Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud pernah berkata, mungkin saat ini Barat sudah berhasil melampaui kita (umat Islam) dari segi materi terutama sains dan teknologinya.
Tapi, adab lah yang sampai hari ini, belum bisa mereka lampaui dan kalahkan, yaitu adab dan akhlak, atau yang sering mereka gunakan sebagai moral dan karakter
Artinya, kalau saat ini aspek adab dan akhlak dikesampingkan, lantas, apalagi yang bisa kita banggakan dihadapan orang-orang Barat? Apalagi yang bisa kita jadikan sebagai ‘izzah di hadapan orang orang kafir? Apalagi yang bisa kita gunakan untuk membusungkan dada di hadapan “mereka”?
Meskipun saya tidak menafikan bahwa kita juga harus lebih baik lagi dalam hal ilmu pengetahuan. Tapi, jangan sampai kita lupakan satu hal yang paling urgen.
Itulah mengapa Negara Madinah di masa Nabi, adalah negara yang paling maju. Dengan pembangunan adab dan akhlak dalam diri setiap insan sebagai tolak ukurnya. Begitulah Islam memandang maju-mundurnya suatu negara
Ingatlah, kedatangan Islam di Jazirah Arab, Eropa, bahkan Nusantara, tidak pernah lepas dari adab atau akhlak. Itulah yang membuat cahaya Islam semakin terpancar.
Adab-lah yang mengubah konotasi “jahiliyah” dan “bar-bar”, menjadi kemuliaan. Adab-lah yang membuat manusia kembali kepada kepada fitrah nya, kembali memperoleh harkat dan martabatnya sebagai manusia
Nabi bersabda bahwa tidaklah dirinya diutus melainkan untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Sehingga terciptalah satu generasi gemilang karenanya dan membuat Allah harus memuji akhlaknya ketimbang ilmunya (QS. 68: 4).
Menilik lebih jauh tugas Nabi tadi, Sayyidina Ali menegaskan adab dengan kalam, “Addibuuhum wa ‘allimuhum” (kalimat ini adalah tafsiran Ali untuk QS. 66: 6) serta Sayyidina Umar dengan kalam, “Taaddabuu tsumma ta’allamu.”
Begitu juga para ulama sesudahnya. Mulai dari Ibnul Mubarak yang berkata bahwa porsi adab dalam agama adalah dua per tiga-nya sehingga ia lebih membutuhkan sedikit adab ketimbang banyak ilmu. Sampai-sampai ia harus belajar adab selama 30 tahun dan mencari ilmu selama 20 tahun.
Habib Ibnu Syahid yang memerintahkan anaknya bergaul kepada para fuqaha’ dan mempelajari adab-adab mereka karena hal itu lebih disukainya ketimbang si anak menghafal banyak hadits.
Yusuf ibn al-Husain yang berkata bahwa dengan adab ilmu bisa dipahami. Yasin bin Malik yang berkata, adab ketika beramal adalah tanda diterimanya amal itu. KH. Hasyim Asy’ari yang berkata bahwa tanpa adab, syariat, iman, dan tauhid sia-sia.
Ruwaim yang menyuruh anaknya menjadikan ilmu sebagai garam dan adab sebagai tepung (yang tentu dalam satu adonan garam tidak akan lebih banyak dari tepung). Hasan al-Bashri yang memerintahkan supaya kita terus memperbaiki adab dari tahun ke tahun.
Imam Syafi’i yang mengatakan bahwa dirinya mencari adab seperti ibu yang mencari anak satu-satunya yang hilang. Sampai kepada peringatan Syed Muhammad Naquib Al-Attas yang mengatakan, “The central crisis of Muslim today is loss of adab.”
Cukuplah itu semua menjadi dalil bagi kita untuk kembali belajar adab dan menegakkannya di tengah umat. Dari mulai adab kepada Allah, Nabi, orang tua, guru, diri sendiri, ilmu, sampai lingkungan sekitar.
Islam memang agama ilmu. Tanpa ilmu, Islam tidak akan bangkit. Tapi, tanpa adab, akankah ilmu membangkitkan Islam? Bukankah tanpa adab, ilmu akan disalahgunakan? Bukankah tanpa adab, ilmu justru akan meruntuhkan bangunan Islam? Bukannya ilmu tidak penting, tapi ia harus didahulukan adab.
Tenang saja, bukankah tadi dikatakan, bahwa dengan adab, ilmu bisa dipahami. Artinya tidak mungkin setiap orang yang beradab tidak mempunyai ilmu, meskipun kadar akalnya berbeda-beda. Tapi, selama punya adab, sedikit ilmu akan menuntun manusia kepada kebaikan, kebermanfaatan, kemuliaan, dan kebahagiaan
Islam, mempunyai dua lentera yang akan terus meneranginya, yakni adab dan ilmu. Mungkin tanpa ilmu, cahaya Islam akan redup. Tapi tanpa adab, cahaya Islam akan hilang.
Lagipula, apa artinya cahaya yang hanya menyala sekejap dan bisa merusak mata? Yakni ketika cahaya ilmu terus dinyalakan, sementara cahaya yang satunya ditenggelamkan.
Lebih baik menciptakan cahaya nan elok dan senantiasa ada, yakni dengan dengan cahaya adab yang terus dinyalakan dan disempurnakan, yang nantinya juga meniscayakan cahaya yang satunya.
************
Penulis: Fatih Madini
(Mahasiswa Mahasiswa STID Mohammad Natsir, Penulis Buku dan Kontributor mujahiddakwah.com)
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)












































































