Penyakit gula yang terus menggerogoti fisik Ustadz Umar Soleh menyebabkannya harus dikembalikan ke kota Makassar untuk perawatan. Meskipun dalam kondisi sakit, fisik semakin melemah tetapi semangat dakwah dan perhatiannya terhadap gererasi tidak selemah fisiknya.

Untaian-untaian nasehat tidak lagi mampu ia sampaikan secara lisan, maka beliau tuangkan semuanya dalam sebuah buku diary kecil hitam. Torehan-torehan singkat penuh makna untuk istri dan anak, tak lupa beliau menitip pesan-pesan singkat terakhir untuk seluruh kader Wahdah Islamiyah sebagai bekal dalam dakwah dan perjuangan.

Ustadz Umar Soleh memang dikenal sebagai seorang yang sangat administrative sehingga buku catatan harian tidak pernah lepas dari kesehariannya. Mengisinya dengan jadwal dan agenda kerja pribadi, yayasan dan tidak lupa untuk pimpinan umum Wahdah Islamiyah. Dalam agenda itu juga tidak jarang ditemukan lintasan-lintasan pemikiran dan isi hati beliau yang dituliskan dalam bentuk sederhana sebagai kenangan untuk semua.

Dipenghujung hayat beliau, dikala penyakitnya sudah semakin parah fisiknya pun sudah semakin lemah yang akhirnya sesuai dengan ketetapan Allah pada tanggal 30 Januari 2014 beliapun menghembuskan nafas terakhirnya, Ustadz Umar di masa-masa sulit menghadapi penyakitnya itu masih menyempatkan menitipkan nasehat untuk kita semua yang dituangkan dalam tulisan singkat.

BACA JUGA: SEJARAH TOKOH-TOKOH WAHDAH ISLAMIYAH LAINNYA

Nasehat yang sangat tajam, meninggalkan pesan-pesan hikmah yang sangat dalam. Pesan untuk kita yang masih hidup serta bagi mereka yang berazam komitmen menjalani aktivitas dakwah dan perjuangan.

1. Nasehat Pertama: Pentingnya Muhasabah, Nasehat untuk diri sendiri.

Ustadz Umar Soleh mengingatkan kita akan pentingnya senantiasa bermuhasabah atau instrospeksi diri sebagai persiapan menjemput masa depan hakiki di akhirat. Dalam datatan kecilnya beliau menuliskan:

“Rambutku sudah memutih, mataku sudah mulai kabur, badankupun sudah melemah, tetapi amalku masih sedikit apalagi dalam masalah keikhlasan, aku belum sabar, aku belum kuat beribadah, aku hanyalah anak manusia yang penuh dengan kekurangan dan kekhilafan.”

Nasehat dalam menghujan ini mengingatkan kita akan hakekat kehidupan yang terus bergulir yang pada akhirnya fisik, rupa, ataupun harta yang dibanggakan semua akan sirna hilang seperti tanpa bekas, semuanya akan berakhir pada kelemahan dan ketiadaan.

2. Nasehat Kedua: Kepada seluruh Kader wahdah Islamiyah

Dalam kondisi yang kebanyakan orang sudah tidak lagi memikirkan kecuali dirinya sendiri, sembuh dari penyakit yang menggerogoti, atau tinggal hanya menikmati sisa-sisa umur dengan kesibukan sendiri, bagi Ustadz Umar, prinsip hidup “rendahan” seperti itu tidak ada dalam kamus perjuangannya, karena diantara prinsip hidupnya adalah berjuang dan melanjutkan kaderisasi.

Hal itu beliau tulis dalam nasehat singkat untuk seluruh kader wahdah Islamiyah beliau mengingatkan:

“Untuk Seluruh Kader Wahdah Islamiyah di Indonesia, rapatkan barisan, kuatkan ukhuwah, perbanyak amal ibadah, gencarkan dakwah dan jaga silaturrahim.”

Susunan nasehat singkat yang sangat indah, khususnya bagi seluruh kader Wahdah Islamiyah yang akan melanjutkan estafet perjuangan dakwah dan tarbiyah. Iinilah pesan-pesan pendahulu yang harus dipegang teguh sebagai modal dasar kebersamaan.

Rapatkan barisan adalah identitas kekuatan karena dalam setiap perselisihan akan melahirkan kelemahan seperti itulah Allah berfirman dalam Al Qur’an, kekuatkan Ukhwuah atau persaudaraan adalah merupakan modal penting yang juga diabadiakan oleh Allah bahwa “sesungguhnya setiap muslim itu bersaudara”.

Bukan hanya itu, beliau mengingatkan seluruh kader Wahdah Islamiyah untuk tidak menjadi seperti llilin yang terus memberikan cahayanya kepada sekitar tetapi lupa diri sendiri, maka perbanyaklah amal ibadah karena ia adalah sebaik-baik bekal kembali kepada Sang Khaliq, lalu setelah engkau memperbaiki dirimu sendiri, jangan lupa bahwa disana ada kewajiban dipundak mu untuk menyampaikan kebaikan ini sehingga idahnya ajaran Islam bisa sampai ke pelosok-pelosok desa dengan kekuatan dakwah apakah yang sifatnya fardiyah (individu) ataukah yang kolektif bersama dengan yang lain.

BACA JUGA: SEJARAH LENGKAP USTADZ UMAR SOLEH

Terakhir dalam lima ringkasan nasehat beliau menitip pesan untuk kita semua agar dakwah, kebersaman ini tetap kokoh dan kuat maka jagalah satu amalan ibadah mulia yang dapat menjadi asbab kekuatan ummat yaitu silaturrahim.

3. Nasehat Ketiga: Untuk Orang Terdekat yaitu Istri

Ustadz Umar Soleh sangat memahami pentingya peran seroang istri sebagai madrasah pertama bagi anak-anaknya, ialah yang menggantikan peran suami jika sudah tiada dan kelanjutan risalah perjuangan akan berpindah kepada mereka. Ustadz Umar Soleh dalam nasehat singkatnya untuk istri-istrinya menorehkan:

“Untuk Istri-istriku, didiklah anak-anakmu dengan baik, kuatkan ibadah kalian. Semoga Allah mempertemukan kita di Syurga-Nya.”

Sebuah nasehat singkat padat bagi seluruh element pejuang dakwah, bahwa keluarga adalah madrasatul ula (pondasi pembinaan) untuk generasi. Kekuataan dan kualitas suami-istri sangat mempengaruhi hasil pembinaan. Jika keduanya baik, maka Insya Allah akan lahir pula penerus perjuangan yang baik, dan begitupun sebaliknya.

4. Nasehat Keempat: Nasehat untuk Para Anak

Beliau menitipkan potongan-potongan singkat pesan bagi anak-anaknya, yang bagi kader wahdah Ustadz Umar adalah salah satu ayah ideologis sehingga pesan-pesan untuk anak kandungnya ini pun merupakan pesan bersama untuk generasi muda Wahdah Islamiyah.

Jagalah hubungan kalian,
“kutitipkan kalian kepada Allah yang tak pernah lengah,
“yang tua menyayangi yang muda,
“yang muda menghormati yang tua,
“jaga iman,
“jaga persaudaran/ukhuwah,
“jaga jiwa sosial kepada sesama,
“jangan melakukan kesyirikan,
“jangan mudah menyerah.”

Dalam untaian-untaian singkat tulisan Ustadz Umar Soleh, menutup dengan meminta didoakan.

“Semua keluarga, teman-teman, Ikhwah dan Akhwat. Mohon aku didoakan semoga Allah mengampuni dosa-dosaku.”

Referensi:
1. Muh. Akram
2. Diary Ustad Umar Soleh

***********

Bersambung, Insya Allah..

Makassar, 21 Agustus 2021

Penulis: Ustadz Syandri Syaban, Lc., M.Ag
(Almuni Internasional Islamic University Islamabad Pakistan, Dosen STIBA Makassar dan Kontributor mujahiddakwah.com)

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

Tinggalkan Balasan