“…ad-diin secara bahasa yaitu pertama A: bermakna tidak Gamma bermakna rusak digabung Agama tidak rusak kedua danahu yang ketiga dana lahu yang keempat dana bisyai’i yang kelima Dainun bermakna hutang..”

Agama Definisi dan Konsekuensi

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Agama mempunyai definisi yaitu ‘prinsip kepercayaan kepada Tuhan dengan aturan-aturan syariat tertentu’[1]. Dalam penjabarannya, agama adalah sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa serta tata kaidah Yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta manusia dengan lingkungannya .

Banyaknya ragam definisi tentang Agama dalam perkembangan zaman ini  berimplikasi pada makna yang beragam pula. Lebih dari itu, definisi-definisi tersebut juga seringkali mengaburkan makna dari agama itu sendiri[2]. Terlepas dari itu, definisi agama mempunyai substansi yang selaras pada titik temunya yaitu “menghamba, menyerah dan patuh.”

Ragam Definisi Agama dalam Pendekatan Antropologis-Sosiologis

Makna agama sendiri bisa berbeda karena mempunyai beberapa faktor diantaranya seperti pendapat Mukti Ali yang dikutip oleh Adon Nasrullah Jamaluddin dalam bukunya Agama dan Konflik Sosial. Faktor tersebut adalah pertama, pengalaman dalam beragama sangat subjektif dan individualis, maka dari itu kadang setiap orang mempunyai definisi agama yang berbeda-beda. Kedua dalam pembahasan Agama selalu melibatkan emosi yang kuat setiap individu. Ketiga konsepsi seseorang untuk mendefinisikan agama dipengaruhi oleh tujuan dan metode pendekatannya[3].

Dalam spektrum pemikiran Barat, Agama mempunyai definisi misalnya, dalam catatan Wilfred Cantwell Smith yang dikutip oleh Anis Malik Thoha dalam bukunya “Tren Pluralisme Agama Tinjauan Kritis” W.C Smith berkata , “ Terminologi Agama luar biasa sulitnya didefinisikan. Paling tidak, dalam beberapa dasawarsa terakhir ini terdapat beragam definisi yang membingungkan yang tak satu pun diterima secara luas… Oleh karenanya, istilah ini harus dibuang dan ditinggalkan untuk selamanya” Menurut E.B Taylor, Agama adalah kepercayaan yang berwujud spiritual. Berbeda dengan pendapat F. Schleiermacher bahwa agama adalah rasa ketergantungan terhadap sesuatu yang ‘absolute

Dari definisi-definisi diatas Apabila kita cermati para tokoh tersebut menggunakan pendekatan manusiawi dan secara sosial pada umumnya (Antropologis-Sosiologis). Hal ini didasari mayoritas para tokoh tersebut memberikan definisi yang sangat erat hubungannya dengan kehidupan manusia pada umumnya.

Hal ini berbeda dalam definisi agama atau “ad-diin” dalam bahasa Arab. menurut Hamka,  dalam  mendefiniskan agama secara bahasa dan makna Agama, tentu kita bisa merujuk pada arti aslinya yaitu menyembah, menundukkan diri, atau memuja. Namun, pemahaman atas agama itu sendiri tidak terbatas demikian. Agama itu sendiri, berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya A: tidak, gama: kacau. Artinya, agama sebagaimana aslinya, adalah sebuah panduan hidup agar kehidupan ini teratur dan/atau tidak kacau.

Dalam bahasa arab, pendirian model ini berasal dari kata Iqamah.  Dalam analisa Hamka, Agama adalah Ibadah yang muncul karena ada “Itikad” atau “Iqaamah” taat dan patuh berdasarkan iman. Iman, kemudian terintegrasi dengan Ibadah secara dialektis karena ketika iman meningkat, maka itensitas Ibadahpun akan meningkat juga. Akan tetap, jika kualitas iman pada Allah menurun, maka itensitas ibadah pun akan berkurang pula ghirahnya. Hasil dialektis antara Iman dan Ibadah itulah yang akan memberikan output berupa Agama.  Tambah Hamka lagi, lemahnya agama dikarenakan berkurangnya ‘itikad dan tashdiq[10].

Definisi diatas selaras dengan  para Ulama Indonesia yang berkecimpung dalam  dunia pendidikan Indonesia yang merumuskan suatu buku karya besar berjudul “Dasar-Dasar Agama Islam” memberikan definisi tentang Agama. Agama adalah risalah yang disampaikan Tuhan kepada Nabi sebagai petunjuk bagi manusia dan hukum-hukum sempurna untuk dipergunakan manusia dalam menyelenggarakan tata cara hidup yang nyata serta mengatur hubungan dengan tanggungjawab kepada Allah, dirinya sebagai hamba Allah, manusia dan masyarakat serta alam sekitarnya[11]

Menurut Syed Naquib Al Attas kata Ad-diin yang diturunkan dari kata kerja dana juga mengandung makna addaynu atau hutang dan makna-makna lain yang terkait dengannya. Seorang yang berhutang menurut Syed Naquib Al Attas akan berada dibawah kewajiban atau dayn sementara seorang yang sedang berada dalam kondisi berhutang dan dibawah kewajiban secara alamiah akan melibatkan pengadilan daynunah dan kesaksian idana.

Semua hal tersebut di atas tidak mungkin dipraktikkan kecuali dalam masyarakat yang terorganisasi dalam skala besar atau-pun skala kecil, maka tempat yang didalamnya ada komunitas disebut dengan madinah atau mudun dan pluralnya madain dan hakim yang memiliki kekuasaan untuk mengelola dan mengatur disebut dayyan dalam konsep Madinah terkandung kehidupan sosial hukum tatanan kekuasaan.

Kembali Syed Naquib al-Attas menjelaskan bahwa manusia sejatinya berhutang kepada Tuhan pencipta sang penyedia karena menjadikan memiliki eksistensi dan memeliharanya dalam keberadaannya sebab manusia sebelumnya tidak ada apa-apa dan kini dia ada karena kehendak dari Tuhan, disini termaktub dalam surat al-Insan ayat satu berbunyi Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut dan juga ditegaskan dalam surat al-Mu’minun ayat 12-14 yang dimana dalam ayat tersebut menjelaskan proses dari penciptaan manusia dari mulai saripati Adam kemudian menjadi air mani kemudian masuk ke rahim dan sampai seterusnya sampai pada kelahiran.

Maka ringkasnya pengertian ad-diin secara bahasa yaitu pertama A: bermakna tidak Gamma bermakna rusak digabung Agama tidak rusak kedua danahu yang ketiga dana lahu yang keempat dana bisyai’i yang kelima Dainun bermakna hutang.

Keterikatan Manusia danAgama

Kebutuhan manusia terhadap Agama menurut Syekh Yusuf al-Qardhawi setidaknya ada lima mengapa manusia tidak bisa dipisahkan dari Agama :

Alasan pertama adanya kebutuhan akal untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan besar yang sangat mendasar yaitu dari mana ke mana dan bagaimana, menurut Syekh Yusuf Al-Qardhawi Ilmu Filsafat tidak mampu memberikan kepuasan jawaban untuk manusia karena isinya hanya spekulatif tidak ada kepastian dan membawa pada sesuatu yang relatif apalagi untuk menembus alam metafisik. Beliau menegaskan Agama informasinya akurat karena dibawa oleh Rasul dengan perantara Malaikat dan diperkuat dengan Mukjizat.

Alasan  kedua adanya kebutuhan fitrah manusia fitrah manusia adalah dia akan merasa ruang kosong pada dirinya dan merasakan ada sesuatu yang sangat kuat yang sangat hebat yang mutlak dan tidak tertandingi dan dia merasa lemah kepada kekuatan itu suara itu datang dari suara batin yang paling dalam

Alasan ketiga adalah kebutuhan kepada kesehatan jiwa dan kekuatan spiritualitas. Terkadang dalam mencapai tujuan dan cita-cita manusia menghadapi beragam tantangan yang seringkali tidak sesuai dengan harapan dan prediksi mereka dalam kondisi seperti ini sebagian besar orang-orang yang tidak beragama mengalami guncangan jiwa dan stres. Guncangan jiwa inilah pada akhirnya menjadi penyebab utama timbulnya berbagai penyakit fisik dan krisis psikologis. Bagi para pemeluk agama yang taat akan memiliki imunitas kuat dari serangan masalah dan guncangan musibah.

Alasan keempat,yaitu karena adanya kebutuhan terhadap kode etik. Salah satu peran agama adalah menjadi sumber dari ajaran kebaikan atau etika. Motivasi pelaku kebaikan berbeda antara orang yang beragama dan orang yang tidak beragama. Bagi orang beragama melakukan semua bentuk kebaikan dengan motivasi mendapatkan ganjaran dari Tuhan mereka. Adapun orang-orang yang tidak beragama Melakukan kebaikan karena motivasi materi atau karena takut mendapatkan sanksi.

Ajaran Dalam Agama

Seluruh agama membawa ajaran yang merupakan titah Tuhan atau ajaran perintisnya. Agama dapat dikategorikan ke dalam agama Samawi dan agama wad’iy (agama yang tidak berdasar pada Wahyu Tuhan). Ajaran ini minimal terdiri dari tiga unsur pokok yaitu, unsur keyakinan atau keimanan, unsur aturan-aturan yang berupa ritual dan hukum-hukum terkait hubungan dengan manusia lainnya, dan unsur etika. Munculnya tiga unsur pokok ini karena kehadiran agama dapat menjawab tiga pertanyaan pokok mendasar dalam diri manusia yaitu, dari mana asal usul manusia dan alam semesta ini, kemana manusia dan alam semesta ini kembali, dan bagaimana seharusnya manusia menjalani kehidupan menuju tujuan akhir mereka.

Dalam perspektif worldview Islam pertanyaan pertama dan kedua merupakan objek pembahasan aqidah. Sementara pertanyaan ketiga objek dari pembahasan syariat dan akhlak. Agama dan filsafat bertemu dalam satu titik di mana keduanya hadir untuk menjawab tiga pertanyaan di atas. Perbedaannya, filsafat menjawab dengan menggunakan pendekatan akal semata, sementara agama menggunakan pendekatan wahyu. Karena sumber utama agama adalah wahyu maka dalam perspektif bercirikan wahyu membutuhkan dua mediasi untuk sampai kepada manusia yaitu malaikat dan rasul atau nabi. Setelah Wahyu tersebut sampai kepada rasul dan nabi akan terkumpul dalam sebuah kitab.

Mengenai jawaban dari tiga pertanyaan mendasar dalam kehidupan manusia diatas, menghasilkan tiga keyakinan yang merupakan inti dalam sistem keyakinan atau keimanan dalam Islam, yaitu iman kepada Allah, Hari akhir, dan Rasul. Penjabaran dari tiga pokok keyakinan tersebut menjadi enam keyakinan pokok yang disebut dengan rukun iman. Pertanyaan tentang asal muasal wujud Ini menghasilkan keyakinan dalam Tuhan dialah Dzat pencipta dan pengatur semua bentuk wujud yang ada. Unsur ini disebut dengan unsur keyakinan atau aqidah. Sementara pertanyaan tentang kemana akan kembali menghasilkan keyakinan tentang adanya hari akhir. Sedangkan untuk menjalani kehidupan, manusia membutuhkan bimbingan serta arahan dan petunjuk utamanya yang berasal dari Allah, petunjuk ini berupa kalamNya yang disebut Wahyu dan kemudian terkumpul dalam kitab.

Unsur kedua dari ajaran agama adalah adanya ajaran yang berkaitan dengan ritual agama dan aturan-aturan yang terkait dengan hubungan interaksi antar manusia. Dalam worldview Islam ajaran berkaitan dengan ritual disebut dengan ibadat jamak dari ibadah. Dalam hal ibadah aturannya bersifat ketat, sebab bentuk ibadah hanya dilakukan berdasarkan petunjuk Wahyu yang diajarkan dan dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Ritual ini merupakan simbol ketundukan mutlak seorang hamba kepada penciptaNya.

Dalam perspektif worldview Islam, ritual ibadah termuat dalam lima rukun Islam dan yang terkait dengan, yaitu Syahadatain, Shalat, Zakat, Puasa, dan Haji, juga terkait dengan doa dan dzikir, membaca, melihat, dan memahami Alquran, tawassul, dan semua bentuk ritual yang dilakukan sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah.

Sedangkan ajaran yang terkait dengan hukum interaksi antara manusia dalam perspektif worldview Islam disebut muamalatBentuk interaksinya mencakup seluruh aktivitas manusia seperti jual beli, pinjam-meminjam, jaminan, makanan minuman,  berpakaian, rekreasi, hiburan, pernikahan, waris, sanksi dan pelanggaran, aktivitas sosial, politik, budaya, dan keamanan. Adapun hukum asal terkait muamalat dalam perspektif worldview Islam adalah mubah (boleh) hingga ada dalil yang melarangnya sebab sifat awal dari muamalat adalah berkembang dan dinamis serta cepat berubah.

Unsur ketiga yang juga merupakan unsur utama dalam ajaran agama yaitu unsur akhlak atau etika, sebab akhlak terkait dengan ajaran tentang kebaikan yang menjadi konsentrasi semua agama bahkan justru karena itulah terkadang agama ada. Akhlak merupakan ajaran tentang pola interaksi antara individu dengan Tuhan, individu dengan individu, individu dengan kelompok masyarakat, kelompok dengan kelompok lainnya, dan terakhir kelompok dengan Tuhan.

************

Bersambung, Insya Allah…

Penulis: Ustadz Alvin Qodri Lazuardy, S.Ag
(Alumni UNIDA Gontor, Pengasuh PP. Muh. Ahmad Dahlan Tegal dan Kontributor mujahiddakwah.com)

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)