Suatu kelaziman bagi setiap tokoh apalagi pemimpin selalu memiliki obsesi besar untuk menjadi masyhur dan mempengaruhi arah dunia dg pemikiran besarnya. Hal itu tidak terkecuali bagi manusia mana pun termasuk Paduka Yang Mulia, Pemimpin Besar Revolusi Soekarno.
Sejarah menjelaskan bhw Soekarno pernah menorehkan satu impian politik yg monumental dan mengundang perhatian dunia Internasional. Yaitu Soekarno ingin menginternalisasi dan menginstitusikan faham Nasionalisme, Agama, dan Komunisme dlm satu konsepsi politik yg disebut NASAKOM dan menjadi pandangan hidup bangsa Indonesia.
Pemikiran Soekarno tentang konstrucsi NASAKOM adalah tawaran baru kepada anak anak bangsa, tumpah darah. Bhw ia memiliki sebuah obsesi besar untuk menjadikan NASAKOM sebagai ideologi alternatif yg menyatukan bangsa. Bagi Soekarno faham Nasionalisme, Agama, dan Komunisme tidak perlu dipertentangkan secara diametral dlm membangunan ketahanan nasional untuk menghadapi imperialisasi ekonomi dan politik global.
Dari sini Soekarno bergerak membuka peta kepemimpinan politik baru sebagai Pemimpin dunia. Gagasan Nasakom sebagai sintesa dari tesa tesa yg berkembang di berbagai belahan dunia, yg mengunggulkan agama, nasional dan marxis. Nah, Soekano sebagai pemimpin dunia di abad 20 ia ingin mengalahkan pemimpinan besar lainnya di belahan dunia Timur maupun Barat dg konsep NASAKOM.
Dalam konteks Indonesia, upaya Soekarno mewujudkan impian itu ternyata harus dibayar dg harga yg mahal. Soekarno tega melepaskan kawan seperjuangan mendirikan Indonesia. Soekarno mengabaikan tatanan demokrasi yg seharusnya diperlukan untuk mengelola dan menata bangunan kebernegaraan yg lebih baik di masa masa mendatang. Soekarno mengabaikan perasaan keberagamaan tokoh dan umat Islam dlm perjuangan menyusun kemerdekaan Indonesia.
Pertama, Soekarno memberi Karpet Merah dan membuka ruang yg terbuka dlm kancah politik bagi Partai Komunis Indonesia (PKI) Pimpinan DN Aidit. Dan dari situ PKI mendapat angin segar untuk secara terbuka terus berkonsolidasi, memperkuat sinergisitas kepentingan terutama dukungan politik kepada Soekarno yg ambisius.
Meski Soekarno tahu dan menyadari bhw PKI pimpinan Muso pernah melakukan Pemberontakan di Madiun thn 1948 yg membunuh para kiyai, santri, membangkar masjid dan pondok pesantren. Peristiwa Kanigoro, di mana PII (Pelajar Islam Indonesia) sedang Training dibakar dan dibunuh dlm gedung. Tak Terkecuali Pondok Modern Gontor Ponorogo, Kiyai, Santri dan Para gurunya diobok-obok, diserbu oleh PKI. Pak Kiyai Ahmad Sahal dan adiknya KH Imam Zarkasyi, bersama Santri terpaksa mengasingkan diri ke gua Slahung, cukup jauh dari Gontor.
Yang tragis, para ulama kiyai yang alim dan ustadz yg takzim di desa desa dibantai, dibunuh secara sadis dan keji lalu dibuang ke dalam sumur atau sungai. Para pemuka Islam pimpinan pondok pesantren menjadi musuh bagi Partai Komunis. Benarkah sadisme itu menjadi watak dan karakter politik anak bangsa, atau karakter ideologi tanpa Tuhan.
Dari sini PKI seperti lupa diri bhwa pernah menorehkan sejarah kelam, pemberontakan yang sadis dan keji kepada tokoh Islam. PKI terus berkonsulidasi dan mengikuti Pemilu Pertama thn 1955 dan PKI keluar sebagai 4 pemenang besar: PNI, Masyumi, NU dan PKI.
Kedua, Perjalanan politik ke depan Syahwat Politik Soekarno dg dukungan PKI makin tak terkendali. Tampaknya Soekarno makin otoriter, sehinggs membubarkan Konstituante. Sementara kontestuante telah berupaya melahirkan konstitusi negara yg sangat modern, Kata Dr. Adnan Buyung Nasutian. Meski Indonesia baru saja merdeka, tetapi sdh memiliki konstitusi negara yg maju dan berperadaban.
Ketiga, Perbedaan semakin tajam dg tokoh pelopor penggerak kemerdekaan, terutama Dr. Muhammad Hatta sang Proklamator terkait cara pandang dan pengelolaan pemerintahan negara. Tampaknya Soekarno membiarkan M. Hatta memilih mundur diri dari Wapres. Hatta sepertinya tak sanggup melihat Soekarno dg berbagai akrobatiknya yg mengabaikan norma dan standar bernegara. Dan Soekarno akhirnya memimpin Negeri Indonesia tanpa Wapres, semakin buruk kualitas kepemimpinan dari cara berdemokrasi.
Keempat, Soekarno secara perlahan tapi akhirnya menyingkirkan lalu membuarkan Masyumi 1960. Soekarno sepertinya lupa kalau M. Natsir pimpinan Masyumi telah mengukuhkan secara utuh Soekarno sebagai Presiden NKRI melalui mosi integralistik M. Natsir. Soekarno juga lupa kepemimpinannya sebagai Presiden juga diselamat oleh Syafruddin Perwinegara sebagai Pemimpin Kepala Pemerintahan Darurat RI, di Bukit Tinggi saat Soekarno Hatta dkk ditawan oleh Belanda di Yogyakarta. Natsir dan Syafruddin keduanya adalah merupakan pemimpin Masyumi yg berjasa besar pada Soekarno. Setelah itu menyusul Pembubaran PSI dan Murba bahkan mengancam untuk membubarkan HMI. Betul-betul Soekarno telah dihasut oleh PKI untuk bertindak otoriter nyaris menjadi diktator.
Dalam acara pembukaan kongres CGMI sebuah organisasi mahasiswa yg merupakan underbow PKI, di Gelora Istora Senayan, di hadapan 25 000 anggota CGMI DN Aidit berpidato yg berapi-api. Ia memperingatkan dan meminta kepada CGMI untuk membubarkan HMI. Bhw membubarkan HMI adalah perkara mudah, serahkan saja pada CGMI. Jika CGMI tidak sanggup membubarkan HMI maka sebaiknya kalian pulang saja, dan ganti celana dalam kalian dg memakai sarung.
Di forum di depan Istana Merdeka, apel CGMI untuk meminta Pemerintah Soekarno membubarkan HMI. Dlm kesempatan Lei Mena mewakili Pemerintah memberikan jawaban atas tuntutan pembubaran HMI, bhw Pemerintah tidak punya program untuk membubarkan HMI, karena HMI organisasi mahasiswa yg berfront nasionalis, pendukung revolusi. Dlm kesempatan yg sama Soekarno dlm Pidatonya menggarisbawahi Pidato Lei Mena itu, bhw Pemerintah tidak punya program untuk membubarkan HMI.
Aidit kecewa dan massa menjadi reaksioner. Maka GPII dan PII bersama ormas Islam yang lain mengkonsulidasi pergerakan melakukan aksi tandingan pembelaaan pada HMI. Berbagai poster spanduk PII menumpah sepanjang jalan. Langkahilah mayat PII sebelum membubrkan HMI. Isu Poster jihad PII sebagai perlawanan kepada DN Aidit dan CGMI.
Dalam suatu rapat terbatas, Soekarno menyampaikan pendangan dan keinginan kepada Saifuddin Zuhri, Menteri Agama saat itu. Bhw Pemerintah akan membubarkan HMI. Pernyataan ini seakan menusuk jantung Saifuddin Zuhri. Seketika Saifuddin menjawab kalau hal itu yg Bapak lakukan, maka tentu akan menjatuhkan bapak Sendiri.
Lanjut Saifuddin Zuhri apa alasan Bapak hendak membubarkan HMI? Jawaban Soekarno, HMI kontra revolusi. Tanya lagi Saifuddin apa kadar kontra revolusinya? Soekarno menjawab HMI berfikir liberalis, pro kebarat-baratan, merusak adat istiadat. Jawab Saifuddin Zuhri kalau hal itu yg bapak lakukan, maka sampai di sinilah tugas saya membantu Bapak. Suasana tertegun kaku dan membisu.
Beberapa saat kemudian Soekarno melerai ketegangan itu seraya mengatakan saya tetap membutukan sampean. Tetapi saya minta jaminan, kamu Saifuddin, Ruslan Abdul Gani dan Syarif Thaeb membina HMI. Di sini Bpk KH. Saifuddin Zuhri orang tua kandung dari Lukman Hakim Saifuddin, amat berjasa mencegah Soekarno bertindak otoriter atas hasutan pimpinan PKI untuk membubarkan HMI.
Dan kemudian terbukti Soekarno gagal mewujudkan impiannya yg super dahsyat itu setelah kegagalan G30S PKI yg melakukan kudeta dg menculik dan membunuh 7 Jenderal Angkatan Darat yg diisukan membentuk Dewan Revolusi. Satu Partai Politik merebut kekuasaan bukan dg kontestasi yg sehat, bertarung di Pemilu, melainkan dg menculik, menembak, menyiksa, dan memasukkan ke sumur, yang sekarang dikenal dg sebutan LUBANG BUAYA. Tempat penguburan para jenderal yg diculik itu.
Penculikan 7 Jenderal, di malam 30 September 1965, dan Lubang Buaya merupakan peristiwa berdarah yg amat tragis. Peristiwa kelam yg menunjukkan politik manusia yg tak bertuhan hanya kekejaman dan kebiadaban yg mereka torehkan. Kenangan buruk ini sulit rasanya dilupakan oleh bangsa ini ttg kebiadaban PKI. Mereka membunuh saudara sendiri. Hanya demi kekuasaan PKI tega membunuh saudaranya sendiri.
Lalu sekarang anak cucu gembong PKI cuci tangan yg berlumuran darah. Mereka berlindung di balik HAM dan demokrasi, mereka berlindung minta dipulihkan nama baik. Bahkan mendesak Presiden Joko Widodo untuk dan atas nama negara meminta maaf kepada keluarga anak cucu turunan PKI. Seakan PKI tidak punya dosa politik atas pembantaian Jendral dan umat Islam.
Sejarah perjalanan suatu bangsa ditentukan oleh kualitas dan keunggulan pemikiran anak-anak bangsanya sendiri. Dan suatu pemikiran itu memiliki daya tahan pada ambang batas tersendiri. Tidak ada suatu pemikiran manusia berlaku absolut sepanjang zaman.
Daya tahan suatu pemikiran tidak akan melampaui ruang dan waktu, melainkan dibatasi oleh dimensi ruang dan waktu itu sendiri. Kecuali Firman Allah dan Hadis Rasulullah berlaku absolut sepanjang dunia ini. Kalamullah dan hadis Rasulullah berakhir bersamaan dg berkhirnya peran dan tugas manusia sebagai khalifatullah.
Olehnya sebagai anak bangsa jujurlah pada sejarah bhw Pikiran Soekarno tentang Nasakom, yg mencakup doktrin PKI yang bersandar pada ajaran Marxisme juga Nasionalisme memiliki keterbatasan. Dewasa ini nasionalisme juga rubuh, terdekonstruksi akibat spremasi ilmu pengatahuan dan teknologi.
Di forum ILC tadi malam saya mengamati uraian Sukmawati anak biologis Soekarno kehilangan logika ketika menjelaskan ideologi Partai Komunis Indonesia. Sukma tergopoh-gopoh menjawab bhw Ideologi PKI adalah Pancasila.
Bagaimana mungkin seorang yg A-Teistis Marxis dlm waktu yg bersamaan bisa menerima Pancasila sebagai ideologi? Padahal dlm Pancasila terdapat sila pertama berbunyi KETUHANAN YANG MAHA ESA. Mungkin Pancasila yg dimaksud Ibu Sukmawati yaitu Eka Sila, yaitu Ketuhanan yg Berkebudayaan.
Sungguh paradoks jika Tuhan yg maha mutlaq, Tuhan yg absolut, Tuhan yg tidak berserupa dg segala sesuatu, memiliki perilaku berbudaya. Keberbudayaan itu satu kata kerja sekaligus kata sifat yg melekat pada mahluk hidup, manusia misalnya. Jadi termenologi Tuhan yg berkebudayaan sama halnya menyamakan Tuhan adalah sesuatu zat yg bernyawa, yg bisa beraktivitas, bertindak tanduk yg membuahkan karya budaya. Terminologi ini sungguh menyesatkan dan merusak keimanan orang orang beragama khususnya umat muslim
Eka Sila dlm pidato Bung Karno 1 Juni 1945. Sementara perumusan Pancasila oleh BPUPKI ialah Piagama Jakarta 22 Juni 1945 di mana dlm sila pertama tercantum Ketuhanan dg menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya. Sedangkan Pancasila 18 Agustus 1945 adalah Pancasila tanpa 7 kata dalam sila pertama. Hilangnya 7 kata itu demi menjaga keutuhan dan kebersamaan anak-anak bangsa mewujudkan Indonesia MERDEKA.
PKI sll dg kelicikan yg cerdik menggunakan logika apologistik untuk menolak setiap tuduhan atau anggapan bhw komunisme bangkit kembali.
Pendekatan ferbalisme seringkali hadir sebagai argumentasi, untuk menganulir bhw komunisme sebagai sebuah pemikiran digandrungi oleh para peminat literasi. Tetap komunisme sebagai institusi sdh bubar dan tidak bangkit lagi sebagaima komunisme di Eropa Timur dan Rusia.
Tetapi di sisi lain belakang ini ada tragedi pembantaian, pembunuhan ulama, ustadz, perusakan rumah ibadah, diikuti pengembangan politik adu domba, politik belah bambu. Tentu digerakan oleh kelompok laten yg terorganisir. Pro kontra khilafah dan Pancasila juga dalangnya PKI. Sebab sejak reformasi kita tidak punya masalah antara Pancasila, NKRI dan Khilafah. Pertanyaannya adakah sejarah pemberontakan berdarah di negeri ini oleh umat Islam untuk mendirikan negara khilafah?
Lalu apa argumentasi yg melatari hadirnya UU Haluan Idelogi Pancasila yg riuh di altar politik Indonesia? Ternyata arahnya ingin mengembalikan Pikiran Soekarno tentang Eka Sila, yaitu Ketuhanan Berkebudayaan. Mengganti Pancasila menjadi Eka Sila tentu sesuatu yg berbahaya tidak saja berkaitan Pancasila tetapi keyakinan muslim tentang moneteisme pada sila pertama Pancasila.
Olehnya umat Islam sangat mewaspadai terhadap upaya fihak tertentu yg hendak menganulir Lima Sila menjadi Eka Sila. Dari sini rupanya Penerus Soekarnois belum berakhir cita-cita politik menghidupkan faham yg pernah dikembangkan Soekarno.
Lantas apa tugasmu HMI di masa kini dan akan datang ketika melihat wacana dan kecenderungan bangkitnya PKI di Tanah Air?
***********
Ciputat, 30 September 2020
Penulis: MHR Shikka Songge.
(Peneliti Politik dan Sosial Keagamaan CIDES, Presiden Pergerakan Muballigh Indonesia (PMI), Instruktur Nasional NDP HMI)
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)











































































