“Barang siapa yang memandang tinggi pada diri sendiri maka dia tidak memiliki harga sedikitpun”

Husain bin Ziyad mengatakan, “Suatu hari aku mengunjungi Fudhail bin lyadh, beliau berkata kepadaku, ‘Mungkin engkau melihat di masjid itu -yaitu masjidil haram- ada seseorang yang lebih jelek darimu, namun apabila engkau memandang bahwa dia lebih jelek darimu maka musibah besar telah menimpamu’.”

Salah satu sarana untuk mendidik jiwa di kalangan tabi’in adalah mengikis sifat bangga diri. Dengan itulah mereka mampu melukiskan kepada kita puncak ketawadhu’an. Di antara manusia ada yang menyangka bahwa drinya adalah pusat pergerakan alam ini, poros kehidupan yang seakan-akan dunia ini tidak bisa bergerak kecuali dengannya. Di antara mereka juga ada yang benar-benar telah berada di puncak ketinggian, namun diri mereka tidak pernah merasa tinggi karena mereka benar-benar mempelajari adab. Itulah pendidikan yang dijalani oleh generasi tabi’in sehingga mereka tidak pernah membanggakan diri dan justru selalu merasa banyak kekurangan.

Salah seorang dari mereka berkata, “Barang siapa yang tidak merasa ada kekurangan pada dirinya maka justru dia penuh kekurangan.” Atau, sebagaimana dikatakan oleh salah Seorang pendidik yang datang setelah mereka, “Barang siapa yang memandang tinggi pada diri sendiri maka dia tidak memiliki harga sedikit pun.”

Inilah wasiat seorang syaikh kepada muridnya yaitu agar mempelajari adab kepada diri sendiri, menganggapnya kecil, dan memiliki kekurangan sehingga menjadi kecil, namun di sisi Allah sangatlah besar dan agung. Apabila seseorang melihat dirinya mempunyai kedudukan sehingga sombong maka sesungguhnya ada penyakit yang tersembunyi telah merasuk pada dirinya, dan musibah besar telah menimpanya.

Shilah bin Asyim pernah berkata, “Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu agar Engkau menjauhkan aku dari api neraka, apakah pantas orang sepertiku ini berani meminta kepada-Mu surga?”

Sangatlah berbahaya jika penyakit ujub merasuk pada diri para dai sehingga mereka melihat kedudukan pada diri mereka, atau mereka melihat bahwa diri mereka adalah para dai kondang atau mereka adalah para guru dan yang lain adalah murid mereka. Atau mereka adalah yang benar dan yang lain sesat, atau mereka adalah ahli sujud dan rukuk sedang yang lain adalah ahli maksiat, atau mereka adalah pemburu akhirat sedang yang lain adalah pemburu dunia. Dari sinilah mereka tertimpa musibah besar sehingga jiwa mereka terkena penyakit yang tidak ada obatnya selain ampunan dan rahmat Allah, sebagaimana yang dikatakan Yahya bin Muadz, “Dosa yang membuatku sadar akan kebutuhanku kepada Allah lebih aku sukai daripada ketaatan yang membuatku bangga diri dan sombong.”

Betapa kita butuh akan kesadaran yang benar, kewaspadaan yang awas, dan kebangkitan yang membawa berkah. Dengan bekal itu kita mengusir cengkeraman kelalaian dari diri kita. Tanpa kesadaran semacam ini, kita tidak akan pernah sampai pada derajat yang tinggi.

Saleh Al-Murri mengatakan, “Ketika Mutharif bin Abdillah bin Syukhair dan Bakr bin Abdillah Al-Muzani sedang wukuf di Arafah, Mutharrif berdoa, “Ya Allah, jangan Engkau tolak doa mereka hari ini karena aku.’ Bakr berkata, “Betapa mulia tempat mereka, betapa diharapkan bila aku tidak ada di antara mereka’.”

Begitu pula salah seorang yang telah menempuh jalan yang sama mengingatkan kepada kita letak penyakit dan dari mana datang bahayanya. Ahmad bin Al-Hawari berkata, “Aku berkata kepada Abu Sulaiman Ad-Darani, ‘Sesungguhnya fulan dan fulan, keduanya tidak ada di dalam hatiku.” Dia berkata, “Sama, keduanya tidak ada di dalam hatiku. Akan tetapi, boleh jadi kita berpegang pada hatiku dan hatimu, padahal di dalam diri kita tidak ada kebaikan dan kita tidak termasuk orang-orang yang saleh.”

Yunus bin Ubaid mengatakan, “‘Sungguh, aku telah mendapati seratus cabang dari kebaikan, namun aku tidak mengetahui satu pun yang ada pada diriku.” Sungguh, orang yang mendengar perkataan ini tidak akan percaya kalau ternyata yang mengatakannya adalah dari kelompok orang-orang yang ahli ibadah, zuhud, dan semua orang yang hidup semasa dengan mereka bersaksi atas ketakwaan dan kewara’an mereka. Yang demikian itu karena mereka terbiasa untuk bersikap tawadhu’ dan menganggap kecil diri.

**********

Sumber: Tarbiyah Ruhiyah Ala Tabi’in, Asyraf Hasan Thabal, hal.39-41

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)