Beberapa kali mengisi kuliah online terbuka membuat saya kadang menjawab “Tidak tahu” ketika sesi tanya jawab. Pertama, karena kuliah dibuka untuk umum maka siapapun bisa hadir dan bertanya. jadi pertanyaannya heterogen dan kemana-mana. Kedua, pertanyaan langsung ditulis di chat, jadi tak sempat berpikir panjang. Mungkin bagi sebagian orang tabu menyebut “tidak tahu” ketika ditanya.
Namun, jika memang tidak tahu mengapa harus memaksakan diri menjawab? Selain itu juga, bila pertanyaan yang diajukan bukan bidang kita, sebaiknya juga tidak menjawab meski kita tahu. Sebab, orang pun tahu pengetahuan kita terhadap hal itu tidak ada atau minim.
Kejujuran intelektual adalah salah satu kunci sukses dalam menuntut ilmu. Ketika kita keliru -wajar toh manusia keliru, namanya juga al-insanu mahalul khata’ wan nisyan (manusia tempat keliru dan lupa), jangan segan untuk mengakui dan meluruskannya. Tidaklah seseorang menjadi terjatuh martabatnya ketika mengakui kekeliruan atau kekurangannya.
Bahkan seseorang pandai, ketika tahu keliru tapi tidak ia luruskan, martabatnya justru jatuh di mata orang yang mengetahuinya, sekalipun orang itu tidak sepandai dirinya.
Abul Hasan ad-Daraquthni (w. 358 H), sebagaimana dilaporkan oleh Rosenthal, memandang hebat Abu Bakar al-Anbari yang mengoreksi dirinya sendiri dalam kelas berkenaan dengan suatu kekeliruan yang dibuatnya karena perhatiannya pada ad-Daraquthni yang juga hadir dalam kelas. Al-Anbari juga menyuruh diumumkan nama ad-Daraquthni sebagai sumber koreksi tersebut.
Ulama jaman dahulu lazim bila tidak tahu atau lupa mengatakan hal yang sebenarnya. Ibn Rasiiq dalam Kitab Umdah menyatakan lupa tentang pernyataan Dzur-Rahmah dan Abu Tamman (katanya: lam ahfazhhu). Juga ats-Tsa’libi menyebutkan dalam karyanya Tatimmatul Yatimah bahwa ia lupa nama-nama atau bait-bait tertentu sehingga ia berkata, “Hanya setan sajalah yang membuat saya lupa menyebutkan mereka di tempat yang semestinya.” Para penyusun bibliografi pun seringkali terpaksa mengakui bahwa mereka tidak tahu atau tidak bisa mengingat nama pengarang atau judul buku tertentu. Mereka meminta maaf karena tidak mengetahui apa yang tidak diketahui oleh seorang pun. “Saya tidak bisa menemukan nama…. (lam aqif ala ismihi/ha).”
Dalam masalah hukum pun wajar para ulama mengatakan laa adrii (saya tidak tahu) jika memang ia tidak mengetahui jawabannya. Sebab jika memaksakan diri menjawab, akibatnya bisa fatal. Pengakuan “laa adrii” ini sangat banyak ditemukan dalam khazanah intelektual Islam.
Imam as-Suyuthi dalam kitabnya Muzhir memuat bab khusus tentang masalah ini. As-Suyuthi, sebagaimana dikutip Rosenthal dalam Etika Kesarjanaan Muslim menemukan cerita ini dalam karya at-Tanuhi, kitab an-Nisywar wal Muhadharah. Ketika itu asy-Sya’bi mengakui ketidaktahuannya mengenai masalah tertentu yang ditanyakan kepadanya, lalu seorang dengan kasar berkata kepadanya, “Untuk apa Anda menerima gaji dari pemerintah?” Asy-Sya’bi menjawab, “Untuk mengatakan saya tidak tahu, tentang masalah-masalah yang sungguh-sungguh tidak saya ketahui.” Suatu ketika Asy-Sya’bi juga ditanya mengapa tidak malu atas ketidaktahuannya? Ia menjawab, “Mengapa aku harus malu akan sesuatu yang bahkan para malaikat pun tidak merasa malu tentangnya. Mereka mengatakan, ‘Kami tidak memiliki pengetahuan tentangnya (QS 2: 32)’, dan mereka mengakui kejahilan mereka.”
Ibnu Jamaah mengatakan, “Hendaklah diketahui bahwa bertentangan dengan pendapat sebagian orang yang bodoh, mengakui kebodohan diri sendiri tidaklah mengurangi kemampuan seseorang, manakala ia ditanya tentang sesuatu yang tidak diketahuinya.
Sebaliknya, mengakui kebodohan dirinya dalam kasus seperti itu merupakan bukti tambahan mengenai kemampuannya, sebab perbuatan itu menunjukkan ketakwaan, kejujuran serta integritas intelektualnya. Orang-orang yang memiliki keyakinan agama yang lemah dan pengetahuan yang sedikit enggan mengakui kebodohan mereka karena mereka takut kehilangan gengsi di kalangan sesama manusia.” Ketidakjujuran seperti ini, kata Ibnu Jamaah, tidak bijaksana, sebab mungkin sekali akan membawa kepada terungkapnya secara memalukan kejahilan diri sendiri.
Ada peribahasa mengatakan, “Jika engkau mengatakan ‘saya tidak tahu’ maka orang akan mengajarimu sampai engkau mengetahui. Tapi jika engkau mengatakan ‘saya tahu’ maka orang akan menanyaimu sampai engkau tidak tahu.” Benyamin Franklin dalam suratnya tertanggal 18 Maret 1755 mengatakan, “Mereka yang ingin dianggap mengetahui segala sesuatu dan karena itu lalu berusaha menjelaskan segala sesuatu, sering kali tetap tampak bodoh tentang banyak hal yang orang lain bisa dan akan mau mengajarinya seandainya mereka tidak tampak sombong.”
Plato (atau mungkin Aristoteles) mengatakan, “Jika ucapanku ‘saya tidak tahu’ tidak bisa ditafsirkan sebagai berarti saya tahu, maka saya akan mengatakan bahwa saya tidak tahu. Et (Plato) dixit: non sum lucratus ex scientia nisi in quantum scio quod non sum adhuc sciens.” Asy-Sya’bi sebagaimana dikutip al-Ghazali dalam Ihya’ mengatakan, “Ucapan ‘aku tidak tahu’ adalah setengah dari segala ilmu.”
Diriwayatkan oleh Ibnu Mahdi berkata: “Seorang laki-laki bertanya kepada Imam Malik tentang suatu masalah.” Imam Malik menjawab: “lâ uhsinuhâ—aku tidak mengerti masalah itu dengan baik.” Kemudian laki-laki itu berkata, “(Tolonglah) aku telah melakukan perjalanan jauh agar bisa bertanya kepadamu tentang masalah ini.” Imam Malik berkata kepadanya, “Ketika kau kembali ke tempat tinggalmu, kabarkan pada masyarakat di sana bahwa aku berkata kepadamu: lâ uhsinuhâ—aku tidak mengerti masalah tersebut dengan baik.” (Imam Jalâluddîn Abû al-Farj bin al-Jauzi, Shifat al-Shafwah, Beirut: Dar al-Kitab al-Arabi, 2012, hlm 361)
Menurut Afiq Zahara dalam artikelnya dalam kisah di atas, Imam Malik tidak malu mengatakan dirinya tidak tahu. Ia tidak takut orang-orang menganggapnya bodoh. Ia tidak takut dianggap keterlaluan dengan membiarkan laki-laki itu pulang dengan tangan hampa meski telah melakukan perjalanan jauh. Imam Malik ingin menegaskan bahwa pengamalan agama harus dibangun dengan pengetahuan dan rasa takut kepada Allah. Imam Malik mengatakan, “Ilmu itu bukanlah banyaknya riwayat, melainkan cahaya yang diletakkan Allah dalam hati.” (Imam Jalâluddîn Abû al-Farj bin al-Jauzi, Shifat al-Shafwah, hlm 361)
Masih tentang Imam Malik, diceritakan bahwa ada seorang utusan dari Maroko pernah amat kecewa. Sebanyak 40 pertanyaan titipan diajukan kepada Imam Malik, tapi hanya 8 yang dijawab. “Tiga bulan perjalanan kutempuh untuk menjumpaimu dengan pertanyaan dari kaumku, Apa yang nanti harus kukatakan pada mereka,” kata utusan itu kecewa. “Katakan saja bahwa Malik tidak tahu,” demikian kata Imam Malik dengan penuh wibawa.
Kalau para imam besar di bidang ilmu fikih saja, yang tugasnya menjawab pertanyaan umat biasa saja bilang “tidak tahu”, apatah lagi kita orang awam. Maka, tepatlah apa yang disampaikan oleh Prof. Dr. Ir. Andi Hakim Nasoetion, guru besar IPB di bidang genetika kuantitatif kepada kami mahasiswanya, “Jangan malu bilang tidak tahu!”.
************
Penulis: Dr. Budi Handrianto, M.Si
(Sekprodi S3 Sekolah Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor dan Peneliti Senior INSISTS)
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)













































































