Imbauan MUI Jawa Timur agar umat Islam jangan membantah salam ‘berbagai agama’, diributkan. Uniknya, yang meributkan ada juga orang yang beragama islam. Bagaimana mengatasi masalah ini? Apakah salam lintas agama merupakan satu bentuk lintas beragama?
Menurut seorang tokoh agama Hindu, Ngakan Made Madrasuta, dalam bukunya yang berjudul ” Tuhan, Agama dan Negara ” (Media Hindu, 2010), setiap agama memiliki konsep Tuhan yang khas. Ada perbedaan konsep antara Hindu, Kristen, Yahudi, dan Islam.
Menurut penulis buku ini, Tuhan dalam agama Hindu, yaitu Sang Hyang Widhi tidak dapat disebut “Allah”. Ia membantah: “Membangun pembicaraan bukan dengan mencampuradukkan pemahaman tentang Tuhan, tetapi sebaliknya menentang dengan mengakui perbedaan itu. Dalam pengertian ini, Krishna bukan Kristus, Sang Hyang Widhi bukan Allah! ” (Hal. 33).
Penjelasan tokoh Hindu tersebut menarik. Sebab, masalah ucapan ‘salam’ suatu agama, memang terkait dengan konsep Tuhan masing-masing agama. Dalam agama Hindu misalnya, dikenal sebagai “ Om Swastyastu ”.
” Om Swastyastu ” adalah bentuk ibadah dalam agama Hindu. Seorang pemeluk Hindu menjelaskan tentang makna Om Swastyastu sebagai berikut: “ Salam Om Swastyastu yang diterima dalam bahasa Sansekerta dipadukan dari tiga kata yaitu: Om, swasti dan astu. Istilah Om ini merupakan istilah sakral sebagai sebutan atau seruan pada Tuhan Yang Mahaesa. Om adalah seruan yang dikirim kepada Tuhan dalam Hindu…. Mengucapkan Om itu artinya seruan untuk menaikkan doa atau puja dan puji pada Tuhan. ”( Http://www.mail-archive.com/hindu-dharma@itb.ac.id/msg07018.html).
Jadi – sekali lagi – ingat Om Swastyastu adalah satu bentuk ibadah dalam agama Hindu. Dari penjelasan itu tampak, penjelasan tentang salam Hindu itu sangat berhubungan erat dengan konsep Tuhan dan sembahyang dalam agama Hindu. Jadi, kata “Om” dalam agama Hindu berarti “Ya Tuhan”.
Dalam buku kecil berjudul ” Sembahyang, Tuntunan Bagi Umat Hindu ” karya Jro Mangku I Wayan Sumerta (Denpasar: CV Dharma Duta, 2007), yang disatukan dengan contoh doa dalam agama Hindu yang dimulai dengan kata “Om”, seperti doa sebelum mandi: “OM , gangga di gangga prama gangga suke ya namah swaha ”.
Itulah sikap orang Hindu. Orang Hindu punya pemahaman terhadap Tuhan mereka, yang menurut sang tokoh Hindu, Tuhan orang Hindu berbeda dengan Tuhannya orang Kristen, atau Tuhannya orang Islam. Karena itu, ia membantah: “Membangun perbincangan bukan dengan mencampuradukkan pemahaman tentang Tuhan, tetapi sebaliknya menentang dengan memahami perbedaan itu. Dalam pengertian ini, Krishna bukan Kristus, Sang Hyang Widhi bukan Allah! ”
Namo Buddhaya
Bagaimana dengan ucapan ‘ namo Buddhaya?’ Ternyata, namo Buddhaya, bukan salam, tetapi artinya: Terpujilah Buddha!
Dalam sebuah situs online agama Budha ditulis: “Namo Buddhaya” menerima salam, tetapi mendukung penghormatan seseorang untuk Buddha. Artinya Terpujilah Buddha (yang telah merealisasi pencerahan Agung). Ungkapan ini sangat umum diucapkan sebelum membabarkan Dhamma atau tulisan Dhamma. Di Indonesia, umat Buddha sering bertikai sebagai salam Buddhis. Jadi sungguh sangat salah kaprah dan keluar dari makna sesungguhnya. Saya pun mulai membuka tulisan kepada teman Buddha, dengan kata “Namo Buddhaya”, tetapi bukan sebagai salam, diminta sebagai tanggapan penghormatan kepada Buddha, dan diharapkan menginspirasikan kualitas Buddha kepada teman yang saya tulisi. “ ( Http://buddhistonline.com/sejarah /sejarah2.shtml ).
Jadi, menurut pemeluk Budha, memuji ‘namo buddhaya’ adalah satu bentuk pujian kepada Tuhan-nya orang Budha. Dalam bahasa Arab, “Buddha Terpujilah” itu sama dengan: “Alhamdu lil-Buddha!”
Buddha menurut orang Buddha? Dalam sebuah buku yang berjudul “ Kumpulan Ceramah Bhikkhu Uttamo Thera (Buku 5), Buddha Dhamma dalam Kehidupan Sehari-Hari”, uraian tentang para dewa tidak akan turun dari sorga dan membantu manusia:
”Sang Buddha yang telah wafat hampir 3000 tahun lamanya itu benar-benar baru sekejap saja untuk alam dewa. Hanya saja, diceritakan dalam Dhamma, alam manusia ini sungguh kotor dan busuk bagi para dewa. Para dewa tidak tertarik untuk membantu manusia. Dari jarak jauh pun mereka sudah jauh dari bau manusia. ”(Hal. 21).
Siapakah nama Tuhan orang Buddha? Dalam sebuah buku berjudul ” Be Buddhist Be Happy” , yang ditulis: “Seorang umat Buddha yang menerima Tuhan Yang Maha Esa yang dikenal dengan sebutan: ” Atthi Ajatam Abhutam Akatam Asamkatam “, yang dimaksudkan: Sesuatu yang tidak didukung, tidak dijelmakan, dicari, Yang Mutlak. Tuhan Yang Maha Esa di dalam agama Buddha adalah Anatman (Tanpa Aku), seseorang yang tidak berpribadi, seorang yang tidak dapat menjelaskan dalam bentuk apa pun. (Jo Priastana, Be Buddhist Be Happy , (Jakarta: Yasodhara Puteri Jakarta, 2005), hlm. 28-29).
Itulah konsepsi Tuhan orang Buddha. Orang Muslim punya konsep Tuhan sendiri. Orang muslim sudah bersaksi, itu bukan Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad saw adalah utusan Allah. Bulehkah seorang muslim, menggantikan Alhamdulillah, dengan Alhamdu lil-Buddha atau Alhamdu lil-Yesus atau Alhamdu lil-Krishna ???
Salam islam
Islam adalah agama wahyu yang murni. Syed Muhammad Naquib al-Attas merumuskan: Islam adalah satu-satunya agama asli yang diwahyukan! Islam memiliki suri tauladan (uswah hasanah) yang abadi, dalam seluruh aspek kehidupan, hingga hal sekecil-kecilnya.
Terkait dalam hal ucapan ‘salam’, orang muslim pun menerima contoh yang dilihat Nabi Muhammad. Bagi seorang muslim, membicarakan salam termasuk ibadah. Islam punya salam yang khas Islam: “Assalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.” Redaksinya pun disponsori oleh Nabi saw.
Dalam sebuah hadits edisi Imam Ahmad, lihat, beberapa sahabat yang pernah memberi salam kepada Rasulullah melihat dengan ucapan: ” Alaika as-salaam ya Rasulallah ” sampai tiga kali. Mendengar itu, Rasulullah melihat meluruskan salam mereka: ‘Jangan kalian berkata seperti itu. Sesungguhnya ‘ alaika as-salaam itu adalah salam untuk orang mati. ”
Jadi, meskipun makna salam itu sama-sama baik, tetapi setiap bentuk redaksi salam, ada tempat masing-masing. Inilah salah satu keunikan ajaran Islam yang memiliki “ uswah hasanan ” (suri tauladan) yang lengkap, sampai hal yang sekecil-kecilnya.
Akhirulkalam, memang sepatutnya, dalam soal ‘salam keagamaan’, biarlah setiap pemeluk agama sesuai salam sesuai dengan agamanya masing-masing. Karena itu, imbauan MUI Jatim soal salam berbagai agama itu, memang sudah tepat.
Itu pun hanya imbauan. Jika tidak mau diimbau, ya tidak apa-apa. Sebagai pewaris tugas kenabian, tugas ulama, percakapan, memang mengimbau dan menasehati umatnya.
***********
Depok, 14 November 2019
Penulis: Dr. Adian Husaini
(Pendiri INSISTS, Ketua Program Doktor UIKA Bogor, Penulis Buku dan Pendiri Pesantren At-Takwa Depok)
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)
_______________________________
@Yuk Dukung MUJAHID DAKWAH dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.
- REKENING DONASI : BNI SYARIAH (0719501842) An. Akbar
- KONFIRMASI DONASI hubungi : 0852-9852-7223
DONASI MUJAHID DAKWAH MEDIA
Baca Selengkapnya : https://mujahiddakwah.com/2018/09/donasi-mujahid-dakwah-media










































































