Sekolah dan kampus merupakan tempat berinteraksinya para kaum intelektual. Tempat dimana banyaknya persaingan untuk mendapatkan prestasi tertinggi.
Dulu, mungkin kita pernah belajar mati-matian untuk mendapat nilai bagus agar dapat peringkat kelas, sampai-sampai kita rela bangun jam 04.00 subuh hanya untuk hafalin banyak materi, tapi hasil akhirnya, nilai teman kita masih di atas kita. Atau mungkin teman kampus kita pernah curhat kekita merasa cemburu dengan teman yang lain.
Dia melihat temannya memiliki nilai lebih tinggi darinya, sedangkan ia masih tetap dalam keadaannya. Ia merasa risih dan cemburu dengan hal tersebut, serta merasa bahwa temannya tidak pantas dengan nilai perolehan tersebut.
Bahkan bukan hanya dalam persoalan nilai, mulai dari fashion, kok baju dia lebih bagus yaa?, organisasi, kok dia bisa jadi ketua yaa? saya kan lebih berbakat, atau mungkin kok dia bisa lebih deket dengan dosen yaaa? kan saya yang lebih pintar.
Lanjut, pas selepas sekolah atau kuliah, kita mulai cari kerja, timbul lagi kecemburuan dihati. Kok gajinya lebih banyak yaa?, kok dia lebih cepat dapat kerja yaa? kan dulu di kampus saya lebih pandai dari pada dia. Mungkin banyak dari kita melihat kondisi seperti di atas atau mungkin sesekali hati kita cemburu dengan keadaan atau kondisi orang lain.
Tanpa kita sadari, hati kita sudah fokus pada orang lain, membuat hati kita iri dan sibuk cemburuin hidup orang lain. Sangat melelahkan bukan?
Keadaan hati kita yang iri terhadap orang lain adalah hal yang tidak baik. Bukan hanya sekedar tidak baik tetapi juga terlarang, karena Allah subhanahu wataโala memerintahkan kita untuk berbuat baik sesama manusia.
Iri hati adalah penyakit di dalam hati yang dapat memberi efek untuk membenci melihat kebaikan yang dimiliki orang lain, sehingga menimbulkan upaya-upaya untuk menjatuhkan orang tersebut. Allah subhanahu wataโala berfirman,
โโฆ Dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baikโ. (QS. Al-Baqarah: 195).
Selain itu, iri hati juga dapat merusak hati kita, hingga berefek pada fisik kita, bawaannya lemas dan tentunya sangat berefek terhadap aktivitas kita setiap harinya. Efeknya antara lain:
1. Yang tadinya kamu fokus belajar, fokusnya terbagi yaitu sibuk menyesali hidup, sibuk membandingkan diri dengan orang lain, jadinya hati tidak pernah tenang. Karena fokus kita terhadap iri hati, maka semakin lama membuat hidup kita tidak menjadi bahagia.
2. Tidak pernah merasa cukup dengan pencapaian karena kamu selalu ingin seperti orang lain, tidak menjadi diri sendiri.
3. Tidak menerima kegagalan, pasalnya kamu selalu membandingkan diri dengan orang lain dan ingin menjadi lebih baik dari orang yang kamu iri. Coba ingat pesan ini.
Aku tidak lebih baik dari siapapun
Tapi aku tidak akan berhenti berjuang
Karena sungguh aku tidak ingin lebih buruk
Daripada aku hari iniโฆ
Berusahalah dan kerahkan potensimu, bukan untuk menyaingi siapapun, tetapi untuk membuat dirimu lebih baik daripada hari kemarin. Bukan hanya dikalangan pelajar, iri hati sering terjadi dan menjangkiti setiap hati manusia.
Coba kita menelisik sejarah! Ingatkah kita kisah Habil dan Qabil, dua anak Nabi Adam โalaihi salam. Ketika Qabil membunuh Habil lantaran hasad (iri hati) yang ada pada dirinya. Ia tidak menerima kenyataan bahwa Habil dinikahkan dengan saudaranya yang lebih cantik jelita dibandingkan dengan wanita yang dinikahkan padanya.
Karena hasad, Qabil tidak peduli dengan apa yang dikurbankannya kepada Allah subhanahu wataโala. Ia mengurbankan hasil pertanian yang paling buruk. Sedangkan Habil mengurbankan hasil peternakan yang paling bagus. Kurban Habil pun diterima oleh Allah subhanahu wataโala karena ketakwaan yang ada pada Habil.
Karena itu pula, bertambahlah hasad Qabil, lantas ia membunuh Habil. Ya, itulah dampak hasad (iri hati). Hasad (iri hati) yang tidak dibendung dapat mengantarkan kepada maksiat-maksiat selanjutnya yang lebih besar.
Al-Qurthubi rahimahullah mengatakan, โHasad (dengki) adalah dosa yang pertama kali dilakukan di langit dan di bumi. Di langit adalah dengkinya Iblis kepada Nabi Adam โalaihi salam dan di bumi adalah dengkinya Qabil kepada Habilโ.
Oleh karena itu, berhati-hatilah ketika hatimu cemburu dan segera periksa hatimu!, berhati-hatilah terhadap penyakit iri hati. Jangan sampai kita menyepelekannya.
โDi dalam hati mereka ada penyakit, maka Allah menambah penyakit tersebut, dan mereka akan mendapatkan siksa yang pedih akibat apa yang mereka dustakanโ. (QS. Al-Baqarah: 10).
Jangan sampai bakat yang seharusnya kita fokusi yang dapat membuatmu berprestasi malah tidak ada gunanya akibat iri hati yang telah tumbuh subur di hatimu.
Maka, Check your heart!
Agar kita tidak galau lagi dengan teman kita yang kita anggap lebih baik dari pada diri kita sendiri, maka perlu kita ketahui penyebab kecemburuan di dalam hati kita dan segera carikan solusi. Jadi kawan, mari sibukkan diri kita dengan memperbaiki diri!. Rasulullah shallallahu โalaihi wa sallam bersabda,
โHindarilah dengki karena dengki itu memakan (menghancurkan) kebaikan sebagaimana api memakan (menghancurkan) kayu bakarโ. (HR. Abu Dawud).
Artikel ini adalah resensi dari Buku Melakukan yang Seharusnya Dilakukan, salah satu buku motivasi yang sangat menggugah jiwa karena menggunakan bahasa yang milenial dan mudah dipahami..
UNTUK PEMESANAN BUKU: KLIK DISINI..
**********
Penulis: Nurul Hikmah
(Penulis Buku Melakukan yang Seharusnya Dilakukan)
Demikian Semoga Bermamfaatโฆ
@Wallahu โalam bishowabโฆ
Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qurโan dan Sunnah)











































































