Banyak dari kita mengenal hadits Nabi yang berbunyi “Thalabul ‘ilmi faridhatun ‘ala kulli muslimin wa muslimatin.” Permasalahannya ialah ketika sebagian besar dari kita juga masih saja berfikir bahwa menuntut ilmu itu haruslah dengan bersekolah. Fikiran yang masih beredar adalah bahwa ilmu itu hanya bisa dituntut ketika si murid berada di sekolah, tepatnya di dalam kelas.

Tentu ini merupakan pemahaman yang salah. Salah satu yang mengkritisi masalah ini adalah Dr. Adian Husaini. Beliau namakan pemikiran ini sebagai penyakit dari faham “Sekolahisme.” “Penyakit,” adalah kata yang tepat untuk disematkan. Karena menurut beliau ketika faham ini terus terbesit bahkan sampai ke tingkat keyakinan, maka pasti aktivitas menuntut ilmu akan ada dikotomisasi dan pembatasan.

Setidaknya ada 2 hal yang menjadi akibat dari sebab pemeliharaan terhadap penyakit itu. Yang pertama, si murid akan berfikir bahwa agar saya bisa menuntut ilmu, maka saya harus berangkat ke sekolah. Bayangan dia, ketika disebut sekolah, pastilah satu wilayah dengan banyak bangunan bernama kelas.

Ketika itulah ia akan berfikir bahwa kelas menjadi satu-satunya faktor adanya pembelajaran. Kalau sudah begini, pastilah tidak akan ada lagi kesadaran untuk belajar secara otodidak. Inilah yang akan membuat si anak lambat menjadi dewasa, dikarenakan keterlambatan kemandirian dalam dirinya. Dia pun menjadi seorang yang tidak beradab kepada ilmunya. Sebab tradisi keilmuannya telah ia lakukan secara sambilan.

Pertanyannya, kalau memang sekolah dengan kelasnya itu menjadi satu-satunya sarana pencarian ilmu, mengapa Rasul mampu melahirkan generasi terbaik sepanjang masa, yakni generasi sahabat? Padahal di zaman Rasul tidak ada sekolah dan Rasul pun juga bukan kepala sekolah. Rasul adalah seorang guru, tapi bukan guru di kelas. Dari sinilah kemudian kita bisa mengambil kesimpulan bahwa ketiadaan sekolah bukan berarti ketiadaan ilmu juga aktivitas pencariannya. Dari sini kita mengetahui bahwa memang pada dasarnya inti dari pendidikan itu bukan pada bangunan atau kebudayaan arsitekturalnya, melainkan pada guru-gurunya.

Ingatlah, yang terpenting dari seorang murid itu bukan bagaimana cara ia belajar dan dimana ia mendapatkan pelajaran. Baginya ada yang lebih urgen daripada itu, yakni apa yang ia pelajari dan kepada siapa ia belajar. Jadi bukan bagaimana dan dimana, tapi apa dan siapa.

Banyak ungkapan dalam kitab Ta’limul Muta’allim yang disematkan Az-Zarnuji, mengenai hal ini. Seperti misalnya, “Khudz ma shafa wa da’ ma kadar,” dan “Fa’tabiril ardha bi asmaiha.” Beliau juga mengutip satu cerita dimana ketika Imam Abu Hanifah menjadi tukang kain, dia senantiasa berdiskusi dengan banyak orang di tokonya tersebut. Dan ia mengaku bahwa dirinya banyak mendapat ilmu manfaat dari sana.

Lihatlah seorang Hamka, pendidikannya di sekolah hanya sampai kelas 2 SD. Namun ia mampu menjadi seorang pahlawan negara. Begitu juga dengan pak Natsir yang hanya sampai SMA, tapi bisa mengajar dengan Pendis-nya (Pendidikan Islam). Imam Zarkasyi yang sampai 16 tahun, bisa mendirikan pesantren, dan masih banyak lagi. Artinya tanpa sekolah, mereka masih bisa menuntut ilmu, dan kemudian menjadi orang-orang besar.

Sebetulnya sistem mulazamah, sebagaimana yang sering dilakukan ulama-ulama Betawi dulu, memberikan pesan tersirat kepada para penganut faham sekolahisme. Yang mereka datangi bukan sebuah tempat yang banyak gedung, melainkan hanya sebuah rumah kecil, rumah guru-guru mereka. Namun, dengan modal kesungguhan, keikhlasan, kesabaran, keistiqomahan, serta kehausan akan ilmu, membuat mereka menjadi ulama-ulama yang berpengaruh di masanya.

Permasalahan yang kedua, adalah kelanjutan dari masalah yang pertama. Yaitu ketika si murid merasa bahwa tempat pendidikan hanya sekolah, dia akan menganggap bahwa tuntutannya dalam menuntut ilmu akan selesai, ketika sudah sampai pada jenjang perkuliahan, setidaknya S-1. Baginya setelah itu tugasnya adalah menikah dan kemudian kerja, tanpa ada kesadaran untuk menuntut ilmu. Padahal sudah lama Rasul mengingatkan “Utlubil ‘ilma minal mahdi ilal lahdi.”

Tentu semua ini berawal dari jiwa yang tidak bersih. Kecintaan duniawi membuat banyak kalangan berhenti untuk menuntut ilmu. Dengan pekerjaan, mereka mencoba untuk mencari materi sebanyak-banyaknya. Dan mungkin ini juga ada kaitannya dengan teori monyetnya Darwin yang selama ini diajarkan di sekolah-sekolah.

Sebab ia telah mengubah sejarah manusia yang seharusnya melalui jalur kenabian, tapi ia ubah ke arah primata, sehingga membuat tujuan dari manusia berubah. Yang seharusnya melanjutkan misi kenabian dan para pewarisnya yakni berjuang menegakkan kalimat tauhid, menjadi tujuan dari makhluk yang ia sebut sebagai hominid, yakni sekedar mencari makan dan memuaskan hawa nafsu.

Maka kemudian tujuan dari pembelajaran mereka hanya untuk cari kerja agar bisa makan. Ingatlah ketika Dr. Adian Husaini, sering menyindir para mahasiswanya, “Kalau kalian kuliah hanya untuk makan, maka kalian lebih rendah dari monyet. Karena monyet untuk bisa makan saja tidak perlu kuliah.”

Sebetulnya ada lagi penyakit dalam pendidikan kita, yakni penyakit Linierisme. Penyakit ini membawa faham bahwa menuntut ilmu itu cukup hanya di bidangnya saja, tidak lebih dari itu. Seperti misalnya seorang fisikawan yang tidak perlu belajar ulumul Qur’an, dan sebagainya. Bahkan dikotomisasi antara agama dengan sains, masih terjadi. Maka jangan salahkan siapa-siapa kalau banyak seseorang yang pintar matematika, teknik, mesin, tapi tidak punya adab, tidak bisa membaca al-Qur’an, dan lain sebagainya. Saat itulah mereka telah menjadi orang yang biadab terhadap ilmu. Sebab mereka mendahulukan ilmu fardhu kifayah ketimbang fardhu ‘ain.

Inilah yang disayangkan. Mahasiswa diarahkan untuk fokus hanya pada satu bidang keilmuan saja. Spealisasi sekarang terkadang sempit, sehingga mahasiswa itu sebetulnya bukan kulliyyah tapi juz’iyyah. Tidak universal tapi particular. Mereka menjadi orang dengan spealisasi sempit. Ibarat segitiga, mereka seperti segitiga yang semakin ke atas semakin sempit ruangnya. Padahal seharusnya mereka seperti segitiga terbalik, yang semakin ke atas, semakin luas ruangnya.

Kalau tradisi keilmuan mengalami pembatasan, bagaimana peradaban ini mau naik ke pentas dunia. Karena sejatinya setiap peradaban itu akan naik ketika mampu menghidupkan tradisi keilmuannya.

Terkait dengan tradisi atau budaya ilmu, Prof Wan Mohd. Nor Wan Daud mengatakan,

“Pembinaan budaya ilmu yang bersepadu dan jitu merupakan prasyarat awal dan terpenting bagi kejayaan, kekuatan dan kebahagiaan seseorang dan sesuatu bangsa. Seseorang individu atau sesuatu bangsa yang mempunyai kekuasaan atau kejayaan tidak boleh mempertahankan miliknya, apalagi mengembangkannya tanpa budaya ilmu yang baik. Malah dia akan bergantung kepada orang atau bangsa lain yang berilmu…. Bangsa yang mempunyai kekuatan lain, seperti jumlah tenaga manusia atau kekuatan tentara, walaupun berperanan dalam membantu kekuatan sesuatu bangsa, tidak merupakan faktor yang boleh memberikan kekuatan hakiki, apalagi memberikan arah dan makna dalam pembangunan menyeluruh bangsa itu….. malah telah berlaku, beberapa kali dalam sejarah, bagaimana sesuatu bangsa yang kuat tetapi tidak ditunjangi oleh budaya ilmu yang baik, akan memeluk dan menganut nilai dan ciri tamadun lain yang ditaklukinya itu.” (Wan Mohd. Nor Wan Daud, Penjelasan Budaya Ilmu, 1997: 10-11)

Itulah gambaran betapa mulianya kedudukan ilmu dalam Islam. Sebagaimana yang kita tahu, Islam adalah agama ilmu. Maka konsekuensinya, tidak akan hidup peradaban Islam tanpa adanya ilmu. Tanpa ilmu, apalah arti Islam di mata dunia. Inilah yang dari sejak zaman Rasulullah, sahabat, sampai generasi ulama sekarang, terus dilakukan. Mereka terus mencoba menghidupkan tradisi ilmu, demi menaikkan kemuliaan manusia, agama serta keagungan peradaban ini.

Dalam makalah berjudul Tradisi Ilmu: Asas Kebangkitan Peradaban karya Dr. Adian Husaini (makalah ini disampaikan dalam Seminar Nasional Sehari dengan tema Sejarah dan Masa Depan Peradaban Islam di Nusantara, yang diselenggarakan oleh Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization atau INSISTS, di Jakarta pada 4 Rabi’ul Akhir/23 Desember 2017) dijelaskan bagaimana negara seperti Jepang, yang saat perang dunia ke-II hancur, bisa bangkit bahkan kini mengalahkan peradaban Barat. Husaini mengatakan,

“Jepang telah menempatkan ilmu dalam posisi penting sejak zaman Meiji (1860-an-1880-an). Pada akhir 1888, dikatakan, terdapat sekitar 30.000 pelajar yang belajar di 90 buah sekolah swasta di Tokyo. Sekitar 80 persennya berasal dari luar kota. Pelajar miskin diberi beasiswa. Sebagian mereka bekerja paruh waktu sebagai pembantu rumah tangga. Namun mereka bangga dan memegang slogan: “Jangan menghina kami, kelak kami mungkin menjadi menteri!” para pelajar disajikan kisah-kisah kejayaan individu di Barat dan Timur. Contohnya, buku Yukichi Fukuzawa, berjudul Galakkan Pelajaran pada tahun 1882 terjual 600.000 naskah. Buku ini antara lain menyatakan: “Manusia tidak dilahirkan mulia atau hina, kaya atau miskin, tetapi dilahirkan sama dengan yang lain. Sesiapa yang gigih belajar dan menguasai ilmu dengan baik akan menjadi mulia dan kaya, tetapi, mereka yang jahil akan menjadi papa dan hina.” (Lebih jauh, lihat Wan Mohd. Nor Wan Daud, Penjelasan Budaya Ilmu, 1997: 16-30)

Dari sinilah kemudian bisa kita simpulkan bahwa masalah keilmuan adalah masalah inti. Islam sangat memberi perhatian besar kepada ilmu pengetahuan, dan agama ini juga akan hidup tidak hanya dengan pengawalan dari segi fisiknya, namun juga intelektualnya. Maka dari itu yang Rasul wariskan bukan sekedar pengawal fisik, namun juga pengawal intelektual dari Qur’an dan Sunnah, yakni guru-guru dan para ulama.

Maka sudah semestinya setiap insan terutama pemerintah mengubah pola pikirnya terhadap pendidikan. Ada baiknya kementerian pendidikan tidak “melulu” mengurusi sekolah. Seharusnya pemerintah lebih menekankan pada content dan manusia yang menyalurkan content tersebut, yakni guru. Sebaik dan semegah apapun sekolah, tidak akan hidup manakala tidak ada guru. Atau mungkin ada, tapi tidaklah baik dan berkualitas. Maka esensi pendidikan itu bukan kebudayaan arsitektural, melainkan guru beserta ruhnya.

Sudah selayaknya, institusi pendidikan tidak menjadikan anak didiknya hanya punya satu bidang keilmuan saja. Sebab di era inilah, kita semua dituntut untuk menjadi seorang pembelajar. Jangan beranggapan bahwa dengan hanya belajar satu bidang keilmuan, membuat kita percaya diri. Karena kalau begitu, yakinlah bahwa engkau akan digilas oleh zaman ini. Keburaman masa depan dalam era ini yang menuntut kita untuk tahu, belajar, dan memahami banyak ilmu. Maka belum tentu yang linier itu baik.

Sekarang sudah saatnya tradisi ilmu dihidupkan. Yaitu dengan berusaha menjadi seorang pembelajar. Sejatinya, seorang pembelajar itu adalah pasti seorang yang mandiri dalam menuntut ilmunya. Ia sudah merasa bahwa dirinya butuh kepada ilmu. Maka kemanapun dan dimanapun ilmu itu berada, ia akan mengejarnya. Dan sejatinya, seorang pembelajar itu pasti sudah terkait dengan sifat senang berfikir kritis, diskusi, bertanya, menganalisis, dan berani. Dan yang lebih penting adalah dia seorang yang rajin membaca dan menulis.

Sekarang adalah pilihan kita, untuk menjadi yang biasa-biasa saja, atau hendak menjadi seorang pengukir sejarah. Sudah semestinya setiap Muslim mulai serius dalam membangkitkan tradisi ilmu. Harus ada dalam benaknya bahwa saya harus menjadi seorang pembelajar. Orang yang sudah mandiri dalam membaca buku, menulis, bertanya, berdiskusi, berdebat, bertukar argumen, dan sebagainya. Itulah yang dilakukan Rasul, sahabat, tabi’in, hingga Ustadz Abdul Samad.

Mungkin ada baiknya kita simak penjelasan dari Dr. Adian Husaini dalam bukunya, Pendidikan Islam: Mewujudkan Generasi Gemilang Menuju Negara Adidaya 2045, mengenai dua penyakit itu, berikut penjelasannya:

“Karena itu, dalam kaitan kewajiban mencari ilmu sepanjang hayat, minal mahdi ilal-lahdi, patut dicermati penyakit kronis bernama “Sekolahisme” dan “Linierisme”. “Sekolahisme” memandang bersekolah sama dengan mencari ilmu; tidak bersekolah berarti tidak cari ilmu; selesai sekolah atau kuliah, selesai pula upaya cari ilmu. Mungkin tidak sedikit pula yang berpikir, setelah menjadi sarjana dan bekerja, maka selesai pula kewajiban mencari ilmu. Yang wajib hanya mencari uang. Pulang kerja baca berita, dan sesekali menonton berita. Tak terpikir olehnya untuk mengerahkan segenap energinya, berpikir untuk belajar ilmu aqidah lebih mendalam, memahami tafsir al-Qur’an, mencari ilmu-ilmu yang diperlukan untuk bisa mengenal Tuhannya; memahami aturan-aturan-Nya, dan memiliki ilmu untuk meraih hidup bahagia (sa’adah/happiness) dengan cara mensucikan jiwa (tazkiyyatun nafs) …..

Patutlah diperhatikan penyakit “sekolahisme” ini. Sekolah itu baik. Tapi, menganggap cari ilmu hanya dengan sekolah formal, itu keliru. Kadang, dalam suatu seminar, disodorkanlah lembaran CV tentang riwayat pendidikan: mulai SD, SMP, SMA, S-1 sampai S-3. Seolah-olah, yang namanya menjalani pendidikan hanya sampai disitu saja. apakah setelah S-3 seorang tidak lagi menjalani proses pendidikan? Apakah sampai disitu saja usaha mencari ilmu? Bukankah Nabi memerintahkan kita cari ilmu sampai mati? Itulah penyakit sekolahisme!”

“Penyakit “linierisme” menyebabkan seseorang berpikir, bahwa ia hanya perlu cari ilmu di bidangnya saja. Sarjana fisika tidak mau belajar ilmu Al-Qur’an, ilmu fiqih, ilmu akhirat, atau sejarah Islam. Sebab, pikirnya, itu bukan bidang dia. Pakar Fisika hanya mau berkutat seumur hidupnya dengan soal-soal fisika. Tak terpikir olehnya untuk mendalami ilmu-ilmu tentang aliran dan pemikiran-pemikiran sesat di era modern. Sebab ia sangka, ilmu itu bidangnya ustadz atau kyai, bukan kewajiban setiap Muslim untuk memahaminya (fardhu ‘ain). ….

Karena itulah, orang yang dikaruniai potensi kecerdasan tinggi memiliki tanggung jawab keilmuan yang lebih tinggi dari orang lain dengan potensi kecerdasan di bawahnya. Sesuai dengan hadits Rasulullah SAW, bahwa manusia adalah laksana barang tambang. …. Maka, sepatutnya –sesuai konsep keilmuan Islam yang integratif dan tauhidik—dalam diri seorang “Habibie” dan manusia-manusia super cerdas lain, terkumpul keahlian dalam bidang sains dan teknologi sekaligus pakar dalam Tafsir al-Qur’an, Hukum Islam, Pemikiran Islam, Sejarah Islam, dan sebagainya.” (Husaini, 2018: 48-51)

************

Penulis: Fatih Madini
(Mahasiswa At-Taqwa College Depok, Penulis Buku dan Kontributor mujahiddakwah.com)

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)