Hakikatnya, fitrah manusia merasakan bahwa Tuhannya berada di atas langit. Fitrah itu merupakan karunia Allah kepada manusia, agar setiap mereka tidak perlu bingung dan resah bahkan mungkin stress mencari keberadaan Tuhannya Yang Maha Agung.
Meyakini keberadaan Allah di atas langit merupakan sifat Jibilliyah yang terbawa sejak lahir. Kenyakinan ini di dukung pula oleh begitu banyak ayat di dalam al-Qur’an, bahwa Dia Yang Maha Agung bersemayam di atas langit, di atas Arsy.
Meyakini ajaran islam sebagaimana yang diajarkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sebenarnya cukup simpel, tidak akan menjadikan seseorang bingung. Penjelasan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menganai Allah begitu jelas, bahkan ketika seorang budak wanita ditanya oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam akan keberadaan Allah, “Dimana Allah?”, budak wanita itu menjawab, “Di atas langit. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kemduian dengan tegas bersabda, “Merdekakan dia, sesungguhnya dia adalah seorang wanita yang beriman”. (HR. Muslim)
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mengatakan, “Anda salah, Allah ada tanpa tempat”. Yang menjadi prioritas dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sesuatu yang mampu dipahami oleh akal manusia yang terbatas, dengan memberikan beberapa rambu-rambu agar tidak menyamakan Allah dengan makhluknya. Dan hal itu, juga ditetapkan Allah Azza wajalla di dalam al-Qur’an. Misalnya, Allah tidak serupa dengan makhluknya dan Allah berdiri sendiri dan tidak butuh pada makhluknya. Surah al-Ikhlas sudah mencakup semua permasalahan itu.
Bayangkanlah, dengan kemampuan berfikir manusia yang sangat terbatas, jika dikatakan kepada mereka, “Allah ada tanpa tempat”, maka ucapan ini akan membingungkan, apalagi jika diutarakan pada anak kecil yang sedang belajar akidah, sungguh engkau akan melihat ia semakin bingung. Apalagi, banyak ayat justru menyelishi keyakinan itu. Allah mengatur segala urusan dari langit, malaikat naik ke langit maenghdap Allah, dan begitu banyak isyarat di dalam al-Qur’an bahwa Allah di atas langit.
Ucapan bahwa Allah ada tanpa tempat pun muncul belakangan. Artiya, mengimani Allah Azza wajalla di atas langit itulah yang menjadi prioritas dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bukan pemahaman “Allah ada tanpa tempat”. Sangat menyedihkan, jika kemudian orang-orang belakangan mengatakan, “Meyakini bahwa Allah di atas langit, maka ia telah kafir”. Sungguh ini adalah penyesatan, sebab Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mempersaksikan keimanan seorang budak wanita yang mengatakan Allah di atas langit.
Ada pernyataan cukup menarik yang diucapkan oleh seorang ulama bermazhab Syafi’iyyah yang memperkuat akidah bahwa Allah di atas langit. Dia, al-Imam Abu Utsman Ismail bin Abdirrahman ash-Shabuni asy-Syafi’i (W. 449 H) rahimahullah. Dalam kitabnya yang berjudul “ar-Risalah Fi I’tiqadi Ahlissunnah Wa Ashabil Hadits Wal Aimmah”, beliau berkata, “Para ahli hadits berakidah dan mempersakiksikan bahwa Allah subahanahu wata’ala dia atas langitNya yang tujuh bersemeyamam di atas arsy”. (ar-Risalah Fi I’tiqadi Ahlissunnah Wa Ashabil Hadits Wal Aimmah: 175, Tahqiq Dr. Nashir bin Abdirrahman bin Muhammad al-Jadi’)
Dalam tahqiqnya terhadap kitab “ar-Risalah Fi I’tiqadi Ahlissunnah Wa Ashabil Hadits Wal Aimmah: 175, Dr. Nashir bin Abdirrahman bin Muhammad al-Jadi’ menukil satu ayat yang memperkuat keyakinan bahwa Allah di atas langit, yaitu firman Allah azza wajalla:
وَقَالَ فِرۡعَوۡنُ يَٰهَٰمَٰنُ ٱبۡنِ لِي صَرۡحٗا لَّعَلِّيٓ أَبۡلُغُ ٱلۡأَسۡبَٰبَ ٣٦ أَسۡبَٰبَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ فَأَطَّلِعَ إِلَىٰٓ إِلَٰهِ مُوسَىٰ وَإِنِّي لَأَظُنُّهُۥ كَٰذِبٗاۚ وَكَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِفِرۡعَوۡنَ سُوٓءُ عَمَلِهِۦ وَصُدَّ عَنِ ٱلسَّبِيلِۚ وَمَا كَيۡدُ فِرۡعَوۡنَ إِلَّا فِي تَبَابٖ ٣٧
“Dan berkatalah Fir´aun: “Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta”. (QS. Ghafir. 36-37)
Dr. Nashir bin Abdirrahman bin Muhammad al-Jadi’ kemudian berkata:
وإنما قال ذلك لأنه سمع من موسى عليه السلام يذكر أن ربه في السماء , ألا ترى إلى قوله : وَإِنِّي لَأَظُنُّهُۥ كَٰذِبٗا يعني في قوله إن في السماء إلها وعلماء الأمة وأعيان الأئمة من السلف رحمهم الله لم يختلفوا في أن الله تعالى على عرشه وعرشه فوق سماواته
“Fir’aun berkata seperti itu karena telah mendengar dari Musa ‘alaihissalaam yang menyebutkan bahwa di langit ada Tuhan. Perhatikanlah firman Allah Azza wajalla yang menyebutkan perkataan Fir’aun, “Sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta” maksudnya perkataan Musa bahwa di langit ada Tuhan. Para pembesar ulama dari kalangan salaf tidak ada yang berbeda pendapat bahwa Allah di atas ArsyNya, sedang arsyNya itu berada di atas langit”. (ar-Risalah Fi I’tiqadi Ahlissunnah Wa Ashabil Hadits Wal Aimmah: 176, Tahqiq Dr. Nashir bin Abdirrahman bin Muhammad al-Jadi’)
Imam Ibnu Katsir asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Adapun mengenai firman Allah Azza wajalla “Kemudian bersemayam di atas Arsy” maka manusia berbeda pendapat pada perkara ini dalam perkataan yang sangat banyak, bukan pada kesempatan ini untuk menyebutkannya. Hanya saja, pada permasalahan ini saya meyakini sebagaimana yang diyakini para salaf ash-Shalih yaitu Malik, al-Auza’I, ats-Tsauri, al-Laits bin Sa’ad, asy-Syafi’I, Ahmad, Ishak bin Rahuyah dan selainnya dari kalangan imam-imam kaum muslimin yang dahulu dan sekarang bahwa megimani istiwa ini dengan cara mengimaninya sebagaimana ia disebutkan, tanpa takyif (memberikan gambaran), tasybih (menyerupakan), tanpa ta’thil (menyelewengkan maknanya)….
Barangsiapa mengingkari apa yang Allah sebutkan untuk diriNya sendiri maka sungguh ia telah kafir. Bukanlah mpenyerupaan dengan makhluk mengimani apa yang Allah sifatkan untuk diirNya sendiri atau yang disifatkan oleh RasulNya. Barangsiapa yang menetapkan sifat untuk Allah berdasarkan ayat-ayat yang jelas dan hadits-hadits yang sahih sesuai sifat yang pantas bagi keagunganNya dan menafikan sifat kurang bagi Allah, sungguh ia telah menapaki jalan hidayah”. (Tafsir Ibnu Katsir: 2/203)
***********
Penulis: Muhammad Ode Wahyu al-Munawy
(Pembina Pondok Pesantren Tahfizhul Qur’am an-Nail, Alumni Jurusan Syariah Prodi Perbandingan Mazhab dan Hukum Islam STIBA Makassar dan Kontributor mujahiddakwah.com)
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah











































































