• Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Kirim Tulisan
Sabtu, Juni 27, 2026
Advertisement
  • ARTIKEL
    • All
    • Adab & Ibadah
    • Al-Qur'an & Hadits
    • Aqidah & Manhaj
    • Fiqih Islam
    • Sirah Nawabiyah
    Meneladani Nabi Ibrahim AS di Tengah Dunia yang Penuh Konflik

    Meneladani Nabi Ibrahim AS di Tengah Dunia yang Penuh Konflik

    Ketauladanan Ibrahim AS dalam pengabdian dan kepemimpinan

    Ketauladanan Ibrahim AS dalam pengabdian dan kepemimpinan

    Ibadah Haji: Antara Ritual dan Pengabdian Sosial

    Ibadah Haji: Antara Ritual dan Pengabdian Sosial

    Tujuan Hakiki Pendidikan, Menanamkan Nilai dan Adab

    Tujuan Hakiki Pendidikan, Menanamkan Nilai dan Adab

    Satu Dinding Cukup Menjadi Pemisah Antara Kubur dan Masjid

    Satu Dinding Cukup Menjadi Pemisah Antara Kubur dan Masjid

    Fatwa MUI: Mengapa Memanfaatkan Dana Hasil Investasi Setoran Awal untuk Jamaah Lain Haram?

    Kajian Kitab Talbis Iblis (Bag 10): Waktu-Waktu Berlindung Kepada Allah Dari Gangguan Jin

    Agungnya Ilmu (Bag 2)

    Belajar Jenjang Ilmu ‘Ilal Hadis

    Tadabbur Al-Qur’an: Manusia Karena Harta dan Takwa

  • KHAZANAH
    • All
    • Biografi
    • Islam & Indonesia
    • Pendidikan & Ilmu
    • Sejarah Islam
    • Tazkiyatun Nafs

    Nasehat yang Menggugah, Dialah Kematian

    Putra Abu Jahal Menjadi Mujahid Handal

    Sejarah Tokoh Wahdah Islamiyah (Bag 10): Hijrah Ustadz Umar Soleh ke Kota Makassar

    Sejarah Ulama Nusantara (Bag 5): Jelajah Dakwah Syaikh Yusuf al-Maqassari

    Sejarah Tokoh Wahdah Islamiyah (Bag 9): Semangat Menuntut Ilmu Ustadz Umar Soleh Mulai Dari Sekolah Dasar

    Wasiat Imam Syafi’i Menjelang Kematiannya

  • NASIONAL
    • All
    • Berita Nasional
    • Feature
    • Info Kegiatan
    • Kabar Kampus
    • Kabar Ummat
    • Sekolah & Universitas
    Ustadz Zaitun Rasmin Ajak Bangun Arus Perubahan Nasional, Dorong Implementasi Pasal 33 UUD 1945 untuk Kemandirian Bangsa

    Ustadz Zaitun Rasmin Ajak Bangun Arus Perubahan Nasional, Dorong Implementasi Pasal 33 UUD 1945 untuk Kemandirian Bangsa

    Berikut 37 Organisasi yang Menolak Desakan MUI Agar Pelaku dan Pengkampanye LGBT Dipidana

    Berikut 37 Organisasi yang Menolak Desakan MUI Agar Pelaku dan Pengkampanye LGBT Dipidana

    Lautan Ulama Meriahkan Saresehan 100 Tahun Gontor: Keberadaan Pesantren Karunia Besar Bagi Bangsa Indonesia

    Lautan Ulama Meriahkan Saresehan 100 Tahun Gontor: Keberadaan Pesantren Karunia Besar Bagi Bangsa Indonesia

    Ustadz Zaitun Rasmin: Silaturahmi dan Persatuan Adalah Fondasi Utama Perjuangan Umat

    Wahdah Islamiyah Dukung MUI: LGBT Bertentangan Nilai Keindonesiaan, Hukum Pidana Bagi Pelaku

    Komisi VIII DPR RI Desak Kemenkomdigi Blokir Akun dan Konten yang Mengkampanyekan LGBT

    Komisi VIII DPR RI Desak Kemenkomdigi Blokir Akun dan Konten yang Mengkampanyekan LGBT

    Berikut 37 Organisasi yang Menolak Desakan MUI Agar Pelaku dan Pengkampanye LGBT Dipidana

    Berikut 37 Organisasi yang Menolak Desakan MUI Agar Pelaku dan Pengkampanye LGBT Dipidana

  • KALAM
    • All
    • Akhir Zaman
    • Ghazwul Fikr
    • Jihad Fisabilillah
    • Khutbah Jum'at
    • Siyasah Syar'iyyah
    Materi Khutbah Jumat Palestina: Penutupan Masjid Al-Aqsa, Masjid Suci Tanpa Ibadah

    Materi Khutbah Jumat Palestina: Penutupan Masjid Al-Aqsa, Masjid Suci Tanpa Ibadah

    Materi Khutbah Jumat Palestina: Refleksi Kemerdekaan Indonesia untuk Palestina

    Materi Khutbah Jumat Palestina: Refleksi Kemerdekaan Indonesia untuk Palestina

    Materi Khutbah Jumat Palestina: Rasa Kenyang Kita dan Jeritan Kelaparan Anak-Anak Gaza

    Materi Khutbah Jumat: Menyambut Kemenangan Al-Aqsha dengan Semua Pengorbanan

    Materi Khutbah Jumat: Menyambut Kemenangan Al-Aqsha dengan Semua Pengorbanan

    Materi Khutbah Jumat: Generasi Shalahuddin Pembebas Al-Aqsa dari Penjajahan Tentara Salib

    Materi Khutbah Jumat: Generasi Shalahuddin Pembebas Al-Aqsa dari Penjajahan Tentara Salib

    Materi Khutbah Jumat Palestina: Gaza Kelaparan, Tanggung Jawab Kita

    Materi Khutbah Jumat Palestina: Gaza Kelaparan, Tanggung Jawab Kita

    Materi Khutbah Jumat: Memaknai All Eyes on Rafah, Buka Mata Dunia Atas Genosida di Gaza

    Materi Khutbah Jumat: Memaknai All Eyes on Rafah, Buka Mata Dunia Atas Genosida di Gaza

    Materi Khutbah Jumat: Tragedi Gaza, Apakah Kita Masih Ada?

    Materi Khutbah Jumat: Tragedi Gaza, Apakah Kita Masih Ada?

    Materi Khutbah Jumat: Kita Bisa dan Wajib untuk Berjuang bagi Al Aqsha, Gaza dan Palestina

    Materi Khutbah Jumat: Kita Bisa dan Wajib untuk Berjuang bagi Al Aqsha, Gaza dan Palestina

    Materi Khutbah Jumat: Gaza Masih Berdarah, Jangan Tinggalkan

    Materi Khutbah Jumat: Gaza Masih Berdarah, Jangan Tinggalkan

    Materi Khutbah Jumat Palestina: Kita Adalah Gaza

    Materi Khutbah Jumat Palestina: Kita Adalah Gaza

    Materi Khutbah Jumat Palestina: Istqomah Peduli Gaza Adalah Ujian Iman

    Materi Khutbah Jumat Palestina: Istqomah Peduli Gaza Adalah Ujian Iman

    Materi Khutbah Jumat Palestina: Hukuman Mati Tahanan Palestina, Dimana Peran Kita?

    Materi Khutbah Jumat Palestina: Hukuman Mati Tahanan Palestina, Dimana Peran Kita?

  • LIFESTYLE
    • All
    • Cinta Dunia
    • Gender & Feminisme
    • Jendela Hati
    • Parenting
    • Ramadhan
    • Tips Bahagia
    Kuliah Ramadhan 03: Kedisiplinan Itu Adab

    Kuliah Ramadhan 03: Kedisiplinan Itu Adab

    Ayat Al Quran yang Patut Direnungi, Sebelum Berpisah dengan Ramadhan (Menutup Kebaikan dengan Istigfar)

    Amalan Terbaik di Bulan Ramadhan

    Kuliah Ramadhan 01: Taqwa dan Adab

    Rambu-Rambu Berbakti Kepada Orangtua (Bag 1)

    Catatan Pendidikan (Bag 7): Tua Sebagai Pendidik Pertama dan Utama dalam Keluarga

    Catatan Pendidikan (Bag 6): Covid 19 dan Masa Depan Pendidikan Kita

    Cadar Dan Keinginan Untuk Istiqomah Secara Sadar (Bag 1)

  • DUNIA ISLAM
    • All
    • Info Haji & Umrah
    • Internasional
    • Kabar Turki
    • Palestina
    • Timur Tengah
    Rasisme: Dosa Asal Amerika

    Rasisme: Dosa Asal Amerika

    Siswi 18 Tahun Tewas dalam Serangan Israel saat Menuju Lokasi Ujian Akhir di Gaza City

    Siswi 18 Tahun Tewas dalam Serangan Israel saat Menuju Lokasi Ujian Akhir di Gaza City

    Penjajah Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera Ahmed Wishah dalam Serangan Udara ke Kamp Bureij Gaza

    Penjajah Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera Ahmed Wishah dalam Serangan Udara ke Kamp Bureij Gaza

    Ketua MUI Bidang Ukhuwah: Donald Trump dan Pemimpin Negara yang Setujui Gencatan Senjata Bertanggung Jawab Hentikan Genosida di Gaza

    Ketua MUI Bidang Ukhuwah: Donald Trump dan Pemimpin Negara yang Setujui Gencatan Senjata Bertanggung Jawab Hentikan Genosida di Gaza

    Google Dukung Genosida di Gaza, Mahasiswa Stanford Walk Out dan Teriakkan ‘Free Palestine’ Saat Sundar Pichai Pidato

    Google Dukung Genosida di Gaza, Mahasiswa Stanford Walk Out dan Teriakkan ‘Free Palestine’ Saat Sundar Pichai Pidato

    Satu Bentuk Dua Makna: Saat Dunia Merayakan Hiburan dan Gaza Bertaruh Nyawa

    Satu Bentuk Dua Makna: Saat Dunia Merayakan Hiburan dan Gaza Bertaruh Nyawa

    Tenda Pendidikan Jadi Perlawanan Warga Gaza Lawan Hegemoni Israel

    Tenda Pendidikan Jadi Perlawanan Warga Gaza Lawan Hegemoni Israel

    Alami Penyiksaan dan Isolasi Ketat di Penjara Nafha, Dr Hussam Abu Safiya Dirantai Israel Saat Hadapi Sidang

    Alami Penyiksaan dan Isolasi Ketat di Penjara Nafha, Dr Hussam Abu Safiya Dirantai Israel Saat Hadapi Sidang

    Empat Hari di Penjara Israel: Relawan Sumud Flotilla Ceritakan Siksaan dan Pelajaran Terbesar Hidupnya di IAI STIBA Makassar

    Empat Hari di Penjara Israel: Relawan Sumud Flotilla Ceritakan Siksaan dan Pelajaran Terbesar Hidupnya di IAI STIBA Makassar

  • TSAQOFAH
    • All
    • Ekonomi Islam
    • Jejak Hidayah
    • Kolom
    • Opini Anda
    • Resensi Buku
    Allah Terus Menjamin Kemenangan Al-Haqq- Bagian 2

    Allah Terus Menjamin Kemenangan Al-Haqq- Bagian 2

    Islam: Agama yang Paling Disalahpahami

    Islam: Agama yang Paling Disalahpahami

    Allah Senantiasa dan Secara Misterius Bekerja untuk Kemenangan Al-Haqq

    Allah Senantiasa dan Secara Misterius Bekerja untuk Kemenangan Al-Haqq

    Tahun Baru Hijriyah: Membangun Kemandirian Ummat

    Tahun Baru Hijriyah: Membangun Kemandirian Ummat

    Haji dan Rasisme Barat

    Haji dan Rasisme Barat

    3 Keuntungan di Balik Kesulitan

  • PAHAM SESAT
    • All
    • Ahmadiyah
    • Feminisme
    • Lainnya
    • Sepilis
    • Syi'ah
    Menolak Normalisasi LGBT, Menjaga Integritas Moral dan Akademik Kampus

    Menolak Normalisasi LGBT, Menjaga Integritas Moral dan Akademik Kampus

    Pandangan Hindu Terhadap Pluralisme Agama

    Melanjutkan Tongkat Estafet Perjuangan M. Natsir Membendung Arus Deras Sekularisme Dalam Pendidikan

    Pandangan Protestan Terhadap Pluralisme Agama

    Pandangan Katolik Terhadap Pluralisme Agama

    Upaya Meliberalkan Guru Agama

    Promosi Lesbi, Hina Nabi dan Lecehkan Al-Quran

    Kebebasan Konsep Penting Worldview Sekular

    Menjadi Muslim atau Liberal!

No Result
View All Result
  • ARTIKEL
    • All
    • Adab & Ibadah
    • Al-Qur'an & Hadits
    • Aqidah & Manhaj
    • Fiqih Islam
    • Sirah Nawabiyah
    Meneladani Nabi Ibrahim AS di Tengah Dunia yang Penuh Konflik

    Meneladani Nabi Ibrahim AS di Tengah Dunia yang Penuh Konflik

    Ketauladanan Ibrahim AS dalam pengabdian dan kepemimpinan

    Ketauladanan Ibrahim AS dalam pengabdian dan kepemimpinan

    Ibadah Haji: Antara Ritual dan Pengabdian Sosial

    Ibadah Haji: Antara Ritual dan Pengabdian Sosial

    Tujuan Hakiki Pendidikan, Menanamkan Nilai dan Adab

    Tujuan Hakiki Pendidikan, Menanamkan Nilai dan Adab

    Satu Dinding Cukup Menjadi Pemisah Antara Kubur dan Masjid

    Satu Dinding Cukup Menjadi Pemisah Antara Kubur dan Masjid

    Fatwa MUI: Mengapa Memanfaatkan Dana Hasil Investasi Setoran Awal untuk Jamaah Lain Haram?

    Kajian Kitab Talbis Iblis (Bag 10): Waktu-Waktu Berlindung Kepada Allah Dari Gangguan Jin

    Agungnya Ilmu (Bag 2)

    Belajar Jenjang Ilmu ‘Ilal Hadis

    Tadabbur Al-Qur’an: Manusia Karena Harta dan Takwa

  • KHAZANAH
    • All
    • Biografi
    • Islam & Indonesia
    • Pendidikan & Ilmu
    • Sejarah Islam
    • Tazkiyatun Nafs

    Nasehat yang Menggugah, Dialah Kematian

    Putra Abu Jahal Menjadi Mujahid Handal

    Sejarah Tokoh Wahdah Islamiyah (Bag 10): Hijrah Ustadz Umar Soleh ke Kota Makassar

    Sejarah Ulama Nusantara (Bag 5): Jelajah Dakwah Syaikh Yusuf al-Maqassari

    Sejarah Tokoh Wahdah Islamiyah (Bag 9): Semangat Menuntut Ilmu Ustadz Umar Soleh Mulai Dari Sekolah Dasar

    Wasiat Imam Syafi’i Menjelang Kematiannya

  • NASIONAL
    • All
    • Berita Nasional
    • Feature
    • Info Kegiatan
    • Kabar Kampus
    • Kabar Ummat
    • Sekolah & Universitas
    Ustadz Zaitun Rasmin Ajak Bangun Arus Perubahan Nasional, Dorong Implementasi Pasal 33 UUD 1945 untuk Kemandirian Bangsa

    Ustadz Zaitun Rasmin Ajak Bangun Arus Perubahan Nasional, Dorong Implementasi Pasal 33 UUD 1945 untuk Kemandirian Bangsa

    Berikut 37 Organisasi yang Menolak Desakan MUI Agar Pelaku dan Pengkampanye LGBT Dipidana

    Berikut 37 Organisasi yang Menolak Desakan MUI Agar Pelaku dan Pengkampanye LGBT Dipidana

    Lautan Ulama Meriahkan Saresehan 100 Tahun Gontor: Keberadaan Pesantren Karunia Besar Bagi Bangsa Indonesia

    Lautan Ulama Meriahkan Saresehan 100 Tahun Gontor: Keberadaan Pesantren Karunia Besar Bagi Bangsa Indonesia

    Ustadz Zaitun Rasmin: Silaturahmi dan Persatuan Adalah Fondasi Utama Perjuangan Umat

    Wahdah Islamiyah Dukung MUI: LGBT Bertentangan Nilai Keindonesiaan, Hukum Pidana Bagi Pelaku

    Komisi VIII DPR RI Desak Kemenkomdigi Blokir Akun dan Konten yang Mengkampanyekan LGBT

    Komisi VIII DPR RI Desak Kemenkomdigi Blokir Akun dan Konten yang Mengkampanyekan LGBT

    Berikut 37 Organisasi yang Menolak Desakan MUI Agar Pelaku dan Pengkampanye LGBT Dipidana

    Berikut 37 Organisasi yang Menolak Desakan MUI Agar Pelaku dan Pengkampanye LGBT Dipidana

  • KALAM
    • All
    • Akhir Zaman
    • Ghazwul Fikr
    • Jihad Fisabilillah
    • Khutbah Jum'at
    • Siyasah Syar'iyyah
    Materi Khutbah Jumat Palestina: Penutupan Masjid Al-Aqsa, Masjid Suci Tanpa Ibadah

    Materi Khutbah Jumat Palestina: Penutupan Masjid Al-Aqsa, Masjid Suci Tanpa Ibadah

    Materi Khutbah Jumat Palestina: Refleksi Kemerdekaan Indonesia untuk Palestina

    Materi Khutbah Jumat Palestina: Refleksi Kemerdekaan Indonesia untuk Palestina

    Materi Khutbah Jumat Palestina: Rasa Kenyang Kita dan Jeritan Kelaparan Anak-Anak Gaza

    Materi Khutbah Jumat: Menyambut Kemenangan Al-Aqsha dengan Semua Pengorbanan

    Materi Khutbah Jumat: Menyambut Kemenangan Al-Aqsha dengan Semua Pengorbanan

    Materi Khutbah Jumat: Generasi Shalahuddin Pembebas Al-Aqsa dari Penjajahan Tentara Salib

    Materi Khutbah Jumat: Generasi Shalahuddin Pembebas Al-Aqsa dari Penjajahan Tentara Salib

    Materi Khutbah Jumat Palestina: Gaza Kelaparan, Tanggung Jawab Kita

    Materi Khutbah Jumat Palestina: Gaza Kelaparan, Tanggung Jawab Kita

    Materi Khutbah Jumat: Memaknai All Eyes on Rafah, Buka Mata Dunia Atas Genosida di Gaza

    Materi Khutbah Jumat: Memaknai All Eyes on Rafah, Buka Mata Dunia Atas Genosida di Gaza

    Materi Khutbah Jumat: Tragedi Gaza, Apakah Kita Masih Ada?

    Materi Khutbah Jumat: Tragedi Gaza, Apakah Kita Masih Ada?

    Materi Khutbah Jumat: Kita Bisa dan Wajib untuk Berjuang bagi Al Aqsha, Gaza dan Palestina

    Materi Khutbah Jumat: Kita Bisa dan Wajib untuk Berjuang bagi Al Aqsha, Gaza dan Palestina

    Materi Khutbah Jumat: Gaza Masih Berdarah, Jangan Tinggalkan

    Materi Khutbah Jumat: Gaza Masih Berdarah, Jangan Tinggalkan

    Materi Khutbah Jumat Palestina: Kita Adalah Gaza

    Materi Khutbah Jumat Palestina: Kita Adalah Gaza

    Materi Khutbah Jumat Palestina: Istqomah Peduli Gaza Adalah Ujian Iman

    Materi Khutbah Jumat Palestina: Istqomah Peduli Gaza Adalah Ujian Iman

    Materi Khutbah Jumat Palestina: Hukuman Mati Tahanan Palestina, Dimana Peran Kita?

    Materi Khutbah Jumat Palestina: Hukuman Mati Tahanan Palestina, Dimana Peran Kita?

  • LIFESTYLE
    • All
    • Cinta Dunia
    • Gender & Feminisme
    • Jendela Hati
    • Parenting
    • Ramadhan
    • Tips Bahagia
    Kuliah Ramadhan 03: Kedisiplinan Itu Adab

    Kuliah Ramadhan 03: Kedisiplinan Itu Adab

    Ayat Al Quran yang Patut Direnungi, Sebelum Berpisah dengan Ramadhan (Menutup Kebaikan dengan Istigfar)

    Amalan Terbaik di Bulan Ramadhan

    Kuliah Ramadhan 01: Taqwa dan Adab

    Rambu-Rambu Berbakti Kepada Orangtua (Bag 1)

    Catatan Pendidikan (Bag 7): Tua Sebagai Pendidik Pertama dan Utama dalam Keluarga

    Catatan Pendidikan (Bag 6): Covid 19 dan Masa Depan Pendidikan Kita

    Cadar Dan Keinginan Untuk Istiqomah Secara Sadar (Bag 1)

  • DUNIA ISLAM
    • All
    • Info Haji & Umrah
    • Internasional
    • Kabar Turki
    • Palestina
    • Timur Tengah
    Rasisme: Dosa Asal Amerika

    Rasisme: Dosa Asal Amerika

    Siswi 18 Tahun Tewas dalam Serangan Israel saat Menuju Lokasi Ujian Akhir di Gaza City

    Siswi 18 Tahun Tewas dalam Serangan Israel saat Menuju Lokasi Ujian Akhir di Gaza City

    Penjajah Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera Ahmed Wishah dalam Serangan Udara ke Kamp Bureij Gaza

    Penjajah Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera Ahmed Wishah dalam Serangan Udara ke Kamp Bureij Gaza

    Ketua MUI Bidang Ukhuwah: Donald Trump dan Pemimpin Negara yang Setujui Gencatan Senjata Bertanggung Jawab Hentikan Genosida di Gaza

    Ketua MUI Bidang Ukhuwah: Donald Trump dan Pemimpin Negara yang Setujui Gencatan Senjata Bertanggung Jawab Hentikan Genosida di Gaza

    Google Dukung Genosida di Gaza, Mahasiswa Stanford Walk Out dan Teriakkan ‘Free Palestine’ Saat Sundar Pichai Pidato

    Google Dukung Genosida di Gaza, Mahasiswa Stanford Walk Out dan Teriakkan ‘Free Palestine’ Saat Sundar Pichai Pidato

    Satu Bentuk Dua Makna: Saat Dunia Merayakan Hiburan dan Gaza Bertaruh Nyawa

    Satu Bentuk Dua Makna: Saat Dunia Merayakan Hiburan dan Gaza Bertaruh Nyawa

    Tenda Pendidikan Jadi Perlawanan Warga Gaza Lawan Hegemoni Israel

    Tenda Pendidikan Jadi Perlawanan Warga Gaza Lawan Hegemoni Israel

    Alami Penyiksaan dan Isolasi Ketat di Penjara Nafha, Dr Hussam Abu Safiya Dirantai Israel Saat Hadapi Sidang

    Alami Penyiksaan dan Isolasi Ketat di Penjara Nafha, Dr Hussam Abu Safiya Dirantai Israel Saat Hadapi Sidang

    Empat Hari di Penjara Israel: Relawan Sumud Flotilla Ceritakan Siksaan dan Pelajaran Terbesar Hidupnya di IAI STIBA Makassar

    Empat Hari di Penjara Israel: Relawan Sumud Flotilla Ceritakan Siksaan dan Pelajaran Terbesar Hidupnya di IAI STIBA Makassar

  • TSAQOFAH
    • All
    • Ekonomi Islam
    • Jejak Hidayah
    • Kolom
    • Opini Anda
    • Resensi Buku
    Allah Terus Menjamin Kemenangan Al-Haqq- Bagian 2

    Allah Terus Menjamin Kemenangan Al-Haqq- Bagian 2

    Islam: Agama yang Paling Disalahpahami

    Islam: Agama yang Paling Disalahpahami

    Allah Senantiasa dan Secara Misterius Bekerja untuk Kemenangan Al-Haqq

    Allah Senantiasa dan Secara Misterius Bekerja untuk Kemenangan Al-Haqq

    Tahun Baru Hijriyah: Membangun Kemandirian Ummat

    Tahun Baru Hijriyah: Membangun Kemandirian Ummat

    Haji dan Rasisme Barat

    Haji dan Rasisme Barat

    3 Keuntungan di Balik Kesulitan

  • PAHAM SESAT
    • All
    • Ahmadiyah
    • Feminisme
    • Lainnya
    • Sepilis
    • Syi'ah
    Menolak Normalisasi LGBT, Menjaga Integritas Moral dan Akademik Kampus

    Menolak Normalisasi LGBT, Menjaga Integritas Moral dan Akademik Kampus

    Pandangan Hindu Terhadap Pluralisme Agama

    Melanjutkan Tongkat Estafet Perjuangan M. Natsir Membendung Arus Deras Sekularisme Dalam Pendidikan

    Pandangan Protestan Terhadap Pluralisme Agama

    Pandangan Katolik Terhadap Pluralisme Agama

    Upaya Meliberalkan Guru Agama

    Promosi Lesbi, Hina Nabi dan Lecehkan Al-Quran

    Kebebasan Konsep Penting Worldview Sekular

    Menjadi Muslim atau Liberal!

No Result
View All Result
Mujahid Dakwah
No Result
View All Result
in KALAM, Sejarah Islam

Kontribusi Muslim Terhadap Perjuangan Kebebasan India (Bag. 1)

Muh Akbarby Muh Akbar
Reading Time: 11 mins read
Juni 16, 2026
587
SHARES
3.3k
VIEWS
Share on WhatsApp

Narasi tradisional tentang perjuangan India untuk kemerdekaan mengambil jalur politik. Kesimpulannya adalah bahwa elit politik India memaksa Inggris yang enggan untuk menyerahkan kerajaan India mereka dan pergi dengan damai.

Pandangan yang lebih dalam pada kekuatan yang menyebabkan pembubaran Kerajaan Inggris menceritakan kisah yang berbeda. Dalam narasi kedua ini, tentara India, bukan gerakan politik yang muncul sebagai pemain utama dalam perjuangan kemerdekaan India. Dalam narasi ini, nama-nama Muslim memiliki lebih dari bagian mereka dalam gulungan kehormatan tentara, pria dan wanita, yang menyerahkan hidup mereka untuk kebebasan negara mereka. Pengorbanan para prajurit ini membuat setiap orang Asia Selatan mengangkat kepalanya tinggi-tinggi dengan bangga.

Prinsip gerakan dalam geopolitik bukanlah niat baik, tetapi aliran agregat, kekuatan ekonomi, diplomatik, dan militer semata. Inggris tidak tergerak oleh gerakan non-kooperasi India dan mengalami perubahan hati yang tiba-tiba untuk melepaskan India, permata mahkota Kekaisaran global mereka. Mereka dipaksa oleh kekuatan geopolitik untuk berhenti dan pergi. Karena keagungan dan kepandaian politis mereka, mereka pergi ketika mereka melakukannya, secara damai, tidak seperti orang Prancis di Indo China yang mencoba mempertahankan kekaisaran mereka dengan kekerasan dan dipaksa untuk mundur dengan kekalahan dan rasa malu setelah pertempuran Dien Bien Phu ( 1954).

You might also like

Materi Khutbah Jumat Palestina: Penutupan Masjid Al-Aqsa, Masjid Suci Tanpa Ibadah

Materi Khutbah Jumat Palestina: Penutupan Masjid Al-Aqsa, Masjid Suci Tanpa Ibadah

Juni 16, 2026
Materi Khutbah Jumat Palestina: Refleksi Kemerdekaan Indonesia untuk Palestina

Materi Khutbah Jumat Palestina: Refleksi Kemerdekaan Indonesia untuk Palestina

Juni 16, 2026

Materi Khutbah Jumat Palestina: Rasa Kenyang Kita dan Jeritan Kelaparan Anak-Anak Gaza

Juni 16, 2026
Materi Khutbah Jumat: Menyambut Kemenangan Al-Aqsha dengan Semua Pengorbanan

Materi Khutbah Jumat: Menyambut Kemenangan Al-Aqsha dengan Semua Pengorbanan

Juni 16, 2026

Sebuah kutipan dari surat yang ditulis oleh PV Chuckravarty, mantan Ketua Pengadilan Tinggi Calcutta, pada 30 Maret 1976, tersedia secara luas di berbagai publikasi, termasuk Wikipedia, berbunyi sebagai berikut: “Ketika saya bertindak sebagai Gubernur Benggala Barat pada tahun 1956, Tuhan Clement Attlee, yang sebagai Perdana Menteri Inggris di tahun-tahun pasca perang bertanggung jawab atas kebebasan India, mengunjungi India dan tinggal di Raj Bhavan Calcutta selama dua hari`85 Saya katakan langsung kepadanya seperti ini: ‘Gerakan India Keluar dari Gandhi praktis mati keluar jauh sebelum tahun 1947 dan tidak ada dalam situasi India pada waktu itu, yang mengharuskan Inggris untuk meninggalkan India dengan tergesa-gesa. Lalu mengapa mereka melakukannya? ‘ Sebagai balasan, Attlee mengutip beberapa alasan, yang paling penting adalah kegiatan INA dari Netaji Subhas Chandra Bose, yang melemahkan fondasi Kerajaan Inggris di India, dan Pemberontakan RIN yang membuat Inggris menyadari bahwa angkatan bersenjata India tidak lagi dapat dipercaya untuk menopang Inggris. Ketika ditanya tentang sejauh mana keputusan Inggris untuk berhenti dari India dipengaruhi oleh gerakan Mahatma Gandhi tahun 1942, bibir Attlee melebar dengan senyum jijik dan dia mengucapkan, perlahan, ‘minimal’. ”

Tentara Nasional India, 1943-45 (INA) dan pemberontakan Angkatan Laut tahun 1946

Keberhasilan awal tentara Jepang menghancurkan mitos tak terkalahkan Eropa. Banyak pemimpin terkemuka di Asia, seperti Sukarno dari Indonesia, melihat dalam keberhasilan awal ini sinar harapan untuk pembebasan negara mereka sendiri dari kolonialisme yang mengakar.

Pada tahun 1941 dan 1942, pasukan Jepang maju dengan cepat melalui Asia Timur dan menyerbu petak besar Tiongkok serta koloni Inggris di Hong Kong, Singapura dan Malaya. Ribuan tentara India yang ditempatkan di koloni-koloni ini sebagai bagian dari garnisun Inggris ditangkap. Di Malaya saja, sekitar 70.000 tentara India harus menyerah. Serangan Jepang terus berlanjut dan mengakibatkan penangkapan koloni Amerika di Filipina serta koloni Belanda di Indonesia.

Many of the soldiers felt as did some Asian leaders that the Europeans would not voluntarily relinquish their Asian colonies and had to be forced out. An opportunity for Asia presented itself when the Japanese started to recruit Asian soldiers from the territories they had overrun. Thus was born the INA, out of a combination of a burning desire of stalwart young Indian soldiers to free their county and the Japanese recruitment efforts to bolster their war effort. It was also called the Azad Hind Fauj.

The first INA was formed in 1942 under the leadership of Captain Mohan Singh. But it was not until April 1942, when Subash Chandra Bose, fondly referred to in India as Netaji, assumed the leadership of the INA that the movement took off. Bose was a dynamic leader, a former President of the Indian National Congress with a mass following at home and global stature abroad. His presence electrified the INA. In addition to Indian troops, thousands of expatriates in South East Asia also joined the newly formed national army.

Prior to partition, the British Indian Army was largely recruited from the region between Delhi and Peshawar, an area with a heavy concentration of Muslims. This was as much a reflection of the political conditions in the various provinces of India at the time as it was a legacy from history. While most of India was reeling under the non-cooperation movement, the Punjab under the Unionist party was supportive of the war effort. Consequently, somewhere between 35 and 40 percent of the British Indian Army was Muslim. This composition was also reflected in the soldiers who surrendered to the Japanese in Malaya, Singapore, Hong Kong and later in Burma.

Bose recruited the best available officers for key positions. Noteworthy among those who served in the INA were Lt. Col. Shah Nawaz Khan, Chief of General Staff, Major Habibur Rahman commandant of the Officers Training School, Captain Malik Munawar Khan Awan, Col. Inayat Kiani commandant of the 2nd guerilla brigade, and Col. Abdul Aziz Tajik, commander of the 2nd division during the Imphal (Assam) offensive. A women’s wing, the Rani of Jhansi Brigade was formed under the command of Captain Lakshmi Sahgal. The total strength of the INA in 1945 stood at 40,000 among whom were thousands of Muslim soldiers and officers who served with zeal and dedication.

Short of supplies and hammered by American air power, the INA fought on and suffered enormous casualties. As the Japanese offensive fizzled out, the INA withdrew through the jungles of Burma with thousands more falling due to fatigue, exhaustion and disease.

After the surrender of Japan in August 1945, the INA was disbanded and some of its leaders were put on trial.. Noteworthy among them were Major General Shah Nawaz Khan, Colonel Prem Sehgal and Col. Gurubakh Singh Dhillon. They were accused of treason and abetting the atrocities committed by the Japanese armies in China and Indonesia The court martial of these three officers in Red Fort, Delhi attracted wide publicity in India. None other than Pandit Jawarhalal Nehru himself led the defense team of these stalwarts. There were widespread demonstrations all across India in support of the officers who were hailed as revolutionaries and patriots. The INA had galvanized India as no other movement had done before.

Energi nasionalis terpendam yang dilepaskan oleh INA memanifestasikan dirinya dengan kekuatan penuh dalam pemberontakan angkatan laut India pada bulan Februari 1946. Apa yang dimulai sebagai keluhan terhadap makanan yang disajikan di kafetaria dengan cepat menjamur menjadi boikot skala penuh dan kemudian menjadi pemberontakan. Yang pertama mogok adalah para pelaut di atas kapal HMIS Hindustan di Karachi. Dengan cepat menyebar ke HMIS Talwar di Bombay dan kapal-kapal yang ditempatkan di Cochin, Vizagpatnam, Madras dan Calcutta. Pemogokan menangkap imajinasi dari populasi yang sudah dipecat oleh eksploitasi INA dan Subash Chandra Bose. Tricolour diangkat di sebagian besar kapal dan instalasi angkatan laut. Personel tentara di Pune dan barak lainnya bergabung dengan pemberontakan.

Harus dicatat bahwa pemberontakan itu dipandang dengan tidak senang oleh partai-partai politik utama termasuk Kongres Nasional India dan Liga Muslim. Apakah mereka khawatir bahwa pemberontakan bersenjata akan menyebabkan kehancuran hukum dan ketertiban dan pada akhirnya mengarah pada intervensi internasional? Apakah mereka khawatir akan kehilangan kendali atas peristiwa Pemberontakan yang bergerak cepat? Sejarawan dapat berdebat tentang masalah ini tanpa akhir.

Bereft dukungan politik, pemberontakan mereda dalam beberapa hari tetapi tidak sebelum menunjukkan kepada Inggris bahwa cengkeraman mereka pada angkatan bersenjata India tergelincir. Kerajaan Inggris adalah perusahaan raksasa yang dipegang oleh tentara India dan pegawai negeri India. Inggris tidak bisa lagi mengandalkan tentara India sebagai mitra yang dapat diandalkan dalam menjaga massa India. Inggris kelelahan setelah perang Hitler. Itu tidak punya uang dan harus meminjam banyak dari Amerika. Pasukan India yang tidak dapat diandalkan akan berarti bahwa Inggris harus mempertahankan pasukan besar di India untuk menjaga India di Teluk. Inggris sedang demobilisasi dan tidak punya uang. Ini adalah alasan yang menyebabkan keputusan mereka untuk keluar dari India, dan melakukannya dengan tergesa-gesa.

Kerajaan Inggris tanpa tentara India seperti singa yang kehilangan cakarnya. Ini paling jelas selama krisis Suez tahun 1956. Inggris (bersama dengan Perancis dan Israel) menduduki Terusan Suez di Mesir tetapi dipaksa untuk menarik diri di bawah tekanan Amerika.

Ini bukan untuk mengurangi pentingnya gerakan non-kerjasama Gandhi dalam perjuangan kemerdekaan India. Memang, peristiwa tahun 1946 menyoroti prestasi Gandhi. Apa yang dilakukan Gandhi adalah membuat India sadar akan dirinya sendiri. India yang sadar diri merespons eksploitasi INA selama Perang Dunia Kedua dan pemberontakan RIN tahun 1946 dengan energi dan antusiasme yang memaksa Inggris untuk meninggalkan India. Ini secara efektif menarik tirai Kerajaan Inggris yang telah mendominasi dunia selama dua ratus tahun.

Singkatnya, Gandhi membuat India sadar diri. INA, di mana kaum Muslim Punjab memiliki posisi dominan, meyakinkan Inggris untuk melepaskan kerajaan India mereka dan pergi.

Beberapa sejarawan berusaha membandingkan Gandhi dengan Jinnah. Keduanya adalah pemimpin dari sejenisnya dan perbandingan antara keduanya adalah seperti membandingkan apel dan jeruk. Dalam tinjauan sejarah, Gandhi lebih dekat ke Iqbal daripada Jinnah meskipun metode mereka sama sekali berbeda. Iqbal adalah seorang penyair filsuf yang membuat orang-orang Muslim di India sadar diri. Gandhi memiliki filosofi sendiri dan seorang aktivis pasif yang sangat efektif. Gerakan non-kooperasinya memberi energi pada sebagian besar populasi India. Jinnah, di sisi lain, adalah seorang konstitusionalis yang ketat. Gandhi mengubah India. Iqbal mengubah umat Islam di India. Jinnah mencapai Pakistan. Ketiganya berdampak jauh di luar wilayah Asia Selatan. Namun, tidak satu pun dari mereka dapat dikatakan memiliki dampak yang menentukan terhadap keputusan Inggris untuk meninggalkan India ketika mereka melakukannya. Kredit itu harus menjadi milik INA.

Perang Pertama Kemerdekaan India (1857)

Pemberontakan tahun 1857 telah menjadi subyek banyak buku, artikel, dan analisis. Apa yang mengejutkan tentang pemberontakan itu bukan karena terjadi pada tahun 1857 tetapi butuh waktu lama untuk itu terjadi. British East India Company datang ke India untuk berdagang. Kemudian, ketika Kekaisaran Mogul hancur, mereka mulai ikut campur dalam urusan India. Setelah memenangkan perjuangan yang berlarut-larut dengan Prancis untuk supremasi di India Selatan, Inggris memiliki bidang yang jelas untuk aspirasi politik mereka. Kemenangan pertama mereka datang dengan Pertempuran Plassey yang bersejarah di Bengal (1757). Sebagai acara militer, itu hanya pertempuran kecil. Dalam dampak politisnya, itu adalah peristiwa penting dalam sejarah dunia, sebuah sendi di mana nasib Asia berputar, sebuah tonggak sejarah yang mengubah sejarah dunia.

East India Company memiliki rasa kekayaan nyata di Bengal. Segera, mereka beralih dari perdagangan untuk menjarah. Kemenangan di pertempuran Buxor (1764) membawa mereka kendali finansial total atas Bengal, Bihar, dan UP Timur. Ini mereka jalankan dengan rapacity hanya cocok dengan keserakahan untuk keuntungan dari para pemangku kepentingan Perusahaan di London. Episode yang terkenal tentang bagaimana Gubernur Jenderal Warren Hastings membuat kelaparan Begum Oudh dan memaksa mereka untuk berpisah dengan perhiasan mereka sekarang adalah sejarah kuno. Para petani Bengal berubah dari kemakmuran menjadi penury. Kain katun murah diimpor dari Inggris, dan pajak diskriminatif diberlakukan untuk mendorong para penenun Bengal dan UP timur ke dalam kemiskinan. Administrasi Maladewa menyebabkan kelaparan berturut-turut dan ribuan orang tewas di Bengal dan Bihar.

Ada perlawanan di India Selatan dari Hyder Ali dan Tipu Sultan tetapi Inggris berhasil menavigasi keseimbangan kekuasaan yang menguntungkan mereka, memikat Nizam dan Maratha untuk memihak mereka. Tipu jatuh dalam Pertempuran Srirangapatam (1799) dan emas dari perbendaharaan Tipu serta perdagangan rempah-rempah yang menguntungkan dari pantai Malabar jatuh ke tangan Inggris.

Perusahaan India Timur terus mengkonsolidasikan cengkeramannya di India dengan paksa seperti dengan perang Anglo-Maratha (1803-1818) di India Tengah dan perang Anglo-Sikh (1845-49) di Punjab. Metode lainnya adalah perampasan Rajas, Nawabs dan penguasa di bawah apa yang disebut Doktrin Lapse di mana kerajaan akan diambil alih oleh Inggris jika tidak ada ahli waris laki-laki untuk raja. Contohnya adalah kerajaan Jhansi, Satara dan Oudh.

Ketika India dan sebagian besar Asia melanjutkan penghematan politiknya pada abad ke -19, kolonialisme menikmati masa jayanya. Kesenjangan teknologi antara Asia dan Eropa terus meningkat berkat revolusi industri dan kesenjangan yang meningkat ini digunakan oleh orang Eropa untuk mengkonsolidasikan cengkeraman mereka di Asia dan Afrika. Belanda menguasai Indonesia dan Prancis membangun diri di Indo Cina. Bahkan Cina yang perkasa dipaksa untuk sujud ketika pasukan ekspedisi gabungan yang terdiri dari skuadron angkatan laut Inggris dan Prancis melesat ke Beijing dan memaksa kaisar Tiongkok menyerah dan mengizinkan penjualan opium di wilayahnya yang luas serta membuka daerah pedalaman Tiongkok untuk pengaruh asing (1839-60).

Dorongan agregat kekuatan geopolitik mendukung Eropa. Ada kebencian yang meluas di India dan kelas-kelasnya yang berkuasa atas hilangnya kekuasaan dan meningkatnya kemiskinan berkat ketamakan Perusahaan India Timur. Ketegangan ini melekat dalam hubungan antara penjajah dan yang dijajah serta kapitalisme yang tak terkendali dari Perusahaan India Timur. Tetapi yang akhirnya memicu percikan pemberontakan adalah agama. Peningkatan kekayaan memiringkan keseimbangan kekuasaan di Eropa menuju Protestan Utara (Inggris, Belanda, Jerman) dan jauh dari Selatan Katolik. Ada kebangkitan Protestan dan dampaknya terasa sejauh India dan Cina. Apa yang tampaknya telah memicu percikan pemberontakan di India tampaknya adalah meningkatnya agresivitas para pendeta Protestan untuk memberitakan iman mereka di India.

“Untuk makan babi dan minum anggur, menggigit cartridge yang dilumuri lemak dan untuk mencampur lemak babi dengan manisan, untuk menghancurkan kuil-kuil Hindu dan Mussalman dengan berpura-pura membuat jalan, membangun gereja, mengirim pendeta ke jalan-jalan untuk memberitakan agama Kristen, untuk melembagakan Sekolah-sekolah bahasa Inggris, dan membayar orang gaji bulanan untuk mempelajari ilmu-ilmu bahasa Inggris, sementara tempat-tempat ibadah umat Hindu dan Mussalman hingga hari ini sepenuhnya diabaikan; dengan semua ini, bagaimana orang bisa percaya bahwa agama tidak akan diganggu?

Dokumen sejarah ini memberikan salah satu dari sedikit wawasan langsung tentang apa yang mendorong kelas penguasa India untuk mengangkat senjata melawan Inggris.

Pemberontakan dimulai dari Meerat dan menyebar dengan cepat melalui Lucknow, Kanpur, Barielly, Jaunpur, Gwalior, Agra, Bulandsher, Bijnor, Jhelum dan Sialkot. Banyak pria dan wanita gagah yang bertempur dalam Perang Kemerdekaan Pertama itu dan menyerahkan nyawa mereka. Di sini kita secara singkat menyoroti nama-nama beberapa pahlawan perang itu.

Begum Hazrat Mahal dari Oudh adalah istri Nawab Wajid Ali Shah. Pada pemberontakan tahun 1857, setelah Wajid Ali Shah diasingkan ke Calcutta oleh Inggris, ia dan para pendukungnya yang dipimpin oleh Raja Jailal Singh mengambil kendali atas Lucknow dan mengusir orang-orang Eropa. Ketika Inggris merebut kembali Lucknow, ia bergabung dengan Nana Saheb dan menjadikan Shahjehanpur markasnya. Dia menahan Inggris di teluk selama lebih dari setahun tetapi akhirnya terpaksa mundur dan mencari perlindungan di Nepal di mana dia meninggal pada tahun 1879.

Molvi Ahmedulla dari Faizabad adalah seorang prajurit, seorang patriot, yang melawan Inggris dengan gagah berani dan memenangkan pujian dari lawan-lawannya karena keberanian, kesopanan dan kode kehormatan. Salah satu perwira Inggris, Kolonel GB Malleson, menulis ini tentang Molvi, “Molvi adalah orang yang sangat luar biasa. Dari kapasitasnya sebagai pemimpin militer, banyak bukti diberikan selama pemberontakan. Tidak ada orang lain yang bisa menyombongkan diri bahwa dia telah dua kali menggagalkan Sir Colin Campbell (pahlawan Perang Krimea) di lapangan. ”Molvi adalah seorang Shaikh dari Ordo Qadariya Sufi. Dia tiba di Lucknow pada 1856 dan salah satu yang pertama berkhotbah tentang perjuangan melawan Inggris, melakukan perjalanan jauh dan luas, seperti halnya faqir lainnya, ke Agra, Aligarh, Lucknow, dan Faizabad. Dengan banyak pengikut, ia mengambil kendali atas Faizabad. Dia kemudian melanjutkan ke Lucknow di mana dia bergabung dengan Birjis Qader, Vali of Lucknow. Setelah kejatuhan Lucknow, ia melanjutkan perjuangan dari Muhammadi sebagai penguasa otonom tetapi dibunuh oleh seorang pemberontak di Pawayan.

Bakht Khan, diangkat sebagai Panglima Tertinggi pasukan Mughal oleh Bahadur Shah Zafar, kaisar Mogul terakhir. Seorang prajurit dan administrator yang cakap, Bakht Khan membantu kaisar dalam administrasi militer dan sipil. Ketika Delhi jatuh dan Bhadur Shah ditangkap, Bakht Khan melarikan diri dan terus berjuang sampai dia terbunuh pada tahap-tahap Pemberontakan selanjutnya.

Rae Ahmed Nawaz Khan Kharal adalah kepala suku Khurrul di Punjab Barat. Pada bulan September 1858, ia memimpin Pemberontakan melawan Inggris di distrik Neeli. Setelah beberapa keberhasilan awal, Rae Ahmed berbaring dalam hidup dalam pertempuran dengan kontingen kavaleri Punjab Inggris.

Nama-nama Begum Hazrat Mahal, Molvi Ahmedulla, Komandan Bakht Khan dan Rae Ahmed berdiri tinggi bersama dengan nama-nama pahlawan yang lebih dikenal dari Perang Kemerdekaan Pertama (1858-59) seperti Bahadur Shah Zafar, Jhansi Ki Rani, Tantya Tope dan Nana Saheb.

Perang Kemerdekaan Pertama dihancurkan dan akibatnya brutal. Beberapa alasan dapat dikemukakan mengapa itu tidak berhasil. Pertama, usaha besar seperti perang pembebasan nasional membutuhkan fokus nasional dan pemimpin besar. Ini tidak ada. Sementara beberapa dipecat oleh semangat keagamaan seperti Maulvi Ahmadulla, yang lain berjuang untuk hak istimewa yang dirampas oleh Inggris. Bahadur Shah Zafar adalah orang tua, penguasa yang lemah dan jelas tidak memiliki keterampilan yang dibutuhkan untuk memimpin Pemberontakan nasional. Kedua, perjuangan itu terbatas pada sebagian kecil dari India, terutama, Rajasthan dan Uttar Pradesh. Banyak raja dan nawab tetap menyendiri atau mendukung Inggris. Yang menonjol di antara mereka adalah Nizam dari Hyderabad, Rajas Bikaneer dan Kashmir serta Sikh di Punjab. Bengal dan Selatan sebagian besar tenang.

Bahkan di pusat-pusat Pemberontakan seperti Lucknow ada ketegangan internal antara Syiah dan Sunni. Ketiga, sangat sedikit koordinasi di antara para pemimpin Pemberontakan. Inggris jelas memiliki keunggulan teknologi. Telegraf yang baru saja diperkenalkan ke India memungkinkan mereka untuk menjaga komunikasi yang efektif. Terakhir, pada 1857, Kerajaan Inggris didirikan dengan baik dan angkatan laut Inggris menguasai lautan dunia. Mereka mampu menarik bala bantuan dari jauh seperti Inggris dan Australia. Terakhir, dari sudut pandang global, Pemberontakan India menandai napas terakhir dari Era Prajurit, raja dan raja. Ini menandai awal Zaman Merchant dan Bankir. hanya ada sedikit koordinasi di antara para pemimpin Pemberontakan. Inggris jelas memiliki keunggulan teknologi. Telegraf yang baru saja diperkenalkan ke India memungkinkan mereka untuk menjaga komunikasi yang efektif. Terakhir, pada 1857, Kerajaan Inggris didirikan dengan baik dan angkatan laut Inggris menguasai lautan dunia. Mereka mampu menarik bala bantuan dari jauh seperti Inggris dan Australia. Terakhir, dari sudut pandang global, Pemberontakan India menandai napas terakhir dari Era Prajurit, raja dan raja. Ini menandai awal Zaman Merchant dan Bankir. hanya ada sedikit koordinasi di antara para pemimpin Pemberontakan. Inggris jelas memiliki keunggulan teknologi. Telegraf yang baru saja diperkenalkan ke India memungkinkan mereka untuk menjaga komunikasi yang efektif. Terakhir, pada 1857, Kerajaan Inggris didirikan dengan baik dan angkatan laut Inggris menguasai lautan dunia. Mereka mampu menarik bala bantuan dari jauh seperti Inggris dan Australia. Terakhir, dari sudut pandang global, Pemberontakan India menandai napas terakhir dari Era Prajurit, raja dan raja. Ini menandai awal Zaman Merchant dan Bankir. Kerajaan Inggris sudah mapan dan angkatan laut Inggris menguasai lautan dunia. Mereka mampu menarik bala bantuan dari jauh seperti Inggris dan Australia.

Terakhir, dari sudut pandang global, Pemberontakan India menandai napas terakhir dari Era Prajurit, raja dan raja. Ini menandai awal Zaman Merchant dan Bankir. Kerajaan Inggris sudah mapan dan angkatan laut Inggris menguasai lautan dunia. Mereka mampu menarik bala bantuan dari jauh seperti Inggris dan Australia. Terakhir, dari sudut pandang global, Pemberontakan India menandai napas terakhir dari Era Prajurit, raja dan raja. Ini menandai awal Zaman Merchant dan Bankir.

**********

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Sumber: Islam Story
Pengawas Umum: Syaikh Prof. Dr. Raghib As-Sirjani

Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

_______________________________

@Yuk Dukung MUJAHID DAKWAH dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH (0719501842) An. Akbar
  • KONFIRMASI DONASI hubungi : 0852-9852-7223
🖥 DONASI MUJAHID DAKWAH MEDIA

Baca Selengkapnya : https://mujahiddakwah.com/2018/09/donasi-mujahid-dakwah-media

Tags: MozaikSejarah IslamSejarah Islam di IndiaSejarah Peradaban IslamSyaikh Prof. Dr. Raghib As-Sirjani
587
SHARES
3.3k
VIEWS
Share on WhatsApp
Previous Post

Kecam Serangan Zionis Israel, PD LIDMI Banggai Gelar Aksi Solidaritas untuk Palestina

Next Post

Dosa-Dosa yang Dianggap Biasa (Bag. 38): Memakan Harta Haram

Muh Akbar

Muh Akbar

Muhammad Akbar adalah Jurnalis Mujahid Dakwah, Founder Daar Al-Qalam, Pengurus Persaudaraan Jurnalis Muslim Indonesia (PJMI), Aktivis Komite Solidaritas Palestina, Member of Ummah International & Saladin Comunity.

    LIBERATION OF AL AQSA

    Membangun Kebersamaan dan Persatuan, Bukan Kesamaan dan Keseragaman
    BAITUL MAQDIS

    Membangun Kebersamaan dan Persatuan, Bukan Kesamaan dan Keseragaman

    Juni 23, 2026
    Di Balik Tenda Gaza, Anak-Anak Berperang Melawan Kudis, Demam dan Kelaparan
    BAITUL MAQDIS

    Di Balik Tenda Gaza, Anak-Anak Berperang Melawan Kudis, Demam dan Kelaparan

    Juni 17, 2026
    Satu Bentuk Dua Makna: Saat Dunia Merayakan Hiburan dan Gaza Bertaruh Nyawa
    BAITUL MAQDIS

    Satu Bentuk Dua Makna: Saat Dunia Merayakan Hiburan dan Gaza Bertaruh Nyawa

    Juni 16, 2026
    Malam Solidaritas Gaza, GPCI Ajak Media dan Profesional Perkuat Narasi Pembebasan Palestina
    BAITUL MAQDIS

    Malam Solidaritas Gaza, GPCI Ajak Media dan Profesional Perkuat Narasi Pembebasan Palestina

    Mei 23, 2026

    Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    ADVERTISEMENT

    PILIHAN EDITOR

    Menolak Normalisasi LGBT, Menjaga Integritas Moral dan Akademik Kampus
    Feminisme

    Menolak Normalisasi LGBT, Menjaga Integritas Moral dan Akademik Kampus

    by Muh Ikram
    Juni 17, 2026
    Tahun Baru Hijriyah: Membangun Kemandirian Ummat
    Kolom

    Tahun Baru Hijriyah: Membangun Kemandirian Ummat

    by Wahyuni
    Juni 16, 2026
    Genosida Gaza Tak Kunjung Henti: Debu, Darah dan Doa
    KABAR DUNIA

    Genosida Gaza Tak Kunjung Henti: Debu, Darah dan Doa

    by Muh Akbar
    Mei 13, 2026
    Tunjukkan Solidaritas, Yamine Yamal Kibarkan Bendera Palestina di Perayaan Barca Juara Liga Spanyol
    KABAR DUNIA

    Tunjukkan Solidaritas, Yamine Yamal Kibarkan Bendera Palestina di Perayaan Barca Juara Liga Spanyol

    by Muh Akbar
    Mei 13, 2026
    Krisis Reputasi Zionis Israel di Amerika Semakin Buruk
    PILIHAN EDITOR

    Krisis Reputasi Zionis Israel di Amerika Semakin Buruk

    by Muh Akbar
    April 25, 2026
    Imam Shamsi Ali: Indonesia Berutang Budi kepada Pak Jusuf Kalla
    PILIHAN EDITOR

    Imam Shamsi Ali: Indonesia Berutang Budi kepada Pak Jusuf Kalla

    by Muh Akbar
    April 22, 2026

    MATERI KHUTBAH JUMAT

    Materi Khutbah Jumat Palestina: Penutupan Masjid Al-Aqsa, Masjid Suci Tanpa Ibadah
    KALAM

    Materi Khutbah Jumat Palestina: Penutupan Masjid Al-Aqsa, Masjid Suci Tanpa Ibadah

    Juni 16, 2026
    Materi Khutbah Jumat Palestina: Refleksi Kemerdekaan Indonesia untuk Palestina
    KALAM

    Materi Khutbah Jumat Palestina: Refleksi Kemerdekaan Indonesia untuk Palestina

    Juni 16, 2026
    KALAM

    Materi Khutbah Jumat Palestina: Rasa Kenyang Kita dan Jeritan Kelaparan Anak-Anak Gaza

    Juni 16, 2026
    Materi Khutbah Jumat: Menyambut Kemenangan Al-Aqsha dengan Semua Pengorbanan
    KALAM

    Materi Khutbah Jumat: Menyambut Kemenangan Al-Aqsha dengan Semua Pengorbanan

    Juni 16, 2026
    Materi Khutbah Jumat: Generasi Shalahuddin Pembebas Al-Aqsa dari Penjajahan Tentara Salib
    KALAM

    Materi Khutbah Jumat: Generasi Shalahuddin Pembebas Al-Aqsa dari Penjajahan Tentara Salib

    Juni 16, 2026
    Materi Khutbah Jumat Palestina: Gaza Kelaparan, Tanggung Jawab Kita
    Khutbah Jum'at

    Materi Khutbah Jumat Palestina: Gaza Kelaparan, Tanggung Jawab Kita

    Juni 16, 2026
    Load More


    POPULAR POST

    • Biografi Sejarawan Islam Prof. Dr. Ali Muhammad Ash Shalabi

      Biografi Sejarawan Islam Prof. Dr. Ali Muhammad Ash Shalabi

      1639 shares
      Share 656 Tweet 410
    • Waspada! Gerakan LGBT di Lingkup Kampus Berkedok Jumat Berbagi di Makassar

      1074 shares
      Share 430 Tweet 269
    • Perbedaan Antara Al-Quran, Hadits Qudsi dan Hadits Nabawi

      899 shares
      Share 360 Tweet 225
    • Innalillah, Pemimpin Hamas Ismail Haniyah Syahid Akibat Serangan Teroris Israel di Teheran

      871 shares
      Share 348 Tweet 218
    • Santri Asal Bantaeng Jadi Wisudawan Terbaik di Madrasah Tahfidz Qur’an Markaz Imam Malik Angkatan ke V

      812 shares
      Share 325 Tweet 203

    PALESTINA TERKINI

    Siswi 18 Tahun Tewas dalam Serangan Israel saat Menuju Lokasi Ujian Akhir di Gaza City

    Siswi 18 Tahun Tewas dalam Serangan Israel saat Menuju Lokasi Ujian Akhir di Gaza City

    Juni 23, 2026
    Penjajah Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera Ahmed Wishah dalam Serangan Udara ke Kamp Bureij Gaza

    Penjajah Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera Ahmed Wishah dalam Serangan Udara ke Kamp Bureij Gaza

    Juni 21, 2026
    Ketua MUI Bidang Ukhuwah: Donald Trump dan Pemimpin Negara yang Setujui Gencatan Senjata Bertanggung Jawab Hentikan Genosida di Gaza

    Ketua MUI Bidang Ukhuwah: Donald Trump dan Pemimpin Negara yang Setujui Gencatan Senjata Bertanggung Jawab Hentikan Genosida di Gaza

    Juni 18, 2026
    Google Dukung Genosida di Gaza, Mahasiswa Stanford Walk Out dan Teriakkan ‘Free Palestine’ Saat Sundar Pichai Pidato

    Google Dukung Genosida di Gaza, Mahasiswa Stanford Walk Out dan Teriakkan ‘Free Palestine’ Saat Sundar Pichai Pidato

    Juni 16, 2026
    Satu Bentuk Dua Makna: Saat Dunia Merayakan Hiburan dan Gaza Bertaruh Nyawa

    Satu Bentuk Dua Makna: Saat Dunia Merayakan Hiburan dan Gaza Bertaruh Nyawa

    Juni 16, 2026
    Tenda Pendidikan Jadi Perlawanan Warga Gaza Lawan Hegemoni Israel

    Tenda Pendidikan Jadi Perlawanan Warga Gaza Lawan Hegemoni Israel

    Juni 16, 2026
    Alami Penyiksaan dan Isolasi Ketat di Penjara Nafha, Dr Hussam Abu Safiya Dirantai Israel Saat Hadapi Sidang

    Alami Penyiksaan dan Isolasi Ketat di Penjara Nafha, Dr Hussam Abu Safiya Dirantai Israel Saat Hadapi Sidang

    Juni 16, 2026
    Empat Hari di Penjara Israel: Relawan Sumud Flotilla Ceritakan Siksaan dan Pelajaran Terbesar Hidupnya di IAI STIBA Makassar

    Empat Hari di Penjara Israel: Relawan Sumud Flotilla Ceritakan Siksaan dan Pelajaran Terbesar Hidupnya di IAI STIBA Makassar

    Juni 16, 2026
    Meski Dihadang Zionis, 50 Ribu Jamaah Hadiri Salat Jumat di Aqsha

    Meski Dihadang Zionis, 50 Ribu Jamaah Hadiri Salat Jumat di Aqsha

    Juni 16, 2026
    Presiden Prabowo Ajak Negara D-8 Dukung Perekonomian Palestina

    Presiden Prabowo Ajak Negara D-8 Dukung Perekonomian Palestina

    Juni 16, 2026

    Follow Instagram Mujahid Dakwah

    • 🍉 AL AQSHA TANPA PENJAGA Pengetatan terhadap akses para petugas penjaga Al Aqsha oleh pihak penjajah. Ada peringatan serius mengenai upaya mengosongkan Masjid Al-Aqsa dan membatasi kewenangan lembaga wakaf Islam, di tengah tindakan yang disengaja untuk mengisolasi para penjaga masjid serta menjauhkan mereka dari tugas mereka. Semoga Al-Aqsa segera merdeka dari tangan-tangan kotor Zi0nis... #masjidalaqsa #baitulmaqdis #palestina #islam #masjid
    • Hari Jumat adalah hari terbaik yang dipenuhi keberkahan dan kemuliaan. Di hari ini, Rasulullah ﷺ menganjurkan umatnya untuk memperbanyak shalawat. Sebab shalawat bukan sekadar rangkaian kata yang terucap di lisan, tetapi bukti cinta kepada manusia terbaik yang telah membawa kita dari kegelapan menuju cahaya Islam. Betapa sering kita mengingat orang-orang yang kita cintai. Namun, sudahkah hari ini kita mengingat Nabi Muhammad ﷺ yang begitu mencintai umatnya? Mari luangkan waktu sejenak. Hentikan kesibukan, tenangkan hati, lalu perbanyak shalawat. Semoga setiap shalawat yang kita lantunkan, menjadi jalan untuk mendapatkan syafaat Rasulullah ﷺ kelak di hari kiamat. Di hari yang mulia ini pula, saat lisan kita bershalawat, jangan lupakan Al-Aqsa dalam munajat kita. Sebab di sana ada saudara-saudara kita yang menjaga tanah yang diberkahi dengan air mata, kesabaran, dan pengorbanan. Semoga setiap doa menjadi sebab terjaganya Masjid Al-Aqsa serta terbebaskannya Palestina. _Aamin ya Rabbal Alamin_ 🤲🤲🤲 اللهم صل وسلم على نبينا محمد اللهم احفظ الأقصى وانصر أهل فلسطين 🤍 #jumat #shalawat #cintarasulullahﷺ #masjidalaqsa #baitulmaqdis
    • Gerakan normalisasi LGBT adalah ancaman serius terhadap keutuhan keluarga dan tatanan masyarakat. MUI sendiri menilai, ini adalah panggilan moral yang tak bisa lagi diabaikan, demi menjaga martabat kemanusiaan dan peradaban bangsa.  Berlandaskan Fatwa Nomor 57 Tahun 2014, Majelis Ulama Indonesia (MUI) @muipusat menegaskan bahwa orientasi seksual sesama jenis bukanlah kodrat permanen, melainkan kelainan yang bisa disembuhkan secara medis, psikologis, dan spiritual.  Guna menjaga nilai luhur kemanusiaan, MUI mendorong pemerintah menerapkan langkah komprehensif, yakni penegakan hukum yang tegas terhadap kampanye aktivitas tersebut, sekaligus penyediaan layanan rehabilitasi yang memadai untuk merangkul dan memulihkan mereka yang terdampak.  #lgbt #nasional #indonesia #mui #tolaklgbt
    • BIADAB! MANUSIA TERLAKNAT! HARUS SEGERA DITANGKAP! HUKUM MATI! Harus ada efek jera ... Bayangkan kalo ini terjadi pada putri , Istri atau adik anda? Semua kita BERGERAK CARI TAUFIK HIDAYAT INI HIDUP/MATI. Semoga gakda lagi berita yang merusak murani manusia, siapapun kita pasti melaknat pelakunya! Izin Repost Kiyai @fatihkarim #indonesia #fatihkarim #nasional
    • Biadab! Para pemukim Y4hudi kembali melakukan ritual Talmud di pelataran Masjid Al-Aqsa pagi ini, Selasa (23/6). Pelecahan terhadap Masjidil Al-Aqsa terus berlangsung dan di kawal langsung oleh pasukan Zi0nis Isr4el. Kemana Ummat Islam yang berjumlah 2 milliar, 1 Masjid Al-Aqsa pun tak mampu kita jaga. Kita tak boleh diam, melihat masjid suci kita terus di kotori dan lecehkan... Jika luka Al-Aqsa tak lagi menggucang hati, bisa jadi nurani dan jiwa kita telah lama mati. Bangkitlah Umat Islam.. Bebaskan Tanah Sucimu.. #masjidalaqsa #baitulmaqdis #palestina #freepalestine🇵🇸 #islam
    Next Post

    Dosa-Dosa yang Dianggap Biasa (Bag. 29): Judi Dengan Segala Bentuk dan Ragamnya

    Mujahid Dakwah adalah Porta media Islam Indonesia dengan visinya menebar cahaya Islam, menginspirasi dan menyuarakan kebenaran. Memuat seputar artikel Islam, kolom, opini, sejarah dan peradaban, berita dunia Islam, Indonesian news. Serta menjadi pusat aspirasi dan literasi keilmuan dalam Pembebasan Masjidil Aqsa dan Baitul Maqdis.

    All Right Reserved ©2018-2026 / Web Design By Mubarak Group Indonesia

    • Tentang Kami
    • Kontak Kami
    • Disclaimer
    • Pedoman Media Siber
    • Kirim Tulisan

    Welcome Back!

    Login to your account below

    Forgotten Password? Sign Up

    Create New Account!

    Fill the forms below to register

    All fields are required. Log In

    Retrieve your password

    Please enter your username or email address to reset your password.

    Log In

    Add New Playlist

    No Result
    View All Result
    • Landing Page
    • Buy JNews
    • Support Forum
    • Pre-sale Question
    • Contact Us

    © Copyright 2026 - Mujahid Dakwah Media