PROBLEM EPISTEMOLOGIS

Melihat analisa Prof. Al-attas, sains barat modern telah menampakkan masalah serius bagi umat muslim yaitu sains barat telah mengugurkan diri dari makna ruhiah, karena menafikan unsur Ilahiyah, ini disebabkan karena barat dalam mendekati sains dengan 4 metode dasar diantaranya adalah:

Rasionalisme filosofis, Rasionalisme Secular, Empirisme Secular dan Empirisme Filosofis. Tak hanya itu, Barat telah berhasil menaikan skeptisisme sebagai alat tafsir utamanya, dapat dijabarkan sebagai berikut; Sains barat telah tumbuh berkembang dari suatu filsafat yang dimana awal dari sesuatu muncul dari terwujud dari sesuatu lainya (evolusi natural), semuanya bersifat progersif, evolutif dari materi yang kekal.

Kemudian alam ini diyakini sesuatu yang “ada kerena tidak dicipta” atau “ada dengan sendirinya”, berdiri sendiri dengan hukumnya sendiri dan berkembang dengan hukumnya sendiri. Dari sinilah terdeteksi terdapat pe-nafi-an unsur ruhiah dan ilahiyah.

IMPLIKASI

Ini berdampak pada masalah yang serius sedang dihadapi umat Islam sekarang ini adalah masalah ilmu dan adab. Ilmu sudah mulai dijauhkan bahkan mulai dihilangkan dari nilai-nilai adab dalam arti luas.

Akibatnya, terjadilah suatu keadaan yang oleh al-Attas disebut the loss of adab (hilangnya adab) dan confussion. Efek buruk dari fenomena ini adalah terjadinya kerancuan, dan kebingungan dalam memahami ilmu pengetahuan, selanjutnya menciptakan ketiadaan adab dari masyarakat.

Dalam spectrum aksiologis terjadi kerusakan secara moral, materil dalam diri manusia bahkan kepada alampun terkena dampaknya dengan ulah manusia mengeksploitasi alam.

INTERNALISASI NILAI-NILAI ADAB DALAM PENDIDIKAN SAINS

Dalam hal pendidikan, jiwa merupakan subjek yang aktif, sekaligus pasif untuk sampai kepada makna. Al-Attas mendefinisikan proses berpikir sebagai pergerakan jiwa untuk sampai kepada makna.

Hal itu menyiratkan adanya korelasi antara kualitas spiritual dalam proses berfikir atau memperoleh ilmu. Maka, aspek spiritual ini juga sedikit-banyak berpengaruh dalam mempersiapkan bekal intelektual. Untuk itu, bagi al-Ghazali tugas pertama pelajar dalam mencari ilmu ialah membersihkan hati (tazkiyyah al-nafs).

Adian Husaini dalam bukunya yang berjudul Pendidikan Islam menambahkan bahwa proses tazkiyyah an-nafs menjadi poros utama dalam proses peananaman adab.

Makna Adab

Adab menurut al-Attas merupakan kemauan dan kemampuan seseorang untuk dapat meletakkan sesuatu pada tempatnya sesuai harkat dan martabat yang ditentukan Allah SWT. Adapaun seseorang dinyatakan beradab apabila orang tersebut memahami dan mengakui posisinya yang tepat dengan dirinya sendiri, masyarakat dan dengan komunitasnya.

Manusia beradab memahami dan menyikapi potensi fisik, intelektual dan spiritualnya serta memiliki sikap terhadap kenyataan bahwa ilmu pengetahuan dan wujud diatur secara hirarkis.

Kemudian penjelasan tentang adab dijelaskan dengan rinci dan sistematis oleh murid al-Attas, beliau adalah Wan Mohd Nor Wan Daud, Daud menjelaskan makna adab menurut al-Attas ialah sesuatu tindakan untuk mendisiplinkan jiwa dan fikiran, selanjutnya adab adalah mencari kualitas, jiwa dan fikiran menuju kebaikan, berperilaku yang baik mengerti posisi antara martabat baik dan martabat buruk, kemudian akan membuahkan keadilan dalam dirinya dan kepada orang lain.

Dalam arti lain, mengetahui posisi dirinya sebagai hamba Allah dan sadar selalu menghadrikan Allah disetiap langkahnya.

SAINS BARAT DAN SAINS ISLAM

Seorang Profesor muslim ahli Fisika teoritik beliau adalah Prof. Agus Purwanto memberikan definisi, Sains Islam adalah bangunan keilmuan yang tersusun dari pengejawantahan prinsip tauhid bersumber dari wahyu. Dalam melihat ciptaan atau mahluk terdapat tiga keadaan fundamental yaitu materiil, psikis dan spiritual penjelasan ini adalah hasil dari renungan ayat Allah dalam Q.S al-Haqqah: 38-39.

Lanjut Prof Agus menegaskan bahwa dalam Sains Islam al-Qur’an memiliki posisi sebagai subjek petunjuk dalam kerangka ilmu pengetahuan dengan memberi petunjuk mengenai sains, selalu dikaitkan dengan spectrum metafisik dan spiritual.

Ini bermakna dalam Sains Islam wahyu dan sunnah menjadi sumber inspirasi dari bangunan ilmu pengetahuan, jelas ini sangat berlawanan dengan prinsip sains modern (barat) yang pada awal kelahiranya seraca terang-terangan memprolamasikan perlawanan terhadap doktrin agama (religius gereja) dan wahyu tidak ada tempat dalam sains barat.

Lebih jauh dari itu Prof Agus memberikan analisa bahwa sains barat membawa tata nilai peradaban modern, yakni materialisme, kisah tragis pembunuhan Tuhan dalam tradisi gereja.

UPAYA MENANAMKAN NILAI ILAHIYAH

Seorang Doktor muda dari Universitas Ibnu Khaldun Bogor ialah Wendy Zarman dalam disertasi doktoralnya yang berjudul studi pengembangan buku teks ilmu pengetahuan alam sekolah menengah pertama berbasis nilai keimanan kepada Allah, memberikan tujuh saran mengenai hal-hal yang harus dilakukan guna memberikan dan mengajarkan nilai-nilai keislaman pada buku ajar atau buku teks untuk pendidikan dasar dan menengah. Ketujuh saran tersebut ialah:

1. Memberikan pengantar yang berisikan nasehat nasehat Islami.

2. Menyisipkan ungkapan kemahakuasaan Allah.

3. Mengungkapkan hikmah penciptaan alam yang menumbuhkan rasa syukur.

4. Mengoreksi konsep IPA yang bertentangan dengan ajaran Islam.

5. Memasukkan ayat al-Qur’an atau Hadith yang relevan.

6. Memasukkan informasi kiprah ilmuwan muslim dalam IPA.

7. Mengaitkan materi IPA dengan penerapan ajaran Islam.

TUJUAN AKHIR

Dalam tujuan pendidikan Sains Islami penulis mengambil beberapa arahan dan pandangan dari tokoh yang kompeten dalam hal ini, menurut Dr. Budi Hadrianto dalam menentukan tujuan pendidikan sains, mulailah dengan konsep dasarnya yaitu Islam memandang alam ini termasuk didalamnya manusia, hewan, tumbuhan dan lain lain merupakan anugrah Allah kepada manusia.

Selanjutnya manusia sebagai mahluk Allah yang terpilih menjadi khalifatu fil ard untuk menjaga, mengelola dengan adab bukan mengeksploitasi bahkan merusaknya. Tujuannya adalah agar kemanfaatan alam ini dapat diraih dengan baik dan dirasakan seluruh manusia.

Maka tujuan utama dalam pendidikan sains adalah untuk memahami, menggali, mengolah, dan memanfaatkan apa yang ada disekeliling mereka dalam rangka mensejahterakan kehidupan dan menjadi masalahat seluruh umat manusia.

Referensi / Daftar Pustaka:
1. Dr. Ahmad Alim, Lc. M.A, Adian Husaini dkk Filsafat Ilmu Barat dan Islam, (Bogor: UIKA, 2017), h. 187
2. Naquib al Attas, The Concept of Education in Islam: A Framework for an Islamic Philosophy of Education, (Kuala Lumpur: Ta’dib International, Cet. 4, 2018). h.17.
3. Muhammad Naquib al-Attas, Prolegomena to The Methapysics of Islam: An Exposition of The Fundamental Elements of The Worldview of Islam, (Kuala Lumpur: ISTAC, 1995), h.124.
4. Suhandi, Konsep Pendidikan (al-Ta’dib) untuk Membentuk Kepemimpinan Menurut al-Attas, Kalimah: Jurnal Studi Agama-Agama dan Pemikiran Islam, Vol. 18 No. 2, September 2020, h. 210.
5. Wan Mohd. Nor Wan Daud, Filsafat dan Praktik Pendidikan Syed M. Naquib Al-Attas, Terj. Hamid Fahmy. (Bandung: Mizan,2003), h. 258.
6. Adian Husaini, Pendidikan Islam: Mewujudkan Generasi Gemilang Menuju Negara Adidaya 2045, (Depok: Attaqwa. Cet. 4, 2020), h. 58.
7. Wan Mohd Nor Wan Daud, Falsafah dan Amalan Pendidikan Islam Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Sebuah Huraian Konsep Asli Islamisasi, (Kuala Lumpur: Universiti Malaya, cetakan ke-8, 2020), h. 123
8. Agus Purwanto, Ayat-Ayat Semesta Sisi-Sisi Al-Qur’an Yang Terlupakan, (Jakarta: Mizan, cetakan ke-3, 2017), h. 188.
9. Agus Purwanto, Ayat-Ayat Semesta Sisi-Sisi Al-Qur’an Yang Terlupakan, (Jakarta: Mizan, cetakan ke III, 2017), h. 191.
10. Budi Hadrianto, Islamisasi Sains Sebuah Upaya Mengislamkan Sains Barat Modern,(Jakarta: INSISTS, cetakan ke II, 2019), h. 56, 234-234`.

************

Bersambung, Insya Allah…

Penulis: Ustadz Alvin Qodri Lazuardy, S.Ag
(Alumni UNIDA Gontor, Pengasuh PP. Muh. Ahmad Dahlan Tegal dan Kontributor mujahiddakwah.com)

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)