Aku tidak suka membacakan kepadamu sebuah hadits dari Rasalulah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sambil berbaring.” _Said bin Musayyjib.

Ada seseorang menemui Said bin Musayyib yang sedang sakit, dia menanyakan kepada beliau perihal sebuah hadits. Waktu itu beliau sedang berbaring, maka beliau duduk dan membacakan hadits tersebut. Orang tersebut berkata, “Aku tak ingin engkau memaksakan diri.” Beliau berkata, “Aku tidak suka membacakan kepadamu sebuah hadits dari Rasulullah sambil berbaring.”

Sesungguhnya, yang termasuk memuliakan Nabi adalah dengan memuliakan sabdanya. Karena itu, manhaj tabi’in dalam mendengarkan atau membacakan firman Allah dan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah dengan benar-benar memperhatikan adab-adabnya. Walaupun membacakan hadits diperbolehkan dalam segala keadaan, tetapi jiwa mereka yang tinggi hanya menginginkan yang terbaik.

Di dalam majelis-majelis yang kita selenggarakan sering terjadi beberapa hal yang menyelisihi adab-adab kepada hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, seperti menyelanya, atau meninggikan suara, atau sibuk tidak mendengarkannya, atau duduk secara tidak sopan ketika sedang mendengarkan ilmu atau lainnya yang tidak layak dikerjakan para juru dakwah. Hal tersebut terkadang menimbulkan perasaan tidak enak bagi para pendidik dalam menyampaikan nasihat kepada orang yang tidak menjaga adab. letapi kewajiban untuk mentarbiyah mengharuskan untuk tetap mengerjakannya.

Dalam hal ini, kita mempunyai teladan dari kalangan tabi’in. Mu’ad bin Said mengatakan, “Ketika kami bersama Atha’, ada seseorang membacakan sebuah hadits namun ada yang menghalanginya. Maka Atha’ murka dan berkata, Subhanallah, akhlak apa ini? Tabiat apa ini? Demi Allah, kalau orang ini membacakan hadits dan aku tahu bahwa ini adalah darinya atau mungkin dia mendengarnya dariku maka aku akan mendengarkannya dan aku akan memperlihatkan seakan-akan aku belum pernah mendengarnya.”

Seorang tabi’in besar seperti Atha’ bin Abi Rabah tidak keberatan meluruskan penyimpangan yang terjadi sehingga setelah itu kebiasan para muridnya menjadi lurus. Mereka tercetak menjadi orang-orang yang memiliki hati yang hidup dan fitrah yang lurus.

Tatkala ada seseorang meninggikan suaranya di dekat Umar bin Abdul Aziz maka beliau berkata kepadanya, “Pelankan Suaramu, cukuplah bagi seseorang mengucapkan perkataan yang bisa dia dengar.”

Marikita mendalami pelajaran penting tentang adab terhadap hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan diam saat mendengarkannya, dari generasi yang terdidik oleh tangan para shahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam .

Di antara adab kepada hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah apa yang diajarkan oleh salah seorang dari mereka, Habib bin Abi Tsabit, ia berkata, “Termasuk baiknya akhlak seseorang adalah membacakan hadits kepada kawannya sambil tersenyum.”

Demikianlah, generasi ini adalah generasi pembangun jiwa, generasi yang terdidik dengan kesusahan dan latihan, dan terbentuk karena usaha yang sungguh-sungguh.

“Seorang hamba senantiasa dalam kebaikan selama dia mengetahui apa yang bisa merusak amalnya.” _Imam Hasan A-Bashri.

Usman bin Abi Haras mengatakan, “Setiap aku shalat, pasti setelahnya aku beristighfar kepada Allah Ta’ala atas kelalaianku di dalamnya.”

Muhammad bin Abi Raja’ Al-Qurasyi mengatakan, Ibnu Sammak berkata, “Saudaraku, simpanlah amalan-amalanmu pada dirimu, lalu celalah usahamu dengan akalmu, sebab boleh jadi dengan menganggapnya jelek, itu menyerumu untuk tidak merasa bangga dengannya. Ketahuilah bahwa keburukannya tidak sampai puncak di sisi Robb-mu maka mintalah kepada-Nya agar berkenan memberimu ampunan-Nya.”

Generasi tabi’ in sangat menyadari akan bahaya menganggap diri telah banyak beramal maka mereka mengingatkan para pengikut mereka, kemudian para pengikut mereka mengingatkan generasi setelahnya hingga perkara ini sampai kepada kita sedang kita tidak sadar terhadapnya. Imam Hasan Al-Bashri mengatakan, “Seorang hamba senantiasa dalam kebaikan selama dia mengetahui apa yang bisa merusak amalnya.”

Kita telah kehilangan kebaikan pada diri kita sehingga kita tidak sadar kalau ternyata penyakit ujub (bangga diri) telah menjalar pada diri secara perlahan-lahan. Apabila ujub telah menguasai diri maka ia akan menghilangkan amal. Termasuk tanda bangga terhadap diri sendiri adalah sebagaimana yang dikatakan Bisyr bin Harits, “Engkau menganggap banyak amalmu dan menganggap sedikit amalan orang lain.”

Hasan AI-Bashri mengajarkan kepada kita pelajaran tentang kesadaran diri dan menganggap kecil amal, beliau mengatakan, “Ketika dikatakan kepada salah seorang dari mereka, Alangkah sedikit engkau menoleh dalam shalat dan alangkah khusyuknya engkau. Dia menjawab, ‘Keponakanku, dari mana engkau mengetahui isi hatiku?”

Makin kecil suatu amal di mata pemiliknya makin kecil pengaruh nafsunya. Amal saleh itu bagaikan sinar dan cahaya. Apabila angin penyakit ujub menerpanya meski hanya satu terpaan, ia bisa berubah menjadi gelap. Karena itu, hendaklah kita memerhatikan hal ini karena orang-orang besar tidak pernah menganggap besar hal-hal yang luar bisa yang mereka kerjakan. Kita memohon kepada Allah agar berkenan menjadikan kecil amalan-amalan kita di mata kita.

Abu Saleh Al-Juddi mengatakan, “Aku shalat Ashar di samping Wahib bin Al-Wird. Selesai shalat dia berkata, ‘Ya Allah, apabila aku mengurangi sesuatu darinya atau tidak sempurna di dalamnya maka ampunilah aku’.” Abu Saleh berkata, “Seakan-akan dia telah berbuat dosa besar sehingga memohon ampun darinya.”

Seorang mukmin hendaknya selalu menganggap kecil apa yang telah dia kerjakan. “Sangat mengherankan perkara orang mukmin itu. Apabila berlebihan dalam beramal dan merasa bangga dengan apa yang telah dikerjakan maka dia menahan dirinya dan mengingatkannya akan tidak diterimanya amalan, karena salah satu syarat diterimanya amal adalah hendaklah amal tesebut ikhlas mengharap ridha Allah. Apabila malas dalam beramal dan terkena penyakit futur (hilang semangat), maka dia akan ingat kematian, terputusnya ammalan dan hilangnya peluang beramal sehingga dia bersegera untuk mengejar apa yang tertinggal. Apabila mendapati pada dirinya semangat beramal, maka dia teringat apa yang telah dikerjakan orang-orang sebelumnya yang jauh di atas apa yang telah dia kerjakan.

Demikianlah seorang mukmin dalam memerangi hawa nafsu yang selalu memerintahkan kepada kejelekan. Dia selalu berusaha memperbaikinya dan mensucikannya sehingga bisa selalu berada di atas jalan yang diperintahkan Allah Subhanahu wata’ala untuk menetapinya.”

**********

Sumber: Tarbiyah Ruhiyah Ala Tabi’in, Asyraf Hasan Thabal, hal 205-109

Demikian Semoga Bermanfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)