya. Cara mendokumentasikan rihlahnya Al-Idrisi sama dengan Ibn Battuta. Ibn Battuta mencatat perjalanannya setelah 40 tahun berkeliling. Dan rekamannya hanya mengandalkan daya ingatnya. Menariknya ketika karya Al Idrisi diteliti secara ilmiah di zaman sekarang, tingkat akurasinya sangat tinggi.

Dr. Husein Mu’nis, saat orang barat meneliti dan membandingkan hasil karya petualang barat dan muslim, mereka mengkritik isi tulisan Marcopolo. Marcopolo memang lebih dulu menjelajah dan kurang lebih wilayah yang dijelajahi Marcopolo sama dengan Ibn Battuta.

Namun, jika dibandingkan catatan perjalanan Marcopolo dengan Ibn Battuta, maka dapat diketahui bahwa meskipun Marcopolo mempunyai sekretaris, namun catatan penjelajahannya dari lokasi, kronologi peristiwa, dan lain-lain kurang akurat.

Berbeda dengan Ibn Battuta tingkat akurasi catatannya kuat, ia mencatat detil sekali. Misal, di daerah ini ada jenis tanaman apa saja, tanaman yang bisa menyembuhkan apa, ada jenis batu seperti apa, logam ditemukan di negara mana dan diantaranya masih ada yang misterius, artinya karya Ibn Battuta sampai sekarang masih diteliti orang barat.

Apa yang dilakukan petualang muslim itu bukan sekadar kepuasan pribadi untuk jalan-jalan, namun yang ditulis bermanfaat untuk banyak pihak, khususnya bagi pemerintahnya dalam mengelola negara. Jadi karya-karya mereka ini bukan bahan mentah tapi sudah sampai kesimpulan penting, bagaimana peradaban Islam seharusnya dibangun.

Karya para petualang muslim bukan hanya bermanfaat bagi muslim namun juga yang bukan muslim. Seperti yang disampaikan oleh Pembimbing Rihlah Peradaban Maroko-Spanyol ini, bahwa Vasco da Gama tanpa karya petualang muslim yakni Ibn Majid, ia tidak akan sampai ke Afrika. Begitu juga dengan Columbus tanpa buku petualang muslim sebelumnya, seperti karya Abu Ubayd al Bakri dan semisalnya, akan sangat sulit sampai ke Amerika.

Dan jika dicermati, karya mereka merupakan bagian dari pendekatan metodologi empirik yang tentu saja saat ini banyak diklaim bahwa baratlah yang memulainya, padahal kaum muslim telah melakukannya jauh lebih dulu sebelum barat. Hal itu bisa dibuktikan dari hasil karya para petualang muslim di atas.

Masih banyak lagi karya-karya para petualang muslim, jumlahnya sampai seratus dan belum termasuk karya yang tidak ditemukan karena jumlah petualang muslim dalam berbagai bidang sampai ratusan ribu. Dan karya-karya itu ada yang tertuang saat barat masih dalam masa kegelapan. Jadi umat Islam merupakan suplier ilmu dan barat hanya meneruskan saja.

***********

Sumber: Sirah Community

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)