Kebijakan pembelajaran tatap muka di tengah pandemi virus corona-19 menuai pro dan kontra. Pemerintah menyatakan bahwa tahun ajaran baru sudah dapat dilakukan pembelajaran tatap muka (PTM) secara terbatas pada Juli 2021. Kebijakan tersebut tidak serta merta dilakukan melainkan setelah pemerintah menyelesaikan vaksinasi terhadap pendidik dan tenaga pendidik.
Menteri pendidikan Nadiem Makarim mengatakan bahwa “semua guru dan dosen, 5 juta lebih dari mereka harapannya insya Allah akan divaksinasi sampai dengan akhir bulan juni, sehingga tahun ajaran baru semua sekolah memulai proses tatap muka walaupun dengan tahap terbatas.” (www.liputan6.com) pernyataan tersebut menuai pro dan kontra dengan melihat kondisi hari ini justru kasus virus corona semakin meningkat dan bahkan kembali memecahkan rekor.
Jumlah update positif virus corona tercatat ada 38.391 penambahan, dari sebelumnya 2.379.397 kasus. Dengan total kasus Covid-19 di Indonesia menjadi 2.417.788 sejak pertama terkonfirmasi pada 2 Maret 2020 lalu. (www.tribunnews.com).
Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah dengan mengeluarkan aturan ketat mematuhi protokol kesehatan bahkan sampai dengan kebijakan vaksinasi kepada seluruh lapisan masyarakat. Dengan harapan pembelajaran tatap muka (PTM) secara terbatas pada Juli 2021 dapat terlaksana.
Harapan demi harapan terus digaungkan tidak hanya dikalangan pemerintah. Bahkan dari berbagai lapisan masyarakat memiliki harapan besar di tahun ajaran baru ini PTM dapat terlaksana. Salah satu dampak yang ditimbulkan adalah generasi milenial hari ini mejadi pribadi yang mager. Dan tidak hanya sampai di situ saja, pembelajaran di masa pandemi ini dilakukan secara daring.
Sehingga khususnya pada anak usia dini yang seharusnya mendapatkan bimbingan dan kasih sayang orangtua justru berbalik pada kenyataannya. Hal tersebut tidak dapat dipungkiri, dengan melihat fakta dilapangan. Banyak hal yang ditimbulkan selama pembelajaran daring.
Bermula pada curhatan seorang ibu yang menyayangkan jika PTM belum terlaksan di tahun ajaran baru pada juli 2021. Mereka mengasihani diri dan anak mereka dengan kondisi yang serba terbatas. Disisi lain mereka harus tetap hidup normal dengan berbagai beban yang ada. Namun kondisi mereka tidak seberuntung dengan orang lain di luar sana. Mengurusi beberapa anak dengan kondisi daring dan tuntutan biaya kehidupan pun semakin berat. Sehingga terkadang anak mereka tidak mengikuti pembelajaran daring.
Ada satu hal yang terluput, jika kita ingin melihat dari sudut pandang yang lain. Sebuah proses yang harus dilalui setiap fase dalam kehidupan setiap anak. Baik usia dini maupun remaja. Disaat itupula ada seorang ibu yang mengatakan bahwa “sekolah bagi anak hari ini hanya sebagai beban tugas. Setiap hari menunggu tugas dari guru, setelah itu dikerjakan dan selesai” Tanpa ada proses belajar yang dilalui pada fase perkembangan anak.
Orang tua menitipkan anaknya pada sekolah yang dipercaya mampu memberi perubahan bagi anak mereka dimana hal tersebut tidak dapat mereka berikan. Hal inilah yang menjadi alasan utama bagi mereka para orang tua menitipkan anaknya dengan harapan PTM dapat terlaksana.
Pendidikan sangat penting bagi keberlangsungan hidup seseorang. Pendidikan tidak hanya ditempuh di bangku sekolah. Banyak para Ulama besar lahir dari rumah mereka tanpa menempuh pendidikan yang tinggi.
Sebagaimana hadis Rasulullah,
Artinya: “Setiap anak terlahir dalam keadaan fitrah. Orangtuanya yang akan membuat dia yahudi, nasrani, dan majusi. Sebagaimana binatang ternak melahirkan binatang ternak dengan sempurna. Apakah kalian melihat ada cacat padanya.” (HR. Muslim).
Orang tua memiliki peran yang sangat penting dalam setiap fase perkembangan anak. Mereka merupakan model bagi anak. Pendidikan di luar rumah adalah persambungan tangan dari pendidikan orang tua di rumah. Sekolah hadir sebagai penyempurna pendidikan dari rumah. Tidak salah ketika orang tua memiliki harapan besar terhadap sekolah bagi lahirnya generasi peradaban.
Hal ini sejalan dengan hadis Rasulullah, “Tiada suatu pemberian yang lebih utama dari orang tua kepada anaknya selain pendidikan yang baik.” (HR. Al Hakim).
Dalam kehidupan manusia pendidikan memiliki peran penting dalam melahirkan generasi perdaban. Dengan pendidikan diharapkan dapat menghasilkan manusia berkaulitas, bertanggung jawab dan mampu mengantispasi masa depan. Peranan pendidikan tidak terlepas dari kedudukan manusia, sebagai hamba Allah (abdullah) dan pemimpin di muka bumi (khalifah).
Sebagai hamba Allah, manusia mengabdikan diri kepada Allah dengan penuh tanggung jawab dan sebagai khalifah maka manusia mengelolah bumi ini dengan penuh tanggung jawab.
Di masa pandemi ini tidak mengurangi esensi dari sebuah pendidikan. Akan tetapi, mengurangi nilai-nilai adab atau bahkan hilang terkilas oleh kecanggihan teknologi. Sehingga harapan itu kembali hadir dengar pernyataan dari berbagai kalangan mengenai PTM pada Juli 2021.
Akankah Harapan itu hadir dengan kondisi Indonesia berduka. Menyatukan perspektif orang tua dan pendidik dalam melahirkan generasi peradaban di masa akan datang. Kecanggihan teknologi memaksa kita untuk melek dan tidak terkungkung dengan ketidak bisaan kita. Ada banyak jalan yang bisa ditempuh jika hari ini PTM belum terlaksana.
Maka peran pendidik dan orang tua bagaimana meramu pembelajaran dengan baik hingga melahirkan generasi gemilang dari rumah dengan kolaborasi yang baik antara pendidik dan orang tua.
***********
Penulis: Sri Wahyuni
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)














































































