بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيم
Istiqomah. Yah, itulah kata yang sangat mudah dan ringan diucapkan, namun butuh perjuangan dalam mengaplikasikannya. Seringkali kita dengar orang-orang menyebut bahwa istiqomah itu berat dan tidak semudah yang kita fikirkan! memang benar demikian. Teguh di atas keistiqomahan adalah sesuatu yang berat utamanya bagi orang-orang beriman, cukuplah sejarah menjadi pembelajaran dimana orang yang dulunya kuat dalam keimanan, namun pada akhirnya mereka tak mampu mempertahankan keimanan tersebut dalam dirinya.
Istiqomah merupakan salah satu nikmat terbesar dari Allah subhanahu wa ta’ala. Setelah Allah meletakkannya ke dalam hati hamba-Nya, Ia pun memerintahkan kepada hamba-Nya untuk menjaga nikmat itu. Apakah menurut anda hal itu mudah.? Tidak! Kecuali bagi orang-orang yang senantiasa berupaya menjaganya dengan baik, setelah petunjuk serta taufiq dari-Nya lah yang mampu mempertahankan nikmat istiqomah tersebut.
Sebelum kita membahas lebih jauh, sebenarnya apa sih makna dari istiqomah itu sendiri dan bagaimana para salaful ummah memandangnya?
Sahabat yang mulia ‘Umar bin Khaththab Radhiyallahu anhu, mengatakan bahwa: “Istiqomah adalah lurus pada ketaatan (melaksanakan perintah) dan menjauhi larangan, serta tidak belok (ke kiri dan ke kanan) seperti beloknya serigala.”
Istiqomah mengharuskan seorang hamba untuk tetap berada dalam jalan ketaatan yang benar kepada Allah berdasarkan Al-Qur’an dan sunnah Rasul-Nya yang mulia serta pemahaman para shalafus sholih. Menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya merupakan wujud dari istiqomah. Karenanya, tetaplah berada pada jalan lurus itu dan jangan sekali-kali berpaling darinya. Berarti aqidahlah yang benar dan lurus, beramal solehlah, tinggalkan kebatilan dan kemungkaran tanpa menyimpang ke kiri ataupun ke kanan.
Al Imam An-Nawawi rahimahullah juga menafsirkan bahwa istiqomah adalah: “Lurus di atas ketaatan sampai di wafatkan dengan keadaan seperti itu.”
Bukankah hal ini menunjukkan bahwa ketaatan yang kita lakukan selama menjalani episode kehidupan di dunia ini tidak akan bermanfaat, sampai kemudian ia dijaga hingga ajal (batas akhir kehidupan) di dunia ini menjemput kita. Inilah makna dari perkataan Imam An Nawawi rahimahullah, bahwa istiqomah menuntut kita untuk taat kepada-Nya sampai kita di wafatkan di atas ketaatan itu pula.
Di dalam Al-Qur’an Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kepada kita untuk senantiasa istiqomah dan tetap berada pada jalan yang benar. Sebagaimana firman-Nya:
فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
Artinya: “Maka tetaplah kamu (pada jalan yang benar), sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah bertaubat bersama kamu. Dan janganlah kalian melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha melihat apa yang kalian kerjakan.” [QS. Hud (11): 112]
Saudaraku yang di rahmati Allah subhanahu wa ta’ala, Nabi kita shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia yang paling taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan mendapatkan jaminan syurga dari-Nya. Namun, siapa sangka ayat di atas merupakan ayat yang membuat Nabi sangat takut dan berat untuk beliau laksanakan. Hal ini disebutkan oleh sahabat yang mulia Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu Anhuma, ia berkata:
مَا نُزِّلَ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ- آيَةً هِيَ أَشَدُّ وَلَا أَشَقُّ مِنْ هذِهِ الآيَةِ عَلَيْهِ، وَلِذلِكَ قَالَ لِأَصْحَابِه حِيْنَ قَالُوْا لَه: لَقَدْ أَسْرَعَ إِلَيْكَ الشَّيْبُ! فَقَالَ : شَيَّبَتْنِيْ هُوْدٌ وَأَخْوَاتُهَا
“Tidaklah ada satu ayat pun yang diturunkan kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam yang lebih berat dan lebih susah daripada ayat ini. Oleh karena itu, ketika beliau ditanya, “Betapa cepat engkau beruban”, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Sahabatnya, “Yang telah membuatku beruban adalah surat Hud dan surat-surat semisalnya.”
Saudaraku, mengapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menganggap bahwa ayat tersebut adalah ayat yang sangat berat untuk beliau laksanakan? Karena pada ayat ini mengandung perintah untuk beristiqomah dalam ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. “Maka tetaplah kamu (pada jalan yang benar)…”, dalam Qur’an surah Hud ini adalah perintah dari Allah agar hamba-hamba-Nya senantiasa istiqomah di jalan yang benar sesuai dengan Al-Qur’an dan sunnah serta pemahaman para shalafus shalih.
Saudaraku, sebagai orang yang beriman tentunya kita telah mengetahui dan meyakini bahwa hati seorang hamba adalah milik Allah subhanahu wa ta’ala. Dialah yang berkuasa untuk menjadikannya kuat dalam keimanan dan lemah di dalam ketaatan, bagi mereka-mereka yang diberikan kehendak dari-Nya. Keimanan dan ketaatan manusia mengalami pasang surut, kadang bertambah dan kadang pula ia menurun.
Bertambah karena ketaatan dan berkurang karena kemaksiatan kepada-Nya. Itulah iman, barangsiapa yang bersungguh-sungguh dalam menjaga iman itu dalam hatinya dengan beristiqomah di atasnya, mereka itulah yang tergolong kedalam orang-orang yang beruntung dengan janji syurga dari Allah subhanahu wa ta’ala. Cukuplah doa yang diajarkan oleh nabi kita menjadi pemupuk harapan kepada-Nya agar hati ini senantiasa berada diatas keistiqomahan di jalan-Nya.
Tentunya setiap untaian doa kita kepada Allah merupakan bentuk ikhtiar dalam meraih keistiqomahan. Kepada-Nyalah sang pemilik hati kita kembalikan semuanya, manusia hanya bisa berusaha dengan sebaik-baiknya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa mengajarkan sebuah doa untuk meminta ketetapan hati dan keistiqomahan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Doa yang beliau senantiasa panjatkan adalah:
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ
“Ya muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘alaa diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).”
Suatu ketika Ummu Salamah pernah menanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kenapa do’a tersebut yang sering beliau baca. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya menjawab,
يَا أُمَّ سَلَمَةَ إِنَّهُ لَيْسَ آدَمِىٌّ إِلاَّ وَقَلْبُهُ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ فَمَنْ شَاءَ أَقَامَ وَمَنْ شَاءَ أَزَاغَ
“Wahai Ummu Salamah, yang namanya hati manusia selalu berada di antara jari-jemari Allah. Siapa saja yang Allah kehendaki, maka Allah akan berikan keteguhan dalam iman. Namun siapa saja yang dikehendaki, Allah pun bisa menyesatkannya.” HR. Tirmidzi
Dalam riwayat yang lain, beliau mengatakan:
إِنَّ الْقُلُوبَ بِيَدِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ يُقَلِّبُهَا
“Sesungguhnya hati berada di tangan Allah ‘azza wa jalla, Allah yang membolak-balikkannya.” (HR. Ahmad)
Semoga Allah ‘Azza wa Jalla senantiasa menjaga nikmat istiqomah ini di dalam hati kita semua. Tetap kokoh, meski diguncang oleh badai fitnah dunia. Kebahagiaan yang sifatnya semu dan sementara akan menjadi penghalang dalam ber istiqomah di jalan-Nya. Harta, tahta dan wanita, akan mudah mengalihkan diri dari istiqomah, kepada jalan yang dimurkai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Olehnya itu, jangan pernah berhenti memohon petunjuk dari-Nya agar tetap berjalan diatas kebenaran dan ketaatan, serta di wafatkan diatas jalan itu pula…
Saudaraku yang di rahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mengakhiri tulisan ini, ada begitu banyak keutamaan yang di dapatkan oleh orang-orang yang ber-istiqamah di jalan Allah. Namun, cukuplah firman-Nya yang ada di dalam Al-Qur’an surah Fussilat ayat 30-32 yang menggambarkan secara umum bagaimana keutamaan istiqomah tersebut.
Allah subhanahu wata’ala berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ {٣٠} نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ {٣١} نُزُلًا مِنْ غَفُورٍ رَحِيمٍ
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami ialah Allâh” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (ber-istiqamah), maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan Jannah yang telah dijanjikan oleh Allâh kepadamu. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari (Rabb) yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,” [Fushshilat/41:30-32]
***********
Bulukumba, 23 Februari 2019
Penulis: Muhammad Ikram, S.Sos.I
(Penulis, Pembina Daar Al-Qalam dan Pemred Mujahid Dakwah)
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)
















































































