Ketika kita mengalami kegagalan, maka hati kita terkadang merasa sedih, marah, kecewa, malu atau perasaan negatif lainya. Ini sangat wajar dan merupakan sikap manusiawi. Namun begitu, kita tidak boleh terus menerus membiarkan perasaan ini menguasai diri kita dalam jangka waktu yang lama. Mengapa? Karena kesenangan selalu diiringi dengan kesusahan, dan kesulitan pun akan diiringi dengan kemudahan. Sebuah paradigma kehidupan roda-roda yang setiap harinya maka seperti itulah kehidupan kita, terkadang kita dibawah dan terkadang kita diatas. Takkala kita dibawah maka bersabarlah dan takkala diatas maka syukurilah karena tidak semua manusia diberikan hal tersebut.
Antara sukses dan gagal adalah suatu perkara yang tidak akan terlepas dari kehidupan kita terkecuali kita telah mati. Satu pemahaman sederhana yang jika dimiliki seseorang, dia akan lebih kokoh dalam menghadapi kenyataan-kenyataan hidup. Pemahaman itu bersumber dari kesadaran bahwa dalam setiap usaha ada peluang sukses dan ada peluang gagal. Akhir setiap usaha tidak selalu gagal, namun juga tidak selalu sukses. Sukses dan gagal terjadi secara alamiah terhadap kehidupan kita dan tidak bisa kita tolak.
Jiwa manusia pada umumnya tidak menyukai kegagalan, ia lebih menyukai sukses dan sukses saja. Idealnya, dalam setiap usahanya manusia selalu mendapatkan sukses. Namun kenyataan seperti itu tidak pernah terjadi. Dimana pun dan siapa pun, sukses dan gagal selalu terjadi. Tidak dijamin baha dengan kekayaan yang besar, seseorang bisa menciptakan sukses seperti yang dia ingingkan. Mungkin saja, sukses dibidang materi bisa dicapai, tetapi sukses dalam hubungan antar manusia sangat sulit dikendalikan oleh nilai kekayaan. Justru orang-orang makmur materi (the have) sering kali mengalami krisis dalam hubungan antar manusia.
Begitu pula orang-orang yang fakir dalam kekayaan tidak otomatis mereka diharamkan merai sukses. Munkin saja mereka tidak mampu membangun rumah yang megah, tidak bisa membeli fasilitas-fasilitas yang mahal, tidak memiliki perhiasan berkilau-kilau, tidak bisa menyekolahkan anak-anaknya disekolah yang ternama, sehari-hari tidak menikmati menu makanan lezat, dan sebagainya. Tetapi tidak seluruh bagian kehidupan mereka memprihatinkan. Lihatlah situasi keluarga mereka, misalnya kehangatan hubungan ayah-ibu, sikap santun anak-anak mereka, keramahan dengan tetangga, solidaritas sosial, kebebasan menjalani hidup, pengalaman hidup yang beragam, dsb.
Mereka memang tidak mampu membeli fasilitas-fasilitas mewah, tetapi mereka memiliki kehangatan kehidupan yang sulit dicapai orang-orang yang memiliki kekayaan yang berlimpah. Karena sesungguhnya kebahagian yang kita capai tidaklah harus kaya, begitu banyak orang yang miskin memiliki hidup yang bahagia, karena mereka mensyukuri terhadap apa yang di milikinya. Namun, begitu banyak orang yang berada, orang kaya, yang terkadang setiap harinya mereka tidak pernah merasakan kebahagian dalam kehidupan. Karena bisa jadi mereka tidak pernah mensyukuri nikmat yang Allah berikan kepadanya.
Sukses dan gagal merupakan sunnatullah yang menghiasi kehidupan manusia. Ia terjadi pada siapapun, tidak membedakan latar-belakangnya. Sukses atau gagal tidak bisa dikendalikan oleh kekuatan materi (uang). Secara teori, orang yang kaya lebih memungkinkan bisa mencapai sukses, sedangkan orang fakir lebih dekat ke kegagalan. Tetapi kenyataan berbicara, apa yang diperkirakan manusia tidak selalu terjadi. Betapa banyak keluarga orang kaya, anak-anak dan isteri mereka rusak moral karena biasa dimanjakan dengan kesenangan materi. Sebaliknya, banyak tokoh, pemimpin, pejabat, atau pengusaha sukses yang lahir dari keluarga miskin.
Sukses dan gagal juga terjadi dalam kehidupan orang-orang beriman. Rasulullah selama hidupnya mengalami banyak cobaan-cobaan dan masalah. Jika beliau hanya mendapatkan sukses, tentu tidak akan mengalami masa-masa berat. Sejak awal dakwahnya di Makkah, Rasulullah menghadapi tantangan-tantangan yang keras. Tidak henti-hentinya beliau mengalami tekanan dari kaum musyrik Quraisy. Tekanan-tekanan juga menimpa para sahabat beliau yang beriman. Setelah hidup di Madinah pun, Rasulullah terus menghadapi cobaan-cobaan. Bahkan cobaan itu juga menimpa rumah-tangga beliau, seperti putra beliau yang meninggal, persilisihan antara sebagian isteri, peristiwa pemberian pilihan, hingga termasuk fitnah yang menimpa Aisyah .
Setelah Rasulullah menjalani sekian panjang episode perjuangan meletihkan. Di ujung perjuangan itu, Allah memberikan hasil sukses gemilang. Allah berfirman;
Artinya: “Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu Lihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah, Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat”. (QS. An-Nashr: 1-3).
Penjelasan terbaik atas surat ini adalah peristiwa Fathu Makkah (jatuhnya Kota Makkah ke tangan umat Islam). Jika semula Rasulullah dan para sahabat terusir dari Makkah, maka setelah 10 tahun kemudian, mereka datang lagi ke Makkah dengan menaklukkan kota tersebut. Ketika Makkah ditaklukkan, ribuan warga Makkah yang semula musyrik dengan rela hati masuk Islam. Termasuk di dalamnya Abu Sufyan dan isterinya, Hindun, yang dahulu sangat memusuhi Nabi .
Kesuksesan dan kegagalan pasti akan menimpa siapa pun, tidak membedakan latar-belakangnya. Orang kaya dan miskin akan mengalami sukses dan gagal, sebagaimana orang shalihdan fajir (banyak berbuat dosa) juga akan mengalami keduanya. Hal ini merupakan hukum yang berlaku dalam kehidupan manusia. Allah berfirman;
Artinya: “Dan Kami pecahkan mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan; di antaranya ada orang-orang yang saleh dan di antaranya ada yang tidak demikian. dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran)”. (QS. Al-A’raaf: 168)
Dari Ibnu Abbas berkata: Saya pernah berada di belakang Rasulullah pada suatu hari dan Beliau bersabda, “Hai anakku! Saya hendak mengajari engkau beberapa kalimat: Jagalah Allah, niscaya Allah menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapatkannya di hadapanmu. Jika engkau meminta, maka mintalah kepada Allah. Jika engkau minta tolong, minta tolonglah kepada Allah. Ketahuilah bahwa walaupun bersatu seluruh manusia untuk memberikan mamfaat padamu dengan sesuatu, niscaya tiadalah mereka dapat melakukan itu, kecuali dengan sesuatu yang telah ditentukan Allah. Dan walaupun mereka bersatu untuk mencelakakan kamu dengan sesuatu niscaya tiadalah mereka dapat mencelakakan kamu kecuali dengan sesuatu yang telah ditentukan Allah padamu. Pena telah diangkat dan telah kering tinta lembaran-lembaran itu (maksudnya takdir telah ditetapkan). Peliharalah selalu ingatan engkau akan Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu. Hendaklah engkau mengenal Allah diwaktu lapang, Allah akan mengenal engkau diwaktu susah. Ketahuilah bahwa apa yang luput darimu tidak akan mengenai engkau, dan apa yang harus mengenai engkau tidak akan menyimpang daripadamu. Dan ketahuilah sesungguhnya pertolongan ini selalu bersama kesabaran, dan sesungguhnya kesenangan ada beserta kesusahan, dan kesulitan itu ada kemudahan.” (HR. Tirmidzi).
***********
Bersambung, Insya Allah…
Penulis: Muhammad Akbar, S.Pd
(Penulis Buku, Aktivis Media Islam, Pimpinan Mujahid Dakwah Media, Pengurus Madani Institute dan Pembina Daar Al-Qalam)
Sumber: Buku Meraih Kesuksesan dalam Benih Kegagalan
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)











































































