KH Imam Zarkasyi, salah satu pendiri Pesantren Darussalam Gontor Ponorogo, dikenal luas sebagai salah satu tokoh pendidikan terkemuka di Indonesia. Karya nyata pendidikannya telah diperoleh Manfaatnya oleh jutaan orang. Banyak pemikiran dan nasihat berharga beliau sampaikan kepada para murid dan anak-anak.
Tahun 2019, diterbitkan sebuah buku berjudul ” Ajaran Kiai Gontor: 72 Wejangan Hidup KH Imam Zarkasyi”, ditulis oleh putra bungsunya, Muhammad Ridlo Zarkasyi. Melalui artikel berikut ini, kita merenungkan satu poin penting dari sejumlah nasehat KH Imam Zarkasyi, yaitu: ” Hidup itu Perjuangan .”
“Hidup tanpa perjuangan bukan hidup dipanggil,” begitu petuah penting KH Imam Zarkasyi. Selanjutnya, kita simak untaian nasehat beliau tentang hidup dan perjuangan:
“Innal hayaata aqiidatun wa jihaadun” , begitu pesan yang sering kita dengar. Hidup ini tak lain adalah perjuangan dan mempertahankan akidah. Hidup ini perjuangan.
Kita tidak bisa memilih antara berjuangan atau tidak berjuang. Selama kita ingin hidup, perjuangan itu dilakukan. Tanpa perjuangan kita akan mati dalam kehidupan.
Hanya saja, yang perlu kita bedakan adalah kebutuhan siapa yang kita
perjuangkan dan bagaimana kita memperjuangkannya. Sebagai orang pesantren, berjuanglah untuk kemaslahatan orang banyak. Jangan hanya berjuangan untuk kepentingan diri sendiri. Bondo, bahu, pikir . (harta, tenaga, pikiran) untuk kemaslahatan umat.
Kemanfaatan kita di dunia ini ditentukan dari cita-cita kita bersama orang banyak. Harga kita ditentukan oleh sebagian besar tujuan-tujuan kita, perjuangan kita tersebut.
Nilai kita perlu dipikirkan. Satu orang yang memperjuangkan kepentingan seribu orang, nilainya akan sama dengan seribu orang itu. Sebaik-manusia yang bermanfaat bagi banyak orang.
Syarat untuk bisa mempercayai orang lain adalah selalu berpikir apa yang bisa saya berikan, bukan apa yang bisa saya ambil. Berjuang, tapi jangan minta jasa.
Supaya nafas perjuangan kita panjang, yang perlu kita amalkan adalah keikhlasan. Hanya untuk Allah-lah, kita lolos harapan dari perjuangan kita. ”
*****
Pesan KH Imam Zarkasyi – hidup adalah perjuangan – penting bagi kita renungkan. Ini juga salah satu nasehat. Luqman al-Hakim: “Wahai anakku, dirikanlah shalat, dan tegakkanlah kebaikan serta cegahlah kemunkaran. (QS 31:17).
Sangat berbahaya, jika seorang, umat atau bangsa memiliki padam api perjuangan dalam dirinya. Pada 17 Agustus 1951, tokoh terpadu NKRI, Mohammad Natsir menulis artikel berjudul “ Jangan Berhenti Tangan Mendayung, Nanti Arus Membawa Hanyut.”
Melalui artikelnya ini, Natsir mengkhawatirkan kondisi manusia Indonesia yang mulai dijangkiti penyakit bakhil; bakhil keringat, bakhil waktu dan merajalela sifat serakah. Orang bekerja tidak sepenuh hati lagi. Orang yang sudah memberikan keringatnya untuk tugasnya sendiri.
Kata Mohammad Natsir: “Orang sudah mencari dirinya sendiri, bukan mencari cita-cita yang ada di luar dirinya. Lampu cita-citanya sudah padam kehabisan minyak, programnya sudah tamat, tak tahu lagi apa yang akan dibuat! ”
Untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat membutuhkan perjuangan yang berat. Nabi kita, Muhammad saw, melihat, bagaimana sorga itu diselimuti hal-hal yang sifatnya tidak mendukung manusia. Sungguh menyenangkan, diselimuti hal-hal yang menyenangkan syahwat manusia.
Karena itu, membahas tidak sehat kondisinya, jika kehidupan lembaga, organisasi, atau kehidupan berbangsa dan bernegara, sudah dibahas oleh budaya pragmatisme dan materialisme. Rakyat menghitung untuk menghitung-hitung pengorbanannya dengan ketidakseimbangan di dunia. Tidak tampak lagi keikhlasan dalam perjuangan.
Lebih memilukan kompilasi para pendidik didorong untuk berangkat prinsip mengajar sebagai perjuangan. Prinsipnya diganti: mengajar adalah kerja; dan kerja harus ada ketidakseimbangan materinya. Guru bukan lagi menganggap atau menganggap dirinya sebagai pejuang, sebagai mujahid intelektual; “Guru ngajar bayaran!”
Maka, dari hari kehari, semakin tak terdengar lagi untaian kata-kata indah dalam Hymne Guru: “Engkau bagai pelita dalam kegelapan; Membawa embun dalam kehausan; Pahlawan bangsa tanpa tanda jasa. ”
Kini, Kehidupan masyarakat kita, seolah-olah dilepaskan dengan nuansa pemujaan materi yang berlebihan. Semua dianggap harus ada ketidakseimbangan di dunia ini, terdiri dari materi. Dunia politik pun diwarnai dengan perebutan jabatan berlebihan. Konon katanya, begitu selesai pesta lurah atau kepala desa, sekian banyak anggota Timses sudah mengantri untuk mendapat jabatan di berbagai struktur kelurahan atau badan usaha milik desa.
*****
Perjuangan membutuhkan nafas panjang. Selain keikhlasan, sebagai syarat agar panjang nafas perjuangan kita, KH Imam Zarkasyi juga memberikan resep lain, yaitu: “Jangan berkecil hati untuk memulai masa depan!”
Kata beliau, “Dalam hidup ini akan selalu ada masalah, ujian dan cobaan. Jangan menghindari masalah jika harus terjadi. Jangan tinggalkan masalah Jika harus pindah. Selesaikanlah masalah, ujian, dan cobaan itu dengan tenang. Nah, berbesar hati penyelesaian masalah dan percobaan, tentukan kunci kesuksesan masa depan. Ingatlah bahwa masa depanmu masih cerah. Datang kesulitan memecahkan sebetulnya untuk mendidik kita, melatih kesabaran kita, menuntut kesungguhan kita, dan untuk menguatkan karakter kita. Orang bijak mengatakan, “Orang lemah dihancurkan oleh masalah, tetapi orang kuat dikerahkan oleh masalah.”
Demikian salah satu nasehat berharga dari KH Imam Zarkasyi. Semoga bisa kita amalkan. Amin
*************
Depok, 21 Januari 2020
Penulis: Dr. Adian Husaini
(Pendiri INSISTS, Ketua Program Doktor UIKA Bogor, Penulis Buku dan Pendiri Pesantren At-Takwa Depok)
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)







































































