Artinya: “Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah). (QS. Ibrahim: 34).
Ayat ini menjelaskan bahwa begitu besarnya nikmat yang Allah berikan kepada kita, sebagamana ketika kita ingin mengitungnya maka ketahuilah kita tidak akan mampu menghitungnya. Allah memberikan kegagalan kepada kita adalah sebuah nikmat dan rahmat dari-Nya, dan sepatutnya kita mensyukuri apa yang telah ditentukan kepada kita. Begitu besarnya nikmat yang Allah berikan kepada kita. Kita bisa melihat bagaimana kekuasaan dan nikmat yang Allah berikan pada setiap makhluk yang ada didunia ini, lingkungan yang mengandung unsur penting dalam hidup kita.
Kajian tetang bagaimana nikmat yang Allah sediakan untuk manusia didunia ini yakni udara yang kita hirup sehari-harinya tanpa kita membayarnya. Di dalam udara atau hawa, padanya dijumpai berbagai unsur gas, gas oksigen, nitrogen, hidrogeen, helium, zat lemas, argon, kripton dan gas-gas mulia lainnya yang kecil jumlahnya. Jadi sesungguhnya sama sekali tidak ada pabrik gas, karena manusia tak mampu membuatnya dan mampu menandingi nikmat yang Allah berikan. Yang ada hanyalah pabrik memisah-misahkan gas dengan perbedaan titik didih masing-masing gas.
Dari hasil penyelidikan cerdik pandai bahwa pada udara tersebut ditemui dalam prosentasi unsur-unsur gas yang seimbang sebagaimana yang diperlukan oleh umat manusia dan makhluk-makhluk lainnya. Salah satu unsur gas yang sangat berpotensi bagi hidup dan kesehatan manusia adalah gas oxygen. Kebutuhan seorang manusia dalam memenuhi kesehatan memerlukan gas oxygen setiap harinya antara 18-20 %.
Allah telah mengatur sedemikian rupa dengan pasti bahwa di dalam udara yang kita hirup saat ini persis dalam prosentasi antara 18-20 %. Andai kata lebih tinggi dari prosentase tersebut, maka suhu udara gerah, panas dan akibatnya mudah terpicu timbulnya kebakaran dimana -mana, dan sebaliknya bila jauh di bawah prosentase tersebut maka yang akan terjadi adalah penduduk susah bernafas, tersengal-sengal karena pernafasan kita terganggu oleh zat lemas yang memenuhi lingkungan hidup kita dan besar kemungkinan keluhan akan berkepanjangan atas masalah yang kita hadapi.
Untuk lebih meyakinkan diri kita, apa yang dikemukakan tadi, patutlah diketahui atau kalau ada yang telah mendalami anggaplah kita mengulang kajian lama, bahwa seorang manusia sehat dewasa dalam keadaan normal, dalam satu menit kurang lebih 20 (Dua Puluh) kali bernapas. Satu kali bernafas udara kurang lebih 2 liter udara ke dalam rongga-rongga pernapasan, ini berarti semenit akan menghirup kurang lebih 40 liter udara. Kalau sehari semalam (24 jam) kita akan mengkonsumsi 57.600 liter udara, atau dengan kata lain kita telah menggunakan gas oxygen murni (100%) sebanyak 20% dari 57.600 liter udara adalah 11.520 liter oxygen murni seharinya. Inilah nikmat yang Allah berikan kepada kita secara gratis Allah tidak meminta untuk dibayar. Maka pantaskah kita menyombongkan diri untuk tidak bersyukur, tentu tidak. Namun berapa besarkah nilai ekonominya ketika nikmat yang Allah berikan kepada kita?
Saat ini umum dipasarkan satu tabung oxygen harganya Rp. 40.000 yang isinya 6000 liter yang kadar oxygen antara 97-99% berarti nilai tiap liternya adalah 40.000: 6000 adalah kurang lebih Rp. 6.600 per liter. Ini berarti seseorang manusia sehat cuma-cuma alias gratis telah menghabiskan gas oxygen setiap harinya dengan nilai 11.520 kali Rp. 6.600 sama dengan Rp. 760.000,- kalau sebulan nilainya menjadi Rp. 22.800.000,-. Nah kalau kita ingin lebih mendalaminya lagi seberapa besar nikmat oxygen yang telah kita hirup selama hidup atau pada usia kita saat ini misalnya 25 tahun, 50 tahun atau 60 tahun rata-rata kita semua yang masih hidup, berarti biaya yang tertuang kepada Allah dalam nilai rupiah saat ini di atas 1 milyar, rasanya memang mustahil. Namun ketahuilah kita tidak akan mampu membayarnya? Tapi kalau tidak percaya boleh hitung sendiri, begitu besarnya nikmat Allah kepada hambaNya dan masih sebagian kecil nikmat yang baru kita perhatikan.
Dan sepatutnya kita memperbanyak mensyukuri nikmat yang Allah telah berikan tersebut kepada kita, dan berharap agar nikmat yang Allah berikan kepada kita terus ditambah dan ditambah. Sebagaimana firman-Nya:
Artinya: “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS. Ibrahim: 7).
Begitu pula dalam kehidupan kita yang dimana kebanyakan dalam buku ini berbicara tentang kegagalan dan kesuksesan, sesungguhnya setiap sendi kehidupan kita, baik atau buruknya itu merupakan nikmat dari Allah , dan bisa jadi kegagalan yang kita alami akan berubah menjadi sebuah keberhasilah takkalah kita pandai mensyukuri hal tersebut, dan bersabar dengan apa yang Allah telah tentukan untuk kita. Semakin besar rasa syukur kita kepada Allah maka akan menambah kedekatan kita kepada Allah , dan barangsiapa yang dekat dengan Allah, maka yakinilah segala kegagalan yang dialaminya Allah itu akan merubah kegagalan itu adalah takdir kita. Namun, Allah akan mengantinya menjadi yang lebih baik.
“Marahnya orang yang mulia bisa terlihat dari sikapnya, dan marahnya orang yang bodoh terlihat dari ucapan lisannya.” (Imam Syafi’i).
***********
Bersambung, Insya Allah…
Penulis: Muhammad Akbar, S.Pd
(Penulis Buku, Aktivis Media Islam, Pimpinan Mujahid Dakwah Media, Pengurus Madani Institute dan Pembina Daar Al-Qalam)
Sumber: Buku Meraih Kesuksesan dalam Benih Kegagalan
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)











































































