“Barang siapa kekayaannya ada di sakunya maka dia akan selalu miskin, dan barang siapa yang kekayaannya ada di dalam hatinya maka dia selalu kaya.” _Yahya bin Muadz

Abu Hazim pernah berkata, “Apabila kecukupanmu membuat dirimu puas, maka gaya hidupmu yang paling rendah akan membuatmu merasa cukup. Namun, apabila kecukupanmu tidak membuatmu puas maka tidak ada sesuatu pun di dunia yang biasa menjadikan dirimu puas.”

Betapa banyak orang fakir tapi kaya jiwanya, dan berapa banyak orang kaya harta tapi miskin jiwanya. Orang yang rakus ia selamanya merasa miskin meskipun memiliki harta melimpah. Oleh karena itu, yang dinamakan miskin adalah miskin hati bukan miskin harta. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

“Bukanlah kaya itu karena banyaknya harta, tetapi kaya itu adalah kekayaan hati. “ (HR. Muslim)

Maksudnya, kekayaan hakiki bukan terletak pada banyaknya harta, tetapi kekayaan hakiki adalah apabila seseorang merasa puas dengan apa yang diperoleh setelah berusaha secara maksimal, dan ridha dengan rezeki yang diberikan Allah kepadanya serta selalu yakin dengan apa yang ada di sisi Allan bukan dengan apa yang ada di tangan manusla.

Senada dengan itu, Abu Hazim mengingatkan kita, ketika dikatakan kepada beliau, “Apa harta yang engkau millki?” Beliau menjawab, “Keyakinanku kepada Allah Azza wa jalla, dan putusnya harapan dengan apa yang ada di tangan manusia”

Ada seseorang berkata kepada beliau, “Abu Hazim, bagaimana pendapatmu dengan kenaikan harga saat ini?” Beliau nmenjawab, “Apa yang membuat kalian risau? Sesungguhnya Zat yang memberi kita rezeki ketika harga murah adalah juga zat yang memberi rezeki kita ketika harga mahal.”

Orang yang diberi rezeki kepahaman dialah yang bisa melihat dengan pandangan seperti ini. Ada perbedaan yang besar antara orang yang menjulurkan lidahnya di belakang dunia untuk terus mendapatkannya, yang selalu merasa fakir. Oleh karena itu, engkau selalu melihat dia rakus memburunya meskipun memiliki bermilyar-milyar harta. Karena kerakusannya itu membuat dia selalu merasa miskin. Sangat berbeda keadaannya dengan orang yang Allah jadikan hatinya kaya karena keyakinannya kepada Allah, sehingga dunia mendatanginya dengan tunduk di bawah kedua telapak kakinya, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam

“Barang siapa akhirat menjadi keinginannya maka Allah menjadikan kekayaan di dalam hatinya dan menghimpunkan segala urusannya baginya dan dunia datang kepadanya dengan tunduk.” (HR. Tirmidzi)

Renungkan apa yang disadari oleh seorang tabi’in, Zabid Al-Ayami ketika mengatakan, “Kekayaan lebih banyak dari keuntungan dan di mana letak keuntungan dari kekayaan? Yaitu kekayaan hati.”

Banyak orang yang mendapat keuntungan dari harta, tetapi terkadang jiwanya merugi. Pernyataan tabi’in Zabid Al- Ayyami tadi juga disinggung oleh tabi’in yang lain, Muhammad bin As-Sammak, beliau mengatakan, “Hai keturunan Adam, sesungguhnya engkau pergi untuk mencari keuntungan, maka jadikan jiwamu termasuk yang engkau cari.”

Pemahaman tentang hakikat kekayaan adalah kekayaan hati, dalam pandangan generasi tabiin. Ada seseorang berkata kepada Ibrahim bin Ad-ham, “Aku berharap engkau mau menerima jubah ini sebagai hadiah dariku.” Beliau menjawab, Kalau engkau kaya aku mau menerimanya, namun kalau engkau miskin aku tidak mau menerimanya.” Dia berkata, “Aku kaya.” Beliau bertanya, “Berapa uang yang engkau miliki?” Dia menjawab, “Dua ribu (dinar).” Beliau bertanya, “Apakah engkau ingin menjadi empat ribu?” Dia menjawab, “Ya.” Maka beliau berkata, “Engkau miskin, aku tidak mau menerima (jubah) darimu.”

Sesungguhnya jiwa orang yang diajak bicara oleh Ibrahim bin Ad-ham adalah jiwa yang miskin, karena kalau jiwanya merasa puas maka akan dikenyangkan dengan rasa kaya.

Yahya bin Muadz berkata, “Barang siapa kekayaannya ada di sakunya maka dia akan selalu miskin, dan barang siapa yang kekayaannya ada di dalam hatinya maka dia selalu kaya.”

Sulaiman Al-Khawas berkata, “Aku melihat tumpukan kekayaan ada dalam tawakal, dan aku melihat tumpukan kefakiran ada dalam putus asa dari rahmat Allah. Dan orang kaya sejati adalah yang Allah tempatkan di dalam hatinya kekayaan berupa keyakinan, pengetahuan tentang-Nya berupa tawakal serta pembagian-Nya yang berupa keridhaan. Itulan orang kaya sejati meskipun sore hari dia lapar dan pagi hari dia kekurangan.”

Bpukti kekayaan jiwa mereka adalah pandangan mereka yang tidak tertuju pada dunia dan segala isinya, dan mereka Zuhud terhadapnya. Oleh karena itu, mereka ridha dengan yang sedikit. Hammad bin Salamah berkata kepada Daud At Tha’i, “Abu Sulaiman, aku telah ridha dengan sedikit dunia. Beliau berkata, “Maukah engkau aku tunjukkan orang yang ridha dengan yang lebih sedikit dari itu? Yaitu orang yang ridna dengan dunia sebagai pengganti akhirat.”

Muhammad bin Ali bin Abi Thalib mengatakan, “Barang Siapa jiwanya amat berharga baginya maka dunia tidak ada nilainya baginya.”

Lebih dari itu, mereka sangat menghormati setiap orarng yang kaya jiwanya, yaitu yang memandang dunia kecil di matanya. Muhammad bin Ali bin Husain berkata, “Aku mempunyai seorang saudara, dia agung di mataku dan yang membuatnya agung di mataku adalah karena dunia kecil di matanya.”

Keterangan di atas bukan untuk dipahami bahwa generasi ini melarang seseorang untuk memiliki harta. Sama sekali bukan. Tetapi sebagai keterangan tersebut sebagai pemahaman bahwa berapa banyak orang kaya yang kekayaannya tidak melupakan mereka pada Allah dan berapa banyak orang miskin yang kefakirannya melupakan mereka pada Allah.

Sesungguhnya para murid shahabat telah terdidik lewat tangan para guru yang memiliki harta, tetapi Allah ada di hati mereka. Mereka tidak meminta kecuali kepada-Nya, tidak merasa kaya kecuali dengan-Nya, dan tidak meminta kepada selain-Nya.

Sulaiman bin Abdul Malik menulis surat kepada Abu Hazim agar dia mengajukan kebutuhannya kepadanya, maka Abu Hazim berkata, “Tidak mungkin aku mengajukan kebutuhanku kepada orang yang tidak mampu memenuhi semua kebutuhan; sedangkan apa yang diberikan kepadaku tidak bisa membuatku cukup, dan apa yang tidak diberikan kepadaku tidak bisa membuatku ridha.”

“Suatu saat Hisyam bin Abdul Malik masuk Ka’bah. Tak diduga di dalamnya ada Salim bin Abdullah bin Umar bin Khathab, maka dia berkata, ‘Salim, mintalah kepadaku apa yang engkau butuhkan’.

‘Aku malu kepada Allah kalau meminta di dalam rumah- Nya kepada selain Allah’, jawab Salim.

Ketika Salim keluar dan Hisyam keluar mengikutinya, Hisyam berkata, “Sekarang engkau sudah keluar, mintalah kepadaku apa yang engkau butuhkan’.

‘Kebutuhan dunia atau kebutuhan akhirat?’ tanya Salim

‘Kebutuhan dunia’.

Maka Salim berkata, ‘Aku tidak memintanya kepada Yang Memilikinya. Bagaimana mungkin aku meminta kepada yang tidak memilikinya?

Wahai engkau yang meminta kepada penguasa dan lupa kepada Yang Maha Pengasih. Engkau meminta kepada yang kikir dan meninggalkan Yang Pemurah, sungguh celaka engkau. Apakah di dalam hatimu masih ada keraguan? Engkau mendatangi orang yang menutup pintunya dan menurunkan tirainya serta tidak memberi kawan-kawannya, dan meninggalkan Yang berhak diibadahi, Yang mengisi alam dengan kedermaan, dan melimpahkan karunia yang melimpah kepada makhluk-Nya.

Pemahaman ini selalu menjadi wasiat bagi para tabi’in, yang diwarisi generasi setelahnya dari generasi yang lalu, Atha mengatakan, “Thawus berkata kepadaku, Hai Atha jangan meminta kebutuhanmu kepada yang menutup pintunya darimu dan menurunkan tirainya, tetapi mintalah kepada Yang pintu-Nya selalu terbuka bagimu hingga hari kiamat. Dia memerintahkan kepadamu agar engkau berdoa kepada-Nya dan menjamin akan mengabulkan bagimu.

Sesungguhnya generasi ini telah memahami hakikat Kekayaan, dan menahan diri dari meminta kepada selain Allan. Mereka berada di atas sunah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sebagaimana sabdanya:

“Apabila engkau meminta maka mintalah kepada Allah. “ (HR.Tirmidzi)

Maka mereka meminta kepada Allah, hingga garam dalam makanan mereka sekalipun. Diriwayatkan dari Urwah bin Zubair bahwa dia melihat seseorang shalat sangat cepat. Selesai shalat beliau memanggilnya dan berkata, “Keponakanku, tidakkah engkau mempunyai keperluan kepada Allah Azza wa Jalla? Demi Allah, sesungguhnya aku meminta segala sesuatu kepada Allah dalam shalatku hingga garam sekalipun.”

Saudaraku, mulai saat ini, marilah kita mencari kekayaan yang hakiki, yaitu kekayaan hati, yang telah ditempuh oleh generasi tabi’in. Seakan-akan emas di mata mereka bagaikan debu, dan permata bagaikan kayu. Dan dunia pasti akan hancur.

**********

Sumber: Tarbiyah Ruhiyah Ala Tabi’in, Asyraf Hasan Thabal, hal 210-215

Demikian Semoga Bermanfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

Tinggalkan Balasan