Senantiasa Menepati janji
Di antara akhlak dan sifat yang dimiliki wanita Muslimah yang jujur adalah senantiasa menepati janji, karena sifat ini merupakan mitra kejujuran dan merupakan nilai alami dari kejuruan itu sendiri, dan salah satu buah manis dari berbagai buah yang dikandungnya.
Menepati janji merupakan sifat terpuji, yang menunjukkan keluhuran wanita yang senantiasa menjadikannya sebagai hiasan dan membantunya untuk mencapai keberhasilan dalam hidupnya serta mendapatkan simpati dan penghormatan dari orang lain.
Pengaruh akhlak atau sifat ini terhadap penanaman nilai-nilai keutamaan akhlak dan jiwa putra-putri tidak dapat ditutupi pada saat ibu-ibu mereka menghiasi diri dengan sifat itu, dengan demikian itu mereka telah memberi suri teladan yang baik bagi putra-putrinya itu.
Akhlak penepatan janji ini pada diri wanita Muslimah bukan merupakan perhiasan sosial yang dijadikan kebanggaan di hadapan para sahabat dan anak-anaknya, tetapi ia merupakan akhlak dasar Islam, dan menjadi penunjuk paling nyata bagi kebenaran iman dan Islam. Mengenai penanaman dan perintah menghiasi diri dengan akhlak ini telah dibahas dalam banyak nash, baik dari Al-Qur’an maupun hadits Rasulullah , di antaranya adalah,
“Wahai orang-orang yang beriman, tepatilah perjanjian-perjanjian itu.”(Al-Maidah: 1).
Demikian juga dengan firman-Nya,
“Dan, tepatilah janji, sesungguhnya janji itu pasti dimintai pertanggungan jawab.” (Al-Isra’: 34)
Pemenuhan janji merupakan perintah Rabb yang sudah pasti bagi orang-orang yang beriman, laki-laki maupun perempuan yang diwajibkan untuk menerapkannya dalam kehidupan amaliah, tidak ada alasan menghindar darinya. Tidak laik bagi kaum Muslimin dan Muslimat untuk mengingkari janji yang telah disepakati, tetapi sebaliknya dia harus menepatinya. Dan, kata Al-Ahdu (janji) pada sebagian ayat Al-Qur an ditambah dengan kata Allah , sebagai bukti kesucian dan keagungan janji itu serta kewajiban untuk menepatinya, seperti yang difirmankan-Nya,
“Dan, tepatilah janji Allah apabila kalian berjanji. “(An-Nahl: 91)
Yang demikian itu karena Islam sangat membenci orang yang banyak bicara (mengobral janji), baik laki-laki maupun perempuan yang suka mengobral janji, dengan tidak menepatinya, seperti yang difimankan-Nya
“Wahai orang-orang vang beriman, mengapa kalian mengatakan apa yang tidak kalian perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kalian mengatakan apa yang tidak kalian kerjakan.” (Ash-Shaff: 2-3)
Allah Subhanahu Wata’ala membenci orang-orang vang beriman, laki-laki maupun perempuan untuk banyak bicara dan mengumbar janji-janji palsu, berjanji tetapi tidak ditepati, karena perbuatan itu tidak layak dikerjakan orang-orang Mukmin. Pada permulaan ayat tersebut di atas digunakan kalimat yang mengarah pada pertanyaan yang bersifat pengingkaran sebagai ungkapan kebencian terhadap perbuatan hina itu, di mana Allah tidak menyukai hamba-Nya dari kalangan orang-orang vang beriman unhik melakukannga di mana mereka mengatakan sesuatu yang tidak mereka kerjakan. Sedangkan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda.
“Tanda orang munafiq itu ada tiga: Apabila berbiara selahu berbohong, apabila berjanji selalu mengingkari, dan apabila dipercaya ia berkhianat. “ (Muttafaq Alaih).
Sesungguhnya kebaikan Islam wanita Muslimah tidak hanya terpaku pada penunaian ibadah saja, tetapi juga pada interaksi jiwanya dengan ajaran-ajaran Islam, akhlaknya yang luhur, serta nilal-nilai yang tinggi, di mana dia tidak akan melakukan sesuatu melainkan apa yang diridhai Allah tidak mengingkari janji, tidak suka melakukan penipuan dalam pergaulan serta tidak mengkhianati perjanjian dalam kehidupan wanita Muslimah yana Jujur yang memahami ajaran-ajaran agamanya dan senantiasa berpegang pada petunjuk agama, karena semuanya itu hanya akan melenyapkan akhlak lslam dan pemeluknya, dan sifat-sifat itu hanya terdapat para orang. orang munafik saja.
Para wanita suka membohongi anak-anaknya dan memberikan janji tetapi tidak ditepati, dan melalui tindakan-tindakan praktik mereka telah menanamkan bibit-bibit kedustaan dan pengingkaran janji ke dalam jiwa anak-anaknya, tidakkah mereka mengetahui hakikat semuanya itu? Tidak-kah para wanita yang suka member ikan janji dan tidak menegakkan keseimbangan bagi kemuliaan dirinya yang telah dihancurkannya itu mengetahui bahwa dengan pengingkaran janji tersebut mereka sudah termasuk golongan orang-orang munafik. Seperti yang telah kita ketahui, balasan orang-orang munafik adalah neraka yang paling bawah.
Menjauhi Kemunafikan
Wanita Muslimah yangjujur dan berada di bawah bimbingan agamanya senantiasa berterus terang, baik dalam ucapan maupun sikapnya, jauh dari berbagai bentuk kemunafikan, basa-basi, dan pemberian pujian palsu, karena dia mengetahui dari petunjuk agamanya bahwa kemunafikan itu haram hukumnya dan tidak layak untuk bersemayam dalam kepribadian Muslimah yang jujur.
Rasulullah telah memberikan jalan keselamatan dari ketergelinciran ke dalam kemunafikan, di mana beliau pernah mengatakan kepada Bani Amir yangmendatanginya dan memujinya melalui ungkapannya, “Engkau adalah tuanku.
Beliau pun berkata, “Tuan itu Allah.”
Selanjutnya mereka berkata, “Engkau juga orang yang banyak memiliki keutamaan di antara kami dan paling besar pemberiannya.
Maka Rasulullah bertutur, “Katakanlah dengan ucapan yang sesungguhnya ada padamu atau sebagian darinya, dan janganlah kalian diperalat setan Sesungguhnya aku tidak ingin kalian menyanjungku melebihi Ledudukanku yang telah diberikan Allah Ta’ala kepadaku. Aku ini adalah Muhammad bin Abdullah, hamba dan Rasul-Nya, ” (Buku yang berjudul Hayatu Ash-Shahabah, III/99)
Rasulullah memotong pujian orang-orang supaya tidak memuji semaunya kepada orang lain, karena di antaramereka ada yang tidak berhak mendapatkan pujian itu. Yaitu pada saat beliau melarang para pemujinya untuk menyebutnya sebagai tuan, orang yang paling utama, dan dermawan, padahal beliau itu adalah sayyidul-mursalin, orang yang paling agung dan paling utama di antara kaum Muslimin, karena beliau mengetahui bahwa apabila pintu pujian dibuka, maka akan mengakibatkan mereka terperosok ke dalam kemunafikan, yang menyebabkan mereka tidak mendapatkan pancaran semangat Islam dan tidak diterima oleh kebenaran yang menjadi dasar dari agama ini. Rasulullah juga melarang para sahabat untukmemuji orang di hadapannya langsung agar mereka tidak terperosok ke jurang kemunafikan, sedang orang yang dipuji pun tidak merasa besar, sombong dan kagum dengan dirinya sendiri.
Ada sebuah hadits yang diriwayakan oleh Imam Bukhari, Imam Muslim dan Abu Dawud dari Abu Bakar , dia menceritakan, “Ada seorang laki-laki yang memuji orang lain di hadapan Nabi , maka beliau berkata, Celakalah engkau, engkau telah memotong leher tenianmu, engkau telah memotong leher temanmu.” Diucapkan sebanyak tiga kali.
Selanjutnya beliau bersabda,
“Barangsiapa di antara kalian mempunyai keharusan memuji saudaranya, maka hendaklah dia mengatakan, Aku kira si Fulan adalah yang terbaik, dan Allah adalah yang berhak menilainya.’Dan tidak boleh mensucikan seseorang di hadapan Allah. Aku kira dia itu begini dan begitu, apabila dia mengetahui hal itu.”
Apabila pujian itu memang harus diberikan, maka harus disampaikan secara jujur sesuai dengan kenyataan objek pujian, dan harus wajar dan tidak berlebih-lebihan. Dengan begitu masyarakat akan terselamatkan dar penyakit kemunafikan, kedustaan, riya’ dan kezhaliman.
Ada juga sebuah hadits yang ciriwayatkan oleh Bukhari dari Raja’ dari Mihjan Al-Asami., Rasulullah & bersama Mihjan sedang berada di masjid, lalu beliau melihat seseorang mengerjakan shalat, sujud dan ruku’.
Maka beliau pun bertanya, Siapakah dia itu? Lalu Mihjan memuji orang itu seraya berucap, “Wahai Rasulullah, dia itu si Fulan, orangnya begini dan begini.
Maka Rasulullah bertutur, “Tahanlah, jangan engkau perdengarkan pujianmu itu kepadanya, karena dapat membinasakannya.
Sedangkan dalam riwayat Imam Ahmad disebutkan, “Wahai Nabiyullah (Nabi Allah), Si Fulan ini adalah penduduk Madinah terbaik”, atau dia berkata, “Dia ini adalah penduduk Madinah yang paling banyak shalatnya.”
Rasulullah berkata, “Janganlah engkau perdengarkan pujian itu kepadanya, karena dapat mencelakakannya hal itu diucapkan dua sampai tiga kali- sesungguhnya kalian adalah umat yang aku inginkan dapat kemudahan.”
Rasulullah telah menyebut “memperdengarkan pujian sebagai suatu kecelakaan, karena hal itu memiliki pengaruh kejiwaan yang sangat mendalam dalam diri manusia yang senang mendengar pujian, yang menjadikan mereka merasa sombong dan memalingkan diri dari semua orang. Apabila pujian itu sering disampaikan oleh orang-orang munafik dan pengkhianat, dan kebanyakan dari mereka ini adalah para pejabat dan penguasa, maka pujian itu akan menjadi kebiasaan, guna memenuhi ambisi pribadinya, sehingga dia tidak lagi mau mendengarkan nasihat, saran dan kritik, dan hanya akan menerima pujian dan sanjungan, maka tidak aneh bila setelah itu kebenaran akan hilang, keadilan pun diinjak-injak, kebajikan juga dikubur, hingga akhirnya masyarakat pun hancur binasa.
Untuk itu, Rasulullah memerintahkan para sahabat memperingatkan orang-orang yang suka memuji supaya mereka tidak berkeliaran di masyarakat Islam, karena keberadaan mereka hanya akan menumbuhsuburkan kemunafikan dan mendatangkan malapetaka.
Para sahabat merasa keberatan dengan pujian yang diberikan oleh para pemuji, meski sebenarnya memang mereka berhak atas pujian tersebut, karena mereka takut tergelincir, takut akan bencana yang dibawanya dan karena mereka ingin menghiasi diri dengan akhlak Islam yang mendasar yangjauh dari hal-hal murahan seperti itu.
Dari Nafi’ Radhiallahu Anhu dan juga yang lainnya, bahwasanya ada seorang laki-laki yang mengatakan kepada lbnu Umar , “Wahai orang terbaik!” Atau “Wahai putra orang terbaik!”
Maka Ibnu Umar berkata, “Aku bukanlah orang terbaik dan buka putra orang terbaik, tetapi aku adalah salah satu dari hamba Allah, berharap dan takut kepada-Nya. Demi Allah, tidaklah kalian tergelincir karena pujian seseorang sehingga engkau binasa.”
Penururan Ibnu Umar di atas merupakan ungkapan yang sangat biak, sahabat yang sangat halus perasaan Islamnya, dan senantiasa meraih petunjuk Nabi , dan tidak pernah melepaskan baju kebesarannya itu baik dalam kesendirian maupun sedang bersama orang banyak.
Para sahabat benar-benar memahami apa yang disampaikan Rasulullah, yang membimbing mereka dalam bertindak dan bertutur kata, serta keselamatan tindakan dan tutur kata itu dari kemunafikan. Beliau juga menjelaskan kepada mereka perbedaan besar antara benar-benar tulus karena Allah dan kemunafikan.
Dari lbnu Umar, bahwasanya ada sekelompok orang yang berkata, “Sesungguhnya kami pernah menemui para pemimpin kami, lalu kami mengucapkan kata-kata yang berbeda dengan apa yang kami ucapkan pada saat berada di luar ruangan mereka.” Maka Ibnu Umar bertutur, “Kami mengkategorikan hal seperti itu sebagai kemunafikan pada zaman Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.” (HR. Bukhari).
Wanita Muslimah yang jujur akan mendapatkan perlindungan petunjuk agamanya dari ketergelinciran ke jurang kemunafikan, yang telah menceburkan banyak wanita pada zaman sekarang ini, karena mereka beranggapan bahwa mereka tidak melampaui batas basa-basi. Mereka tidak mengetahui bahwasanya ada basa-basi yang dilarang, di mana mereka erperangkap ke dalamnya tanpa mereka sadari. Yaitu ketika mereka berdiam diri dan enggan menjelaskan kebenaran, atau suka memberikan pujian Kepada orang yang tidak berhak mendapatkan pujian.
**********
Penulis : Syaikh Dr. Muhammad Ali Al-Hasyimi
(Di Sadur Dari Buku Jati Diri Wanita Muslimah, h. 285-289)
Demikian Semoga Bermanfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)














































































