Buku Muh Akbar 5

BAB 5

***Motivasi Hidup***

            Dalam kehidupan sehari-hari kita mungkin pernah mengalami kejenuhan terhadap suatu hal yang sedang kita jalani. Misal ketika kita sedang melaksanakan kuliah, tentu kita pasti pernah mengalami kejenuhan untuk kuliah entah karena terlalu banyak tugas yang diberikan, banyak tugas yang belum diselesaikan, atau jenuh dengan waktu kuliah yang padat. Namun, kejenuhan tersebut tidak boleh terus tumbuh dalam diri kita karena akan berakibat buruk bagi diri kita sendiri. Kita harus memiliki motivasi dalam diri kita agar tujuan kita dapat tercapai dengan baik.

Sebelum kita membahas motivasi lebih dalam ada baiknya kita pahami terlebih dahulu arti kata motivasi. Motivasi adalah dorongan psikologis yang mengarahkan seseorang ke arah suatu tujuan. Motivasi membuat keadaan dalam diri individu muncul, terarah, dan mempertahankan perilaku, menurut Kartini Kartono motivasi menjadi dorongan (driving force) terhadap seseorang agar mau melaksanakan sesuatu.

Motivasi yang ada pada setiap orang tidaklah sama, berbeda-beda antara yang satu dengan yang lain. Untuk itu, diperlukan pengetahuan mengenai pengertian dan hakikat motivasi, serta kemampuan teknik menciptakan situasi sehingga menimbulkan motivasi atau dorongan bagi mereka untuk berbuat atau berperilaku sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh individu lain atau organisasi.

Sebagai seorang mahasiswa, kita tentu ingin mendapatkan nilai atau hasil yang baik, dan hal tersebut dapat terwujud apabila kita selalu berusaha dan melakukan apa yang bisa membuat kita mendapatkan hasil yang terbaik. Keingingan yang terdapat pada diri seseorang individu yang merangsangnya untuk melakukan tindakan-tindakan. Dalam hal itu, kesadaran tentang pentingya motivasi bagi perubahan tingkah laku harus kita miliki.

Setiap diantara kita memiliki tujuan hidup masing-masing, berbagai macam cara kita cari untuk menggugah kepercayaan diri meraih tujuan dan cita-cita yang kita impikan. Tak jarang, orang selalu melihat beberapa sosok dengan pepatah-pepatah singkatnya yang nyaris membuat semua orang menjadi lebih berdiri tegak dan bersemangat menjalani hidupnya untuk tujuan yang lebih baik dari masa-masa sebelumnya. Hari-hari demi hari berlalu untuk mendapatkan sebuah motivasi, dan begitu banyak kata-kata bijak yang sering terlontar “suskes berawal dari diri sendiri”. Begitu seringnya kita mendengarkan kata-kata ini, namun begitu banyak orang yang tidak memahami makna kata-kata motivasi ini.

Tanpa kita sadari bahwa sukses berawal dari dalam kita sendiri, akan tetapi itu tidak sepenuhnya. Motif adalah sumber akan munculnya sebuah motivasi dan sumber motivasi ada dua:

  1. Motivasi Internal

Motivasi internal yaitu motivasi dari dalam diri, dari perasaan dan pikiran diri sendiri, tidak perlu adanya rangsangan dari luar. Orang yang memiliki motivasi internal, akan memandang dirinya secara positif. Sebagai contoh, seseorang yang melakukan aktivitas belajar secara terus menerus tanpa adanya motivasi dari luar dirinya dan bila ditinjau dari segi tujuan kegiatannya, orang tersebut ingin mencapai tujuan yang terkandung di dalam perbuatan belajar itu sendiri.

Dan motivasi dari dalam diri sendiri lebih baik daripada menunggu motivasi dari orang lain. Ibarat api. Api yang dikobarkan orang lain di dalam jiwa kita akan lebih mudah padam dibandingkan dengan api yang kita kobarkan sendiri di dalam tubuh dan jiwa kita. Tinggal bagaimana kita menyikapi hidup. Melihat orang sekitar yang sudah jauh lebih sukses dari kita, kita harus berusaha lebih keras lagi untuk dapat menjadi dia atau bahkan lebih sukses. Melihat orang sekitar yang jauh lebih bawah dari kita, kita harusnya bersyukur dengan apa yang Allah sudah berikan kepada kita.

Motivasi internal sangat efektif dan besar pengaruhnya bagi kesuksesan seseorang. Saya berani mengatakan bahwa motivasi internal yang paling besar adalah pengorbanan kedua orang tua. Yah, itulah yang saya rasakan bagaimana perjuangan kedua orang tua kita, bekerja keras mencari nafkah untuk kita mulai pagi sampai petang. Keringat yang membasahi tubuhnya setiap harinya. Namun, begitu banyak anak yang zaman sekarang seakan tak mempedulikan bagimana kerja keras dan pengorbanan orang tua mereka untuk menyekolahkannya. Hidup mereka habisi dengan foya-foya, pacaran, boros dan lainnya.

Sengaja gambar disamping ini yang saya pilih untuk ditampil-kan, karena inilah pekerjaan orang tua kami bahkan mayoritas diantara kita. Dibawah teriknya matahari seakan menyengat kedalam diri kita begitu panasnya. Namun, seakan itu bukanlah apa-apa bagi mereka untuk menghidupi keluarganya. Alangkah durhakanya seorang anak yang tidak melihat perjuangan orang tua yang ada dibelakangnya. Sedangkan mereka berfoya-foya dan bersantai-santai diluar sana. Tidak mengembang amanah dari oranr tuanya dengan sebaik-baiknya.

Seakan hati ini terkadang menangis ketika melihat mereka dengan pakaian kotornya pulang dengan mandi keringat, begitu besar perjuangan mereka kepada kita. Namun, akankah kita pernah mengingatnya, mendoakannya atau bahkan berterimah kasih dan meminta maaf atas segala pengorbanan yang pernah diberikan kepada kita dan segala perbuatan buruk yang pernah kita kerjakan karena melalaikan amanah yang diberikan.

Inilah motivasi yang mulai hilang hampir semua diantara kita, padahal setiap kita ingin meilhat orang tua kita tersenyum dan bahagia melihat kesuksesan dan keberhasilan kita. Namun, kita melupakan perjuangannya ketika kita mulai jauh dari mereka dan hidup di dunia yang super megah. Sadarlah, ada sosok manusia dibelakangmu yang berjuang untuk hidup sampai saat ini. Jaga amanah yang diberikan kepadamu dengan sebaik-baiknya, dan ucaplah nama-nama mereka dalam setiap doamu.

  1. Motivasi Eksternal

Motivasi eksternal yaitu motivasi dari luar atau mendapatkan rangsangan dari luar. Sebagai contoh, motivasi seseorang timbul karena dari bacaan yang memotivasi, lingkungan, atau dari kehidupan keseharian. Sehingga bila ditinjau dari segi tujuannya orang tersebut tidak langsung terjun didalam apa yang dilakukannya. Hal ini sangat diperlukan bagi orang yang tidak memiliki motivasi internal.

Dari hal yang telah disebutkan di atas, maka motivasi tidak hanya timbul dari dalam diri kita secara sendirinya tetapi dapat ditimbulkan oleh faktor luar atau rangsangan luar. Dan motivasi yang terdapat dalam diri saya lebih kepada motivasi eksternal. Motivasi tersebut timbul tidak dari diri saya tetapi ditimbulkan oleh faktor luar seperti termotivasi untuk mendapatkan hasil atau nilai yang baik, dari dukungan orang tua, dan meraih cita-cita yang diinginkan. Namun tak selamanya motivasi eksternal itu timbul, sehingga kita perlu menumbuhkan motivasi internal dalam diri kita. Dan berikut tips untuk menumbuhkan motivasi secara internal :

  1. Memberikan penghargaan pada diri sendiri. Jikakalau kita melakukan sesuatu, misal belajar dengan sunguh-sunguh dan mendapatkan hasil atau IPK yang tinggi. Maka mestinya kita memberikan hadiah pada diri kita sendiri. Dengan begitu diri kita akan termotivasi untuk melakukan sesuatu yang berguna. Meskipun itu bukanlah tujuan utama, tapi setidaknya mampu memberikan rangsangan kepada diri kita untuk terus berusaha dan belajar sebaik mungkin.
  2. Memulai sesuatu dari yang kecil. Begitu banyak diantara kita yang kurang memahami sebuah proses, terkadang kita tidak ingin memulai dari hal-hal yang kecil. Keinginan kita biasanya langsung yang besar dan mendapatlan hasil yang baik. Tanpa memahami sebuah proses, bahwa proses adalah memulai dari hal-hal yang kecil sehingga mampu menjadi pondasi yang kuat untuk meletakkan harapan dan cita-cita yang besar di atasnya. Terkadang untuk mendapatkan sesuatu yang besar perlu langkah-langkah yang
  3. Menyusun rencana. Dengan memiliki rencana, yang diatur sebaik mungkin maka akan memberikan pengaruh besar pada diri kita, karena tujuan yang kita akan capai akan berat kita dapatkan jikalau tidak memiliki perencanaan yang matang. Secara tidak langsung ini akan memotivasi dalam mencapai tujuan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa motivasi merupakan sesuatu dorongan yang akan membuat kita selalu semangat dalam melakukan kegiatan untuk mencapai suatu tujuan.

Tanpa adanya motivasi, cita-cita atau tujuan yang kita targetkan akan sulit terwujudkan karena kurangnya semangat dalam mencapai tujuan tersebut. Dan dengan memiliki motivasi yang kuat, kita akan memiliki apresiasi dan penghargaan yang tinggi terhadap diri kita, sehingga tidak ada keraguan dalam mencapai tujuan atau cita-cita kita.

  1. Menumbuhkan kesadaran diri. Hal yang terakhir adalah menumbuhkan kesadaran dalam diri kita, sering kita dengar orang yang dulunya dikatakan nakal dan langsung berubah menjadi baik, karena Dia sadar. Berarti kesadaranpun memiliki peran penting dalam hidup kita. Menjadi orang yang sadar tentu tak semudah yang kita banyangkan sebagaimana seorang pendosa yang telah menikmati hidupnya dengan perbuatan dosa, maka akan sangat sulit untuk meninggalkanya.

Namun, tak semestinya kita berputus asa selagi kita ingin kembali bertaubat kepada Allah , maka yakinlah Allah  akan mengampuni segala dosa-dosa kita. Dalam pembahasan ini ada beberapa point penting yang akan saya coba sampaikan untuk mengungah kembali jiwa kita agar sadar. Hampir setiap orang yang saya temui baik itu dosen, guru dan pejabat. Ternyata tidak ada jalan untuk mencapai kesuksesan yang lebih baik melaingkan, tumbuhnya kesadaran pada diri kita.

Yah, kesadaran sebuah nikmat yang begitu besar yang Allah  berikan kepada manusia, ketika memberikan hidayah kepada manusia tersebut untuk sadar akan segala perbuatan yang telah dia kerjakan. Sebuah kekuatan ruhiyyah yang kembali dan mengenali setiap perbuatan yang baik dan buruk. Namun, yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana kesadaran itu tumbuh dalam diri kita?

Perlu kita ketahui kesadaran tidak akan muncul begitu saja dalam diri kita dan membuat hidup kita menjadi tenang. Sadar akan bejatnya perilaku kita, dan bertekad untuk berubah adalah langkah pertama akan timbulnya kesadaran “menyesali segala perbuatan buruk yang pernah kita kerjakan dan berkomitmen untuk tidak mengulanginya lagi”. Sadar akan dunia yang sifatnya sementara, orang yang telah memahami bahwa dunia ini sifatnya sementara dan takut akan datangnya kematian. Maka kesadaran itu akan mudah muncul dalam dirinya untuk memperbaiki diri.

Segala yang dijelaskan diatas pada intinya bagaimana menimbulkan spirit dalam diri kita, sebuah motivasi (Pengugah Jiwa) untuk fokus terhadap target dan tujuan. Motivasi akan ada pada diri kita karena adanya target dan tujuan yang jelas. Seseorang belajar dengan gigih, semangat dalam menuntut ilmu karena ada cita-cita yang besar yang akan dia gapai. Seorang muslim dengan motivasi masuk syurga-Nya Allah , maka motivasi untuk beribadah sangatlah tinggi dan bersunguh-sunguh. Karena dijanjikan sebuah kebahagiaan yang hakiki diakhirat kelak. “Hidup tanpa sebuah motivasi, maka tak segalanya akan didapatkan dengan mudah”

***Pertolongan Allah diberikan kepada seseorang sekadar

beratnya beban yang dipikulnya***

(Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu)

  1. Pengalaman Adalah Guru Terbaik-Mu

Manusia selalu mencari si Guru yang bernama pengalaman, ia adalah guru tanpa jiwa, yang selalu siap medidik anak manusia yang mencarinya, dan terkadang tanpa sengaja ia memberikan pelajaran kepada anak manusia tadi, itulah guru yang namanya pengalaman. Benarkah Pengalaman Adalah Guru Yang Terbaik ??.

Mungkin juga kita sering mendengar istilah yang sering terucap dari seseorang ”belajar dari pengalaman” katanya!, dan disini tersirat bahwa sebuah pengalaman harus ditimba dari kegiatan fisik seseorang atau sebuah aktifitas, jadi pada hakikatnya pengalaman didapatkan dari sebuah hasil kerja, dan bukan dari khayalan, mimpi atau membaca buku, atau mendengarkan ceramah.

Pengalaman adalah guru yang terbaik atau guru yang paling baik, namun yang harus diingat disini adalah kata ”baik” kata baik tersebut mempunyai konotasi umum artinya, belajar dari pengalaman itu lebih baik, lebih cepat mengerti atau memahami (karena melakukan sendiri), akan tetapi belajar dari pengalaman itu tidak dapat membedakan mana yang baik (boleh dilakukan) atau yang tidak boleh di akukan (larangan) atau mis educative experience karena si guru yang namanya pengalaman tadi tidak mempunyai jiwa.

Contoh saat kita melakukan kejahatan misalnya mencuri dan berhasil lalu kemudian kita mengetahui seluk beluk cara mencuri yang jitu, tentu ini hasil dari sebuah pengalaman, dan kita belajar dari guru yang namanya pengalaman tadi, namun dalam pengetahuan yang mis educative tadi (bukan mendidik pada arah yang baik).

Dalam proses kehidupan, tentunya ada banyak sekali pengalaman yang kita dapatkan. Banyak hal yang terjadi atau kita alami dalam setiap langkah perjalanan hidup ini. Setiap orang memiliki pengalaman yang berbeda. Itulah yang menjadikan hidup kita istimewa. Pengalaman adalah harta yang sangat berharga. Uang ataupun benda-benda mewah yang kita miliki bisa hilang, habis ataupun rusak. Akan tetapi, pengalaman tidak akan pernah hilang. Ia akan tetap tersimpan dalam pikiran kita sampai kapan pun.

Setiap pengalaman yang kita dapatkan tentunya akan memberikan kesan tersendiri. Dari berbagai pengalaman itulah, kita dapat mengambil pelajaran. Baik itu pengalaman yang menyenangkan, maupun pengalaman yang menyedihkan. Dengan pengalaman yang menyenangkan, kita dapat mengambil pelajaran bahwa ternyata Allah  telah mengatur skenario kehidupan kita dengan begitu indah. Sehingga kita dapat merasakan berbagai kesenangan tersebut. Dari sanalah kita dapat belajar untuk selalu mensyukuri nikmat yang Allah  berikan.

Dengan pengalaman yang menyedihkan, kita dapat belajar bahwa ternyata dalam proses kehidupan, kita tidak selalu memperoleh kebahagiaan. Sesekali kita harus diuji. Sejauh mana ketaqwaan kita kepada Allah . Tetaplah bersyukur. Karena sesungguhnya semua ujian dan pengalaman menyedihkan itulah yang dapat menjadikan kita semakin kuat dan semakin dekat dengan-Nya.

Jadikanlah pengalaman itu sebagai hal yang sangat berharga. Sikapilah dengan bijak setiap pengalaman yang kita dapatkan. Akan ada hikmah serta manfaat yang bisa kita rasakan. Sehingga menjadikan kita semakin baik dalam menjalani kehidupan. Hal terpenting dari sebuah pengalaman bukanlah apa yang terjadi pada diri kita, melainkan apa yang kita lakukan atas apa yang terjadi. Belajarlah dari setiap pengalaman, karena pengalaman adalah guru kehidupan yang selalu ada bersama kita.

Tidak adanya pengalaman mungkin mahal, tetapi begitu pula pengalaman. Kadang kita hanya harus berharap bahwa harganya tidak lebih besar daripada manfaat yang kita peroleh dari pengalaman itu. Kita tidak dapat mengetahui sebelum memperoleh pengetahuan itu.

Perolehan pengalaman mungkin saja mahal, namun tidak semahal jika kita tidak memperoleh pengalaman. Pengalaman yang di evaluasi dapat mengangkat seseorang naik ke tempat yang lebih tinggi. Jarang ada orang yang membiasakan diri melakukan perenungan terhadap pengalamannya, mengevaluasi mana yang salah dan yang benar, dan belajar dari pengalamannya.

Pengalaman sangat erat kaitannya dengan masa lalu yang telah kita lalui, pahit manisnya masa lalu, saat ini kita hanya mampu menyesali segala perbuatan yang telah kita kerjakan, dan menentukan keputusan yang baik untuk masa yang akan datang. ‘’Menyesallah sebelum melakukan sesuatu yang buruk’’.

Seorang ahli hukum pernah berkata,” Orang muda mengetahui aturan, tetapi orang tua mengetahui pengecualian.” Itu hanya berlaku ketika si orang tua mau meluangkan waktu untuk mengevaluasi pengalamannya dan memperoleh hikmat dari pengalaman itu.

Sekolah kehidupan menawarkan banyak mata pelajaran yang sulit. Semua dapat mengajarkan kita pelajaran-pelajaran yang berharga, tetapi hanya jika mau belajar dan bersedia merenungkannya supaya dapat memperoleh manfaat yang sepadan. Bila kita tidak memiliki perenungan dan evaluasi terhadap pengalaman, ketika dua puluh lima tahun berlalu, kita tidak memperoleh dua puluh lima tahun pengalaman. Kita hanya memperoleh satu tahun pengalamanan dikalikan dua puluh lima kali!

Perenungan mengubah pengalaman menjadi wawasan bahkan mejadi ilmu pengetahuan bagi diri kita, maka kita tidak hanya menjalani saja tapi belajar dari pengalaman itu. Pengalaman tidak mengajarkan apa-apa, tetapi pengalaman yang di evaluasi mengajarkan segalanya. Kita sering terjebak dengan pengalaman masa lalu, lalu menggunakan pengalaman masa lalu untuk menyelesaikan problem hari ini. Pengalaman masa lalu bisa membatasi kita. Belajar dari pengalaman sangat baik, namun jangan pernah membiarkan pengalaman buruk Anda menghambat kesuksesan Anda.

Orang yang memiliki pengalaman buruk dimasa lalu, ketika ingin merenung dan belajar dari pengalaman itu. Maka peluang untuk sukses dan menjadi lebih baik sangat besar, mengingat pengalaman kita yang buruk dimasa lalu dibolehkan. Namun perlu kita ketahui, perjalanan kita kedepan masih sangat panjang, tekad yang kuat dengan sikap optimis yang tinggi untuk berubah dan melangkah kedepan, menatap masa depan yang cemerlan dan fokus dengan tujuan yang kita ingin capai. Maka lupakanlah pengalaman itu ketika akan menghambat langkah kita selanjutnya.

***Barangsiapa takut kepada Allah subhanahu wataala nescaya tidak akan dapat

dilihat kemarahannya. Dan barangsiapa takut pada Allah,

tidak sia-sia apa yang dia kehendaki***

(Umar bin Khattab radhiallahu anhu)

  1. Nilai Sebuah Pengorbanan

br&ur }§øŠ©9 Ç`»|¡SM~Ï9 žwÎ) $tB 4Ótëy™ ÇÌÒÈ

Artinya: “Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya”. (QS. An-Najm: 39).

Kemudahan hidup tidaklah muncul secara tiba-tiba, namun ia harus diperjuangkan. Perjuangan sudah tentu menuntut pengorbanan. Orang-orang yang telah sukses telah menunjukkan keteladanan yang baik dalam perjuangan mereka untuk memperoleh kemudahan hidup.  Mereka telah berkorban tenaga, pikiran, waktu, dana dan bahkan perasaan. Tidak sedikit manusia yag memeras keringat dan berurai air mata, sebelum akhirnya tersenyum bahagia ketika memandang buah keberhasilan. Karena kemurahan Allah , setiap pengorbanan yang ditunaikan ditukar dengan keberhasilan yang menyenangkan.

Pengorbanan merupakan sebuah keharusan untuk mencapai sebuah tujuan yang diinginkan, adalah bohong jika anda inginkan perubahan lalu tidak ingin berkorban, pengorbanan suatu unsur yang amat penting yang tidak bisa tidak atau suatu keharusan untuk dilakukan bilamana seseorang untuk meraih keberhasilan. Lihatlah, apa yang mereka kerjakan. Untuk sekolah belajar, menuntut ilmu, menjadi orang yang sukses, mereka berkorban segalanya. Tidak ada yang menjamin jikalau mereka terjatuh akan selamat. Akan tetapi sengan tekad dan motifasi yang kuat mereka mampu melaluinya dengan penuh semangat dan yakinlah pengorbanan itu tidak akan sia-sia. Akan ada hasil, kebahagian dan kesusksesan pada akhirnya nanti.

Secara sederhana pengorbanan dapat diartikan dengan sebuah kerelaan untuk memberi atas apa yang dimiliki demi kebaikan dan kemajuan, pengorbanan akan bisa dikatakan pengorbanan bilamana didasari dengan tujuan yang jelas yaitu untuk sebuah kebaikan dan kemajuan bukan malah sebaliknya.

Sifat pengorbanan ini haruslah ditumbuh sedini mungkin sehingga kedepan segala masalah yang mungkin timbul akan mudah diatasi, jika sifat ini telah dimiliki oleh kita dan semuanya maka akan banyak hal yang dapat kita perbuat untuk kemajuan diri dan masyarakat, kita pun sadar apabila sesuatu itu dilakukan dengan tenaga bersama maka akan terasa ringan yang berat terlihat ringan, besar terlihat kecil, susah terlihat mudah, jauh terasa dekat, tinggi terasa rendah. Takut tarasa berani, dan sabagainya ini semua lahir dari adanya pengorbanan.

Berkorbanlah jika inginkan kemajuan dan siap-siaplah menerima kehancuran serta kemunduran diri jika kita pelit akan pengorbanan, tapi ingat jangan jadi korban kehancuran lantaran anda tidak ingin berkorban, berkorban adalah sebuah keindahan bagi orang yang telah terbiasa berkorban tapi menjadi kehinaan bagi mereka yang pelit dengan pengorbanan.

Begitu banyak manusia diantara kita yang ingin berubah dan sukses, namun enggan untuk berkorban. Kesuksesan dan kemudahan dalam hidup tidaklah didapatkan dengan berpangku tangan, bersantai-santai dan berleha-leha. Tetapi penuh dengan kerja keras, mental yang kuat untuk mecapai sebuah keberhasilan bahkan terkadang meneteskan air mata.

Pengorbanan yang kita lakukan akan memberikan timbal balik yang positif bagi diri kita, sebagaimana firman Allah  diatas bahwa kita tidak akan mendapatkan sesutau melaingkan apa yang kita usahakan atau yang kita korbangkan. Allah  tidak zhalim terhadap manusia. Siapa saja yang telah menanam pengorbanan dalam segala bentuknya, dia pasti akan memungut hasil pengorbannya. Bukan hanya seorang Muslim, orang-orang Non-muslim pun jika telah menunaikan pengorbanan, mereka akan mendapatkan hasilnya.

$tBur tb$Ÿ2 C§øÿuZÏ9 br& |NqßJs? žwÎ) ÈbøŒÎ*Î/ «!$# $Y7»tFÏ. Wx§_xs•B 3 ÆtBur ÷ŠÌãƒ z>#uqrO $u‹÷R‘‰9$# ¾ÏmÏ?÷sçR $pk÷]ÏB `tBur ÷ŠÌãƒ z>#uqrO ÍotÅzFy$# ¾ÏmÏ?÷sçR $pk÷]ÏB 4 “Ì“ôfuZy™ur tûï̍Å3»¤±9$# ÇÊÍÎÈ

Artinya:Dan setiap yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu. dan Kami akan memberi Balasan kepada orang-orang yang bersyukur”. (QS. Ali Imran: 145).

Selama ini banyak kesalahan berfikir yang melanda kehidupan kita sehingga menimbulkan penderitaan dalam kehidupan kita. Kita sering beranggapan bahwa hidup ini hanya sebatas beramal berupa shalat, puasa, zakat dan lainya. Karena mereka sudah rajin beribadah maka mereka melupakan kerja mereka dan bermalas-malasan, membuang-buang waktu secara sia. Padahal kita ummat Islam sangat dilarang untuk bermalas-malasan, karena setiap apa yang kita kerjakan untuk perkara dunia. Jikalau diniatkan untuk ibadah kepada Allah maka yakinlah itu akan bernilai ibadah disisinya.

Umat Islam seharusnya mereka rajin beribadah dan gigih dalam bekerja, sebagaimana kita lihat orang Non-muslim mereka bersungguh-sungguh untuk bekerja padahal aktifitasnya itu hanya untuk kehidupan dunia dan belum tentu bernilai ibadah disisi Allah . Dan ini yang harus kita bedakan antara umat Islam dan Non-muslim dalam bekerja. Berikut saya buatkan tabel untuk memudahkan perkara ini.

Tabel 1

  Giat Bekerja Malas Bekerja
Muslim Sukses di dunia dan akhirat Selamat di akhirat, tetapi menderita di dunia
Non-muslim Sukses di dunia, tidak mendapat ketenangan jiwa, disiksa di akhirat Menderita di dunia, tidak mendapat ketenangan jiwa, di siksa di akhirat.

 

Penjelasan: Jika seorang Muslim malas bekerja, akan tetapi Dia rajin beribadah kepada Allah . Maka dia akan tetap mendapatkan kebaikan di akhirat, tetapi menderita hidupnya di dunia. Misalnya karena kemiskinan, kelemahan dan penderitaan. Jika seorang Non-muslim rajin bekerja, dia akan dapat kesuksesan di dunia, tetapi tidak mendapatkan ketenangan jiwa. Secara keseluruhan kaum Non-Muslim akan mendapat siksa di Akhirat, baik yang giat bekerja maupun malas bekerja.

Tabel 2

  Pertolongan Usaha Pertolongan Iman
Muslim Giat Mendapat Mendapat
Muslim Malas Tidak Mendapat Mendapat
Non-muslim Giat Mendapat Tidak Mendapat
Non-Muslim Malas Tidak Mendapat Tidak Mendapat

 

Penjelasan: Orang Muslim yang giat bekerja mendapat dua jenis pertolongan, yaitu pertolongan karena usaha dan keimanan mereka kepada Allah . Sedangkan orang non-muslim tidak mendapat pertolongan iman sama sekali, karena mereka kufur kepada Allah . Namun mereka masih bias mendapatkan pertolongan karena usaha mereka.

Inilah kemunduran umat Islam saat ini adalah kualitas usaha umat Islam kalah dibandingkan dengan kualitas usaha orang non-muslim, sehingga orang non-muslim mendapatkan hasil yang lebih banyak. Padahal pertolongan Allah  ada bagi umat Islam yang betul-betul beriman dan bertakwa kepada-Nya, sehingga pentingnya umat Islam untuk meningkatkan Kualitas keimanan dan kualitas usaha. Jikalau ini terjadi maka persaingan antara Muslim dan non-muslim, bahkan umat Islam mampu mengalahkan orang non-muslim.

Tabel 3

  Mendapat Musibah Meraih Sukses
Muslim Bermamfaat menghapuskan dosa. Terjadi karena kemala-san dan kelalaian Sebagai buah dari perjuan-gan, ketakwaan, dan perto-longan Allah
Non-muslim Sebagai balasan atas keka-firan. Sebagai peringatan agar kembali ke jalan Islam. Sebagai peringatan atas siksa yang akan banyak lagi di Akhirat kelak. Sebagai balasan atas kerja keras dan pengorbanan mereka. Sebagai tanda dan bukti bahwa Allah  Maha Pengasih

Penjelasan: Kita jangan silau oleh keberhasilan orang-orang kafir, keberhasilan itu bias jadi karena mereka telah bekerja keras. Tetapi bisa jadi, itu merupakan istidraj, yaitu kebaikan yang diberikan secara berangsur-ansur, agar dosa-dosanya semakin menumpuk. Hingga ketika dosa-dosanya telah sempurna, mereka akan di adzab sekeras-kerasnya. Adapun bagi Muslim, penderitaan dan musibah di dunia yang menimpanya ketika bersabar, maka akan menjadi penghapus dosa-dosa mereka, sedangkan keberhasilannya merupakan bukti kemurahan Allah .

Demikianlah, perngorbanan manusia tidak ada yang sia-sia, baik dirinya Muslim atau bukan. Allah  Maha Pengasih, akan membalas setiap pengorbanan setiap manusia dengan memuaskan. Bagaimanapun juga keimanan seorang Muslim sangat berguna, meskipun mamfaatnya baru bisa dirasakan di Akhirat.

***Bagi orang berilmu yang ingin meraih kebahagiaan di dunia maupun di akhirat, maka kuncinya hendakalah ia mengamalkan

ilmunya kepada orang-orang***

(Syaikh Abdul Qodir Jailani rahimahullah).

  1. Ketika Dunia Bersarang di Hatimu

Yah, begitulah pokok pembahasan kita pada bab ini “Ketika Kehidupan Dunia Bersarang di Hatimu”. Ketika kehidupan dunia mengambil segala waktu-mu dan lebih engkau cintai dari pada mendekatkan diri kepada Allah . Ketahuilah, kehidupan dunia pada hakikatnya adalah kehidupan yang sementara dan begitu banyak dalam ayat Al-Qur’an menjelaskan tentang kehidupan dunia. Sebagai umat Islam yang beriman kepada Allah  dan menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk dalam hidupnya. Maka Allah  menjelaskan tentang hakekat kehidupan dunia ini di dalam Al-Qur’an:

(#þqßJn=ôã$# $yJ¯Rr& äo4qu‹ysø9$# $u‹÷R‘‰9$# Ò=Ïès9 ×qølm;ur ×puZƒÎ—ur 7äz$xÿs?ur öNä3oY÷t/ ֍èO%s3s?ur ’Îû ÉAºuqøBF{$# ω»s9÷rF{$#ur ( È@sVyJx. B]ø‹xî |=yfôãr& u‘$¤ÿä3ø9$# ¼çmè?$t7tR §NèO ßk‹Íku‰ çm1uŽtIsù #vxÿóÁãB §NèO ãbqä3tƒ $VJ»sÜãm ( ’Îûur ÍotÅzFy$# Ò>#x‹tã ӉƒÏ‰x© ×otÏÿøótBur z`ÏiB «!$# ×bºuqôÊ͑ur 4 $tBur äo4qu‹ysø9$# !$u‹÷R‘$!$# žwÎ) ßì»tFtB ͑rãäóø9$# ÇËÉÈ   (#þqà)Î/$y™ 4’n<Î) ;otÏÿøótB `ÏiB óOä3În/§‘ >p¨Yy_ur $pkÝÎötã ÇÚöyèx. Ïä!$yJ¡¡9$# ÇÚö‘F{$#ur ôN£‰Ïãé& šúïÏ%©#Ï9 (#qãZtB#uä «!$$Î/ ¾Ï&Î#ߙâ‘ur 4 y7Ï9ºsŒ ã@ôÒsù «!$# Ïm‹Ï?÷sム`tB âä!$t±o„ 4 ª!$#ur rèŒ È@ôÒxÿø9$# ÉO‹Ïàyèø9$# ÇËÊÈ

Artinya: “Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan sendagurauan, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan Para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu Lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu. Berlomba-lombalah kamu untuk mendapatkan ampunan dari Tuhanmu dan syurga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Allah mempunyai karunia yang besar”. (QS. Al-Hadid: 20-21)

Dari ayat diatas Allah  menjelaskan beberapa hal tentang hakikat kehidupan dunia semoga kita bisa mengambil faedah dalam ayat tersebut.

  1. Kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan dan bermegah megah serta berlomba banyak tentang harta dan anak anak. Dan setiap senda gurau tersebut akan ada batasnya dan berakhir.
  2. Perumpamaan kehidupan dunia seperti tanam tanaman yang tumbuh subur menghijau kemudian menjadi kuning , layu dan hancur. Dari tiada kembali menjadi tiada.
  3. Kehidupan yang abadi adalah kehidupan akhirat, disana ada ampunan dan keridhaan Allah dan ada pula azab yang pedih bagi para pembangkang yang tidak percaya kepada Allah .
  4. Kehidupan dunia ini  adalah kehidupan yang penuh kepalsuan dan tipuan hati hati dan waspadalah menghadapinya.
  5. Allah menganjurkan pada orang yang beriman agar berlomba-lomba meraih ampunan Allah  dan syurga di akhirat yang luasnya seluas langit dan bumi.
  6. Syurga itu disediakan bagi orang yang beriman pada Allah dan Rasul-

Itulah beberapa faedah yang dijelaskan Allah  tentang sifat dan hakekat dari kehidupan dunia ini.

Kehidupan dunia bukanlah kehidupan yang sebenarnya, kehidupan dunia hanyalah kehidupan sementara yang akan kita tinggalkan. Kehidupan yang sebenarnya adalah kehidupan diakhirat kelak. Diakhirat kelak ada orang yang hidup kekal dalam penderitaan abadi didalam Neraka, dan ada pula orang yang hidup kekal dalam kenikmatan abadi di dalam Syurga. Allah  menganjurkan orang yang beriman untuk berlomba lomba meraih ampunan Allah  dan syurga yang luasnya seluas langit dan bumi. Itulah tujuan akhir setiap orang yang beriman pada Allah  dan Rasul-Nya. Kehidupan yang kekal dan abadi didalam taman syurga yang luasnya seluas langit dan bumi.

Diantara manusia ada yang silau dengan kehidupan dunia, mereka mengerahkan semua usaha dan kekuatannya untuk meraih sukses dan kejayaan hidup didunia. Mereka tidak percaya dengan kehidupan akhirat, mereka beranggapan bahwa hidup hanyalah hidup didunia ini saja. Setelah datang kematian maka selesailah semuanya. Tidak ada lagi kehidupan sesudah mati itu. Mereka menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan didunia ini. Mereka tidak peduli dengan kehidupan akhirat, yang penting semua keinginan mereka terpenuhi. Mereka sudah menjadi budak budak nafsu untuk memenuhi semua hasrat dan keinginannya.

Bagi orang yang hanya menginginkan kehidupan dunia saja, maka Allah  akan memenuhi semua hajat keinginan mereka. Allah  akan memberikan pada mereka kekayaan berlimpah, pangkat jabatan dan kehormatan, mereka disanjung dan dipuja setiap orang didunia ini. Namun setelah datang kematian lenyaplah semua itu dari mereka, dan mulailah mereka menjalani kesulitan panjang yang tidak pernah berakhir untuk selama lamanya. Setelah berada dialam barzakh mereka baru menyadari kekeliruannya, mereka berteriak memohon pada Allah  agar dikembalikan hidup kedunia untuk memperbaiki kekeliruan mereka sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an:

#Ó¨Lym #sŒÎ) uä!%y` ãNèdy‰tnr& ßNöqyJø9$# tA$s% Éb>u‘ ÈbqãèÅ_ö‘$# ÇÒÒÈ   þ’Ìj?yès9 ã@yJôãr& $[sÎ=»|¹ $yJŠÏù àMø.ts? 4 Hxx. 4 $yg¯RÎ) îpyJÎ=x. uqèd $ygè=ͬ!$s% ( `ÏBur NÎgͬ!#u‘ur îˆy—öt/ 4’n<Î) ÏQöqtƒ tbqèWyèö7ムÇÊÉÉÈ

Artinya: “(Demikianlah Keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, Dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia). Agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah Perkataan yang diucapkannya saja. dan di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan”. (QS. Al-Mu’minuum: 99-100).

Janganlah merasa heran dan takjub pada kekayaan berlimpah, serta kemuliaan dan kehormatan yang diberikan Allah  pada orang yang kafir dan tidak percaya pada Allah . Itu termasuk dari bagian tipu daya kehidupan  dunia. Semua itu hanyalah fatamorgana dan kesenangan palsu yang menipu. Kehidupan dunia, bagai bunga yang dipetik kemudian layu. Dalam Al-Qur’an Allah berfirman;

Ÿwur ¨b£‰ßJs? y7ø‹t^ø‹tã 4’n<Î) $tB $uZ÷è­GtB ÿ¾ÏmÎ/ %[`ºurø—r& öNåk÷]ÏiB not÷dy— Ío4quŠptø:$# $u‹÷R‘‰9$# ôMåks]ÏGøÿuZÏ9 ÏmŠÏù 4 ä-ø—Í‘ur y7În/u‘ ׎öyz 4’s+ö/r&ur ÇÊÌÊÈ

Artinya: Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk agar Kami uji mereka dengan (kesenangan) itu, dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal”. (QS. Taha: 131).

Ketika suatu tanaman yang hendak mengeluarkan buahnya, biasanya diawali dengan kemunculan bunga. Kadang kala bunga itu terlihat indah dan di saat lain terlihat begitu sangat menawan. Bahkan terkadang tidak sedikit orang yang memandangnya berhasrat untuk memetiknya dan dibawanya pergi. Namun tahukah kita sekiranya bunga tadi benar-benar dipetik sebelum berubah menjadi buah? Ternyata tidak akan berapa lama kemudian akan segera layu dan pada akhirnya akan dicampakan oleh sang pemetiknya.

Memang jika masih berada di tangkai, terlihat begitu mempesona, namun jika diambil saat itu juga maka yang terjadi adalah malah justru menjadi layu, tak tahan lama. Berbeda ceritanya jika kita biarkan bunga itu terus berada di tangkainya sedikit agak lebih lama, tentu bunga tersebut akan berubah menjadi buah yang tidak saja indah dan menyejukkan pandangan jika dilihat, akan tetapi juga dapat dikonsumsi.

Dan gambaran dunia pun dapat dipastikan sebagaimana kisah bunga di atas. Kehidupan dunia itu terlihat begitu indah menawan di mata siapa saja yang melihat dan memandangnya. Tahta, jabatan, wanita, keturunan, harta, benda, dan seterusnya. Keseluruhannya itu nampak begitu menggoda dan membuai normalnya jiwa manusia tergoda dan berhasrat untuk menggapai dan menikmatinya.

Akan tetapi sungguh, segala yang terlihat indah di mata itu sejatinya akan jauh lebih indah jika ditunggu sebentar saja nanti ketika datang kampung kekelan di akhirat. Adapun orang-orang yang terlena dan tergoda sehingga tak dapat menahan kecuali memetik dan menikmatinya, sungguh cepat ataupun lambat segala sesuatu yang dinikmatinya itu akan layu dan nampak suram dan bencana yang sangat mencekam. Demikianlah Allah  menguji hamba-hamba-Nya agar dapat terlihat mana di antara mereka yang benar-benar jujur dan taat mematuhi segala titah-Nya, dan mana di antara mereka yang terburu-buru menikmati keindahan sebelum datang waktunya.

Rasulullah  pernah mengatakan bahwa; “Dunia itu laksana surga bagi orang kafir, dan penjara bagi orang mukmin”. (HR Muslim).

Kenapa? Karena di dunia itu dipenuhi aturan-aturan yang sama sekali tak boleh diterjang. Ada halal-haram, ada perintah-larangan, ada ini dan itu. Kerap kali untuk menjalankan suatu perintah, harus meninggalkan beberapa perkara yang nampak indah dan di saat tertentu harus menelan rasa pahit. Seluruh perintah ini hanya akan dilaksanakn oleh orang-orang mukmin karena meraka bersabar dan yakin bahwa kehidupan sebenarnya yang terdapat berbagai kenikmatan hanya akan ada di akhirat, di dunia bukanlah tempat berfoya-foya dan leyeh-leyeh. Dalam sebuah kaedah agung disebutkan,

Orang yang meninggalkan sesuatu karena Allah, pasti Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik untuknya”.

Sedangkan orang kafir terburu-buru dan tidak sabar menikmati kemewahan dunia yang tak ubahnya fatamorgana. Di dunia mereka berfoya-foya dengan disertai ejekan dan cemoohan pada orang-orang yang mau bersabar, kelak orang-orang kafir itu akan merasakan akibatnya. Ketika mereka sudah merasakan indahnya dunia, kelak di negeri kekal tak akan lagi merasakan indahnya surga. Nerakalah tempat teduh mereka.

Dan perlu diketahui bahwa harta kesenangan di dunia hanya ada 3, yaitu apa yang dimakan kemudian lenyap, apa yang dipakai hingga rusak, atau apa yang disedekahkan sehingga kekal lestari. Demikian yang Nabi Muhammad  terangkan sebagaimana yang diriwayatkan oleh Shahabat ‘Abdullah bin Asy-Syikhkhir  dan direkam oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya. Sungguh indah sya’ir yang dibawakan Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi dalam muqaddimah Riyadh Ash-Shalihin min Kalam Sayyid Al-Mursalin,

***Sesungguhnya Allah memiliki beberapa hamba yang cerdik,

mereka menceraikan dunia karena khawatir bencana

Mereka merenungkan isi dunia, ketika mereka mengetahui bahwa dunia bukanlah tanah air orang yang hidup

Mereka pun menjadikannya laksana samudera dan menjadikan amal shalih sebagai bahteranya***

Al-Hafizh An-Nawawi rahimahullah, mengatakan, “Jika keberadaan dunia adalah seperti yang telah saya kemukakan tadi, dan status kita serta tujuan kita diciptakan adalah seperti yang telah saya sampaikan (untuk mengabdi pada Rabbul ‘alamin), maka sudah semestinya bagi setiap mukallaf membawa dirinya ke jalan orang-orang pilihan dan menepaki jalan orang-orang yang memiliki akal, nalar, dan pikiran.”

Setelah kita mengetahui penjelasan ringkas di atas, sadarkah kita bagaimana seorang mukmin hanya akan bersenang-senang dan menikmati jerih payahnya di dunia yang penuh dengan duri-duri dan jalan-jalan terjal. Apatah lagi tidak sedikit orang yang mencemooh dan menghina mereka yang terkadang berpenghidupan serba kekurangan, menurut mata telanjang. Padahal sungguhnya kebahagiaan dan kekayaan dalam artian cukup itu hanya ada dalam hati, bukan harta, tahta, wanita, dan keturunan. Sebab betapa kita sering mendengar tidak sedikit orang yang memiliki kekayaan hebat; istana megah, kendaraan mewah, penampilan wah, namun kehidupannya berakhir dengan bunuh diri. Jika memang itu kebahagiaan, lantas mengapa mereka bunuh diri?!

Semoga Allah  memberikan kita kekuatan untuk terus istiqamah menjalankan segala bentuk perintah-Nya dan menjauhi sejauh-jauhnya apa yang menjadi larangan-Nya. Dibalik besarnya fitnah dunia, maka kita berdoa kepada Allah  agar dilindungi dari setiap fitnah dunia yang akan menyesatkan diri kita dalam kemaksiatan. Dunia sementara dan akhirat selamanya. Bekerjalah dengan sebaik-baiknya untuk kehidupan akhirat karena ia adalah tempat kekal kita selamanya.

***Dunia itu ibarat bayangan, jika anda berpaling dari bayangan,

ia justru menguntit anda, tetapi jika anda mencari-carinya,

ia justru malas mendatangi anda***

(Ibnu Qoyyim al-Jauziyah rahimahullah)

 

  1. Hijrah Adalah Kunci Keberhasilan

Dalam bab ini tentu sangat berbeda dengan bab sebelumnya, jikalau dalam paragraf sebelumnya kita belum serius membaca dan memahaminya. Maka saya mengajak kepada pembaca untuk memahami dengan baik setiap kata yang akan kami jelaskan. Pada bab ini akan mengupas tentang hijrah adalah kunci keberhasilan sebuah tema yang sangat menarik, pembahasan pada bab ini akan diselingkan dengan pengalaman pribadi kami sendiri.

Hijrah bukanlah kata yang asing ditelinga kita, begitu pula dengan kunci keberhasilan. Namun, yang menjadi pertanyaan adalah apakah hijrah memiliki pengaruh terhadap keberhasilan seseorang? Sebelum menjawab pertanyaan ini ada baiknya kita memahami apa yang dimaksud dengan hijrah.

Para ahli bahasa berbeda pendapat dalam mengartikan kata “hijrah” namun kesemuanya berkesimpulan bahwa hijrah adalah menghindari/menjauhi diri dari sesuatu, baik dengan raga, lisan dan hati. Hijrah dengan raga berarti pindah dari suatu tempat menuju tempat lain. Hijrah dengan lisan berarti menjauhi perkataan kotor dan keji. Sementara hijrah dengan hati berarti menjauhi sesuatu tanpa menampakkan perbuatan.

Pada intinya hijrah adalah sebuah proses pensucian diri kita, berubah menjadi lebih baik dan mendekatkan diri kepada Allah . Setiap harinya kita diberikan waktu yang begitu luas 1440 menit perhari, namun adakah diantara kita yang menuggunakan setiap detik ini untuk mensucikan diri kita mengucapkan Astagfirullah, berubah menjadi lebih baik dan menambah ketakwaan kita kepada Allah . Maka rugilah kita jikalau waktu berlalu lantas tidak ada perubahan dalam diri kita.

Masikah terbesit didalam hati kita untuk berubah menjadi yang lebih baik? Mensucikan diri kita dari setiap dosa yang telah kita kerjakan, akankah kita menunggu ajal menjemput kita lalu kita ingin berubah. Tapi yakinlah didalam hati setiap insan pasti ada terbesit walaupun sedikit untuk berubah menjadi manusia yang lebih baik.

Tepat dengan 4 tahun lalu ketika masih duduk dibangku SMA sampai selesai ujian nasional dan lulus. Pikiran yang masih rancu akan masa depan kita mau kemana (Kuliah atau ngangur). Kenakalan diwaktu SMA dulu memberikan bekan mental yang kuat akan kerasnya sebuah kehidupan. Tepat 2013 saya ditakdirkan lulus dan kuliah di UNM, perjuangan dan pengorbanan yang begitu besar meninggalkan segala aktifitas yang ada dikampung jauh dari orang tua dan sahabat, teman dan keluarga. Pada akhirnya saya menyadari bagaimana perjalanan hidup saya dalam mengeyap pendidikan.

Tiga tahun perjalanan di SMP dan SMA cukuplah menjadi pengalaman bagi kita semua akan cepatnya waktu memakan usia dalam diri kita. Perjalanan pendidikan saya terpatahkan pada tahun ke-2 di SMA. Sebuah keputusan buruk yang mulai menghancurkan setiap aktifitas sekolah. Pada akhirnya gelar anak nakalnya SMA menjadi gelar di pundak. Kehadiran yang tak lagi diperhatikan sering bolos, tugas yang tak dikerjakan dll.

Perjalanan hidup yang buram dan kelam seharusnya tidak menjadi tulisan pada bab ini. Namun, dengan pengalaman inilah dan izin Allah saya ditakdirkan lulus dan masuk kuliah di UNM melalui jalur SBMPTN dan pendaftar pada tahun 2013 dari sekolah kami ratusan dan yang lulus hanya 3 orang dan salah satunya diri kami pribadi. Pada saat itupulah saya tersadarkan untuk berubah menjadi lebih baik dengan hijrah meninggalkan kampong halaman menuju kota Makassar untuk menuntut ilmu, merubah setiap akhlak buruk yang ada pada diri kita dan menambah ketakwaan kita kepada Allah .

Hampir setiap kita memiliki pengalaman yang kelam ataupun yang baik. Namun, harus kita sadari kita pasti tidak ingin terus berada pada posisi yang seperti itu terus. Kita ingin berubah, kita ingin hijrah. Karena dengan hijralah setiap kebaikan-kebaikan itu akan kita dapatkan begitupula dengan keberhasilan. Maka berhijralah dan cari keridhohan Allah  dalam hijrah, karena bisa jadi hijramulah yang akan mengubah hidupmu menjadi lebih baik. Sebagaimana sebuah kesuksesan memiliki tahap, maka hijrahpun memiliki tahap dan proses yang berbeda dalam setiap waktunya.

A. Apa Sih yang Dimaksud Hijrah?

Secara etimologi, hijrah adalah lawan dari kata washal (bersambung). Maksud hijrah di sini adalah berpisahnya seseorang entah berpisah dengan badan, dengan lisan, dengan hati. Asal hijrah di sini bermakna meninggalkan, yaitu meninggalkan berbicara atau meninggalkan perbuatan. Tidak berbicara pada orang lain, itu bermakna hajr. Sedangkan kalau membahas hijrah, ada dua maksud:

  1. Hijrah hissi, yaitu berpindah tempat, yaitu berpindah dari negeri kafir ke negeri Islam atau berpindah dari negeri yang banyak fitnah ke negeri yang tidak banyak fitnah. Ini adalah hijrah yang disyari’atkan.
  2. Hijrah maknawi (dengan hati), yaitu berpindah dari maksiat dan segala apa yang Allah larang menuju ketaatan.

Setiap manusia mesti berhijrah, yaitu menjadi lebih baik dari sebelumnya. Yang akan diulas dalam tulisan ini adalah berhijrah dari maksiat pada ketaatan kepada Allah . Tidak ada manusia yang terlepas dari setiap kesalahan dan perbuatan dosa, tidak ada manusia yang sempurna dan ideal. Dari hadits ‘Abdullah bin Umar , ia berkata;

Artinya: Sesungguhnya manusia seperti unta sebanyak seratus, hampir-hampir tidaklah engkau dapatkan di antara unta-unta tersebut, seekor pun yang layak untuk ditunggangi.(HR. Bukhari, no. 6498).

Maksud dari hadits diatas, tak ada yang sempurna. Namun tetap ada yang mendekati ideal atau kesempurnaan. Karena Rasulullah Muhammad  juga mengatakan bahwa yang terbaik bukanlah orang yang tidak pernah berbuat dosa atau kesalahan. Setiap manusia pernah berbuat salah dan dosa. Namun, yang paling baik dari mereka adalah yang mau bertaubat dan bersegera  kembali kepada Allah . Dari Anas bin Malik , ia berkata bahwa Rasulullah  bersabda;

Artinya: Setiap manusia pernah berbuat salah. Namun yang paling baik dari yang berbuat salah adalah yang mau bertaubat.(HR. Tirmidzi, Ibnu Majah).

Kata Ibnu Rajab dalam Fathul Barinya, yang dimaksud at-tawwabun adalah: “Orang yang mau kembali pada Allah dari maksiat menuju ketaatan.“ Artinya, mau berhijrah dari maksiat dahulu menjadi lebih baik saat ini. Begitu pentingnya sebelum kita hijrah untuk taubat kepada Allah dengan sebenar-benarnya taubat. Sebagaimana firman Allah  didalam Al-Qur’an;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya)”. (QS. At Tahrim: 8).

Siapapun diantara kita yang ingin berhijrah maka lakukanlah, banyak yang beralasan malas berhijrah karena mengingat terus masa kelam yang pernah Ia lakukan, menyesali perbuatan yang lalu adalah motivasi yang kuat untuk kita melangkah dan memperbaiki diri menjadi lebih baik. Siapa saja yang mau berhijrah, maka Allah  akan menerima hijrahnya. Sebagaimana firman-Nya didalam Al-Qur’an;

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Artinya: Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Az Zumar: 53).

Tentu saja setelah berhijrah, seseorang harus punya tekad menjadi baik dan bertekad tidak mengulangi lagi maksiat yang dahulu dilakukan. Karena sebesar apapun dosa dan kesalahan yang kita kerjakan. Akan tetapi ampunan dan rahmat Allah  lebih besar. Jangan pernah berputus asa dengan setiap masalah hidup yang kita hadapi, bersegeralah kembali kepada Allah  tidak ada lagi waktu untuk menunda-nunda untuk kita hijrah dijalan Allah .

  1. Niat yang Lurus

Ketika seseorang ingin hijrah menjadi yang lebih baik, maka yang paling penting diperhatikan adalah Niat yang lurus Lillahi Ta’ala. Karena Niat adalah penentu bagi setiap amalan yang kita kerjakan. Dalam melakukan berbagai aktifitas apakah setiap ibadah dan aktifitas yang kita kerjakan bernilai ibadah disisi Allah , maka itu tergantung dengan niat kita.

Begitu pentingnya niat sehingga Rasulullah Muhammad  dalam sebuah hadits-Nya bersabda; “Dari Abu Hafs yaitu Umar bin Al-khaththab . berkata, Saya mendengar Rasulullah  bersabda : “Hanyasanya semua amal perbuatan itu dengan disertai niat-niatnya dan hanyasanya bagi setiap orang itu apa yang telah menjadi niatnya. Maka barangsiapa yang hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itupun kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya itu untuk harta dunia yang hendak diperolehinya, ataupun untuk seorang wanita yang hendak dikawininya, maka hijrah-nyapun kepada sesuatu yang dimaksud dalam hijrahnya itu”. (HR. Bukhari & Muslim).

Ketika telah terbetik dalam hati untuk hijrah merupakan tanda untuk berubah menjadi yang lebih baik. Saya mengajak kepada kita semua mulai detik ini mari kita renungkan setiap kesalahan, dosa-dosa, sifat buruk yang sering kita kerjakan. Kita niatkan detik untuk berubah dari setiap perbuatan buruk yang sering kita kerjakan. Maka renungilah, tatap diri kita akankah kita biarkan diri kita terus berada dalam keadaan seperti ini.

Hijrah bukanlah persoalan yang mudah dan gampang, adakalanya kita telah mengatakan diri kita telah hijrah. Namun belum mendapatkan apa-apa disisi Allah , disebabkan karena niat yang salah. Hadits diatas telas menjelaskan kepada kita bahwa setiap amalan perbuatan yang kita kerjakan itu sangat tergantung dengan niatnya, apakah itu bernilai ibadah disisi Allah .

Barangsiapa yang hijrah niatnya karena Allah  dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah  dan Rasul-Nya. Maka barangsiapa yang hijrahnya untuk dunia, wanita, harta dan yang lainya, maka hijrah-nyapun terhadap terhadap apa yang dimaksud dalam hijrahnya itu. Begitu beratnya menjaga niat lurus kita dalam perjalanan hijrah, sehingga membutuhkan doa dan kerja keras dalam mempertahnkan niat lurus kita. Memperbarui niat setiap saat ta’kala ujuan-ujian dunia menghampiri.

Hijrah dengan niat karena Allah  dan Rasul-Nya, maka yakinlah bahwa akan mendapatkan pahala disisi-Nya. Akan tetapi hijrah dengan niat kerena dunia, harta dan wanita, maka tidak akan bernilai ibadah disisi Allah . Begitu banyak para perantau keluar negeri untuk mencari kerja, mendapatkan uang. Mereka hijrah bepindah tempat dari tempat yang satu ketempat yang lainya, tetapi hijrahnya ketika tidak dilandasi dengan niat yang lurus, maka ini adalah hijrah secara sia-sia dan tidak bernilai ibadah sedikitpun disisi Allah .

Maka sebuah kerugian besar ketika seseorang hijrah, lantas hijrahnya masih terhadap kehidupan dunia, wanita yang ia idamkan. Ketika itu masih terjadi pada diri kita maka perbaruilah kembali niat-niat kita karena Allah  dan Rasul-Nya. Manusia adalah makhluk yang lemah kapan saja syetan mampu menggelintirkan kita dari jalan lurus, maka perbanyaklah doa agar diberikan keistiqomahan dalam perjalanan hijrah kita hingga kembali dan menghadap kepada Allah .

  1. Mengapa Harus Berhijrah

            Yah, mengapa kita harus berhijrah? Apa tujuan dan mamfaat kepada diri kita ketika kita hijrah. Hijrah bukanlah sempit pengertianya, bukan hanya perpindahan tempat dari yang satu ketempat yang lainya. Dari sifat dan akhlak yang buruk berubah menjadi akhlak yang baik adalah sebuah perjalanan hijrah. Latar belakang seseorang ingin hijrah adalah dosa-dosa dan perbuatan buruk yang pernah kita kerjakan.

Setiap diantara kita tidak ingin melihat kehidupan kita hari ini sama dengan hari kemarin atau bahkan lebih buruk dari hari kemarin. Dengan motivasi untuk berubah menjadi lebih baik dengan cita-cita yang tinggi, maka akan memberikan pengaruh pada diri kita untuk hijrah. Belum lagi dengan janji pahala bagi orang yang hijrah karena Allah . Sebagimana firman-Nya didalam Al-Qur’an:

* ruBt` ‰çkp$_ōö ûΒ ™y6΋@È #$!« †sgʼnô ûΒ #${F‘öÚÇ BãtºîxJV$ .xWύŽZ# ru™yèypZ 4 ruBt` †sƒøãló BÏ`. /t÷FÏmϾ Bãgy$_ō·# )Î<n’ #$!« ru‘u™ßq!Î&Ͼ OèN§ ƒã‰ô‘Í.ømç #$QùRpqöNß ùs)s‰ô ru%sìy &r_ôãnç¼ ãt?n’ #$!« 3 ru.x%bt #$!ª îxÿàq‘Y# ‘§mϊJV$ ÈÉÉÊÇ

Artinya: “Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi Ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak. barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, Kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), Maka sungguh Telah tetap pahalanya di sisi Allah. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. An-Nisa: 100).

Selain mendapatkan pahala bagi orang-orang yang hijrah, Allah  pun menjanjikan rezki yang banyak bagi orang-orang yang hijrah dijalan Allah . Mencapai sebuah keberhasilan tidaklah mudah dan pengaruh hijrah terhadap keberhasilan seseorang sangatlah besar. Orang yang dulunya malas untuk bekerja setelah hijrah mereka gigih dalam bekerja dan semangat dalam menuntut ilmu.

Hampir setiap guru besar, dosen dan orang-orang sukses, mampu mendapatkan cita-citanya karena mereka berpindah, berhijrah dari kampung halaman menuju kota untuk sekolah, kuliah dan menuntut ilmu. Motivasi untuk sebuah kebahagian baik diri sendiri ataupun orang tua mampu mendorong kita hijrah menjadi lebih baik. Karena keberhasilan dan kesuksesan bukan datang karena kita berleha-leha dan bersantai. Namun, penuh perjuangan dan pengorbanan yang begitu besar.

  1. Mahkota Kemulian

Seorang anak pasti ingin membahagiakan orang yang di cintainya, salah satunya membalas jasa kedua orangtuanya, tetapi meskipun orangtua diberikan apa saja yang di inginkannya baik itu harta dan yang lainnya, tentu itu tidak akan bisa membalas jasa kedua orangtua kepada anaknya. Tetapi ada cara untuk sedikit membalas jasa orangtua dan menyelamatkan orangtua kita ketika nanti di akhirat, yaitu bagaimana anak itu bisa menjadi penghafal Al-Qur’an. Sebagaimana di jelaskan keutamaan bagi penghafal Al-Qur’an dalam beberapa hadis. Dari Abi Hurairah , bahwa Rasulullah  bersabda:

Artinya: “Penghapal Al-Qur’an akan datang pada hari kiamat, kemudian Al-Qur’an akan berkata: Wahai Tuhanku, bebaskanlah dia, kemudian orang itu dipakaikan mahkota karamah (kehormatan), Al-Qur’an kembali meminta: Wahai Tuhanku tambahkanlah, maka orang itu dipakaikan jubah karamah. Kemudian Al-Qur’an memohon lagi: Wahai Tuhanku, ridhailah dia, maka Allah  meridhainya. Dan diperintahkan kepada orang itu: bacalah dan teruslah naiki (derajat-derajat surga), dan Allah  menambahkan dari setiap ayat yang dibacanya tambahan ni`mat dan kebaikan”. (HR. Tirmidzi).

Orangtua mana yang tidak ingin mendapatkan mahkota dan jubah di surga kelak? Apa yang menjadikan mereka mendapat mahkota dan jubah? Untuk menjawabnya, mari kita sama-sama mengkaji hadits tentang kisah seorang anak yang pandai membaca, mempelajari dan mengamalkan Al-Qur’an berikut ini.

Dari Buraidah ia berkata: Rasulullah  bersabda: “Siapa yang membaca Al-Qur’an, mempelajarinya dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari Kiamat, cahayanya seperti cahaya matahari, kedua orang tuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan), yang tidak pernah didapatkan di dunia, keduanya bertanya: mengapa kami dipakaikan jubah ini: dijawab: “karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al-Qur’an”. (HR. Al-Hakim)

Itulah janji Allah  bagi Setiap Penjaga (Hafidz) Al-Qur’an. Subhanallah, setiap orangtua tentunya menginginkan mahkota dan jubah kemuliaan seperti yang disabdakan oleh Rasulullah . Pada hadits termaktub di atas di surga kelak, bukan? Para penghafal Al-Qur’an adalah orang yang dimuliakan oleh Allah . Tentunya selain mampu menjaga (hafidz Al-Qur’an), para putra-putri yang berpredikat tahfidz Al-Qur’an pun senantiasa mengamalkan kandungan ayat yang dihafalnya.

Di dalam hadits lain, Rasulullah  bersabda, “Sesungguhnya Allah  memiliki kerabat-kerabatnya dari kalangan manusia.” Sahabat lalu bertanya, “Siapa mereka yaa Rasulullah?” Lalu dijawab oleh Nabi, “Mereka adalah ahli Quran, mereka adalah kerabat Allah (Ahlullah) dan orang-orang pilihan.” (HR. Ibnu Majjah)

Maka menjadi seorang penghafal Al-Qur’an atau Hafidz hari ini telah menjadi tujuan penting bagi hampir setiap orangtua serta takjarang keinginan menjadi seorang penghafal Al-Qur’an muncul atas dasar inisiatif anak-anak. Memang penulis bukanlah seorang yang hafal Al-Qur’an 30 Juz, tetapi itu bukanlah waktu yang terlambat bagi kita untuk menjadi penghafal Al-Qur’an dan semoga saja suatu saat nanti kita bisa mempunyai keturunan penghafal Al-Qur’an yang bisa memberikan syafa’at kepada kita selaku orangtuanya.

Melihat perjuangan orang tua yang begitu besar, seakan kita tidak akan mampu membayarnya dengan yang serupa. Akan tetapi setidaknya kebaktian kita terhadap orang tua dan ketaatan kita kepada Allah  mampu mengangkat derajat mereka karena melahirkan anak-anak yang sholeh. Selagi orang tuamu masih hidup maka bahagiakanlah mereka, jangan membuat mereka sedih karena perbuatanmu. Namun, ketika orang tuamu telah menghadap kepada Allah  maka doakanlah mereka agar diberikan tempat yang terbaik disisi-Nya.

 

 

 

 

 

 

 

Penutup

Akhirnya, sampailah kita di ujung pembahasan buku ini. Sebuah harapan besar ditancapkan, agar kita senantiasa diberikan petunjuk dalam mengarungi kehidupan kita. Karena dengan petunjuk itulah, kita akan memiliki arah dan tujuan yang jelas, memiliki impian yang mulia hingga mencapai kebahagian yang hakiki. Melangkah untuk sebuah proses perubahan, mendekatkan diri kepada-Nya dan senantiasa meminta agar niat-niat baik kita tetap bergantung kepada-Nya.

Buku ini dibuat dalam berbagai bab, yang tentunya setiap bab memiliki pembahasan tersendiri. Buku ini adalah sebuah inspirasi dan motivasi bagi diri kita. Dimana dalam buku ini akan dibahas Bagaimana mengubah hidup kita menjadi lebih baik, memaknai setiap masalah yang kita hadapi, dan bagaimana mengubah sebuah kegagalan menjadi kesuksesan, serta pentingnya menumbuhkan motivasi dalam diri kita. Tak satupun di antara kita yang tidak mengingingkan sebuah kebaikan dan keberhasilan dalam dirinya, namun banyak yang mengatakan hal seperti itu tetapi tak mampu berbuat apa-apa karena niat dan tekad dalam dirinya begitu lemah untuk menjalani sebuah proses perubahan.

Pada hakekatnya buku ini tidaklah 100% mampu mengubah hidup kita menjadi lebih baik, ketika buku ini hanya dibaca tanpa mengamalkan apa yang ada di dalamnya. Hidup yang penuh dengan pengalaman baik atau buruknya, sehingga dianggap penting bagi diri kita untuk menyikapi setiap pengalaman itu baik atau buruknya. Namun, saya yakin diantara kita akan ada setiap perjalanan hidup kita dilalui dengan pengalaman yang buruk dan selalu membayangi diri kita, akan tetapi dengan pengalaman itu banyak mampu mengantarkan seseorang mencapai sebuah kesuksesan dan keberhasilan.

Sukses adalah impian setiap orang, namun impian itu terkadang ada yang mampu menggapainya dan ada juga yang tidak. Kesuksesan tentulah dimulai dari diri kita. Bagaimana usaha diri kita untuk berhasil dan mencapai kesuksesan, karena kesuksesan tidaklah didapatkan dengan cara yang santai, tanpa sebuah pengorbanan dan kerja keras yang nyata. Dalam proses mencapai keberhasilan itu akan banyak masalah dan tantangan yang akan kita hadapi, dan membutuhkan mental yang kuat siap menghadang masalah itu. Perjalanan hidup yang tiada hari tanpa keluhan dan permasalahan membuat kita terkadang terpojok dan putus asa. Namun, waktu berlalu dan membuat saya tersadar akan pentingnya sebuah perubahan dalam diri kita. Setiap kita tidak ingin terus berada dalam keterpurukan dan masalah yang kita hadapi walaupun masalah itu begitu pahit bagi diri kita. Akan tetapi tidak Allah  memberikan ujian kepada hamba-Nya melaingkan akan ada kebaikan setelahnya dari setiap masalah yang kita hadapi. Setelah bergelut dengan banyak orang, saya tersadar hidup kita dilarang untuk banyak mengeluh, namun memperbanyak syukur kepada Allah .

Dan hidup ini harus kita jalani sebaik mungkin, begitu pula keluhan-keluhan kita yang seharusnya setiap masalah yang kita hadapi tidak mengeluh, namun  mengsyukuri nikmat yang Allah  berikan kepada kita melalui dengan masalah yang ditimpa dalam kehidupan kita.

Coba kita perhatikan, begitu banyak bapak pengayuh becak yang dengan mudah bisa tidur diatas becaknya sambil menunggu penumpang. Akan tetapi, begitu banyak orang kaya yang bergemilang dengan harta yang menderita kesulitan tidur hingga ia harus mengomsumsi obat tidur. Apa yang menyebabkan perbedaan ini?

Perbedaan persepsi terhadap sebuah permasalahan, memung-kinkan bagaimana sikap kita menghadapi sebuah permasalahan yang kemudian dikenal sebagai ujian dari Allah , dengan nikmat yang diberikan kepada kita, karena sesungguhnya bukan banyaknya harta yang kita miiliki, ataupun dengan tingginya jabatan yang kita pegang, sehingga membuat hati kita tenang, namun bagaimana kita mengsyukuri apa yang Allah berikan kepada kita, bisa jadi penderitaan kita didunia mampu menghantarkan kita ke dalam syurganya Allah .

Begitupulah dengan diri kita yang harus mengenal posisi diri sebagai makhluk Allah, yang tidak memiliki kekuatan dan daya yang memiliki kemampuan dan kehendak yang terbatas. Allahlah yang mempunyai ‘daya’ menentukan skenario. Semua alur kehidupaan kita telah ditentukan jauh sebelum kita lahir, sebagaimana Allah  berfirman di dalam Al-Qur’an :

Artinya: ‘’Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira  terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.’’ (QS. Al-Hadid [57]: 22-23).

            Sebagai makhluk kita hanya bisa menjalani serta bersikap ridha terhadap semua ketentuan-Nya. Ridha disini bukan bermakna pasif (tidak melakukan apa-apa untuk merubah keadaan). Namun, kita tetap wajib berusaha dan memperbanyak ikhtiar kepada Allah. Mengapa demikian, karena kita tidak tahu takdir kita seperti apa. Bisa jadi kita ditakdirkan menjadi orang yang kaya, namun dikarenakan kurangnya ikhtiar maka kita pun memperoleh rezeki yang sedikit. Ataukah kita sebenarnya ditakdirkan sebagai orang yang sehat, namun karena kurang menjaga kesehatan maka sakitlah kita. Bisa juga kita ditakdirkan sebagai orang pintar, namun berhubung kurang belajar, maka kitapun menjadi orang yang bodoh lagi tertinggal.

Untuk meraih apa yang kita ingingkan; kekayaan, kebahagiaan, keberhasilan, dan kemuliaan, kita harus berjuang memperolehnya, bukan berleha-leha dan bersantai-santai dalam menjalani hidup ini. Tetapi, perlu diketahui dalam perjuangan, untuk menggapainya seringkali berbagai cobaan. Sangat jarang terjadi, seseorang begitu ‘mulus’ perjalanannya dalam meraih sukses. Biasanya orang yang sukses telah diuji, ditempa dengan jalan yang berliku dan penanjakan yang panjang, hingga membutuhkan sebuah semangat dan motivasi yang kuat.

Sesungguhnya Allah  memberikan ujian dan masalah dalam kehidupan kita adalah sebuah ukuran kemulian, sampai dimana kita bersabar dengan ujian tersebut, bisa jadi ujian yang diberikan kepada kita adalah cara untuk memperkokoh keimanan kita dan memper-mudah urusan-urusan kita selanjutnya. Allah  berfirman;

Artinya: ‘’Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,’’ (QS. Ash-Syarh).

Sewaktu kita menerima tempaan atau ujian, langkah yang perlu kita tempuh adalah melakukan intropeksi, mengapa Allah  memberikan kita ujian. Ujian yang seringkali berupa kegagalan atau kehilangan sesuatu, biasanya disebabkan oleh beberapa hal. Misalnya Kualitas diri yang kurang (kurang bakat, kurang ilmu, kurang keterampilan, kurang ikhtiar, kurang berdoa, makanan dan minuman yang haram, kurang shadaqah, durhaka kepada orang tua, suka bermaksiat, dan lain sebagainya).

Setelah melakukan intropeksi diri, kita sebaiknya mempersiapkan hati untuk ridha terhadap apapun ketentuan Allah . Kita menyadari sebagai makhluk, kita tidak bisa memaksakan kehendak terhadap Allah selain ridha terhadap apa yang diputuskan-Nya. Ali bin Abi Thalib . Pernah bertakziyah kepada seseorang yang anaknya meninggal. Beliau berkata, ‘’Wahai fulan, jika engkau bersabar, ketetapan itu tetap berlaku kepadamu dan engkau pun mendapat pahala. Tetapi jika kamu tidak bersabar, ketetapan itupun tetap berlaku dan engkau mendapat dosa.’’

Apapun yang Allah  tentukan terhadap manusia pasti terjadi. Oleh sebab itulah, setiap makhluk hendaknya menyadari  keterbatasan pengetahuan yang dimiliknya. Seringkali kita terlalu tergesa-gesa mengambil sebuah kesimpulan dan menilai sesuatu menurut kaca mata sendiri (sekehendak hati). Padahal, apabila saat ini ada kemalangan yang menimpa, kegagalan yang melanda, hal tersebut bukannya Allah ‘meninggalkan, menjauh dari diri kita. Tetapi justru Allah menyiapkan sebuah skenario yang terbaik untuk diri kita dan bahkan tidak pernah terlintas dibenak kita.

Artinya: ‘’Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.’’ (QS. Al-Baqarah: 216).

Semoga kita semua mampu menyadari hikmah yang terbaik disetiap peristiwa dan permasalahan yang kita alami; baik yang menyengkan maupun yang menyedihkan. Semuanya adalah ketentuan dari Allah , tidak ada kata yang paling mulia sebuah perkataan selain memuji dan bersyukur kepada Allah, yang masih membiarkan kita menghirup udara-Nya sehingga kita masih sempat hidup, dan ujian yang Allah berikan kepada kita adalah bentuk bentuk konsekuwensi dari keimanan kita. Sebagaimana sabda Rasulullah  yang menyatakan;

Sangat mengagumkan segala urusan orang mukmin. (Yaitu) jika ia mendapat kebaikan, ia bersyukur; dan itu baik baginya. Dan jika ia mendapatkan musibah, ia bersabar; dan hal itu juga baik bagi dirinya.’’ (HR. Muslim).

Demikianlah seharusnya sikap orang-orang beriman ketika menghadapi berbagai realitas kehidupan. Mereka beriman teguh kepada Allah , mengikuti petunjuk Nabi-Nya, berjuang dan bekerja keras, tidak lemah lesu, memiliki jiwa optimis bukan pesimis, selalu berdoa dan meminta ampunan atas dosa-dosa, memohon pertolongan dan keteguhan hati. Dengan semua itu tentunya akan mengubah hidup kita dengan baik, meraih sebuah kesuksesan gemilang di dunia, dan sukses abadi di akhirat kelak.

Akhir kata dengan ucapan ‘’Alahmdu lillahi rabbil ‘alamin,’’ semoga buku ini bermamfaat bagi kita semua, dan menjadi penyebab masuknya kami kedalam syurga-Nya Allah , dikarenakan sebagai bentuk ilmu yang bermamfaat, yang pahalanya tetap mengalir sampai pada saat kami hidup di alam akhirat nanti. Dan semoga Allah  senantiasa membuka pintu-pintu kemudahan, pertolongan dan ampunan-Nya. Allahumma Amin. Wa shallallah ‘alan Nabi Muhammad wa’ala alihi wa ashabih ajmain.

Wallahu a’alam bisshawaab, innahu Jamadun Karim wa Mujibus sa’ilin.

Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu,

dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu.’’

(QS. Muhammad: 31).