Kata psikologi sering disebut ilmu jiwa, berasal dari bahasa Yunani psyche artinya jiwa dan logos berarti ilmu. Dengan demikian psikologi dapat diartikan sebagai suatu ilmu yang mempelajari tentang jiwa seseorang atau ilmu yang mempelajari perilaku manusia, atau sebab tingkah laku manusia yang dilatarbelakangi oleh kondisi jiwa seseorang.

Dalam perspektif psikologi, raga manusia bersama jiwanya satu kesatuan yang tidak bisa dipisah saling berkaitan satu sama lain. Apa yang berjalan di dalam jiwa akan tampak pada raganya.

Tujuan utama psikologi adalah penjelasan secara ilmiah bagaimana manusia berperilaku. Psikologi ilmu yang memberikan penjelasan tentang perilaku manusia, bagaimana umumnya manusia berperilaku, bagaimana seharusnya, serta bagaimana manusia dengan karakteristik tertentu akan berperilaku sama atau berbeda pada kondisi-kondisi tertentu.

Psikologi mencoba mencari bagaimana manusia berpendapat, mengingat, mengambil kesimpulan, berstrategi, berbicara atau tidak bicara, dan lain sebagainya, semuanya mencakup tentang perasaan, pikiran, dan perilaku.

Secara abstrak, psikologi dan hukum memiliki hubungan yang tidak bisa dipisahkan. Keduanya memiliki kaitan yang erat. Psikologi hukum menyoroti hukum sebagai salah satu perwujudan dari perkembangan jiwa manusia, memepelajari perikelakuan atau sikap tindak hukum yang mungkin merupakan perwujudan dari gejala kejiwaan tertentu dan juga landasan kejiwaan dari sikap tindak tersebut.

Psikologi hukum dan hukum itu sendiri dua hal tersebut fokus pada perilaku manusia, usaha manusia dalam mengatasi, memperbaiki bahkan menyelesaikan masalahnya. Maka psikologi hukum merupakan ilmu yang mempelajari kesulitan seseorang dalam menyesuaikan aturan yang ada atau ketidakmampuan dalam mengatasi beban yang terjadi pada aturan yang ada.

Salah satu aturan dalam hukum yang sering dilanggar oleh masyarakat adalah peraturan lalu lintas sebagaimana telah diatur pada Undang-undang No 22 tahun 2009 tentang lalu lintas dan angkutan jalan.

Setiap harinya dapat kita lihat banyak masyarakat yang melanggar aturan ini baik yang sadar akan hukum maupun yand tidak sadar. Mulai dari tidak menggunakan helm, melawan arah, menorobos lampu merah, tidak membawa SIM, dan lain-lain. Bahkan sampai merenggut nyawa, hal ini tentunya terjadi karena beberapa faktor yang mempengaruhi.

Dalam agama pun aturan ini sudah ada, khususnya dalam islam juga telah di contohkan bagaiamana adab seorang muslim dalam berlalu lintas. Syekh Abdul Azis bin Fathi as-Sayyid Nada dalam Mausuu’atul Aadaab al-Islamiyah, memaparkan adab-adab berkendaraan yang perlu dipatuhi oleh seorang muslim. Salah satunya niat yang baik. Seorang muslim ketika akan berkendara harus meniatkan diri untuk mencapai tujuan yang benar.

Umar Bin Khattab radhiallahu anhu berkata : “Aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda: sesungguhnya segala amalan itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya bagi setiap orang apa yang ia niatkan. Maka barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan RasulNya, ia akan sampai pada Allah dan RasulNya. Dan barangsiapa hijrahnya menuju dunia yang akan diperolehnya atau menuju wanita yang akan dinikahinya, ia akan mendapat apa yang dituju. ( HR. Bukhari dan Muslim)

Niat menjadi hal yang paling kuat dalam sikap, perilaku, dan tindakan. Niat juga dipengaruhi oleh keyakinan terhadap norma yang ada. Niat yang baik dalam berkendara akan mengarahkan pada perilaku berkendara yang baik juga, begitupun sebaliknya.

Hal ini berkaitan dengan penjelasan mengenai psikolgi hukum atau sikap hukum yang mana reaksi setuju atau tidak setuju, positif atau negative terhadap hukum maupun agama, suka atau tidak suka dengan individu melalui kepercayaan, perasaan, dan berdampak pada tingkah laku yang dihasilkan.

Adab yang lainnya yaitu memperhatikan rambu-rambu lalu lintas. Keselamatan merupakan hal yang perlu diperhatikan. Saat berkendaraan penting untuk mengikuti aturan lalu lintas. Misalnya mengenakan sabuk pengaman, menggunakan helm bagi pengendara sepeda motor, mematuhi traffic light. Memerhatikan kelengkapan kendaraan, dan lain-lain.

Selain itu, adab seorang muslin yang sangat berpengaruh dengan jiwa seseorang yaitu berzikir ketika melewati jalan mendaki dan menurun.

Diriwayatkan dari Jabir Radiallahu Anhu, ia berkata: ‘’Apabila melewati jalan mendaki, kami bertakbir dan apabila melewati jalan menurun, kami bertasbih.’’ (HR Bukhari).

Perilaku terbentuk di dalam diri seseorang dari dua faktor utama yakni, faktor dari luar diri seseorang tersebut (faktor eksternal) dan respons merupakan faktor dalam diri seseorang (faktor internal). Faktor internal yang menentukan seseorang itu merespons dari luar adalah perhatian, pengamatan, persepsi, motivasi, fantasi, sugesti, dan sebagainya yang mencakup tentang psikologi.

Hal tersebut berkaitan dengan sikap yang merupakan kecondongan dalam bertindak, yang mana tindakan belum pasti terjadi karena sebuah sikap, karena hal itu harus diwujudkan dengan faktor-faktor yang mendukung yaitu memperhatikan psikologi atau kejiwaan kita dan juga memperhatikan adab dalam berlalu lintas.

Sebagai contoh yang bisa kita kaitkan antara kedual hal ini yaitu seorang muslim yang patuh dengan rambu lalu lintas, tidak menorobos lampu merah, tidak melawan arah, meskipun dalam kondisi sedang terburu-buru karena ada pertemuan penting yang akan dihadiri.

Karena situasi yang berkaitan dengan keperluan individu yang berlawanan terhadap hukum akan tetap komitmen dengan aturan hukum karena didasari dengan perilaku dan adab yang baik.

**********

Penulis: Nur Iftah Irnawati, SH
(Alumni Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin)

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

Tinggalkan Balasan