Banyak kelompok Islam yang ingin membangun masyarakat Islami atau negara Islami. Seperti Muhammadiyah, NU, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, Persis, Hidayatullah, PKS, Partai Ummat dan lain-lain.
Tapi ada pula kelompok Islam yang ingin membangun kelompoknya saja. Banyak orang menyebutnya kelompok ‘salafi’. Kelompok ini aktif dalam pengajian, halaqah dan lain-lain. Tapi sayangnya mereka abai terhadap masalah politik, ekonomi, sosial, budaya di masyarakat atau negara. Kelompok ini asyik dengan kajian ibadah mahdhah, Al Qur’an, hadits dan lain-lain.
Karena kurang peduli pada kondisi masyarakat, maka mereka menyerahkan semua kondisi itu pada negara. Mereka sami’na wa atha’na pada pemerintah.
Sebagian kelompok ini mengikuti ijtihad sebagian ulama Saudi. Kondisi politik yang ketat di Saudi, menjadikan ulama di sana terkekang. Tidak berani kritis pada kerajaan. Mereka nurut pada raja. Karena sekali bersikap kritis, maka penjara taruhannya. Kebebasan berpendapat dan kebebasan akademik hampir tidak ada di sana. Hal itulah yang menyebabkan seorang mualaf ahli matematika dari Amerika, Prof Jeffry Lang kabur dari Saudi. Ia yang berencana tahunan belajar Islam di Saudi, balik ke negaranya setelah dua bulan di sana. Ia kecewa dengan ‘tidak adanya’ kebebasan akademik di sana.
Kelompok yang tidak peduli terhadap kondisi sosial masyarakat ini, tidak punya gambaran atau tujuan membentuk masyarakat Islam. Mereka asyik dengan kelompoknya. Yang dimasalahkan hanya seputar ibadah ritual, jenggot, gamis, bidah Sunnah dan semacamnya. Mereka tidak mempunyai alternatif untuk menampilkan politik Islam, sosial Islam, ekonomi Islam, budaya Islam dan lain-lain. Maka jangan heran kelompok ini mendapat dukungan kelompok atau pemerintah dalam negeri atau luar negeri yang sekuler.
Selain ‘salafi’, kita juga perlu melakukan studi kritis kepada kelompok NU Struktural. Kelompok ini juga akhir-akhir ini kelihatan lebih membangun kelompoknya daripada masyarakatnya. Mereka rela menghantam keras kelompok-kelompok Islam lain yang dianggap mereka tidak seide dengannya. Tapi sayangnya mereka dengan mesra berangkulan dengan kelompok non Islam yang membantu kelompoknya. Kelompok NU Struktural menghantam keras HTI dan FPI. Permusuhan kepada keduanya ‘melebihi’ permusuhannya kepada kaum Islamofobia.
Gerakan NU Struktural yang cenderung ‘ashabiyah’ ini menjadikan kelompok NU Kultural melakukan perlawanan. Pesantren Sidogiri, Gontor, NU Garis Lurus dan lain-lain adalah diantara kelompok yang berani mengoreksi penyimpangan NU Struktural.
Kelompok-kelompok yang ingin membangun masyarakat Islami, memang sering berbenturan dengan kebijakan pemerintah. Terutama kebijakan pemerintah yang berlawanan dengan Islam. Muhammadiyah, Dewan Dakwah, Persis, Ikhwanul Muslimin (PKS), FPI, HTI, Hidayatullah dan lain-lain.
Makanya jangan heran kelompok-kelompok ini saat ini sering kritis kepada pemerintah. Karena pemerintah saat ini banyak melakukan kegiatan yang merugikan umat Islam. Seperti membatasi gerak dai-dai yang kritis kepada pemerintah, membubarkan ormas-ormas Islam, rakus terhadap harta rakyat, mendatangkan ribuan tenaga kasar dari Cina, menangkapi tokoh-tokoh Islam dan lain-lain.
Sikap pemerintah yang merugikan umat Islam ini rabun di mata tokoh-tokoh pro NU Struktural. Pemerintah ini Islami, kata Menag Yaqut. Pemerintah ini tidak memusuhi Islam, kata Menkopolhukam Mahfud MD. Mereka rabun terhadap kekurangan atau kezaliman yang dilakukan pemerintah. Hal ini mungkin karena mereka sedang terlena dengan jabatan dan fasilitas-fasilitas mewah yang diberikan pemerintah. Seperti dalam pepatah Jawa yang menyatakan bahwa banyak orang itu ‘mati’ ketika dipuji atau diberikan kemewahan duniawi.
Kelompok-kelompok yang lebih mementingkan membangun kelompoknya daripada masyarakatnya itu perlu sadar bahwa Rasulullah Saw tidak demikian dalam memperjuangkan Islam. Rasulullah punya visi yang jauh dan mulia, yaitu membangun keluarga Islami, masyarakat Islami, negara Islami dan dunia Islami.
Lihatlah bagaimana Rasulullah memberikan semangat pada para sahabatnya bahwa mereka akan menaklukkan Persia dan Romawi. Mereka akan membawa risalah Islam yang mulia ini ke seluruh dunia. Maka jangan heran kemudian tidak sampai 100 tahun Islam telah menyebar ke Eropa dan Cina. Termasuk ke Nusantara yang indah ini, Islam datang dengan damai.
Jadi kelompok Salafi dan NU Struktural sadarlah. Islam itu punya alternatif terhadap sistem sekuler yang mengangkangi tanah air kita yang saat ini menyebabkan kemiskinan, kebodohan, kezaliman dan lain-lain. Rasulullah mengajarkan politik Islam, ekonomi Islam, Sosial Islam, budaya Islam (diantaranya musik Islami) dan lain-lain. Sabda Rasulullah,”Barangsiapa tidak memikirkan urusan kaum Muslimin, maka ia bukan golongan mereka.”
Rasulullah bukan hanya mengajarkan ibadah ritual saja, tapi juga mengajarkan adab pemimpin negara, adab politisi, adab pemimpin masyarakat, adab berekonomi, adab berbudaya, dan lain-lain.
Dalam sejarah, kita bisa meneladani akhlak para pemimpin di Partai Masyumi. Partai Masyumi saat itu bisa menyatukan hampir semua ormas-ormas Islam dan tokoh-tokoh Islam di tanah air. Muhammadiyah, NU, Persis, KH Hasyim Asy’ari, Ki Bagus Hadikusumo, Mohammad Natsir, Buya Hamka, Sjafrudin Prawiranegara, dan lain-lain. Sayang tahun 1952, NU keluar dari Masyumi karena hanya masalah jabatan Menteri Agama.
Maka hati-hatilah terhadap jabatan dan kemewahan dunia. Karena itu bisa memisahkan kelompok Islam satu dengan yang lainnya. Bila perasaan Ukhuwah Islamiyah lemah, bila kesadaran membangun bersama masyarakat Islami bersama lemah, maka matilah rasa untuk memperjuangkan Islam. Matilah rasa ghirah Islam. Muncullah rasa ingin menikmati duniawi sepuas-puasnya. Ingin menikmati jabatan yang empuk dan kemewahan duniawi lainnya. Tidak peduli terhadap nasib kaum Muslimin.
Kaum Islamofobia pun jadi bersorak melihat hal itu. Mereka punya kesempatan untuk mengadu domba kelompok-kelompok Islam. Dan kemudian muncullah ‘kaum munafik’ atau sejenisnya yang dijadikan alat untuk menghantam umat Islam sendiri. Dan inilah nampaknya sekarang yang terjadi.
Renungkanlah firman Allah,
وَا لْمُؤْمِنُوْنَ وَا لْمُؤْمِنٰتُ بَعْضُهُمْ اَوْلِيَآءُ بَعْضٍ ۘ يَأْمُرُوْنَ بِا لْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوْنَ الزَّكٰوةَ وَيُطِيْعُوْنَ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ ۗ اُولٰٓئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللّٰهُ ۗ اِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ
“Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, melaksanakan sholat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah swt. Sungguh, Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah 71)
اَلْمُنٰفِقُوْنَ وَا لْمُنٰفِقٰتُ بَعْضُهُمْ مِّنْۢ بَعْضٍ ۘ يَأْمُرُوْنَ بِا لْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوْفِ وَيَقْبِضُوْنَ اَيْدِيَهُمْ ۗ نَسُوا اللّٰهَ فَنَسِيَهُمْ ۗ اِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ
Artinya: “Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, satu dengan yang lain adalah (sama), mereka menyuruh (berbuat) yang mungkar dan mencegah (perbuatan) yang makruf dan mereka menggenggamkan tangannya (kikir). Mereka telah melupakan Allah, maka Allah melupakan mereka (pula). Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik.”
(QS. At-Taubah 67).
Semoga kita semua terhindar dari perilaku kaum munafik. Wallahu alimun hakim. II Nuim Hidayat, Dosen Akademi Dakwah Indonesia, Depok
***********
Penulis: Ustadz Nuim Hidayat, M.Si
(Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Depok, Pengurus MIUMI dan MUI Depok serta Dosen Akademi Dakwah Indonesia)
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)














































































