Menjaga Rahasia
Wanita Muslimah yang benar-benar sadar dan matang kepribadiannya tidak pernah lupa bahwa menjaga rahasia merupakan akhlak dan sifat yang paling bagus yang harus dijadikan sebagai perhiasan oleh setiap orang, laki-laki maupun perempuan. Yang demikian itu karena kemampuan menjaga rahasia menunjukkan matangnya kepribadian, teguhnya akhlak, kokohnya perilaku, dan kecemerlangan otak. Beranjak dari hal tersebut, wanita Muslimah yang telah menelan petunjuk Islam senantiasa menjaga rahasia seperti yang diperintahkan oleh Islam, dan akan dijelmakan dalam kejernihan kepribadian Islam sebagai akhlak di tengah-tengah mereka dan sifat terbaik dari sifat-sifatnya.
Di antara bukti yang menunjukkan konsistensi dan keteguhan para sahabat untuk menghiasi dirinya dengan keutamaan pemeliharaan rahasia adalah sikap Abu Bakar dan Utsman bin Affan terhadap Umar bin Khaththab yang menawarkan keduanya untuk menikahi putrinya, Hafshah yang ditinggal mati suaminya, sedang Abu Bakar dan Utsman menyimpan rahasia Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dari Umar bin Khaththab.
Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Abdullah bin Umar Radhiallahu Anhu bahwa Umar bin Khaththab ketika putrinya, Hafshah, telah menjanda berkata, “Aku menemui Utsman bin Affan lalu aku tawarkan Hafshah kepadanya untuk dinikahi, aku katakan kepadanya, ‘Jika engkau menghendaki, aku akan nikahkan engkau dengan Hafshah, putri Umar.” Utsman menjawab, “Akan aku pertimbangkan selanjutnya.” Maka beberapa hari aku menunggu hingga akhirnya Utsman datang menemuiku seraya berkata, “Kelihatannya sekarang-sekarang ini aku belum mau menikah.” Selanjutnya aku mendatangi Abu Bakar Ash-Shiddiq dan aku katakan, ‘Jika engkau menghendaki akan aku nikahkan engkau dengan Hafshah, putri Umar.” Maka Abu Bakar terdiam dan tidak memberikan jawaban apa-apa, sehingga aku tidak menghasilkan apa-apa dan aku lebih kesal kepada Abu Bakar daripada kepada Utsman bin Affan. Selanjutnya aku menunggu beberapa malam, datang Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam untuk melamar Hafshah, maka aku nikahkan dia dengan putriku.” Kemudian Abu Bakar menemuiku seraya berkata, “Mungkin engkau marah kepadaku ketika engkau tawarkan Hafshah kepadaku tetapi aku tidak memberikan jawaban apa-apa padamu?” Maka aku pun menjawab, “Benar” Selanjutnya Abu Bakar berkata, “‘Sebenamya aku tidak ingin menolak tawaranmu itu, tetapi aku tahu bahwa Nabi hendak menikahinya, dan tidak ingin menyebarkan rahasia beliau. Seandainya Nabi tidak bermaksud menikahinya, niscaya tawaranmu itu pasti akan aku terima.”
Keutamaan menjaga rahasia ini tidak hanya dimiliki oleh orang laki-laki terdahulu saja, tetapi juga mencakup kaum wanita dan anak-anak yang telah mendapatkan petunjuk Islam serta hati dan akalnya disinari dengan cahaya yang gemerlapan. Hal itu dapat kita lihat pada hadits yang diriwatakan Imam Muslim dari Anas Radhiallahu Anhu, dia menceritakan,
“Rasulullah pernah mendatangiku pada saat aku sedang bermain dengan anak-anak. Maka beliau pun mengucapkan salam kepada kami dan menyuruhku untuk suatu keperluan, hingga aku terlambat menemui ibuku. Setelah sampai di rumah, ibuku bertanya, ‘Mengapa engkau terlambat?’ Maka aku pun menjawab, ‘Rasulullah telah mengutusku untuk suatu keperluan. ‘Ibunya pun terus bertanya, Keperluan apa?’ Aku jawab, Itu rahasia. Selanjutnya ibuku berkata, Janganlah engkau menyebarkan rahasia Rasulullah kepada seorang pun.’ Anas bin Malik berkata, “Demi Allah, seandainya aku menceritakan rahasia itu kepada seseorang, niscaya aku akan ceritakan padamu, wahai Tsabit.”(HR. Muslim)
Ibu Anas bin Malik telah menyaksikan putranya begitu teguh menjaga rahasia Rasulullah , dia pun merasa bangga dengan sikap putranya itu, di mana dia meminta kepada putranya itu supaya tidak menceritakan rahasia Rasulullah kepada seorang pun. Dan, putranya itu pun tidak menceritakannya kepada siapa pun, sampai kepada sahabat mulia, Tsabit bin Qais, salah seorang yang mendapatkan berita gembira akan masuk surga. Kesenangan ibu Anas untuk mengawasi perkembangan putranya tidak mendorongnya untuk mengetahui rahasia yang disimpan oleh putranya itu. Demikian itulah Islam mendidik, dan itu pula tingkat yang tinggi yang harus dicapai setiap orang, baik laki-laki, wanita maupun anak-anak.
Jika membuka dan menyebarluaskan rahasia merupakan kebiasaan yang paling buruk bagi seseorang, maka yang lebih buruk lagi adalah menyebarluaskan rahasia yang berhubungan dengan kehidupan suami istri. Orang yang menyebarluaskan rahasia ini termasuk orang yang paling buruk kedudukannya pada hari Kiamat kelak, seperti yang diterangkan Rasulullah melalui sabdanya berikut ini,
“Sesungguhnya di antara orang yang paling buruk kedudukan di sisi Allah pada hari Kiamat kelak adalah seorang suami yang mendatangi (berhubungan badan) istri, dan seorang istri mendatangi suaminya, kemudian ia menceritakan rahasia itu.” (HR. Muslim)
Yang demikian itu karena hal-hal yang bersifat khusus harus selalu dijaga dan disimpan sehingga tidak diketahui oleh orang lain. Orang yang menceritakan rahasia dan hal-hal yang bersifat khusus kepada orang lain adalah orang yang tidak waras dan kepribadiannya mengalami kerapuhan. Dan kaum muslimin, laki-laki maupun perempuan terhindar dari semuanya itu karena mereka telah membaca dan memahami petunjuk agamanya dan karena mereka menghiasi diri mereka dengan akhlak yang baik.
Saudariku, keutamaan memelihara rahasia yang dimiliki oleh orang-orang terdahulu yang tidak hanya dari kalangan laki-laki tapi juga dari kalangan perempuan. Itulah salah satu sifat terbaik yang sudah sepatutnya juga dimiliki oleh para Muslimah hari ini, dimana rahasia yang kita simpan hari ini dengan begitu mudahnya tersebar hanya dengan kemajuan teknologi hanya melalui tangan-tangan kita bukan lagi lisan kita, sudah banyak orang yang bisa mengetahui rahasia orang lain. Semoga Allah senantiasa menjaga diri-diri kita di zaman fitnah seperti hari ini. Allahumma Aamiin..
**********
Penulis : Syaikh Dr. Muhammad Ali Al-Hasyimi
(Di Sadur Dari Buku Jati Diri Wanita Muslimah, h. 360-363)
Demikian Semoga Bermanfaatโฆ
@Wallahu โalam bishowabโฆ
Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qurโan dan Sunnah)












































































