Islam telah bersemi di bumi Mozambik sejak abad ke-10 M/4 H. Jejak hadirnya Islam di Afrika bagian tenggara itu dapat ditelusuri melalui rekaman sejarah. Berdasarkan catatan sejarah, kawasan yang berbatasan dengan Lautan India di sebelah barat itu sudah sering dikunjungi para musafir dan pedagang Muslim sejak abad pertengahan.
Perdagangan budak Arab mulai masuk ke Mozambik pada masa itu, ketika Muslim mendirikan emirat-emirat di pantai Afrika Timur. Sepanjang periode itu, para saudagar budak Muslim memperluas bisnis perdagangan manusia ke arah selatan di sepanjang wilayah pantai. Perluasan itu terjadi selama periode Dinasti Omani al-Bu Said.
Sejak Kesultanan Kilwa didirikan pada abad ke-10 oleh Ali bin al-Hassan Shirazi, Islam menjadi agama mayoritas, termasuk di wilayah yang kini bernama Mozambik. Kota pelabuhan bernama Sofala begitu masyhur karena menjadi pusat perdagangan budak, gading, emas, dan besi yang dilakukan dengan negara-negara Islam Timur Tengah dan India.
Sofala dan sebagian besar wilayah pantai Mozambik kala itu adalah bagian dari Kesultanan Kilwa sejak kedatangan Arab, diyakini terjadi pada abad ke-12 M. Memasuki pertengahan abad ke-15, kesultanan-kesultanan berbasis agama dan komersial yang bersifat permanen banyak berdiri di sepanjang wilayah pantai. Sebagian bahkan mencapai Zambezi. Kala itu, hampir seluruh penduduk Kota Sofala adalah Muslim, bahkan sebelum kedatangan Portugis pada 1505.
Dalam laman africa.com disebutkan, pedagang India, termasuk Muslim dari Pantai Barat India (Malabar), telah berdagang dengan para pedagang di Pantai Timur Afrika jauh sebelum kedatangan Portugis. Saat Vasco da Gama sampai di Mozambik pada 1498, ia menemukan negara tersebut terbagi menjadi dua bagian.
Keduanya adalah suku kulit hitam Afrika yang mendiami wilayah pendalaman dan pedagang Arab serta Swahili yang menghuni wilayah pesisir tengah dan utara. Dua kelompok terakhir adalah kelompok kaya yang telah memeluk Islam.
Islam adalah agama terbesar kedua di Mozambik. Menurut laman africa.com, Islam telah mengalami perkembangan yang signifikan. Populasi Muslim telah mencapai 27,8 persen dari total populasi. Katolik Roma adalah agama terbesar dengan jumlah pemeluk mencapai 32,8 persen dari total populasi. Penganut Protestan jumlahnya mencapai 17,5 persen, sedangkan ateis hanya 5,1 persen.
Muslim Mozambik terdiri atas keturunan penduduk Asia Selatan serta sejumlah kecil imigran dari Afrika Utara dan Timur Tengah. Mayoritas utama merupakan Muslim Sunni. Sedangkan, kelompok etnis Macua diperkirakan mencapai empat juta jiwa dan mendominasi penduduk di bagian selatan negara itu.
Belajar dari keterpurukannya pada masa lalu, Muslim Mozambik memfokuskan diri pada persatuan dan persaudaraan. George O Ndege (2007) dalam Culture and Customs in Mozambik menyebutkan, mereka tampil sebagai sekte yang tidak monolitik. Hal itu mereka tunjukkan dengan menjadi bagian dari bermacam organisasi persaudaraan yang dikenal dengan ‘tariqa.’
Dua tariqa utama di antaranya dari golongan Sufi, yakni Shadhiliyyah dan Qadiriyyah yang muncul di Mozambik pada awal abad ke-20. Keduanya tertanam kuat di Pulau Mozambik (sebuah pulau di utara Mozambik) dan selanjutnya menjadi poin ekspansi ke wilayah-wilayah dan komunitas di sekitarnya.
Ada pula dua organisasi nasional, yakni Conselho Islamico de Mocambique (beranggotakan para reformis Islam) dan Congresso Islamico de Mocambique (pro-Sufi). Komunitas-komunitas Ismaili dan Syiah di luar itu juga menjadi asosiasi Indo-Pakistan yang penting di negara tersebut.
Sebagai bukti tumbuhnya kepercayaan Muslim kala itu, pada kurun waktu yang sangat awal pada abad yang sama telah terdapat 15 masjid dan 10 sekolah Alquran di kawasan Angoche. George O Ndege menulis, kebanyakan dari mereka yang masuk Islam konon telah mengetahui bagaimana menulis bahasa mereka dengan aksara Arab.
Peran anggota Qadiriyyah di Pulau Mozambik menjadikan pulau tersebut pusat kebangkitan intelektual Islam. Kemajuan itu menandai perkembangan di pantai timur Afrika sepanjang awal abad 20. Dari sana, lahir banyak tokoh berpendidikan Muslim yang sangat membantu penyebaran cabang-cabang Qadiriyyah ke Malawi, Zanzibar, dan Kepulauan Komoro. Dan, sebagai imbalan, Pulau Mozambik menerima banyak ulama.
***********
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)








































































