Waktu adalah persoalan penting, seberapa banyak kita menghasilkan sesuatu bergantung pula seberapa banyak waktu yang kita gunakan. Orang-orang yang sukses diusia muda, mereka menggunakan waktu mudanya dengan sangat maksimal untuk tujuan kesuksesan yang mereka cita-citakan. Lain halnya para pemuda yang menghabiskan masa mudanya hanya untuk berfoya-foya, main game sampai lupa waktu, nonton drama korea (drakor) berjam-jam, mereka menyia-nyiakan waktunya dengan hal yang tak bermanfaat. Disaat teman lainnya telah sukses dalam bidang tertentu, mereka hanya bisa beriri hati bahkan nyinyir, dan penyesalanpun tiba.
Begitu banyak referensi yang membahas tentang waktu, dari para ulama hingga cendekiawan muslim terkemuka. Sepertihalnya Syeikh Yusuf al-Qordawi menulis buku Manajemen Waktu, Syeikh Abdul Fattah menulis buku Manajemen Waktu Para Ulama dan beberapa ulama lainnya. Untung dan rugi kehidupan kita tergantung pada waktu yang digunakan, dan waktu yang paling utama kita gunakan yaitu untuk berbuat ma’ruf danmenjauhi kemungkaran,
Allah Subhanahuwata’ala befitrman : “kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”(Q.S : Al-Asrh: 03).
Waktu adalah kenikmatan bahkan merupakan pokok nikmat yang teragung sebagaimana firman-Nya :
“Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu, berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai. Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang. Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)” (Q.S.Ibrahim:32-34).
Kendati demikian, kenikmatan ini banyak yang melalaikannya sehingga ia menjadi sia-sia, Rasulullah Sholallahu’alaihi wasallam telah mengingatkan kita akan hal ini,
“Dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalam keduanya, yaitu nikmat sehat dan waktu luang” (HR. Bukhari,Tirmidzi,dan Ibnu Majah).
Mengenai hal ini Imam Ibnul Jauzi mengatakan, “Ada orang yang sehat fisiknya, namun ia seakan tidak memiliki waktu untuk persiapan akhirat, karena sibuk dengan urusan penghidupannya; dan ada juga yang mempunyai cukup waktu, namun fisiknya tidak sehat. Apabila kedua kondisi itu berkumpul pada diri seseorang, maka perasaan malas akan mendominasi dari pada ketaatan kepada Allah. Dialah orang yang merugi.
Ketahuilah, dunia adalah ladang untuk negeri akhirat. Didalamnya terdapat perdagangan yang akan kelihatan labanya esok di akhirat. Siapa saja yang mampu menggunakan waktu luangnya dan saat sehatnya untuk taat kepada Allah, maka dialah orang yang berbahagia, dan siapa saja yang menggunakannya untuk maksiat kepada Allah, maka dialah orang yang merugi, karena waktu luang itu akan segera disusul dengan kesibukkan, dan sehat itu akan segera disusul dengan sakit. Sedangkan datangnya masa tua benar-benar akan menyebabkan hilangnya kedua nikmat itu (Syeikh Abdul Fattah : Manajemen Waktu Para Ulama, Hal : 43).
Begitu banyak ayat-ayat dalam Al-Qur’an secara khusus menyinggung yang berkaitan mengenai waktu, sepertihalnya : Demi masa (QS. al-Asrh: 1), Demi waktu matahari sepenggalahan naik (QS Ad- Duhaa: 1), Demi fajar (QS Al-Fajr: 1), Demi malam apabila menutupi (cahaya siang) (QS A-l-Lail: 1), serta masih banyak lagi ayat yang menyebutkan. Sejenak kita termenung memikirkan, mengapa Allah Subhanahuwata’la begitu banyak menyinggung masalah waktu bahkan sampai lebih dari tiga ayat ataupun surat. Para ulama mengatakan jika penyebutan ayat dalam Al-Qur’an diulang dua kali atau lebih maka itu menunjukkan/penegasan bahwa hal tersebut sangatlah urgen (penting).
Dengan demikian, sudah sepantasnya waktu menjadi perhatian khusus bagi kita, karena ia tak mungkin kembali, berputar hari ini telah terlewat waktu seketika itu juga ia akan hilang, maka benarlah apa yang dikatakan oleh Imam Jauzi, mengingatkan kita akan pentingnya waktu dalam kehidupan ini. Apakah akan menjadi orang yang beruntung ataukah merugi, semua tergantung bagaimana waktu itu dimanfaatkan.
Perlu kita ketahui bersama bahwa, jika kita tidak disibukkan oleh hal-hal yang baik maka kesibukan yang tidak baiklah yang akan menghiasinya. Sesekali kita membaca kisah-kisah para ulama terdahulu, betapa mereka begitu sibuk mengisi waktunya dengan hal-hal yang sangat bermanfaat, sepertihalnya Ibnu Suhun berburu dengan waktu sampai lupa makan, diceritakan dalam buku Manajemen Waktu Para Ulama Karya Syeikh Abdul Fatah bahwa Ibnu Suhun memiliki seorang budak wanita bernama Ummu Mudam. Suatu hari ia bertandang ke rumahnya. Saat itu beliau sibuk menulis buku dimalam hari.
Datang santap malam. Budak itu meminta izin masuk kamarnya.”Saya sedang sibuk”, ujarnya. Karena terlalu lama menunggu, maka sang budak menyuapkan makanan itu kemulut beliau sampai beliau mengunyahnya. Hala itu berlangsung lama, dan beliau tetap dalam kondisi demikian, hingga datang waktu sholat subuh. “Maaf, aku sangat sibuk sehingga melupakanmu tadi malam, wahai Ummu Mudam! Tolong berikan makanan yang engkau tawarkan tadi malam!” jawab budaknya : “Tuanku, demi Allah, aku sudah menyuapkannya ke mulutmu,” ujar budak itu heran. “lho, kok aku tidak merasakannya?”, Tanya Ibnu Suhun lebih heran lagi. Seperti itulah ia memperlakukan waktunya, tak sedikitpun yang ia sia-siakan meski waktu makan.
Maka tak heran jika nama-nama para ulama sepertihalnya Ibnu Suhun tetap teringat dalam memori para penuntut ilmu (Tholabul ‘Ilmi), umurnya begitu berkah, namanya tetap disebut meski telah tiada.
Begitu berharganya waktu, sehingga mampu membuat berbeda kualitas hidup seseorang, orang-orang yang cerdas memanfaatkan waktunya, kelak ia akan menuai kesuksesan dibandingkan orang-orang yang menyia-nyiakan waktunya, kualitas kesuksesan yang diperolehpun berbeda, bergantung pada banyaknya waktu yang telah dimanfaatkan.
Orang yang hari-harinya belajar dengan yang tidak belajar, tentu berbeda pengetahuannya meskipun waktu yang dimilikinya sama lamanya yaitu 24 jam . Teringat perkataan Hasan Al-Bashri Rahimahumullah pernah berkata, “Hai anak Adam! Engkau hanyalah kumpulan hari-hari. Jika satu hari berlalu, maka berlalulah sebagian dari dirimu”.
Sesebagaibagai penutup, mengutip apa yang pernah dikatakan oleh Abdullah bin Mas’ud Rodiyallah’anhuma, ia pernah berkata, “Aku belum pernah menyesal sesuatu sepertihalnya aku menyesali tenggelamnya matahari, dimana usiaku berkurang, namun amal perbutanku tidak juga bertambah”.
Bukanlah waktu yang lama, namun seberapa lama waktu yang telah kita lalui begitu berharga karena terisi oleh amalan sholeh kita, sebagai renungan kita diwaktu yang tersisa ini, maksimalkanlah untuk beramal agar penyesalan tidak datang dikemudian hari.
***********
Penulis: Masykur, Sos,.I
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah







































































