Terdapat beberapa hal-hal yang penting terkait dengan menyikapi harta. Di antaranya adalah,
Harta secara dzat tidak dicela dan tidak dipuji
Yang perlu diketahui adalah ujian dan celaan dari harta itu kembali kepada pemilik harta tersebut, yaitu bagaimana cara dia menyikapi harta tersebut.
Oleh karenanya kita dapati para Nabi dan para Rasul, di antara mereka ada yang kaya raya dan adapula yang miskin. Di antara Nabi-nabi yang kaya adalah Nabi Sulaiman dan Nabi Daud ‘alaihimassalam. Adapun Nabi-nabi yang miskin di antaranya adalah Nabi Isa ‘alaihissalam dan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam.
Jika sekiranya harta itu dipuji dzatnya, maka tentu Allah Subhanahu Wata’ala akan menjadikan sluruh para Nabi sebagai orang yang kaya. Dan jika itu tercela pada dzatnya, maka pasti Allah Subhanahu Wata’ala akan menjadikan seluruh para Nabi miskin.Akan tetapi kita dapati ada sebagian nabi yang kaya dan adapula sebagian nabi yang miskin. Oleh karenanya ini menunjukkan bahwasanya harta tidak dicela dan dipuji pada dzatnya.Oleh karenanya sebagaiman harta tidak dicela dan tidak dipuji pada dzatnya, maka demikian juga dengan kemiskinan juga tidak dicela dan tidak dipuji.
Jangan sampai kemudian sebagian orang mengira bahwa miskin adalah sebuah hal yang dituntut dalam syariat atau sebaliknya bahwa miskin adalah hal yang dibenci oleh syariat. Akan tetapi celaan dan pujian itu kembali kepada orang yang menjalani kekayaan dan kemiskinan tersebut.
Oleh karenanya kita dapati dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, Rasulullah Shallallahu ‘ Alaihi Wa Sallam tidak pernah berlindung terhadap kekayaan dan juga kemiskinan, akan tetapi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam berlindung dari ftinah kekayaan dan kemiskinan.
Di antara hadits tersebut adalah doa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari rasa malas, kepikunan, terlilit hutang, dan dari kesalahan dan dari fitnah neraka serta siksa neraka, dan dari fitnah kubur dan siksa kubur dan dari buruknya fitnah kekayaan dan dari buruknya fitnah kefakiran serta fitnah Al-Masih Ad-Dajjal.” (Muttafaqqun ‘alaih)
Doa ini merupakan isyarat dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bahwa pada kekayaan ada fitnah dan pada kemiskinan juga terdapat fitnah.
Pujian bukan hanya pada kemiskinan, melainkan kekayaan juga dipuji.
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman di dalam Alquran,
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Anbiya’ : 35)
Sebagian ahli tafsir menyatakan bahwa di antara ujian yang berupa keburukan adalah ujian dengan kemiskinan, kekurangan, sakit, dan musibah; adapun ujian berupa kebaikan yaitu dengan kekayaan, kesehatan, kenikmatan, dan anugerah dari Allah Subhanahu Wata’ala.Dalam ayat di atas, seakan-akan Allah mengabarkan bahwa semua manusia yang hidup akan mati, dan sesungguhnya apa yang kita hadapai baik itu berupa kesulitan dan kemudahan, kesempitan dan kelapangan, dan kemiskinan dan kekayaan merupakan ujian yang kita akan dikembalikan kepada Allah Subhanahu Wata’ala dan akan dimintai pertanggungjawaban terkait sikap kita menghadapi ujian tersebut.
Oleh karenanya Umar bin Khattab dalam sebuah pertakaannya yang indah mengatakan,
“Kekayaan dan kemiskinan adalah dua tunggangan (yang pasti akan ditunggangi salah satunya), dan aku tidakpeduli yang mana aku tunggangi. Kemiskinan dan kekayaan hanyalah ujian dari Allah kepada hambaNya.”
Oleh karenanya pemahaman sebagian orang yang menganggap bahwasanya ujian itu hanyalah berupa kemiskinan dan kekayaan bukanlah ujian adalah pemahaman yang keliaru. Dan dalam hal ini Allah Subhanahu Wata’ala membantah anggapan tersebut melalui firmanNya di dalam Alquran,
“Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: “Tuhanku telah memuliakanku”. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku”. Sekali-kali tidak (demikian).” (QS. Al-Fajr : 15-16)
Dari sini kemudian kita menyampaikan pembahasan yang sering disampaikan oleh para ulama, yaitu manakah yang lebih utama antara orang kaya yang bersyukur dengan orang miskin yang bersabar? Kata para ulama di antaranya adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan bahwa yang paling afdhal (utama) di antara keduanya adalah yang paling bertakwa, sebagaimana firman Allah Subhanahu Wata’ala
“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu.” (QS. Al-Hujurat : 13)
Jika seseorang dengan kekayaannya menjadi seseorang yang bersyukur, rajin beribadah kepada Allah Subhanahu Wata’ala, maka dia telah mencapai derajat takwa yang lebih tinggi daripada seorang yang miskin bersabar, maka dia lebih utama di sisi Allah Subhanahu Wata’ala. Dan demikian pula sebaliknya, jika seorang yang miskin mencapai derajat takwa tertinggi dengan kesabarannya melebih daripada orang kaya yang bersyukur maka dia lebih utama di sisi Allah Subhanahu Wata’ala.
Akan tetapi tatkala kita disuruh memilih menjadi orang kaya yang bersyukur atau miskin yang bersabar, maka pasti kita akan memilih menjadi orang kaya yang bersyukur. Akan tetapi ketahuilah bahwa kebanyak orang diuji dengan kekayaan tidak lulus, dan sebaliknya kebanyakan orang yang diuji dengan kemiskinan bisa lulus. Oleh karenanya tatkala Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam melihat penghuni surga, beliau melihat kebanyak penghuninya adalah orang-orang miskin.Maka jika Anda adalah orang yang miskin, bersyukurlah kepada Allah Subhanahu Wata’ala, karena bisa jadi kemiskinan itu mengantarkan Anda surga Allah Subhanahu Wata’ala
Kenyataannya, kesabaran seseorang menghadapi kemiskinan itu lebih mudah daripada kesabaran seseorang menghadapi kekayaan. Dan ini telah diisyaratkan dalam hadits-hadits Nabi dan juga firman Allah Subhanahu Wata’ala. Di antaranya adalah firman Allah Subhanahu Wata’ala
“Dan sesungguhnya dia (manusia) sangat bakhil karena cintanya kepada harta.” (QS. Al-‘Adiyat : 8)
“Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.” (QS. Al-Fajr : 20)
Cinta terhadap harta adalah ssifat manusiawi. Dan kita sadari bahwa harta itu manis, sehingga terkadang seseorang rela bekerja 24 jam sehari hanya untuk meraih harta. Dan apabila seseorang telah mersakan manisnya harta, maka dia akan semakin terdorong untuk terus mencari harta.
Dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam telah mengingatkan bahwa fitnahnya umat ini adalah harta. Dalam sebuah hadits beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda,
“Sesungguhnya setiap ummat itu memiliki fitnah dan fitnah ummatku adalah harta.” (HR. Tirmidzi no. 2336)
Dalam hadits yang lain Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,
“Sungguh demi Allah, bukanlah kefakiran yang aku khawatirkan dari kalian. Akan tetapi yang aku khawatirkan atas kalian adalah bila kalian telah dibukakan (harta) dunia sebagaimana telah dibukakan kepada orang-orang sebelum kalian lalu kalian berlombalomba untuk memperebutkannya sebagaimana mereka berlomba-lomba untuk memperebutkannya, sehingga akhirnya harta dunia itu membinasakan kalian sebagaimana telah membinasakan mereka.” (HR. Bukhari no. 3158)
Ketahuilah bahwa betapa banyak pertikaian dan permusuhan yang terjadi antara saudara, kerabat, bahkan seorang anak dan orang tuanya, yang disebabkan karena masalah harta. Ini adalah kenyataan yang ada. Karena hasad, cemburu, persaingan dalam bisnis,
Sebagaimana telah kita sebutkan bahwa harta itu manis, akhirnya kita dapati fenomena yang sangat menyedihkan. Ada sebagian orang yang dahulu rela meninggalkan pekerjaan haramnya demi Allah, kemudian menjalani kehidupan dengan hidup paspasan karena Allah Subhanahu Wata’ala. Akan tetapi sering berjalannya waktu, dia akhirnya terfitnah dengan dunia, sehingga akhirnya dia kembali mencari harta dengan cara-cara yang haram setelah dia mampu bersabar atas apa yang dia tinggalkan sebelumnya. Sungguh ini adalah sebuah fenomena yang sangat menyedihkan. Oleh karenanya harta adalah tetap menjadi fitnah yang sangat besar bagi umat ini.
Oleh karenanya sebagaimana telah kita katakan bahwa banyak orang lulus tatkala diuji dengan kemiskinan, dan sedikit yang bisa lulus tatkala diuji dengan kekayaan. Hal ini dikarenakan kecintaan seseorang terhadap harta. Bahkan betapa banyak orang yang akhirnya menjadi penyembah harta sebagaimana telah diisyaratkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dalam haditsnya,
“Binasalah hamba dinar, dirham, hamba pakaian, jika diberi maka ia ridha jika tidak diberi maka ia mencela.”(HR. Bukhari no. 2887)
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam ingin mengatkan bahwa ada orangorang yang benar-benar menyembah harta, sehingga seluruh tindak tanduknya itu karena harta, kecintaan dan permusuhan dibangun di atas harta, bahkan mungkin keharaman rela dia lakukan demi untuk meraih harta. Dan orang yang seperti ini itu ada. Dan ketahuilah bahwa tatkala seseorang telah mendapatkan harta, maka terkadang bahkan seringnya mereka menjadi angkuh. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Allah Subhanahu Wata’ala dalam firmanNya,
“Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas (zalim), karena dia melihat dirinya serba cukup (kaya).” (QS. Al-‘Alaq : 6-7)
Oleh karenanya inilah sebab mengapa seseorang mudah untuk masuk ke dalam neraka karena harta, mereka tidak sabar dan tidak lulus dari fitnah dan ujian harta, karena tatkala harta mereka telah miliki maka mereka pun mereka angkuh dan merasa hebat serta merasa tidak butuh kepada orang lain sehingga akhirnya yang terjadi adalah kezaliman atau perendahan terhada orang lain. Dan ini semua adalah tabiat manusia, dan jika hal tersebut tidak dilawan dengan ayat-ayat dan hadits-hadits, maka orang yang memilii harta yang banyak akan terbawa kepada sikap keangkuhan dan menzalimi orang lain, kecuali orangorang yang dirahmati oleh Allah Subhamahu Wata’ala.
*************
Penulis : Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc MA
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah
,










































































