Antara akhlak, senyum dan hidayah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling mulia akhlaknya. Dalam al-qur’an Allah memuji nabi-Nya sebagai manusia yang terbaik akhlaknya, sebagaimana telah di sebutkan dalam surah Al-Qalam (68) :4
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.”
Akhlak mulia merupakan salah satu sifat yang harus ada pada diri setiap orang-orang yang beriman. Para salaf terdahulu telah memberikan contoh kepada kita agar menjadi manusia yang memiliki tabiat, budi pekerti, adab serta perangai yang mulia. Bahkan Rasulullah mengisyaratkan bahwa akhlak merupakan salah satu faktor utama dalam mengukur kesempurnaan iman seorang hamba. Hal ini disampaikan dalam sabdanya:
“Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang terbaik akhlaknya.” HR. Tirmidzi
Saudaraku yang dirahmati oleh Allah, kemuliaan akhlak yang kita miliki akan sangat berpengaruh terhadap orang lain. Rasulullah dahulu diutus sebagai seorang nabi, beliau terkenal dengan akhlaknya yang mulia, sampai orang kafir pun mengagumi akhlak beliau. Makanya begitu banyak kita dapati orang-orang kafir tertarik dengan Islam karena keramahan dan kemuliaan akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Tersenyum merupakan salah satu bentuk gambaran akhlak seseorang, nabi kita senantiasa mengajarkan untuk menebar senyum kepada sesama manusia. Inilah yang terkadang membuat orang lain senang dan bahagia tatkala bersama dengan kita, bahkan bisa menjadi wasilah seseorang mendapatkan hidayah karena akhlak kita yang mulia.
Dalam persoalan akhlak, Disinilah peran penting seorang Da’i. Ia harus senantiasa mengamalkan sunnah yang mulia ini. Menyentuh hati setiap mad’u bukan hanya dengan dalil-dalil shahih semata, namun dibutuhkan pula akhlakul kharimah. Setiap kali bertemu dengan mad’u maka awalilah semuanya dengan salam dan senyuman. Senyum yang membuat hati mereka menjadi teduh, nyaman dan bahagia melihatnya.
Namun, hari ini kita dikejutkan dengan sebuah fenomena yang membuat hati sangat miris melihatnya. Sebagian besar diantara mereka yang dianggap sebagai seorang ustadz dan ulama tidak mengaplikasikan amalan yang mulia ini dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Hanya karena persoalan berbeda firqoh (Ormas) atau hanya karena saudaranya belum mengamalkan sunnah, membuatnya tidak saling menegur sapa dan saling melempar senyuman. Bahkan hal itu juga sampai berimbas kepada orang awam yang ingin merasakan manisnya meniti jalan hidayah dan berhijrah menuju jalan yang lebih baik. Tentu kita tidak menginginkan hidayah bisa dirasakan oleh orang lain itu terhalangi dengan persoalan-persoalan yang demikian.
Saudaraku yang dirahmati Allah. Sebagai manusia kita hanya bisa berusaha menjadi wasilah (perantara) dalam hidayah, Namun hasilnya merupakan hak priogratif Allah subhanahu wa ta’ala. Akan tetapi, sebab seseorang mendapatkan hidayah terkadang pada hal yang tidak kita sangka sebelumnya. Boleh jadi dengan senyuman lirih yang kita hantarkan menjadi sebab baginya di dalam meniti jalan hidayah.
Seorang da’i harus tetap bersemangat dalam menyebarkan cahaya kebaikan kepada orang lain. Bukan hanya mendapatkan predikat sholeh, namun ia juga seorang muslih yang menginginkan kebaikan-kebaikan yang ia rasakan dapat dirasakan pula oleh saudaranya.
Jangan pernah berhenti untuk Menyebarkan cahaya hidayah. Dengan cara apapun kita senantiasa tempuh untuk menggapainya. Ingatlah janji Allah tentang keutamaan orang yang menjadi sebab saudaranya mendapatkan secerah hidayah di dalam hatinya. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :
فَوَاللَّهِ لأَنْ يُهْدَى بِكَ رَجُلٌ وَاحِدٌ خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ
“Demi Allah, apabila Allah memberikan hidayah kepada seorang laki-laki dengan perantaraan usahamu, maka hal itu lebih baik daripada engkau memiliki unta-unta merah.” (Muttafaq ‘Alaih).
InsyaAllah, semua akan menjadi ladang pahala jariyah hingga waktu kita kembali kepada Allah tiba. Pahala itu akan terus mengalir atas kebaikan-kebaikan yang dilakukan oleh orang-orang yang mendapatkan hidayah melalui perantara kita. Karena semua pengorbanan di jalan Allah akan berujung sampai ke jannah-Nya.
***********
Penulis: Muhammad Ikram, S.Sos.I
(Penulis, Pembina Daar Al-Qalam dan Pemred Mujahid Dakwah)
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)














































































