بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيم
Suatu waktu, paman dari Imam Ahmad bin Hanbal masuk menemui sang imam itu. Wajah Imam Ahmad penuh muram. Tangannya diletakkannya di bawah pipinya.
Sang paman bertanya:
“Wahai putra saudaraku… Kemuraman apa di wajahmu ini? Kesedihan apa ini?”
Sang imam itu mengangkat wajahnya. Lalu dengan lisannya ia berucap:
“Wahai paman… Betapa bahagianya seorang hamba yang namanya tak pernah disebut-sebut (oleh manusia)…”
(Ibnu Abi Hatim, Muqaddimah al-Jarh wa al-Ta’dil, 1/306)
Saat kita berbunga-bunga dengan semua viralitas kita, Sang Imam itu tak bahagia. Ia bahagia dalam kesenyapannya.
Saat kita diam-diam bahagia dengan popularitas kita, Sang Imam itu bermuram durja, bermimpi dapat hidup dalam ketidakpopuleran…
Karena hati ini begitu rapuh. Betapa seringnya kita populis atas nama dakwah…
Tapi di kedalaman jiwa dan batin: kita telah porak-poranda oleh sanjungan!
Tapi nun jauh di sana: di dalam sanubari… kita telah terhempas, amal-amal mulia itu telah habis…
Hingga kita tak tahu: masih adakah remah-remah keshalihan yang dapat kita bawa pulang ke sana: ke negeri Akhirat…
Ya Allah…
Selamatkan hati kami…
*****
✍🏼 Ustadz Dr. Muhammad Ihsan Zainuddin, Lc., M.Si.









































































