Sesungguhnya seseorang itu ibarat umur. Semakin hari melewati diri seseorang, maka semakin dekat orang tersebut kepada Allah Subhanahu Wata’ala.
Ali bin Abi Thalib juga pernah berkata,
“Sesungguhnya dunia telah beralih ke belakang dan akhirat telah beralih ke hadapan (semakin mendekat), pada tiap-tiap keduanya terdapat anak-anaknya (pengikutnya). Maka jadilah pengkiut akhirat dan jangan jadi pengikut dunia. Sesungguhnya hari ini adalah untuk beramal dan tidak ada hisab, dan esok adalah hari penghisaban bukan lagi untuk beramal.” (Ighatsatu Al-Lahfan 1/71)
Setiap hari, kita semakin meninggalkan dunia menuju akhirat. Sehingga akhirat semkain dekat dan dunia semakin menjauh. Sebagaimana kata Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu bahwa kalau sekarang seseorang masih bisa beramal, masih bisa berangan-angan dan mewujudkannya. Jika ada di antara kita yang bercita-cita untuk menghafal juz 30, membangun masjid, ingin shalat malam tiap hari, maka cita-cita dan angan-angan tersebut masih bisa untuk dilakukan. Akan tetapi jika seseorang telah meninggal dunia maka tidak bisa lagi melakukan apa-apa.
Oleh karenanya Allah Subhanahu Wata’ala menyebutkan bahwasanya orang-orang yang sudah meninggal akan menyesal. Allah Subhanahu Wa ta’ala berfirman,
“Dia berkata, “Alangkah baiknya sekiranya dahulu aku mengerjakan (kebajikan) untuk hidupku ini.” (QS. Al-Fajr : 25)
Penyesalan tersebut akan diungkapkan oleh orang kafir maupun orang beriman. Orang-orang kafir jelas menyesal karena di hadapan mereka telah ada neraka jahannam dan mereka akan dilemparkan ke dalamnya, mereka menyesal kenapa dahulu tidak beriman. Para pelaku maksiat juga menyesal kenapa dahulu di dunia mereka bermaksiat kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Bahkan orang-orang yang beriman juga menyesal karena mengapa mereka sedikit beramal dan sedikit ibadahnya. Maka saat ini kita masih bisa beramal dan tidak ada hisab bagi kita, akan tetapi tatkala kita telah meninggal dunia maka yang ada hanyalah hisab dan tidak bisa beramal lagi.
Oleh karenanya kita harus sadar bahwa kehidupan kita ini hanya sementara. Maka kita hsrus mempersiapkan diri kita untuk bertemu dengan kehidupan kita yang sesungguhnya yaitu kehidupan setelah kematian. Karena Allah Subhanahu Wata’ala telah berfirman,
“Dan kehidupan dunia ini hanya senda-gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui.” (QS. Ar-Rum : 64)
Kehidupan yang kita jalani saat ini adalah kehidupan yang semu. Dan kehidupan sesungguhnya dimulai tatkala seseorang meninggal dunia.
Kita harus sadar bahwasanya umur kita sesungguhnya tidaklah panjang. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,
“Umur umatku berkisar antara enam puluh sampai tujuh puluh tahun, dan sedikit di antara mereka yang melebihi itu.” (HR. Tirmidzi 5/553 no. 3550)
Namun yang jadi perhatian kita adalah kematian tidak mensyaratkan harus tua. Banyak orang yang meninggal dunia dalam usia muda. Bahkan ada yaang masih bayi telah meninggal dunia, dalam janin juga ada yang telah meninggal dunia. Oleh karenanya seorang penyair berkata,
وكم من فتى امسى واصبح ضاحكا *** وقد ا دخلت ا رواحـــهم ظلمـــة القــبر
“Betapa banyak anak muda yang masih tertawa di pagi dan petang hari, akan tetapi malam hari dia dimasukkan ke dalam gelapnya kubur”
Demikian juga kematian tidak mempersyaratkan harus sakit terlebih dahulu. Banyak orang yang meninggal secara tiba-tiba dan tanpa di dahului sakit. Seorang penyair berkata,
“Betapa banyak orang sehat meninggal tanpa didhaului sakit. Betapa banyak orang sakit yang disangkan akan meninggal akan tetapi masih hidup”
Betapa sering seseorang keluar dari rumahnya tanpa terbetik dalam benaknya bahwa dia akan meninggal dunia, akan tetapi tiba-tiba Allah Subhanahu Wata’ala mencabut nyawanya. Dan kita tahu bahwa sebab-sebab kematian itu banyak. Seorang penyair berkata,
تعددتدحاو توملاو بابسا لأ
“Terdapat banyak sebab-sebab yang mengantarkan pada satu tujuan yaitu kematian”
Oleh karenanya hendaknya seseorang berusaha untuk mempersiapkan dirinya untuk hari akhiratnya. Karena Allah Subhanahu Wata’ala berfirman,
“dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahat Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan.”(QS. Al-Hasyr : 18)
*************
Penulis : Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc. MA
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah









































































