Buku Muh Akbar 4

  1. Bersyukur dengan Nikmat yang Telah Ada

Nä39s?#uäur `ÏiB Èe@à2 $tB çnqßJçGø9r’y™ 4 bÎ)ur (#r‘‰ãès? |MyJ÷èÏR «!$# Ÿw !$ydqÝÁøtéB 3 žcÎ) z`»|¡SM}$# ×Pqè=sàs9 ֑$¤ÿŸ2

Artinya: “Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah). (QS. Ibrahim: 34).

Ayat ini menjelaskan bahwa begitu besarnya nikmat yang Allah  berikan kepada kita, sebagamana ketika kita ingin mengitungnya maka ketahuilah kita tidak akan mampu menghitungnya. Allah  memberikan kegagalan kepada kita adalah sebuah nikmat dan rahmat dari-Nya, dan sepatutnya kita mensyukuri apa yang telah ditentukan kepada kita. Begitu besarnya nikmat yang Allah  berikan kepada kita. Kita bisa melihat bagaimana kekuasaan dan nikmat yang Allah  berikan pada setiap makhluk yang ada didunia ini, lingkungan yang mengandung unsur penting dalam hidup kita.

Kajian tetang bagaimana nikmat yang Allah  sediakan untuk manusia didunia ini yakni udara yang kita hirup sehari-harinya tanpa kita membayarnya. Di dalam udara atau hawa, padanya dijumpai berbagai unsur gas, gas oksigen, nitrogen, hidrogeen, helium, zat lemas, argon, kripton dan gas-gas mulia lainnya yang kecil jumlahnya. Jadi sesungguhnya sama sekali tidak ada pabrik gas, karena manusia tak mampu membuatnya dan mampu menandingi nikmat yang Allah berikan. Yang ada hanyalah pabrik memisah-misahkan gas dengan perbedaan titik didih masing-masing gas.

Dari hasil penyelidikan cerdik pandai bahwa pada udara tersebut ditemui dalam prosentasi unsur-unsur gas yang seimbang sebagaimana yang diperlukan oleh umat manusia dan makhluk-makhluk lainnya. Salah satu unsur gas yang sangat berpotensi bagi hidup dan kesehatan manusia adalah gas oxygen. Kebutuhan seorang manusia dalam memenuhi kesehatan memerlukan gas oxygen setiap harinya antara 18-20 %.

Allah telah mengatur sedemikian rupa dengan pasti bahwa di dalam udara yang kita hirup saat ini persis dalam prosentasi antara 18-20 %. Andai kata lebih tinggi dari prosentase tersebut, maka suhu udara gerah, panas dan akibatnya mudah terpicu timbulnya kebakaran dimana -mana, dan sebaliknya bila jauh di bawah prosentase tersebut maka yang akan terjadi adalah penduduk susah bernafas, tersengal-sengal karena pernafasan kita terganggu oleh zat lemas yang memenuhi lingkungan hidup kita dan besar kemungkinan keluhan akan berkepanjangan atas masalah yang kita hadapi.

Untuk lebih meyakinkan diri kita, apa yang dikemukakan tadi, patutlah diketahui atau kalau ada yang telah mendalami anggaplah kita mengulang kajian lama, bahwa seorang manusia sehat dewasa dalam keadaan normal, dalam satu menit kurang lebih 20 (Dua Puluh) kali bernapas. Satu kali bernafas udara kurang lebih 2 liter udara ke dalam rongga-rongga pernapasan, ini berarti semenit akan menghirup kurang lebih 40 liter udara. Kalau sehari semalam (24 jam) kita akan mengkonsumsi 57.600 liter udara, atau dengan kata lain kita telah menggunakan gas oxygen murni (100%) sebanyak 20% dari 57.600 liter udara adalah 11.520 liter oxygen murni seharinya. Inilah nikmat yang Allah  berikan kepada kita secara gratis Allah  tidak meminta untuk dibayar. Maka pantaskah kita menyombongkan diri untuk tidak bersyukur, tentu tidak. Namun berapa besarkah nilai ekonominya ketika nikmat yang Allah  berikan kepada kita?

Saat ini umum dipasarkan satu tabung oxygen harganya Rp. 40.000 yang isinya 6000 liter yang kadar oxygen antara 97-99% berarti nilai tiap liternya adalah 40.000: 6000 adalah kurang lebih Rp. 6.600 per liter. Ini berarti seseorang manusia sehat cuma-cuma alias gratis telah menghabiskan gas oxygen setiap harinya dengan nilai 11.520 kali Rp. 6.600 sama dengan Rp. 760.000,- kalau sebulan nilainya menjadi Rp. 22.800.000,-. Nah kalau kita ingin lebih mendalaminya lagi seberapa besar nikmat oxygen yang telah kita hirup selama hidup atau pada usia kita saat ini misalnya 25 tahun, 50 tahun atau 60 tahun rata-rata kita semua yang masih hidup, berarti biaya yang tertuang kepada Allah dalam nilai rupiah saat ini di atas 1 milyar, rasanya memang mustahil. Namun ketahuilah kita tidak akan mampu membayarnya? Tapi kalau tidak percaya boleh hitung sendiri, begitu besarnya nikmat Allah  kepada hambaNya dan masih sebagian kecil nikmat yang baru kita perhatikan.

Dan sepatutnya kita memperbanyak mensyukuri nikmat yang Allah  telah berikan tersebut kepada kita, dan berharap agar nikmat yang Allah berikan kepada kita terus ditambah dan ditambah. Sebagaimana firman-Nya:

øŒÎ)ur šc©Œr’s? öNä3š/u‘ ûÈõs9 óOè?öx6x© öNä3¯Ry‰ƒÎ—V{ ( ûÈõs9ur ÷LänöxÿŸ2 ¨bÎ) ’Î1#x‹tã ӉƒÏ‰t±s9 ÇÐÈ

Artinya: “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS. Ibrahim: 7).

Begitu pula dalam kehidupan kita yang dimana kebanyakan dalam buku ini berbicara tentang kegagalan dan kesuksesan, sesungguhnya setiap sendi kehidupan kita, baik atau buruknya itu merupakan nikmat dari Allah , dan bisa jadi kegagalan yang kita alami akan berubah menjadi sebuah keberhasilah takkalah kita pandai mensyukuri hal tersebut, dan bersabar dengan apa yang Allah   telah tentukan untuk kita. Semakin besar rasa syukur kita kepada Allah  maka akan menambah kedekatan kita kepada Allah , dan barangsiapa yang dekat dengan Allah, maka yakinilah segala kegagalan yang dialaminya Allah itu akan merubah kegagalan itu adalah takdir kita. Namun, Allah  akan mengantinya menjadi yang lebih baik.

***Marahnya orang yang mulia bisa terlihat dari sikapnya, dan marahnya

orang yang bodoh terlihat dari ucapan lisannya***

(Imam Syafi’i)

  1. Mengenali Potensi Diri

Kalau saat ini kita dalam kondisi bingung untuk melangkah, mungkin penyebabnya adalah kita tidak tahu apa sebenarnya kemauan kita. Seringkali kita terlalu banyak keinginan dan hampir semua keinginan kita tersebut tidak tercapai. Entah apa yang terjadi padahal kita telah berusaha.

Mengapa kita terlalu sering gagal? Hal yang sering dijadikan penyebab adalah tidak sesuainya keinginan dengan potensi yang kita miliki. Kita ingin menjadi dokter, tapi gagal masuk ke Fakultas Kedokteran. Kita ingin kaya, namun tetap saja miskin. Kita ingin pintar, namun tetap saja bodoh. Kita ingin bekerja disebuah perusahaan, namun terus ditolak. Dan macam-macam yang lainya, adapah sebenrnya yang terjadi.

Jikalau kita mengalami hal demikian, apa kita tidak pusing dan putus asa? Sebelum berputus asa, coba kita cari dari titik temu antara keinginan dan potensi yang kita miliki, apakah cukup selaras atau tidak? Jangan-jangan kita termasuk NBTK (Nafsu Besar Tenaga Kurang) atau panjang angan-angan tanpa aksi. Wah, kalau begini bisa payah seumur hidup.

Setiap manusia memiliki kelebihan dan kelemahan tersendiri, walaupun mereka saudara kembar, akan tetap memiliki perbedaan potensi antara keduanya. Dengan adanya potensi yang dimiliki seperti bakat, keterampilan, kecenderungan sehingga dengan semua itu, ia menjadi manusia yang syukur nikmat dan berdaya guna. Penggalian minat, bakat, keterampilan dan kecenderungan perlu diasah sedini mungkin, yakinlah bahwa Allah  telah menciptakan kita di dunia dengan spesialis dan bawaan yang hanya dimiliki oleh kita saja. Allah  tidak membuat kopiannya lagi. Masing-masing kita adalah ciptaan yang berkategori “Master Piece”, tidak ada yang sama, jika kita tidak mengenali dan mengasah potensi diri kita, sama saja kita tidak bersyukur atas karunia-Nya.

ö@è% @@à2 ã@yJ÷ètƒ 4’n?tã ¾ÏmÏFn=Ï.$x© öNä3š/tsù ãNn=÷ær& ô`yJÎ/ uqèd 3“y‰÷dr& Wx‹Î6y™ ÇÑÍÈ

Artinya: Katakanlah (Muhammad): “Tiap-tiap orang berbuat sesuai dengan pembawaannya masing-masing”. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalan-Nya. (QS. Al-Israa’: 84).

Hamka menjelaskan, bahwa kata syaakilah yang terdapat pada ayat di atas diartikan ‘bawaan’ atau ‘bakat’. Beliau menjelaskan lebih lanjut, bahwa tiap-tiap manusia itu ada pembawaannya masing-masing yang telah ditentukan oleh Allah  sejak masih dalam rahim ibu. Pembawaan atau bakat, Allah  ciptakan bermacam-macam, sehingga yang satu tidak serupa dengan yang lain. Maka menurut ayat tersebut, manusia diperintahkan bekerja selama hidup di dunia ini, menurut bawaannya masing-masing.

Fenomena yang sekarang ini terjadi tidak setiap orang dapat melakukan sesuatu yang sangat baik, atau menjadi seseorang yang menjadi sangat mampu pada bidang tertentu. Sebab pada dasarnya setiap orang memiliki kemampuan yang istimewa pada diri sendiri untuk bisa mengasah dan mengembangkannya. Selain itu juga, tidak setiap orang bisa melakukan segalanya, karena masing-masing orang memiliki kemampuan khusus pada bidang tertentu, tetapi lemah pada bidang lain. Disinilah letak manusia untuk saling mengisi satu dengan yang lain.

Oleh karena itulah jangan menyia-nyiakan setiap pemberian Allah  berupa fisik dan kemampuan lainnya sekecil apapun. Mungkin saja dari sekian kemampuan kita, salah satunya menghantarkan kita pada kesuksesan dalam hidup ini. Begitu pula dengan kekurangan dan kelemahan yang Allah  berikan kepada kita, maka kita harus mensyukurinya dan menerima dengan lapang dada apa yang ada pada diri kita. Saya Cuma ingin mengatakan “Banggalah terhadap diri anda karena sesunggunya siapa lagi yang akan membanggakan diri anda jikalau bukan anda sendiri, sedangkan orang lain juga sibuk dengan dirinya sendiri”.

***Janganlah engkau mengucapkan perkataan yang engkau sendiri tak suka mendengarnya jika orang lain mengucapkannya kepadamu***
(Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu)

  1. Merubah Pola Fikir Negatif ke Positif

Kita tentunya sering mendengar ungkapan berpikir positif dan berfikir negatif. Konsep yang dipopulerkan oleh Dr. Norman Vincent Peale ini melambung seiring dengan meningkatnya animo masyarakat kunci hidup bahagia dan sukses. Bukunya The Power Positive Thinking yang diterbitkan tahun 1996 menjadi bestseller. Buku ini telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Satu pertanyaan yang mencuat adalah mengapa buku motivasi Dr. Peale menjadi bestseller? Jika kita membaca bukunya, isinya adalah tips. Tips bagaimana berfikir positif, bagaimana menghipnotis diri sendiri, dan menghilangkan sisi-sisi negatif diri. Sama sekali berbeda dengan buku-buku bestseller lainnya seperti Ayat-Ayat Cinta, kisah petualangan Harry Potter dll.

Buku ini menjanjikan kebahagian kepada pembacanya. Bukan itu saja, tampaknya masyarakat sekarang banyak yang hidup dalam ketidakbahagiaan. “Anda tidak perlu menjadi sufi, tidak perlu serbuk ajaib untuk mencapai kesuksesan, dengan berfikir positif Anda dapat melakukan apapun yang Anda ingingkan.” Melakukan apapun yang kita ingingkan. Bukankah ini sebuah perkaa yang menarik. Coba bayangkan kita bisa menjadi salah satu pejabat dipemerintahan, menjadi pengusaha yang sukses, memiliki aset kekayaan yang berlimpah. Tidak perlu kedukun, tidak perlu bermalam dikuburan, cukup dengan berfikir positif sesuai dengan tuntunan dari Allah  dan Rasul-Nya, kita akan mampu melakukan segalanya.

Lalu muncul satu pertanyaan lagi: benarkah berfikir semanjur itu? benarkah Allah dan Rasul-Nya menganjurkan berfikir positif?. Sebelum Anda bersemangat membaca bab ini , saya ingin memperjelas satu hal. Jika Anda membaca bab ini karena ingin memperoleh tips menjadi pejabat atau menjadi pengusaha sukses, munkin Anda akan kecewa. Why? Karena dalam bab ini tidak dijelaskan bagaimana caranya terlibat dalam dunia politik, apatah lagi melipatgandakan keuntungan dengan modal yang minim.

Tapi, jangan berkecil hati dulu karena setelah kita membaca bab ini kita akan mengetahui lebih jauh tentang konsep berfikir positif dan cara menaklukkan pikiran-pikiran negatif. Sebelum kita membahas lebih jauh maka penting saya perjelas dalam bab ini menjelaskan tentang berfikir positif dan berfikir negatif, dan bagaimana pengaruh antara keduanya tersebut dalam kesuksesan kita.

Pengertian berfikir positif adalah proses bepikir yang ber-kecenderungan menerima apa-apa (informasi) yang telah dianggap baik, buruk, betul atau salah oleh kebanyakan orang atau masyarakat. Cara berpikir ini tidak melakukan  analisa yang lebih mendalam dan menerima tanpa syarat. Pada umumnya orang yang berpikir positif ditandai oleh suka menerima berbagai pendapat walaupun berbeda-beda. Biasanya mereka suka bersikap (menghargai pendapat orang) walaupun belum jelas betul atau salah, baik atau buruknya suatu pikiran atau informasi.

Bahkan orang yang seperti ini tidak suka mempersoalkan jika informasi itu mengandung permasalahan. Gejala ini dapat dilihat pada karya tulis, misalnya mereka membuat (mengutip) banyak pengertian yang dikemukakan oleh para ahli tetapi tidak dianalisa satu persatu. Terus mereka membuat sebuah rumusan lagi seolah-olah merupakan kesimpulan yang positif (sebagai pembenaran).

Sedangkan pengertian bepikir negative adalah cara berpikir yang ber-kecenderungan meragukan sesuatu yang telah dianggap baik atau betul oleh kebanyakan orang dan masyarakat. Dengan kata lain orang berpikir negatif sering bersikap skeptis. Orang yang berpikir negative sangat kritis terhadap informasi (kepercayaan) yang ada pada kebanyakan orang atau masyarakatnya. Informasi yang diterima dianalisa secermat mungkin, hingga ditemukan hal-hal yang meragukan atau terdapat kebathilan di dalamnya. Jika mereka berhadapan dengan pikiran orang lain, dia akan selalu mempertanyakan keabsahan dan kebenarannya. Orang yang berpikir negatif akan berpikir sampai jelas hakikat atau esensinya.

Setiap pernyataan selalu dikontrol atau dihubungkan dengan informasi lain kemudian barulah ia mengambil keputusan menolak atau mengakuinya.  Bahkan sering berujung kepada penolakan terhadap keyakinan seseorang atau masyarakat tersebut. Jika ada suatu ketentuan atau keputusan selalu di diterima dengan berbagai syarat atau kesangsian. Gejala ini sering ditemui pada orang-orang yang membantah teori yang telah ada dan memunculkan teori baru sebagai penggatinya.

Nah, apakah didalam Islam juga dibahas tentang berfikir positif dan negative. Di dalam Al-Qur’an dijelaskan   sikap seorang Muslim yang beriman harus berpikir  positif dan negative secara proporsional. Nah kisah Nabi Ibrahim alaihi salam mencari Tuhannya adalah merupakan contoh yang baik untuk itu.

Memang dalam Al-Qur’an banyak dibahas masalah akidah, tentang keimanan dan  panjang lebar diuraikan contoh proses keimanan yang dilakukan Nabi Ibrahim alaihi salam. Oleh sebab itu Nabi Ibrahim alaihi salam dikenal sebagai Nabi aqidah, karena dalam  perjalanan spiritualnya Nabi Ibrahim alaihi salam mengalami proses yang sangat dinamis dan juga sangat mendasar. Dia berpikir dimulai dari sikap keragu-raguan.

Seperti dijelaskan dalam surat Al Anbiyaa ayat  50-70. Dalam ayat itu dikisahkan proses Nabi Ibrahim alaihi salam membangun kesadaran masyarakatnya bahwa patung  (berhala) bukan Tuhan yang sesungguhnya, karena patung itu tidak bisa memberikan pertolongan, bahkan Nabi Ibrahim alaihi salam menunjukkan eksperimennya, Dia hancurkan patung-patung itu  untuk membuktikan bahwa patung itu memang bukan Tuhan, dan tidak ada mamfaatnya untuk kita sembah.

Kemudian dalam surat Al An’am ayat 74-79. Di ayat itu diterangkan bagaimana Nabi Ibrahim alaihi salam mencari Tuhan dengan pendekatan yang jujur dan rasional, sehingga datang gelap malam tak ada satu pun manusia yang berkutik, tidak ada yang  memiliki kekuasaan lagi, semua kehidupan terhenti ketika datang gelap malam.  Kesimpulannya manusia dan alam semesta ini ditaklukkan oleh gelap malam dan pada saat gelap itu Nabi Ibrahim alaihi salam melihat sebuah bintang dan dia berkata inilah Tuhanku, tetapi bintang yang dipertuhankan itu lama kelamaan sirna. Dan Nabi Ibrahim alaihi salam melihat alternatif lain, ada bulan, inilah Tuhanku tapi bulan juga sirna.

Apa yang terjadi pada Nabi Ibrahim alaihi salam? Ternyata Dia gagal mencari Tuhannya. Dia gagal mencapai Tuhannya, Dia tidak bisa meraih Tuhannya dengan indranya  dengan  matanya, telinganya, tangannya  bahkan dengan fikirannyapun Dia mencoba membayangkan macam apa wujud Tuhan, namun tetap Nabi Ibrahim alaihi salam gagal.

Rupanya memang Allah  itu Al Ghaib, suatu yang misterius dan Nabi Ibrahim alaihi salam memang  gagal mencapai Tuhannya dengan kemampuan yang ada pada dirinya. Tetapi untuk mengatakan bahwa Tuhan itu tak ada, justru pengalaman Nabi Ibrahim alaihi salam selama ini mengarahkan pada kesimpulan, mesti ada sesuatu yang mengendalikan alam ini, Tuhan itu mesti ada. Tapi yang mana?  Akhirnya Nabi Ibrahim alaihi salam  bersikap  sebagaimana terungkap dalam Al-Qur’an:

’ÎoTÎ) àMôg§_ur }‘Îgô_ur “Ï%©#Ï9 tsÜsù ÅVºuq»yJ¡¡9$# šßö‘F{$#ur $Zÿ‹ÏZym ( !$tBur O$tRr& šÆÏB šúüÏ.Ύô³ßJø9$#

Artinya: “Aku hadapkan wajahku kepada (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepasrahan (mengikuti) agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musrik.  (QS. Al-Ann’am: 79).

Tapi dari situ Nabi Ibrahim alaihi salam hanya bisa mengetahui bahwa Dia, Tuhan itu tetap Gaib. Oleh sebab itu siapa Dia, sebagai zat dalam Al-Qur’an juga tidak dikenal. Istilah-istilah keTuhanan dalam Al-Qur’an, hanya nama- nama yang menjelaskan sifat-Nya saja, zatnya tidak diperkenalkan (Asmaul Husna 99).

Sebuah pena akan menjadi pena ditangan saya, jika bentuknya begitu dan fungsinya begitu, tapi pena sudah tergiling mesin giling, hancur, dia sudah tidak disebut pena, sudah berubah bentuk, warna dan zat. Sedangkan zat Allah  Maha Tidak terbatas. Zat Allah  tidak ada yang pernah mengenali, sesuatu yang tidak terhenti, terbatasi. Mana bisa dinamai, jika dinamakan berarti membatasi. Kita hanya mampu mengenali sifat-sifat-Nya saja, kedudukan-Nya saja dan status-Nya sebagai Ilah dan Robb semesta alam.

Kisah Nabi Ibrahim alaihi salam ini mengajarkan kita begitu pentingnya berfikir positif terhadap segala sesuatu yang kita temukan dalam kehidupan keseharian kita. Andaikan Nabi Ibrahim alaihi salam berfikir negatif dan memaksakan fikiran negatif-Nya untuk melihat sang Pencipta dengan panca indra maka Nabi Ibrahim tidak akan mampu melakukannya. Dan sepantasnya dalam keseharian kita senantiasa dihiasi dengan pikiran-pikiran positif, lantas bagaimana konsep dalam berfikir positif itu?

  • Biarkan pikiran kita dipenuhi dengan kebahagiaan, kekuatan dan keberhasilan. Apa pun situasi yang kita hadapi, carilah dan isilah pikiran kita dengan sisi positif dari situasi tersebut. Dalam segala sesuatu yang dihadapi, hal positif dan negatif selalu ada. Seburuk apa pun situasi yang kita alami, pasti ada sisi positif yang terkandung dalam situasi itu. Mungkin sulit untuk melihat sisi positif dari apa yang kita alami. Tapi cobalah lihat lebih dalam sisi positif itu pasti ada.
  • Cobalah untuk menghilangkan pikiran negatif dan mengabaikan pikiran yang negatif dengan pikiran-pikiran yang membangun, pada bab ini saya mengajak kepada para pembaca, mulai detik ini segala pikiran negative yang ada dalam hati dan pikiran kita. Maka mulailah untuk membuang sejauh-jauhnya dan mulailah menumbuhkan motivasi dalam diri kita untuk berfikir positif.
  • Sebelum melakukan sesuatu, jangan bayangkan sebuah kegagalan, tapi bayangkanlah sebuah keberhasilan yang akan kita dapatkan setelah melakukan hal tersebut. Yakinlah dan percaya diri pada diri kita dalam melakukan sesuatu bahwa keberhasilan itu telah kita dapatkan sebelum kita kerjakan, sehingga tidak ada lagi pikiran negative dan takut gagal dalam pikiran kita.
  • Memperbanyak membaca buku-buku inspirasi dan motivasi yang dapat menumbuhkan pikiran positif kita, dan salah satu kelemahan kita sebagai orang Indonesia adalah budaya baca yang kurang sehingga wajar jikalau umur kita berlalu begitu saja tanpa menghasilkan karya-karya yang bisa bermamfaat bagi orang lain.
  • Komitmen terhadap diri kita untuk tidak lagi berfikir negatif dan berusaha semaksimal mungkin untuk selalu berfikir positif, tanpa komitmen yang kuat dalam diri kita maka akan terasa sulit kita menjadi orang-orang yang sukses, apalagi mengubah kegagalan kita dengan kesuksesan tanpa komitmen yang kuat.

Pola pikir memiliki perang yang sangat penting dalam merubah kegagalan menjadi keberhasilan, sebab melalui pola pikir itu kita dapat merencanakan apa yang kita akan kerjakan kedepannya. Pemikiran adalah perkara kedua dalam diri kita maka tentu tahap kedua ini setidaknya patuh kepada tahap pertama, dan tahap pertama itu adalah hati, orang yang ingin sukses adalah orang yang selalu mendengarkan kata hatinya. Karena penggerak dalan hal-hal positif dalam tubuh kita adalah hati, adapun pemikiran adalah tempat dimana kita selalu mencari solusi namun yang menentukan solusi adalah hati.

Gagal dan sukses jelas adannya, takkala kita mengalami kegagalan maka pola pikir sangat mempengaruhi apakah kita mampu bangkit dan menghadapi kegagalan itu dengan pikiran positif ataukah kita semakin terpuruk dalam kegagalan yang kita rasakan ditambah dengan pola pikir negatif. Pola pikir kita ke hal-hal yang negatif atau bahkan positif adalah sebuah pilihan dan pilihan itu ada dalam diri kita. “Jikalau Anda ingin berubah maka berubalah karena sesungguhnya perubahan itu mampu mengantarkan kita kepada kehidupan yang lebih baik.

Selanjutnya, coba kita renungkan pada diri kita sendiri betapa sering kita berfikir, entah itu pikiran positif atau negatif. Namun pernakah kita melihat bagaimana pengaruhnya terhadap diri kita. Secara psikologis, kalau kita berfikir positif, maka kita mempunyai energi untuk bergerak menuju apa yang telah kita ingingkan. Namun kalau pikiran yang berkelebat adalah negatif, yang berwujud adalah kegagalan, kegelisahan dan hal-hal yang buruk. Maka itu akan membuat kita merasa sedih dan pesimis untuk melangkah. Sangat berbeda dengan orang-orang yang selalu berfikir positif, mereka akan lebih percaya diri dan optimis dalam menghadapi setiap masalanya.

Kalau saat ini kita sulit untuk berfikir positif. Maka alangkah baiknya kita bergaul kepada orang-orang yang selalu berfikir positif. Dengan siapa kita berinteraksi biasanya akan ‘menulari’ kebiasaannya kepada kita. Maka berungtunglah diantara kita yang tinggal ditengah orang-orang yang beriman, rajin sholatnya dan jauh dari tempat-tempat kemaksiatan, yang dapat membuat pikiran kita stress dengan lantungan musik dll. Selanjutnya, kita bisa menjaganya dengan membaca buku-buku motivasi, menghadiri mejelis-mejelis ilmu, mendengarkan ceramah yang bermuatan positif dan penuh semangat. Dengan cara ini, kebiasaan positif kita akan menggeser kebiasaan yang negatif, merubah kegagalan menjadi keberhasilan. Semoga sukses!

***Janganlah kamu melihat akan kejahilan seseorang itu kerana

sesungguhnya kejahilan itu ada pada dirimu sendiri***

(Imam syafi’i rahimahullah)

  1. Peningkatan Kualitas Diri

Sungguh merugi orang yang kualitas dirinya tetap sama antara hari kemarin dengan hari ini. Dengan bermodalkan ‘motto’ tersebut, kita harus memacu diri untuk selalu menambah kualitas diri, baik dalam keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah  ilmu maupun keterampilan. Kenapa demikian? Ternyata dengan bekal tersebut, kita bisa meraih banyak kesempatan dan memenangkannya.

Kesempatan bisa diciptakan, karena hidup didunia sebenarnya merupakan seleksi alam; siapa yang ‘kuat’ atau yang ‘berkualitas’ yang akan tetap bertahan. Kalau ingin unggul dan menguasai dunia, kita harus berjuang dalam berbagai hal. Karena dengan perjuangan itu kita akan akan mendapatkan derajat tinggi. Orang yang selalu unggul dalam perjuangan biasanya selalu memamfaatkan waktu yang ada seefektif munkin. Allah  telah berjanji akan meninggikan derajat orang yang beriman sebagaimana dalam firman-Nya didalam Al-Qur’an:

$pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#þqãZtB#uä #sŒÎ) Ÿ@ŠÏ% öNä3s9 (#qßs¡¡xÿs? †Îû ħÎ=»yfyJø9$# (#qßs|¡øù$$sù Ëx|¡øÿtƒ ª!$# öNä3s9 ( #sŒÎ)ur Ÿ@ŠÏ% (#râ“à±S$# (#râ“à±S$$sù Æìsùötƒ ª!$# tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä öNä3ZÏB tûïÏ%©!$#ur (#qè?ré& zOù=Ïèø9$# ;M»y_u‘yŠ 4 ª!$#ur $yJÎ/ tbqè=yJ÷ès? ׎Î7yz

Artinya: Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Mujadilah: 11).

Janji Allah  selalu tepat kepada hambannya. Orang-orang yang giat menuntut ilmu, mengembangkan keterampilan yang dimilikinya. Mereka akan diangkat derajatnya oleh Allah  didunia apatah lagi nanti diakhirat, karena sesungguhnya orang-orang yang berilmu itu berbeda dengan orang-orang yang tidak berilmu, sangat berbeda orang yang memiliki keterampilan dalam melakukan sesuatu dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki keterampilan sedikitpun.

Coba kita lihat, beberapa orang yang suskes, dengan backround kesuksesan yang berlainan, selalu mempunyai ciri yang sama: orangnya mempunyai kemampuan dan kemauan yang lebih serta tekun dan berusaha semaksimal mungkin menempa bakat dan minatnya. Kita semua wajib menuntut ilmu dan keterampilan. Karena dengan banyaknya ilmu yang kita miliki akan memberikan bekal bagi diri kita dalam menghadapi setiap permasalahan yang akan mendatangi kita nantinya.

Dengan bekal berbagai ilmu dan keterampilan, kita lebih siap menghadapi sesuatu yang paling buruk yang terjadi dalam hidupnya, misalnya orangtua/ suaminya meninggal tidak menjadikannya putus asa, adanya bencana alam yang menghancurkan harta bendanya, mereka tidak menyerah dengan apa menimpanya. Karena mereka memiliki ilmu bahwa setiap ujian yang Allah berikan kepada hambanya adalah bentuk kasih sayang Allah  terhadapnya.

(Ali bin Abi Thalib   pernah berkata)

“Wahai fulan, jika engkau bersabar

maka ketetapan itu tetap berlaku

kepadamu dan engkaupun mendapat

pahala. Tetapi, jika kamu

tidak bersabar, maka ketetapan itupun

tetap berlaku dan engkau

mendapatkan dosa”

Pengasahan kemampuan dan keterampilan bukan hanya di bangku sekolah dan bangku kuliah. Ilmu dan keterampilan bisa didapatkan dimana-mana dan dikembangkan dengan mudah, sejalan dengan perkembangan teknologi yang semakin maju maka akan lebih mempermudah kita mengasah potensi yang kita miliki, memperbanyak menuntut ilmu dan mengembangkan keterampilan yang kita miliki, misalnya mendengarkan CD ceramah, memperbanyak membaca buku, menghadiri seminar, majelis ta’lim dan lain-lain. Ingat, menuntut ilmu adalah hukumnya wajib bagi setiap muslim.

Semangat untuk terus belajar dan mengembangkan potensi diri kita harus selalu dipupuk. Jangan beranggapan kalau terlalu banyak belajar, apalagi berbagai cabang ilmu dan keterampilan, otak akan kelelahan dan cepat ‘usang‘ sehingga menderita kepikunan. Banyak orang yang mengatakan ‘saya tidak bisa belajar lama, menjadi orang pintar, karena umur saya sudah tua, karena otak saya tidak lagi mampu berfikir’. Maka dalam bab ini saya mencoba meluruskan pemahaman yang sering muncul dalam benak kita atau dibenak orang-orang yang ada diekitar kita, yang mengatakan ‘otak tidak lagi mampu menampung segalanya’.

Setiap manusia lahir didunia ini baik cacat maupun sehat pasti memiliki jaringan otak yang dapat menyimpan ribuan file-file penting semasa hidupnya. Jika ditela’ah secara jauh sebenarnya bagaimanakah otak kita bekerja? Sampai dimanakah batas kemampuan kita dan bisakah otak kita berkembang dan meningkat seperti ilmuwan-ilmuwan muslim dahulu kala yang brilian atau seperti kisah orang-orang sukses yang memiliki kecerdasan.

Kemudian beberapa pengalaman sulit dilupakan walaupun sekilas dan sesaat, sebaliknya kita justru kerap melupakan hal-hal penting seperti pelajaran disekolah dan tingkat emosional dalam mencari jalan utama. Bagaimana itu bisa terjadi? Yang pasti semuanya menggunakan teknik pengaplikasian otak, ilmuwanpun menemukan adanya mekanisme yang bertanggungjawab pada penciptaan dan penyimpanan memori. Mereka menemukan hippocampus dan materi abu-abu otak yang berperan sebagai kotak memori. Tapi mengapa ada memori yang mudah diingat dan dilupakan.

Ingatlah kita memiliki potensi otak yang hebat dan ajaib maka untuk apa merintih oleh ujian yang kian tiba, karena otak anda mempunyai potensi yang lebih diantaranya: :

  • memiliki 1 trilyun sel otak
  • memiliki 100 Milyar sel saraf aktif
  • memiliki 900 Milyar sel lain yang merekatkan, memelihara dan menyelubungi sel-sel aktif
  • Setiap satu dari 100 Milyar Neuron dapat tumbuh bercabang hingga sebanyak 20000
  • Berat 1,5 Kg atau 2% dari berat tubuh manusia

Rata-rata manusia menggunakan 4% dari kemampuan otaknya, sedangkan Einstein 8% apalagi ilmuwan-ilmuwan Islam seperti Ibnu Sina, al-Ghazali, al-Razi, Khawarizmi dan lain sebagainya.

Riset menunjukkan bahwa kreativitas dan ingatan ternyata tanpa batas. Cara kerja otak kita yang bekerja seperti sebuah super komputer yang rumit nan canggih, yang merekam informasi dari ‘dunia luar’ lalu diinterpretasikan oleh syaraf-syaraf pusat indera kita, tentang apa itu warna, rasa pengecapan, bau dan rasa keras, lembut, sakit, panas, kemudian diinformasikan kepada diri kita.

Data diatas setidaknya memberikan informasi kepada kita bahwa kemampuan daya tampung otak sebenarnya tidak terbatas. Kita saja yang belum mampu mengoptimalkan daya kerjanya. Daya tampung otak kita telah dijelaskan diatas mampu mengalahkan komputer yang paling canggih didunia ini. Maka kemampuan otak yang canggih ini, maka perlu membiasakan diri untuk belajar, membaca dan menuntut ilmu. Kalau kita menilik kehidupan para ulama dan ilmuan terdahulu, maka tak sedetikpun waktu mereka yang disia-siakan tanpa belajar dan menuntut ilmu.

Kita semua pasti mngenal tokoh Islam yang bernama Imam Asy-Syafi’i diusia 7 tahun telah selesai menghafal Al-Qur’an dan usia 10 tahun beliau hafal Al-Muwaththa’ karya Imam Malik, usia 15 tahun dengan izin gurunya yang bernama Muslim bin Khalid Az-Zanji untuk berfatwa. Beliau juga banyak menghafal syair-syair Hudzail. Setelah itu beliau pergi ke Madinah untuk belajar fiqih dari Imam Malik bin Anas hingga Imam Malik wafat tahun 179 H, setelah itu beliau belajar dai Sufyan bin ‘Uyainah.

Bahkan dengan kegigihan Beliau menuntut ilmu, Imam Syafi’i menggadaikan rumahnya seharga 16 dinar, Imam Syafi’i pergi ke Yaman. Karena ketidakmampuan-nya beliau bekerja di Yaman sambil belajar dari para ulama-ulama di sana di antaranya Ibnu Abi Yahya dan lainnya.

Tokoh Islam yang lain adalah Al-Ghazali khatam Al-Qur’an di usia 4 tahun. Di berbagai pondok pesantren yang santrinya umurnya sangat belia, mereka belajar menghapalkan Al-Qur’an pada usia yang sangat dini, sehingga mereka dapat menghapal Al-Qur’an pada usia 7-10 tahun. Para santri juga dibekali dengan berbagai bahasa asing, yaitu Arab, Inggris dan lainya.

Tanpa kita sadari, ternyata kemampuan otak manusia dalam menampung setiap informasi yang masuk tidak pernah full kita bisa membayangkan di usia 4 tahun Al-Qur’an yang terdiri dari ribuan huruf dan kata mampu dihapalkan oleh anak-anak yang beliau, jikalau seperti itu apatah lagi kemampuan otak orang dewasa. Namun, mengapa potensi otak belum begitu tergali? Hal ini ini mungkin dikarenakan banyak diantara kita yang terlalu santai (banyak bengong) sehingga otak kita tidak menerima informasi dalam setiap harinya.

Ingatlah, kejayaan akan kita dapatkan dalam peningkatan kualitas diri kita adalah salah satunya menghargai waktu dengan sebaik-baiknya dan memamfaatkan kemampuan otak yang Allah  berikan kepada kita. Sebagaimana firman Allah  didalam Al-Qur’an;

ΎóÇyèø9$#ur ÇÊÈ   ¨bÎ) z`»|¡SM}$# ’Å”s9 AŽô£äz ÇËÈ   žwÎ) tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qè=ÏJtãur ÏM»ysÎ=»¢Á9$# (#öq|¹#uqs?ur Èd,ysø9$$Î/ (#öq|¹#uqs?ur Ύö9¢Á9$$Î/ ÇÌÈ

Artinya: “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”. (Al-‘Ashr : 1-3).

            Sekali lagi, jangan terlalu puas dengan kondisi kita sekarang. Diluar sana, banyak orang yang kondisinya melebihi kita dalam berbagai hal, apa yang kita banggakan. Janganlah puas dengan cara kita ‘merangkkak’ dalam menuntut ilmu, mengejar kesuksesan. Karena disekitar kita mereka telah berlari dan telah jauh didepan kita. Hidup adalah sebuah perlombaan, dan untuk memenangkan perlombaan itu di dunia dan di akhirat adalah mereka yang tidak pernah putus asa untuk terus belajar, meningkatkan kualitas diri mereka baik, iman, ilmu dan keterampilan mereka.

“Sesungguhnya kebenaran dapat menjadi lemah karena perselisihan

dan perpecahan dan kebathilan sebaliknya dapat menjadi

kuat dengan persatuan dan kekompakan***

(Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu)

  1. Manajemen Waktu, Masalah dan Emosi

Manajemen berarti mengatur. Apa yang kita miliki seharusnya benar-benar diatur dengan sebaik-baiknya. Kita seringkali melalaikan apa yang kita punya tanpa mengaturnya menjadi sesuatu yang lebih bernilai. Setiap diantara kita mempunyai waktu yang sama, yaitu 24 jam setiap harinya. Namun mengapa sebagain orang berhasil dan sebagian orang gagal, banyak diantara kita yang terlena dengan aktu yang diberikan oleh Allah . Bagaimana tidak, kalau sekarang ditanya, “Apa mamfaatmu hari ini?” apa kita mampu menjawabnya?

Padahal kita merasa waktu demikian ‘berlari’ meninggalkan kita, tanpa pencapaian apapun. Kalau saya melihat anak-anak SD yang bermain dengan gembira, kejar-kejaran, saya kembali teringat dengan berbagai peristiswa yang kita alami dimasa SD. Begitu pula dengan masa SMP dan SMA, terasa masih kemarin masa itu meninggalkan kita, begitu lekatnya dalam ingatan kita. Berbagai peristiwa yang kita alami yang menyedihkan maupun yang membanggakan.

Waktu sangatlah penting, kita seharusnya belajar mengenai pengaturan waktu dari orang-orang yang merhasil. Bagaimana mereka memamfaatkan waktunya sebaik-baiknya. Saya menyakini tiada kesuksesan tanpa sebuah pengorbanan. Banyak kisah orang sukses, demikian ‘ketat’ mengatur waktunya. Tiada saat dilaluinya dengan menonton TV, atau malah bengong duduk didepan teras sambil melihat orang yang lalu lalang, memamfaatkan waktunya denga sebaik-baiknya. Seharusnya kita malu kalau dalam sehari atau sejam tidak ada pencapaian yang berarti.

Waktu merupakan harta yang paling berharga yang kita semua miliki, namun sangat mudah hilangnya. Kata orang bijak, waktu laksamana pedang, kalau kita tidak pandai mengaturnya, maka sang waktu akan ‘melukai’ kita. Melukai disini bukan berarti yang harfiah, namun kita akan kehilangan hal-hal yang berharga lainnya, yaitu kesempatan yang diraih sewaktu hidup, sewaktu sehat, sewaktu muda, sewaktu kaya dan lain sebagainya.

Rasulullah  bersabda, “Raihlah lima perkara sebelum datang lima perkara: pertama, hidupmu sebelum matimu. Kedua, sehatmu sebelum sakitmu. Ketiga, kesempatanmu sebelum sibukmu, Yang keempat,  masa mudamu sebelum masa tuamu. Dan yang kelima, kayamu sebelum miskinmu.” (HR. Ibnu Abbas).

Hadits ini menjelaskan pentingnya memamfaatkan waktu dan kesempatan dengan sebaik-baiknya, sehingga kita tidak menyesal dimedian hari. Waktu merupakan sumberdaya yang tidak bisa diperbarui, detik demi detik sangat cepat berlalu. Demikian juga hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun, tidak terasa berlalu begitu cepat. Selama setahun, sebulan sehari kemarin, apa yang dapat diperbuat untuk menambah mamfaat bagi diri sendiri, maupun orang lain?

Dr. Yusuf Al-Qaradhawi mengatakan, “Orang yang melewati satu hari dalam hidupnya tanpa ada sesuatu hak yang ia tunaikan atau sesuatu fardhu yang ia kerjakan atau kemulian yang ia wariskan atau pujian yang ia hasilkan yang ia tanamkan atau ilmu yang ia dapatkan, maka sungguh-sungguh ia telah durhaka kepada harinyadan menganiaya  diri.

Tiap detik yang telah berlalu tidak dapat diulang kembal. Padahal usia terus bertambah, dan ototmatis kontrak hidup didunia semakin hari akan terus berkurang. Kalau mengingat kematian yang semakin dekat menghampiri, maka setiap diantara kita setidaknya memiliki target perilaku dan sikap yang bermamfaat yang akan dilakukan tiap hari, sehingga hari demi hari akan menambah kebaikan dan mamfaat. Sebagaimana firman Allah  didalam Al-Qur’an;

#sŒÎ*sù |Møîtsù ó=|ÁR$$sù ÇÐÈ   4’n<Î)ur y7În/u‘ =xîö‘$$sù ÇÑÈ

Artinya: Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap”. (QS. Asy-Syarh: 7-8)

Selain waktu yang harus kita atur, emosi dan permasalahan jiga harus kita atur. Dalam sehari mungkin banyak masalah yang melanda. Coba kita hitung, mulai bangun sampai sekarang, begitu banyak masalah yang selalu menganggu, atau bahkan kita yang tidak pernah ditimpa masalah. Kayaknya ini mustahil, karena kehidupan kita telah kodratnya selalu diberikan masala atau ujian, misalnya. Keluarga yang sakit, hutang yang belum lunas, nilai yang eror, diputusin pacar, dan lain sebagainya. Terlalu banyak masalah dalam hidup kita, namun, itulah hiasan-hiasan kehidupan.

Sebuah kata bijak yang selalu menjadi motivasi bagi diri saya adalah “Tidak ada pelaut ulung yang lahir dari ombak yang tenang. Tidak lahir sebuah mental yang kuat seperti baja dalam hidupnya tanpa ditimpa sebuah masalah dan ujian. Namun, biasanya kalau kita mengalami permasalahan, perasaan akan tidak bahagia dan terasa ‘down’. Dalam kondisi ini kita akan tidak bertenaga. Namun, berhati-hatilah, jangan sampai berlama-lama menikmati perasaan sedi itu.

Sedih, kecewa atau marah itu boleh saja, namun harus ada porsinya. Atur emosi kita dengan baik, jangan terlalu melepaskan emosi tanpa kendali. Jikalau sampai hari ini emosi kita belum bisa diatur dengan baik, maka kita termasuk orang yang memperturutkan hawa nafsu. Kitapun akan lebih disukai masalah daripada kita menguasai permasalahan.

***Adapun amal salih adalah sifat yang umum pada setiap perbuatan yang memberi faidah kepada sesama hamba dan negara, dan memberi manfa’at

kepada masyarakat baik individu, sekarang dan masa datang***

(Syaikh KH Hasyim Asy’ari rahimahullah)

  1. Membersihkan Diri dari Barang Haram dan Perilaku Maksiat

Allah berfirman:

Èbr&ur (#rãÏÿøótFó™$# ö/ä3­/u‘ §NèO (#þqç/qè? Ïmø‹s9Î) Nä3÷èÏnGyJム$·è»tG¨B $·Z|¡ym #’n<Î) 9@y_r& ‘wK|¡•B ÏN÷sãƒur ¨@ä. “ÏŒ 9@ôÒsù ¼ã&s#ôÒsù ( bÎ)ur (#öq©9uqs? þ’ÎoTÎ*sù ß$%s{r& ö/ä3ø‹n=tæ z>#x‹tã 5Qöqtƒ AŽÎ6x. ÇÌÈ

Artinya: “Dan hendaklah kamu memohon ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. Niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik sampai waktu yang telah ditentukan. Dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. jika kamu berpaling, Maka Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat. (QS. Hud: 3)

Hal yang paling utama yang harus dilakukan adalah melakukan taubat, memohon ampun kepada Allah  jikalau selama ini bergelimang dosa kesalahan. Memang tidak mudah untuk lepas dari perbuatan dosa dan keluar dari kebiasaan-kebiasaan buruk yang sering kita lakukan. Namun, kebiasaan ini jikalau tidak kita hentikan dan meninggalkannya maka akan menutup pintu-pintu rezeki kita. Karena sesungguhnya perbuatan-perbuatan maksiat adalah salah satu penghambat rezeki yang seharusnya kita terima.

Lakukanlah segalanya sesuai dengan aturan agama, jikalau dahulu terlalu sering menyepelekan ‘jam kerja’ maka mulai sekarang benahilah sesuai dengan peraturan yang berlaku. Tindakan indisipliner ini selain merusak kinerja juga, ternyata hasil yang kita terima pun menjadi tidak halal. Contohnya seorang guru jikalau jam kerjanya selama 2×45 satu mata pelajaran, maka tanggungjawabnya adalah harus memamfaatkan waktu yang diberikan untuk mengajar siswa dengan baik. Akan tetapi fakta membuktikan rata-rata guru mereka hanya masuk memberikan tugas, lalu dia pergi kewarung bersantai-santai sambil minum kopi. Tidak disiplin dalam kerja apatah lagi korupsi waktu maka sama halnya kita memberikan nafkah kepada keluarga kita dengan penghasilan yang haram, karena hak kita peroleh lantas kewajiban tidak kita penuhi.

Makan dan minum dengan yang tidak halal bisa jadi salah faktor penghambat untuk kita tidak mencapai kesuksesan. Maka sepantasnya untuk kita kembali bertaubat, memohon ampun kepada Allah dan berjanji tidak akan mengulangi kesalahan dan perbuatan dosa yang telah kita kerjakan.

Rasulullah telah berpesan terhadap Sa’ad bin Abi Waqqash : “Carilah makan dari barang yang baik, niscaya doamu terkabulkan.” Hal ini juga diperkuat dengan komentar Rasulullah  terhadap seorang pria yang terus menerus menengadahkan tangan kelangit sambil berdoa, “Ya Tuhanku…Ya Tuhanku…” Melihat peristiwa tersebut Nabi berujar, “Bagaimana mungkin doanya dikabulkan oleh Allah jika makannya dari barang yang haram, pakaianya juga berasal dari barang yang haram?”

            Sesuatu yang kita makan dan yang kita pakai akan mempengaruhi terkabul atau tidaknya doa kita, maka hati-hatilah dalam mencari rezeki. Halal dan haram juga sangat erat kaitannya dengan sesuatu perbuatan. Perbuatan maksiat jelas haram hukumnya. Kalau sekarang kita termasuk orang yang dirundung kemalangan, intropeksilah terhadap perilaku yang sering kita lakukan. Misalnya, apakah kita masih sering menyepelekan hal-hal yang berbau maksiat: Menghalalkan segala cara, memakan dan menimun yang haram, melakukan perbuatan zina, gila kerja sampai melalaikan sholat, dan lain sebagainya.

Hal-hal semacam ini kadangkala masyarakat memandang sebagai hal yang lumrah, apatah lagi di akhir zaman sekarang ini perbuatan-perbuatan seperti diatas hampir kita temui kapan saja dan dimana saja. Maka perlu kita ketahui kemaksiatan ini jikalau kita tidak meningalkannya secara pelan-pelan maka, yakinlah damfak negatif bagi diri kita sendiri. Sebagaimana perkataan Ibnu Qoyyim rahimahullah tentang pelaku maksiat, Beliau mengatakan “Orang yang menyukai kemaksiatan akan terlihat tidak menarik wajahnya, sehingga menyebabkan orang lain menjahui dan tidak menyukainya.

Oleh sebab itu, sungguh benar kalau perbuatan maksiat akan menutupi jalan rezeki bagi para pelakunya, kesuksesan akan semakin jauh dan kegagalan akan semakin dekat kepadanya, ketenangan dalam hatinya akan semakin hilang karena perilaku maksiat yang tak kunjng dia tinggalkan. Jikalau selama ini kita masih pusing dengan kegagalan yang sering kita alami atau kebahagian yang tak kunjung kita dapatkan, maka kami mewasiatkan bagi para pembaca agar kita kembali bertaubat kepada Allah  dengan taubat yang sesunguhnya, karena dengan taubatlah segala aktifitas kita akan dimudahkan oleh Allah .

***Ruh-ruh manusia adalah pasukan yang besar. Selagi ruh-ruh itu saling mengenal maka mereka akan bersatu padu. Dan selagi ruh-ruh itu saling mengingkari, maka mereka akan berselisih***

(HR. Bukhari)

  1. Memperbanyak Ikhtiar dan Berdoa Kepada Allah

Ikhtiar melakukan sesuatu untuk mewujudkan keinginannya. Ikhtiar membutuhkan semangat yang tinggi dan mental yang pantang menyerah. Janganlah kita terlalu cepat mundur atau bahkan lari manakala rintangan menghadang. Mungkin rintangan tersebut adalah ujian dari Allah . Sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur’an:

uqèd “Ï%©!$# Ÿ@yèy_ ãNä3s9 uÚö‘F{$# Zwqä9sŒ (#qà±øB$$sù ’Îû $pkÈ:Ï.$uZtB (#qè=ä.ur `ÏB ¾ÏmÏ%ø—Íh‘ ( Ïmø‹s9Î)ur â‘qౖY9$# ÇÊÎÈ

Artinya: “Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, Maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya. dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan. (QS. Al-Mulk: 15).

            Dari ayat tersebut jelas bahwa setiap orang wajib melakukan ikhtiar sehingga mampu menjemput rezekinya. Rezeki disini tidaklah melulu berupa uang, namun juga berbagai kemudahan dan bertambahnya ilmu, dimudahkannya kita dalam mengejar kesuksesan. Lantas bagaimana orang bisa mendapatkan uang, bertambah ilmu, menjadi sukses, mewujudkan cita-cita. Kalau mereka tidak keluar dan bergerak untuk melakukan usaha yang maksimal.

Senada dengan ayat tersebut, Aidh Al-Qarni berpesan: “Rezeki burung itu tidak datang dengan sendirinya. Ketika ia diam di dalam sarang. Mangsa singa juga tidak akan datang dengan sendirinya, saat dia berada di dalam sarang. Makanan semut tidak akan datang dengan sendirinya, pada saat ia berada di dalam lubang. Semuanya memang harus berusaha dan mencari. Karena itu, berusahalah sebagaimana mereka. Niscaya Anda akan mendapatkan seperti mereka”.

Ali bin Abi Thalib  pernah berkata, “Orang yang malas dan lamban kehilangan hak-haknya,”. Dalam mengarungi kehidupan yang sarat dengan paparan berbagai tuntutan perubahan, mengharuskan kita untuk melakukan penyesuaian agar tidak tertinggal. Untuk menjadi manusia dengan prestasi yang rata-rata (seminimal-minimalnya tidak tertinggal dengan yang lainnya), juga tetap mengharuskan manusia bergerak seperti kebayakan orang, namun untuk menjadi seseorang yang unggul dibutuhkan perngorbanan yang ekstra, yaitu selalu melakukan percepatan, atau melakukan sesuatu sebelum yang lainnya memulai.

***Dan sesungguhnya amal yang paling dicintai oleh Allah adalah yang

terus menerus dirutinkan meskipun sedikit***

(HR. Muslim)