“Kurikulum terbaik adalah guru” Demikian kata guru kami, Dr Adian Husaini. Singkat, padat namun “menyengat”. Dalam pendidikan, kurikulum memang penting. Namun, berhasil atau tidaknya kurikukum sangat bergantung pada peran guru. Dalam dunia pendidikan ada adagium yang sangat terkenal.
“al-thariqah ahammu min al-maddah, wa al-mu’allim ahammu min al-thariqah, wa ruh al-mu’allim ahammu min al-mu’allim.”
Artinya, “Metode lebih penting dari materi pelajaran, dan guru lebih penting dari metode, Dan spirit guru itu lebih penting dari gurunya.”
Jadi, guru yang dimaksud sebagai kurikukum terbaik itu bukan hanya fisiknya, tapi juga spiritnya, jiwanya. Guru yang baik bukan hanya pandai mengajar, tapi kering jiwanya. Guru yang istimewa bukan yang memiliki sederetan gelar tapi di dalam jiwanya ada penyakit seperti gila dunia, takabbur, riya’ dan sebagainya. Selain pintar (fathanah), guru yang baik juga harus beretika (al-akhlaq al-karimah) dan bisa menjadi teladan yang baik (uswah hasanah). Kalau mau jujur, syarat-syarat ini tidak mudah.
Kehadiran guru dengan kriteria di atas memang sangat menentukan hasil pendidikan. Murid itu bagaimana gurunya. Imam al-Ghazali memberi perumpamaan “Jika bendanya bengkok, bagaimana bayangannya diharapkan lurus”. Sang Imam tidak sedang ber-retorika, apalagi hanya bercanda. Penggalan kisah hidupnya telah menunjukkan bahwa al-Ghazali telah berjuang menjadi guru yang lurus agar muridnya tidak bengkok.
Saat berada pada puncak karir sebagai guru besar di Madrasah al-Nizamiyah, al-Ghazali memilih resign. Bukan karena kurang gaji atau fasilitas. Justru saat itu Sang Imam telah mendapatkan dunia yang dikejar banyak orang. Hanya saja, ada pergolakan di dalam hatinya. Seperti ada yang kurang dan belum lengkap dalam dirinya. Dari sini kita mendapat pelajaran, bahwa jika dunia bisa membuat seseorang senang, ternyata tidak otomatis membuatnya tenang.
Uzlah. Langkah ini kemudian dipilihnya. Untuk sementara waktu al-Ghazali pergi menyendiri dan melangkah jauh ke beberapa tempat, termasuk ke Kota Suci Mekkah dan Madinah. Meninggalkan keluarga yang dicintai dan murid-murid yang disayangi. Uzlahnya ini bukan karena egois dan tak peduli dengan umat. Justru dia ingin memperbaiki kondisi umat, yang diawali dengan memperbaiki dirinya dulu.
Selama pengembaraan itu al-Ghazali tidak diam sama sekali. Dia tak berhenti berpikir keras dan berjuang menyucikan jiwa. Hasil dari uzlahnya ini adalah lahirnya karya-karya monumental sepanjang masa. Salah satunya adalah Ihya’ ‘Ulumiddin. Sebuah karya monumental yang menjadi rujukan penyucian jiwa dan kebangkitan umat. Sampai waktu yang ditentukan Allah SWT, Sang Imam kembali dengan semangat jiwa yang baru. Jiwa yang lebih siap dan matang menghadapi segala tantangan dan godaan yang datang.
Langkah Sang Hujjatul Islam ini mungkin sulit diikuti. Apalagi dengan kondisi kita di zaman ini. Yang penting, semangat al-Ghazali inilah yang harus diteladani. Semangat penyucian jiwa (tazkiyatun nafs). Ada kalanya seseorang harus mundur sesaat, fokus merenung dan berpikir sebelum melangkah ke depan.
Di saat itulah dia bermujahadah untuk semakin dekat kepada Allah SWT dengan ibadah, tafakkur, dzikir dan amaliyah lainnya. Harapannya agar setelah proses tazkiyatun nafs ini selesai, dirinya menjadi pribadi yang lebih baik. Setelah itu dia bisa melanjutkan langkahnya melakukan ishlâh secara lebih luas.
Kita bukan Imam al-Ghazali. Ilmu dan amalnya jelas sulit dibandingkan. Bayna al-sama’ wa al-sumur (jauhnya seperti langit dan sumur). Tapi apa yang pernah dirasakan Sang Imam bisa juga terjadi pada kita, meski dengan kadar yang jauh berbeda. Intinya, tazkiyatun nafs itu memang kewajiban setiap insan, agar jiwa menjadi stabil, lalu melahirkan perbuatan-perbuatan yang baik, tanpa banyak berpikir dan pertimbangan. Inilah yang disebut akhlak mulia.
Ibn Miskawaih pernah menyatakan “Menembak satu titik sasaran dengan tepat lebih sulit daripada melenceng darinya. Namun mempertahankan agar selamanya tembakan itu tepat, jauh lebih sulit lagi” Ada pesan tersirat dari pernyataan ini, bahwa menjadi orang baik itu tidak mudah. Namun mempertahankan diri menjadi orang baik itu ternyata lebih susah.
Oleh karena itu harus ada mujahadah dalam rangka tazkiyatun nafs. Agar sifat-sifat tercela yang mengendap di dalam jiwa menjadi hilang, dan diganti dengan sifat-sifat yang terpuji. Inilah jalan mendaki yang harus ditempuh setiap insan, khususnya mereka yang bergelut di dunia pendidikan.
************
Penulis: Ustadz Dr. Muhammad Ardiansyah, M.Pd.I
(Pengasuh Ponpes at-Taqwa Depok, Penulis Buku dan Kontributor mujahiddakwah.com)
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)








































































