“Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan – kebaikan. ” (Qs. Al-Baqarah: 148)
Di dunia ini menyimpan sejuta kisah, misteri dan hal hal yang terkadang menjadi sebuah timbal balik bagi apa yang kita perbuat selama kita hidup. Ketika kita menanam benih kebaikan dimana-dimana, maka kebaikan-kebaikan itu akan tumbuh walau tanpa kita sadari. Memang ada benarnya pepatah yang mengatakan bahwa apa yang kita tanam akan kita tuai. Cepat atau lambat manusia pasti akan mendapatkan balasan atas apa yang telah diperbuat.
Menanam benih kebajikan, akan menghasilkan buah yang baik . Orang yang telah berbuat kebaikan dalam kehidupannya, walau itu hanya sebesar biji sawi pasti akan mendapatkan balasan yang baik. Walaupun memang tidak langsung namun balasan ini pasti akan datang. Apapun yang kita dikerjakan akan selalu dimudahkan, dan hasilnya sesuai dengan yang kita inginkan.
Begitu pula dengan menanam kejahatan, akan menghasilkan buah yang jahat. Orang yang telah berbuat banyak kejahatan pada kehidupannya, pasti akan mendapatkan balasan yang jahat pula. Walaupun memang tidak langsung namun balasannya itu juga pasti akan segera datang. Apapun yang kerjakan akan selalu dipersulit, bahkan seringkali hasilnya tidak seauai dengan apa yang kita inginkan.
Berbuat kebaikan tidak akan merugi. Berbuat banyak kebaikan akan membuat hati dan jiwa menjadi tenang karena tidak memiliki musuh. Sebaliknya berbuat kejahatan hanya akan menimbulkan banyak hal buruk yang nantinya juga berakibat buruk.
Alangkah baiknya bagi kita agar selalu menebar kebaikan di mana saja kita berada agar hal-hal yang baik senantiasa menghampiri kita. Maka jadilah manusia yang bermanfaat dan selalu dikenang karena selalu melakukan hal-hal yang baik semasa hidup.
Sekecil apapun kebaikan yang kita lakukan, maka hasilnya pun akan berbuah kebaikan pula, dan sekecil apapun kejelekan dan kejahatan yang kita tanam dalam kehidupan ini, hasil yang akan di tuai nantinya adalah kesengsaraan bagi diri kita sendiri. Maka perbanyaklah berbuat kebajikan selagi kita masih hidup. Karena suatu saat kebaikan-kebaikan yang kita lakukan selama ini, bisa menjadi penolong kita di akhirat kelak.
Banyak Jalan Kebaikan
Kebaikan memiliki jalan yang banyak sekali. Dan ini adalah kemurahan dari Allah untuk para hambaNya, agar mereka mendapatkan keutamaan yang bermacam-macam, dan pahala yang berlimpah. Jalan kebaikan yang pokok ada tiga: amalan jasmani seperti shalat, amalan harta seperti zakat, dan amalan yang berhubungan dengan jasmani dan harta sekaligus seperti berperang di jalan Allah. Tiga pokok amalan ini memiliki ragam yang sangat banyak. Hal tersebut agar ketaatan yang dijalani seorang hamba menjadi beraneka ragam. Hal ini akan lebih sesuai dengan kondisi orang yang berbeda-beda, dan akan lebih memperlihatkan kenyataan masing-masing hamba dalam beribadah. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, “Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan-kebaikan” (QS. Al-Baqarah: 148)
Sedangkan sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam “Setiap hari masing-mastng sendi salah seorang dari kalian wajib ditunaikan sedekahnya. Setiap tasbih, tahmid, tahlil dan takbir adalah sedekah. Menyuruh kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran merupakan sedekah. Dan dua rakaat yang dikerjakan pada shalat dhuha mencukupi itu semua” (HR. Muslim)
Dikatakan bahwa sendi tubuh manusia ada 360, baik yang besar ataupun yang kecil. Sehingga setiap hari seseorang harus menunaikan 360 sedekah. Sedekah di sini bukan hanya dalam bentuk harta, akan tetapi kebaikan secara umum. Semua pintu kebaikan adalah sedekah. Disebutkan bahwa tasbih, tahmid, tahlil, takbir, menyuruh kebaikan dan mencegah dari kemungkaran adalah sedekah.
Maka setiap perkara yang mendekatkan diri kepada Allah adalah sedekah, baik berupa perkataan ataupun perbuatan. Membaca Al-Quran dan menuntut ilmu agama juga merupakan sedekah. Dengan demikian, sedekah itu ada banyak. Siapapun bisa menunaikan kewajiban sedekah harian yang berjumlah 360 ini.
Sabda Nabi SAW, “Sungguh aku melihat ada seorang laki-laki hilir mudik di surga disebabkan satu pohon yang dia potong dari tengah jalan karena mengganggu kaum muslimin.” (HR. Muslim).
Hadis ini menunjukkan bahwa siapa yang menghilangkan gangguan dari kaum muslimin, akan mendapat pahala yang besar. Kalau menghilangkan gangguan yang bersifat indrawi saja seperti ini, bagaimana lagi dengan menghilangkan gangguan yang bersitat maknawi.
Intinya, menyingkirkan gangguan dari jalan termasuk perkara yang mendekatkan seorang hamba kepada Allah. Baik itu jalan inderawi yang dilalui telapak kaki, ataupun jalan maknawi yang dilalui oleh qalbu. Dan menyingkirkan gangguan dari jalan yang dilalui qalbu atau amal, pahalanya lebih besar daripada menyingkirkan gangguan dari jalan yang dilalui telapak kaki.
*************
Sumber: Majalah Yatim Mandiri, Edisi Januari 2017
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah











































































