Di antara berbagai kisah tentang jihad merupakan tingkat tertinggi di ‘ ubudiyyah seseorang setelah iman kepada Allah dan Rasul-Nya. Jihad menjadi puncak dari syariat. Jihad berlaku sepanjang zaman, di mana pun, dan bagi setiap individu. Jihad merupakan upaya menampakan al-haqq (Kebenaran). Jihad, adalah kesungguhan total dalam melawan musuh-musuh kebenaran, yakni setan, baik dalam wujud manusia atau pun waswas (bisikan) yang senantiasa menyelinap di dalam dada.
Pergumulan di hati setiap manusia di antara prajurit malaikat dan prajurit setan senantiasa berkecamuk. Satu di antaranya akan memperebutkan takhta dan kemudian mengendalikan raja bagi tubuh manusia, yaitu hati (Ibnu Qudamah, 1997: 179). Bila istana hati dikuasai oleh prajurit-prajurit ilmu dan hidayah maka ia akan menang. Bagaimana jika hati dikuasai oleh prajurit-prajurit setan dan hawa nafsu, maka binasalah ia.
Benteng untuk hati dari pejuang hawa nafsu dan setan adalah dzikrullah . Setan akan lari dari tempat-tempat yang disebut senantiasa disebut Nama Allah. Setan juga akan enggan pindah tempat-tempat yang bersih, lantara hati senantiasa disucikan dengan ibadah. Sebab, telah menjadi karakter bagi setan adalah tempat-tempat yang kotor. Inilah jihad melawan hawa nafsu. F ard h u ‘ain bagi setiap individu. Setiap hati manusia harus futuh (terbebas) dari semua kotoran kalbu.
Setiap sufi adalah mujahid. Dia berijihad melawan musuh-musuh Allah, baik yang berada di hati atau pun musuh-musuh Allah dalam wujud manusia. Di medan jihad, mereka akan bertempur dengan penuh keikhlasan. Tidak ada yang mereka takutkan malainkan hanya Allah. Jiwa mereka telah ridha kepada Allah atas setiap lembar takdir yang termaktub. Mati, bagi mereka akhirnya akhir dari semua pintu untuk berjumpa dengan Kekasihnya di surga. Mereka adalah para mujahid yang ‘ārif . Mujahid yang memiliki ” ma’rifat”. Mereka senantiasa merindukan syāhid dan juga syuhūd ( musyāhadah, melihat Allah).
Telah banyak membantu dalam lembaran-lembaran sejarah tentang para sufi yang ikut andil dalam perang suci. Syaqieq al-Balakhi (w. 194 H / 810 M) adalah seorang tokoh sufi masyhur yang pernah terjun di kancah peperangan tanpa mempedulikan lagi di bagian bumi mana ia akan tergolek mati di jalan Allah. Syeikh Abu Hasan al-Syadzīlī (w. 1258 M), seorang tokoh sufi ternama yang lebih banyak membutuhkan dirinya di medan jihad. Sampai saat usianya lebih dari enam puluh tahun dan sudah sangat besar, beliau masih turun ke medan jihad. Di kamp-kamp jihad ini, dia masih rumit, dia menghabiskan malam dengan bermunajat dan menyempatkan diri berjalan di tangah-tengah para pasukan seraya memberikan kalimat-kalimat yang membangkitkan semangat perjuangan (Mahmoud, tt: 18-19). Salain ada pula seorang ‘ rifyang masa lalu banyak mengalami debu-debu jihad dan penjara, yaitu Badiuzzaman Said Nursi (w. 1379 H / 1960 M). Di antara peperangan bersama rakyat Utsmani di mana Said Nursi ikut andil adalah peperangan melawan Rusia dan Armenia pada Perang Dunia I. Kitab tafsir beliau yang berjudul Isyrat al-I’jāz, merupakan satu karya yang dituliskan di atas kuda disela-sela pertempuran. Kepada muridnya, Said Nursi mengatakan, “Jangan takut apapun, iman seorang Muslim lebih kuat dari apapun” (Vehide, 2007: 168-169.
Dalam lembaran sejarah Islam di Nusantara, kitaakan menemukan nama-nama para ‘arif billah yang mengakomodir kekuatan kaum Muslimin Nusantara untuk membantu memperjuangkan kalimat Allah dan menggelorakan perang suci, seperti Al-Maqassari, Al-Fattani dan Al-Palimbani (yang akan akan dicari f ffer di sini). Syeikh Yusuf al-Maqassari adalah seorang sufi ternama asal Makassar yangdijuluki Tajj al-Khalwatī(pemimpin Tarikat Khalwatiyah). Nama beliau masyhur bukan hanya di Nusantara tapi jugadi Hijaz bahkan di Cape Town Afrika Selatan. Pada 1660 M, beliau memimpin pasukan Kesultanan Banten dalam pertempuran melawan Belanda. Pasukan Al-Maqassari berulang kali berhasil dikembalikan pasukan Belanda baik melalui pasukan laut (melalui pelaut-pelaut ulung Banten) dan pasukan darat (pasukan gerilya yang berjuang mati). Dia juga ikut mengupayakan gerakan perbaikan rakyat Makassar yang kian hari kian melakukan larangan agama karena dominasi Belanda. Naas, usaha beliau tidak berhasil baik oleh Sultan Gowa, Sultan Amir Hamzah (1669-1674) yang rupanya telah bersekutu dengan VOC. Belanda kemudian mengasingkan beliau ke Tanjung Harapan, Afrika Selatan hingga beliau wafat (Mustafa, 2011: 24-29).
Semangat Jihad juga disebarkan melalui berbagai sufi persaudaraan. Sederet pemberontakan melawan penajajah pada akhir abad ke-19 banyak dilakukan. Tarikat Sammaniyah terlibat dalam pemberontakan anti-Belanda di Palembang (1819) dan Kalimantan Selatan (1860-an); tarikat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (yang didirikan oleh Syeikh Ahmad Khatib Sambas) terlibat dalam pemberontakan Banten (1888), Sidoarjo (1903) dan Lombok (1891-1894); Tarikat Syatariyah terlibat dalam pemberontakan anti-pajak di Tanah Minagkabau (1908) (Loir, 2013: 37-38).
‘Abd al-Shamad al-Palimbani, Seorang Arsitek Jihad
‘Abd al-Shamad al-Palimbani adalah seorangulama, ahli tasawuf sekaligus seorang mujahid dan arsitek jihad. Gelar kesufian beliau tidak diragukan lagi. Dia termasuk salah satu pembawa Hujjat al-Islami Imam al-Ghazali dan termasuk ulama yang memperkenalkan tarikat Sammaniyah di bumi Melayu-Nusantara. ‘Abd al-Shamad al-Palimbani dikenal sebagai ulama tasawuf melalui dua karyanya Hidāyat al-Sālikīn dan Siyār al-Sālikīn yang terkait menerjemahkan / saduran dari karya Imam al-Ghazālī Lubab Ihyā’ Ulum al-Dīn dan Bidāyah al-Hidāyah.‘Abd al-Shamad al-Palimbani berhasil menyesuaikan metafisika-tasawuf Ibn’ Arabi dengan prinsip-prinsip Imam al-Ghazālī. Menurut Azyumardi Azra, nama beliau cukup populer dan disegani di Timur Tengah. Hal ini dibuktikan dengan masuknya nama’Abd al-Shamad al-Palimbani dalam kamus-kamus biografi Arab (Azra, 2004: 113 dan Zubair dalam Lektur, 2011: 374).
‘Abd al-Shamad ibn’ Abd Allāh al-Jāwī al-Palimbānī berbicara di Palembang pada sekitar 1116 H / 1704 M dari pasangan Syeikh Sayyid sultan di Palembang. Sejak tahun 1760-an beliau menghabiskan masa tinggalnya di Mekah dan di Thaif. Dia banyak menulis karangan dalam bahasa Melayu dan Arab yang sebagian besar dia tulis di Makkah. Dia pergi pendidikan di Kedah dan Patani, lalu pindah mengirim dia untuk belajar ke Jazirah Arab. Dia kemudian menguasai ilmu syariah, hadits, fiqih, tafsir, kalam dan tasawuf. Kemungkinan besar beliau wafat sekitar tahun 1203 H / 1789 M (Azra, 2004: 113 dan Zubair dalam Lektur, 2011: 377-378).
Al-Palimbani termasuk ulama Melayu-Nusantara yang menonjol pada abad ke-18. Meskipun sebagian besar usianya dihabiskan di Haramain dan tidak pernah kembali ke Nusantara, dia tidak dihapus kontak dengan komunitas Jawi di Makkah dan ditambahkan pertanggungan yang melibatkan terhadap yang terjadi di Nusantara (Azra, 2004: 114, Drewes, 1976: 267). Dia tidak hanya dikenal sebagai tokoh yang terlibat dalam perkembangan Islam di Melayu-Nusantara melalui karya-karyanya, tetapi juga ikut andil dalam mengobarkan semangat jihad melawan penjajah, khusus melalui buku Nashīha h al- Muslimin.
Di antara guru-guru Al-Palimbani yang paling berpengaruh adalah Muhammad ibn ‘Abd al-Karim al-Sammani dan mursyid tarikat Sammaniyah yang mana Al-Palimbani mendapatkan ijazah tarikat Sammaniyah darinya; kemudian ada Muhammad ibn Sulaiman al-Kurdi dan ‘Abd al-Mun’im al-Damanhuri. Selain itu ada pula Ibrahim ibn Muhammad al-Ra’is al-Zamzami al-Makki, seorang yang menguasai ilmu falak (astronomi) setelah ilmu agama. Guru-guru syariah dan muhaddits Al-Palimbani yang lain, seperti Muhammad Murad seorang ulama besar asal Damaskus yang dijuluki “ penyangga syari’ah “ dan “ rumah pengetahuan “ di Suriah, sering kali berkunjung ke Mekkah; Muhammad bin Ahmad al-Jawhari al-Mishri seorang putra darimuhaddits terkemuka asal Mesir yaitu Ahmad ibn al-Hasan ibn ‘Abd al-Karim ibn Yusuf al-Karimi al-Khalidi al-Jawhari al-Azhari; dan yang terakhir adalah ‘Ata Allah bin Ahmad al-Azhari al-Mishri al-Makki (Azra, 2004: 308-309).
Al-Palimbani berpartisipasi aktif dalam komunitas Jawi seperti sesama penuntut ilmu di Mekah yang lain di diundang; Muhammad Arsyad al-Banjari, ‘Abd al-Wahhab Bugisi,’ Abd al-Rahman al-Batawi dan Dawud al-Fattani. Karena itu, perlu diperbaiki informasi mengenai Nusantara dan pengembangan agama dan politiknya (Azra, 2004: 308). Al-Palimbani termasuk penyambung jaringan ulama Timur Tengah dengan Nusantara.
Ia juga dikenal sebagai inspirator perlawanan masyarakat Melayu-Nusantara dalam melawan penjajah. Karya beliau yang berjudul Nashīha h al-Muslimin wa Tazkirat al-Mu’minīn fi Fad h ā’il al-Jihād fī Sabīl Allāh wa Karāmat al-Mujāhiddīn fī Sabīl Allāh (kemudian disingkat dengan Nashiha tul Muslimin ) juga disertai dengan karangan Hikayat Perang Sabil karya Teuki Cik Di Tiro (versi lain mengatakan karangan Teuku Cik Pantee Kulu) . Hikayat Perang Sabiladalahsebuah karya sastra prosa yang mempu bangkit semangat jihad rakyat Aceh dalam mempertahankan negerinya dari penjajahan Belanda. Perang Aceh yang berlangsung pada 1873 M hingga 1912 M merupakan perang terlama yang dialami Belanda di Indonesia (Zubair dalam Lektur, 2011: 375).
Di dalam Al- Tarkh Salasilah Negeri Kedah yang ditulis oleh Muhammad Hasan bin Tok Kerani Muhammad Arsyad diuraikan pada 1244 H / 1828 M Al-Palimbani pernah datang dari Mekah ke Kedah. Al-Palimbani ikut campur dalam bernegosiasai kepada penjajah (Siam) yang pada akhirnya menerima keputusan perang. Dia ikut campur dalam membentuk pasukan pembebasan dan terlibat langsung yang menyebabkan dia jatuh sebagai syahid. Meskipun cerita ini sebagian besar masih dipertanyakan kesahihannya, karena pada saat itu ketika memilih pada tahun, tarikh usia dia telah mencapai 124 tahun, usia yang tidak mungkin berperang. Namun, tulisan ini cukup membuktikan perhatiannya terhadap perang di jalan Allah (Zubair dalam Lektur,2011: 394-395).
Peranannya sebagai tempat jihad tidak hanya diterima oleh rakyat Aceh dan Kedah tetapi juga tempat-tempat lain di Sumatera, Semenanjung Malaka dan Pulau Jawa. Al-Palimbani dijuluki sebagai Spesialisasi Perang Sabil oleh Voorenhove karena perhatiannya yang besar terhadap hal tersebut (Zubair dalam Lektur, 2011: 374 dan Braginsky, 1998: 478).
Al-Palimbani pernah menulis beberapa surat, tiga di disita oleh Balanda. Surat-surat ini berisi tentang para sultan-sultan di Jawa untuk melakukan perang suci (jihad) melawan kaum kafir. Surat pertama untuk Sultan Mataram, Hamengkubuwono I (Sultan Mangkubumi) yang dia titipkan melalui dua Jemaah haji asal Jawa (Braginsky, 1998: 478, Drewes, 1976: 270). Di dalam surat itu Al-Palimbani menjelaskan kedudukan seorang syuhada. Ricklefs memperhatikan bahwa surat ini telah mengobarkan perang suci di Jawa; merupakan bukti kesejarahan penting dalam sejarah memperjuangkan kaum Muslimin Melayu-Indonesia melawan Belanda; dan bukti keberadaan usaha Dunia Islam internasional untuk mengobarkan jihad di Jawa pada tanggal dua abad ke-18 (Azra, 2004: 363).
Meskipun, ada yang berpendapat bahwa Al-Palimbani telah gagal dalam usahanya mendorong para penguasa Jawa agar melakukan jihad, sebab Belanda memegang surat-surat tersebut sebelum sampai ke tujuan. Namun demikian, tidak mungkin maksud surat ini tetap disampaikan kepada raja Jawa melalui ulama yang dititipkannya (Azra, 2004: 364).
Surat-surat tersebut diterbitkan dalam bahasa Arab dan kemudian hari diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa dan selanjutnya bahasa Belanda. Teks terjemahan Inggris surat diambil dari tulisan Drewes (1976: 270-271). Berikut kutipan surat pertama;
(Puji-pujian kepada Allah dan Shlawat kepada Nabi), sebuah contoh dari pujian Tuhan adalah Dia telah menggerakkan hati penulis (Al-Palimbani) untuk mentransfer sepucuk surat dari Makkah dan, di samping itu, ‘nikmat Tuhan’, di antara semua tanda Penghargaan adalah bintang cahaya bintang-bintang yang menghiasi cakrawala, karena dunia diterangi oleh bintang-bintang, yang juga merupakan bukti kekuatan dan kehormatan Tuhan, sebagai cahaya di atas taman surga, taman yang tak terkira. Tuhan telah menjanjikan para Sultan akan dipindahkan, karena keluhuran budi, kebajikan, dan gabungkan mereka yang tiada tara melawan musuh dari agama lain. Di antara mereka ini adalah raja Jawa, yang mempertahankan agama Islam dan berjaya di atas semua raja lain, dan menonjol dalam amal dalam peperangan melawan orang agama lain.“Jangan mengira mereka mati dalam perang suci itu benar-benar mati; jelas tidak mereka yang sebenarnya masih hidup. “ (QS. 2; 154, 3: 169). Nabi Muhammad bersabda: “Aku diperintahkan setiap orang kecuali mereka yang mengenal Tuhan dan diriku, Nabi-Nya”. Orang-orang yang terbunuh dalam perang suci diliputi oleh keharuman kudus yang tak terlukiskan; Jadi ini merupakan penjelasan untuk seluruh pengikut Muhammad. Allah berfirman, “Allah menganugerahkan hikmah dan kebaikan, memberikan kebebasan dan kelapangan” (QS. 2: 269), atau menurut penafsiran yang lain, ia akan tergantung pada kebaikan mana saja yang mereka perlukan karena berjalan di atas jalan Tuhan dan aturannya patus dipuji atas rakyat dan tentaranya, tindakan mereka tidak tercela, karena itu hidup sesuai harapan mereka oleh takut kepada Tuhan.
Bersama ini saya menerbitkan untuk Tuan yang Mulia melalui Imam Haji Bassarin dan Muhammad Idris jumlah kecil Air Zamzam, udara dari Makkah untuk digunakan sebagai obat penyembuh (penguat), sementara itu sangat diperuntukkan bagi kedua orang imam untuk Yang Mulia dan membantu Tuan cukup didasariatas agama tetapi juga orang-orang yang sempurna berjalan di jalan allah dan nabi.
Isi surat ketiga sebagai berikut;
Tuhan akan mengampuni dosa-dosa orang saleh seperti Pengeran Mangkunegara, yang telah diciptakan-Nya untuk mendapatkan nama harum di dunia ini, dan juga karena Yang Mulia adalah sebagai negara yang memiliki Kerajaan Mataram, yang mana Tuhan telah melimpahkan karunia-Nya di samping Muhammad sang Nabi, Menganggap rasa menghargai Yang Mulia sudah dikenal secara umum. Selanjutnya, Yang Mulia akan selalu ingat akan ayat Al-Quran, bahwa kumpulan kecil akan mampu mencapai kemenangan melawan kekuatan besar. Hendaklah Yang Mulia juga selalu mengingat bahwa dalam Al-Quran menyatakan: “Janganlah mengira bahwa mereka yang jatuh dalam perang suci itu mati”(QS. 2: 154, 3: 169). Tuhan telah mengumumkan bahwa orang yang jatuh itu akan masuk ke dalam tubuh orang merpati besar dan langsung menuju surga. Ini merupakan hal yang pasti semua orang yang beriman dalam hati mereka, dan sebagian besar mulai akan jadinya dengan Yang Mulia, yang dapat ditamsilkan sebagai sekuntum bunga yang mengandung wewangiannya sejak matahari terbit terkait dengan, ditinggikan Makkah dan Madinah serta negeri-negeri Melayu akan dicari -tanya akan keharuman ini, dan memohon kepada Alah agar Yang Mulia akan menang melawan semua musuh. Mengucapkan kata-kata Nabi Muhammad; “Perangilah orang-orang yang tidak bisa menerima Islam sepenuhnya, kecuali jika mereka berpindah ke agamamu.”
… yakinlah akan nasib baik yang abadi dan berusahalah sekuatmu karena takut akan Tuhanmu; janganlah takut akan nasib buruk dan elakkanlah segala kejahatan. Orang yang melakukan hal itu akan melihat langit tanpa awan (hujan) dan bumi tanpa noda. Tumbuhkanlah damai hati dari ayat-ayat dalam Al-Quran berikut ini: ” Barangsiapa beriman dan beramal shaleh, akan mendapatkan karunia Tuhan (QS. 2:25), sebab Nabi Muhammad telah bersabda: ” JIka manusia dapat hidup kembali di dunia ini, dia pun akan hidup selamanya dan menikmati kebahagiaan abad di akhirat. “
Panji-panji [yang bertuliskan Al-Rahman Al-Rahim, Muhammad Rasul Allah ‘Abd Allah ], yang kekuatannya akan dibutuhkan digunakan oleh Yang Mulia … kompilasi berhadapan dengan para dewa Allah … (Dengan rahmat Tuhan Yang Mulia) akan selalu meraih kemenangan, yang akan terlindungi iman Muslimin dan terbasminya semua musuh yang dengki.
Alasan panji-panji ini menyampaikan kepada Tuan adalah kami di Makkah akan membicarakan Yang Mulia, sebagai pemimpin yang benar, sangat ditakuti di medan perang. Hargailah dan Manfaatkanlah, insya Allah, untuk menumpas musuh-musuh Tuan dan semua orang kafir. Doa selamat datang kepada Yang Mulia atas nama orang-orang yang bertakwa kepada-Nya di Makkah dan Madinah: Ibrahim, Imam Syafi’I, Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Hanbali, dan selanjutnya atas nama semua orang lain di sini, yang inginnya tiada lain adalah agar berkah dari Nabi dan Nabi keempat, Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali, terlimpah bagi Yang Mulia.
Pemikiran Jihad Al-Palimbani dalam Nashihatul Muslimin
Kitab Nashihatul Muslimin ditulis dalam bahasa Arab pada tahun 1186 H. Buku ini mengutip sebagian besar pendapat tentang Imam an-Nawawi (w. 676 H / 1277 M) melalui bukunya Minhāj at-Thālibīn (Zubair dalam Lektur, 2011: 387, Iskandar, 1996: 443) .
Jihad yang ditentang oleh Al-Palimbani adalah perang melawan orang kafir. Jihad hukumnya fardhu kifāyah manakala posisi orang-orang kafir tergantung di wilayahnya sendiri, jaraknya jauh dari wilayah Islam dan tidak bertentangan atau menyerang umat Islam. Namun, bisa menjadi fardhu ‘Ain manakala orang-orang kafir yang mendukung atau menyerang umat Islam. Hukum fardhu kifāyah menjadi reruntuhan benteng pertahan yang membentuk ritus umat Islam dan orang-orang kafir dibangun. Jika orang-orang kafir berhasil mempertahankan benteng pertahanan maka umat Islam harus mempertahankan bila perlu membuat parit. Kawajiban kifāyahini juga menentang perjuangan jihad umat Islam melakukan invasi ke wilayah orang kafir. Kegiatan invasif menurut beliau sekurang-kurangnya dalam waktu dan tentu saja jika lebih. Wilayah orang kafir yang disetujui untuk diberikan adalah yang paling lengkap dengan wilayah Muslimin. Namun, mengingat ada wilayah yang lebih jauh dan memiliki potensi memenangkan wilayah umat Islam maka harus diperangi terlebih dahulu. Pemerintah Islam tidak dapat dibantah selama satu tahun tanpa jihad, tetapi sebaliknya, karena umat Islam lebih lemah dan lebih kuat. Hukum fardhu kifayah berlaku bagi yang memiliki baligh, berakal, laki-laki merdeka (tidak terlilit dolar), mampu berperang dan memiliki senjata lengkap (Zubair dalam Lektur, 2011: 380-382).
Hukum fardhu ‘ain berlaku atas persetujuan orang-orang kafir yang menginvasi wilayah kaum Muslimin. Seluruh penduduk berkewajiban mempertahankan wilayahnya semaksimal mungkin. Bahkan, jika ada masalah dengan anak-anak, perempuan, faqir miskin wajib ikut jihad sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Haram hukumnya bagi prajurit lari dari perang bila telah berjumpa dengan pasukan lawan (Zubair dalam Lektur, 2011: 382-384).
Berkenaan dengan ketuamaan jihad dan mati syahid, Al-Palimbani banyak mengutip hadits dan ayat Quran di dalam Nashihatul Muslimin seperti QS. Al-Hujurat: 15, QS. Ash-Shaff: 10-11, QS. An-Nisa: 95, QS. Al-Baqarah: 154 dan QS. Ali Imran: 169 dan hadits Bukhari tentang Jihad merupakan amalan yang paling utama berdasarkan iman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan sebagainya (Zubair dalam Lektur, 2011: 385).
Al-Palimbani menganggap perlu untuk membuat ribath atau pasukan pengintai gerakan musuh. Karena pentingnya hal ini, ia mengutip lebih dari 15 buah hadits dari berbagai periwayat seperti, “melakukan ribath satu hari di jalan Allah lebih baik dari dunia dan segala isinya …” (Hr. Bukhari). Ia menghargai semua masyarakat yang turut serta dalam jihad sesuai dengan kemampuannya masing-masing, seperti memberikan perlindungan seperti halnya menjaga harta dan keluarga mujahiddin yang ditinggal berperang. Hal yang tidak kalah penting adalah strategi perang dan kemampuan perang para pasukan, ia mengutip surat Al-Anfal ayat 60 (Zubair dalam Lektur, 2011: 385-386.
Penutup
Dari penjelasan di atas kita dapat menarik kesimpulan pertama-tama tentang kebebasan sufi disebut sebagai anti dengan perjuangan menegakan dīn . Mereka tidak menyempitkan makna jihad hanya menjadi jihād an-nafsyaitu menentukan hawa nafsu. Baik jihad fisik melawan penjajah dan jihad melawan hawa nafsu untuk agama. Seorang sufi kemudian tidak selalu diidentikan sebagai para penafi syariat, fatalis, dan menarik diri dari urusan duniawi. Mengembalikan mereka adalah para penempu dan pemegang syariat yang teguh, yang menuntut dukungan penuh dan batin, dan penghimbau kaum Muslim agar aktif; Bagi mereka pemenuhan kebutuhan duniawi kaum Muslim merupakan bagian integral dari keberhasilan spiritual dalam perjalanan ruhani. Para sufi pun bersepakat untuk mencapai tujuan spiritual tanpa menerima doktirn ortodoks Islam. Bertasawuf tidak lain beribadah di maqam ihsan.
Ajaran tasawuf seharunya menjadi kekuatan tersendiri yang muncul dari dalam diri seorang mujahid. Penyebab ajaran tasawuf bentuk aktual penyerahan total (tawakal) diri kepada Allah. Keberanian akan muncul dari dalam dirimu sebab tidak perlu yang ditakuti selain Allah. Tidak ada yang perlu ditakuti dari kematian, sebab kematian akhirnya akhir dari segalanya, awal dari pintu perjumpa dengan Allah Ta’ala. Hal yang sangat diidam-idamkan para sufi.
Syeikh ‘Abd al-Shamad al-Palimbani mengajarkan hal demikian. Di samping sebagai mursyid penempu jalan suluk-tasawuf, beliau juga seorang arsitek jihad, dan inspirator di balik karangan Hikayat Perang Sabil yang mempublikasi semangat rakyat Aceh dalam mendukung tanahnya. Meminta ada yang mengatakan mereka berperang memang mencari mati. Syahid adalah sebuah kematian terindah. Karya Nashihatul Muslimin merupakan salah satu bukti perjuangan menggelorakan semangat perang suci untuk mengusir penjajah dari bumi Nusantara. Selain itu, surat-surat yang ditujukan kepada raja-raja Jawa juga turut menguatkan bukti ini.
Rujukan Buku:
Azra, Azyumardi. 2004. Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Abad XVII & XVIII Akar Pembaruan Islam Indonesia. Jakarta: Kencana.
Braginksy, VI 1998. Yang Indah, Berfaedah dan Kamal: Sejarah Sastra Melayu dalam Abad 7-19. Jakarta: INIS
Chambert-Loir, Henri. 2013. Naik Haji di Masa Silam Kisah-Kisah Orang Indonesia Naik Haji 1482-1964. Jakarta: KPG
Dahlan, Ahmad. 2014. Sejarah Melayu. Jakarta: PT. Gramedia
Iskandar, Teuku. 1996. Kesusasteraan Klasik Melayu Sepanjang Abad. Jakarta: Penerbit LIBRA
Mahmoud, A. Halim. Tt. Hal Ihwal Tasauf Analisa Tentang Al-Munqidz Minadhdhalal (Penyelamat dari Kesesatan) . Tk: Darul Ihya
Mustafa, Mustari. 2011. Agama dan Bayang-bayang Etis, Syeikh Yusuf Al-Makassari. Yogyakarta: LKiS
Kendaraan, Sukran. 2007. Biografi Intelektual Badiuzzaman Said Nursi, Transformasi Dinasti Usmani Menjadi Republik Turki. Jakarta: Anatolia
Zubair. 2011. Jihad dan Kemerdekaan: Studi atas Naskah Nasihatul Muslimin wa Tazkiratul Mu’minin dalam Jurnal Lektur Keagamaan Vol. 9. No.2 November 2011. Jakarta: Puslitbang Lektur Agama Badan Litbang dan Diklat Kementrian Agama RI
Jurnal:
GWJ Drewes, 1976, “Data Lebih Lanjut Mengenai Abd Al-Shamad Al-Palimbani”, KITLV. Diakses di jstor.org, 12/01/2015 04:07.
***********
Penulis: Yogi T. Rinaldi, S.Hum
(Lingkaran Studi Islam Penggiat Depok Masjid Ukhuwah Islamiyah Universitas Indonesia)
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)









































































