Di bawah kepemimpinan Buya Hamka, masjid jami yang dibangun di Kebayoran, di tengah wajah Indonesia baru, Jakarta. Dalam waktu singkat telah menjadi pusat dakwah dan kebangkitan muslim pertama ibukota, pada Era modern.

Masjid itu diberi nama Masjid Al Azhar, pasca penganugerahan gelar kehormatan Doktor Honoris Causa oleh Universitas Al Azhar Mesir kepada Haji Abdul Malik Karim Amrullah yang akrab disapa Buya Hamka. Nama tersebut diambil sebagai bentuk pengakuan kepada Hamka yang didaulat sebagai imam besar masjidnya pada 1959. Hamka menyebutkan bahwa masjid tersebut berdiri “sesuai dengan martabat Indonesia yang telah merdeka”. (Hamka, Tafsir Al Azhar, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1982)

Hamka kini telah memiliki peran dan pandangan baru untuk tetap menjaga dan melakukan dakwah kepada masyarakat muslim dari akar rumput, bersama para jenderal Angkatan Darat dan tokoh bangsa yang kurang sependapat dengan haluan baru negara. Mereka bermakmum di masjid Jami Al Azhar, yang dipimpin oleh Hamka.

“Selama ini kita lalai memperhatikan masjid, karena terlalu sibuk di parlemen” Maka saat ini “Kita mulai perjuangan dari masjid” Sebut Hamka kepada anaknya Rusydi Hamka (Rusydi Hamka, Pribadi dan Martabat Buya Prof. Dr. Hamka, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1983, hlm. 165).

Dengan semakin ramainya perkembangan penduduk Jakarta akibat meningkatnya urbanisasi, membuat Hamka lebih sibuk berdakwah melalui masjid Al Azhar, serta banyak masjid-masjid yang selalu mengundangnya di Jakarta.

Masjid Al Azhar merupakan masjid jami yang memiliki jamaah paling banyak di Jakarta dibandingkan masjid-masjid lainnya, seperti masjid Baitur Rahim di Istana Merdeka. Masjid Agung Al Azhar mulai ramai dikunjungi dengan kegiatannya yang banyak. Masjid yang berlokasi di sekitar orang-orang “gedongan” itu awalnya dirasa sulit untuk dipenuhi jamaah. Penduduk asli Betawi awalnya kurang biasa dengan masjid modern dan imamnya yang orang Padang serta Muhammadiyah. Sedangkan orang-orang gedongan atau priyayi masih merasa agak segan berbaur dengan mereka.

Semakin hari jamaah masjid Agung Al Azhar semakin ramai. Orang-orang Betawi yang tadinya curiga melihat orang gedongan dari seberang yang dianggap tidak bermadzhab dan kurang memahami agama, mulai biasa bergaul di masjid itu untuk mendengar pengajian-pengajian Hamka. Suasana kekeluargaan antara para jamaah akhirnya kian terjalin dengan baik. Awalnya orang-orang tradisionalis suka membuka celana dalamnya dan menggosok gigi dengan kayu siwak sebelum shalat, hingga menimbulkan rasa jijik dari orang-orang gedongan. Maka Hamka memberi nasehat kepada mereka memakai celana dalam yang bersih dari rumah, dan menggosok gigi sebelum ke masjid.

Demikian juga para orang gedongan yang terdidik dalam pemikiran modern Barat memiliki sensitivitas terhadap simbol yang berbau Arab, seperti meminta posisi sholat wanita dibuat di samping, tidak di tengah. Mengatakan agar imam dan khatib tidak perlu pakai surban dan jubah. Karena baginya selama ini, pandangan tersebut membuatnya mudah malas, saat melihat para khatib shalat Jumat menggunakan jubah, membawa tongkat, tapi isi khutbahnya tidak menarik.

Karena berangkat dari pandangan sosial yang berbeda antara kalangan masyarakat tradisionalis dan modern dalam menjalankan kebiasaan keagamaan di pusat ibukota baru tersebut, maka Buya Hamka pun mencoba memberikan jalan tengah yang dapat diterima keduanya. Ia memberi dorongan untuk bertoleransi terhadap perbedaan dalam menjalankan syariat, sekaligus menunjukkan akan kewibawaan nilai-nilai dari syariat Islam, melalui keilmuan dan penampilan baik yang selalu ditunjukkan oleh Hamka.

Hal itulah yang kemudian mengundang perhatian kedua kalangan untuk dapat lebih banyak mencari kesamaan dan hal yang lebih subtansial. Kepada para jamaah Hamka berulang kali menyebutkan garis yang akan ditempuhnya di masjid Al Azhar, yaitu “membina ummat lewat masjid, dan meningkatkan dakwah Islam” (Rusydi Hamka, Pribadi dan Martabat Buya Prof. Dr. Hamka, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1983, hlm.165).

Bagi Hamka, menjadi imam merupakan amanah baru untuk membawa visi Islam di ibukota, di tengah kondisi negara yang sudah mulai tidak kondusif dan terjadinya penyimpangan, akibat pengaruh ideologi komunis dan perang antar budaya. Masyumi telah terpuruk, Majelis Konstituante telah dibubarkan, dan Soekarno telah menjadi diktator.

Pada awal masa perannya sebagai imam, beliau rutin memberikan pelajaran Al Qur’an sesudah sholat subuh. Kuliah subuhnya kemudian menjadi sangat populer, sehingga beliau kembali menambah kelas malam dengan kajian tasawuf, tentang keluarga, dan kelas bagi pelajar berpendidikan Barat.

Selain menjadi imam utama di masjid Al Azhar, Hamka pun tak ubahnya seperti seorang dokter yang mengobati masyarakat yang sakit jiwa dan akhlaknya. Tidak sedikit masyarakat yang datang meminta nasehat agama dan mengadu permasalahan hidup kepada Hamka. Hamka mendapati banyak problem masyarakat metropolitan yang terjadi di tengah ibu kota baru, Jakarta. Ada seorang ibu yang mengadu dua anak perempuannya dihamili oleh seorang pejabat, ada istri yang melapor suaminya suka berjudi dan main perempuan, seorang suami yang ingin berpoligami, orang asing yang ingin belajar Islam dan minta disyahadatkan, hingga masyarakat yang meminta bantuan kepada Hamka untuk membantu kemalangan dan kemiskinan hidup yang menimpa dirinya.

Baik dari kalangan atas hingga masayarakat bawah, hampir setiap harinya tidak pernah sepi berdatangan untuk menemui Hamka. Hal tersebut terjadi saat Hamka dikenal lebih dekat sebagai Imam Besar masjid Al Azhar serta pimpinan Majalah Panji Masyarakat. Sampai akhir hayatnya, beliau selalu membuka rumahnya untuk menjadi tempat bertanya masyarakat Jakarta yang sedang mengalami peralihan masa kehidupan. Hamka pun sering mengingatkan dalam khutbah-khutbahnya di masjid Al Azhar, agar mewaspadai bahaya-bahaya yang mengancam moral masyarakat di zaman yang semakin maju tersebut.

Atas petuah Hamka, masjid agung Al Azhar pun membuka sayap lembaga pendidikan hingga layanan sosial bagi masyarakat. Kelompok masyarakat, pemuda Islam dan pemimpinnya mulai memenuhi ruang masjid Al Azhar, dan Hamka mengajak mereka untuk menjadikan masjid sebagai rumah kedua. Jamaah semakin membesar dan masjid ini telah menjadi basis pergerakan muslim di ibukota.

Pada Juli 1959, Hamka menerbitkan majalah tengah bulanan “Panji Masyarakat” bersama KH. Faqih Usman yang menitik beratkan soal-soal kebudayaan, ilmu pengetahuan dan gagasan-gagasan reformasi Islam yang selalu menjadi wacananya. Terdiri dari rubrik sejarah Islam, filsafat, tasawuf, berita Islam, kolom konsultasi agama serta lainnya. Hanya dalam waktu setahun, oplah penjualannya telah mencapai lima belas hingga dua puluh ribu eksemplar, dengan lebih dari seratus agen di Indonesia. Hamka pun mulai membawa warna modernisasi Islam dari tengah ibukota Indonesia.

Namun hanya setahun Panji Masyarakat berjalan, majalah tersebut dibredel Soekarno tanggal 17 Agustus 1960, karena memuat karangan Mohammad Hatta “Demokrasi Kita”, dimana Hatta mengkritik dengan tajam konsepsi “Demokrasi Terpimpin” dan pelanggaran-pelanggaran konstitusi yang dilakukan oleh Soekarno. –meski Majalah Panji Masyarakat kemudian kembali diterbitkan pada masa Orde Baru-.

Menurut Bung Hatta, demokrasi ketika itu sedang krisis, karena demokrasi tidak berjalan dengan semestinya. Hatta menyebutkan “Apa yang terjadi sekarang adalah krisis demokrasi, atau demokrasi dalam krisis. Demokrasi yang tidak mengenal batas kemerdekaannya, lupa syarat-syarat hidupnya, dan melulu menjadi anarki, lambat laun akan akan digantikan diktator. Ini adalah hukum besi sejarah dunia! Tindakan Soekarno yang begitu jauh menyimpang dari dasar-dasar konstitusi adalah akibat dari krisis demokrasi itu” (Dr. Mohammad Hatta, Demokrasi Kita, Jakarta: Pustaka Antara, hlm.10, 1966).

Meskipun Hamka ketika itu merancang Panji Masyarakat untuk bertarung dalam perang budaya, bukan politik. Namun ia membuka pintu majalahnya untuk tokoh proklamator kemerdekaan yang dihormatinya, yaitu Mohammad Hatta, mantan wakil presiden pertama Indonesia. Sebab perang budaya yang sedang terjadi, juga melekat pada gerakan komunis yang telah membawa pertarungan pada arah ideologi negara.

Sebagian tokoh bangsa kemudian membentuk Liga Demokrasi, untuk mengkritik sistem baru Demokrasi Terpimpin yang diciptakan oleh Soekarno, diantara pemimpinnya yaitu Moh Hatta. Soekarno telah menjadi pemimpin tunggal, yang memiliki kekuasaan mutlak. Ia membubarkan Majelis Konstituante, membekukan partai-partai yang menjadi lawan politiknya dan mengganti DPR hasil pemilu, dengan DPR Gotong Royong yang anggotanya ia pilih sendiri.

Kebudayaan Islam “mempunyai hak untuk hidup di negeri ini” sebut Hamka, dan akan terus mengisi nilai-nilainya dalam kebudayaan nasional kita. Mengapa kita lebih mudah menerima budaya Barat, sebagai Belanda atau Amerika, atau komunisme dari budaya Rusia. Sedangkan kita sensitif dengan budaya Arab, yang tidak lain adalah kebudayaan muslim. Padahal hanya perlu dua abad, Islam telah menggantikan sepenuhnya pengaruh Hindu-Budha yang dianut selama dua belas abad sebelumnya. Sehingga mayoritas kita telah menjadi muslim di Nusantara. (James R. Rush, Adicerita Hamka: Visi Islam Sang Penulis Besar untuk Indonesia Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2017, hlm.163)

Di antara beberapa orang terkemuka yang menaruh perhatian dan mendukung upaya Hamka dari masjid Al Azhar ialah Letnan Jenderal Sudirman, Komandan Seskoad Bandung dan Kolonel Muchlas Rowi, Kepala Pusroh Islam Angkatan Darat di Jakarta. Kedua perwira ABRI ini sering datang ke rumah Hamka, membahas situasi negara dan nasib umat Islam di bawah rezim yang sangat dipengaruhi oleh Partai Komunis Indonesia. Mereka kemudian bersepakat untuk mendirikan Perpustakaan Islam di Masjid Al Azhar, dengan nama Yayasan Perpustakaan Islam Pusat. Peresmiannya dihadiri oleh pejabat negara yang semakin merestui dan menunjukkan peran besar masjid Al Azhar, diantaranya ibu Fatmawati, Jenderal A.H. Nasution, Ruslan Abdulgani,dan tokoh lainnya.

Atas pesan dari Jenderal Nasution yang waktu itu menjadi Panglima Angkatan Bersenjata dan Menteri Pertahanan dan Keamanan, melalui Letnan Jenderal Sudirman dan Mukhlas Rowi, beliau mengusulkan agar Hamka kembali menerbitkan majalah baru, dimana mereka menjadi struktur redaksinya. Majalah itu kemudian diberi nama “Gema Islam”, yang isi dan jiwanya dari Hamka, melanjutkan majalah Panji Masyarakat, yang pernah dibredel oleh rezim Soekarno. Pemimpin Umum majalah yaitu Letnan Jenderal Sudirman, Pemimpin Redaksi M.Rowi, Sekretaris Redaksi Rusydi Hamka. Kemudian dicantumkan para Dewan Redaksi dan pembantu-pembantu yang diambil dari semua partai-partai dan ormas Islam, untuk mencerminkan persatuan ummat Islam. Hamka mendapat sokongan kekuatan dari dalam pemerintahan yang tidak sepakat dengan sistem baru Soekarno.

Masjid Agung Al Azhar sebagai pusat kegiatan dakwah dan penerbitan majalah Gema Islam, akhirnya mulai kembali diteropong oleh intel-intel rezim Orde Lama. Melalui Koran komunis disiarkan berita bahwa di masjid itu sedang tumbuh “neo Masyumi” pimpinan Hamka. PKI melalui organisasi LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakyat) menyerang kaum budayawan Islam, terutama Hamka. Serangan PKI yang sangat gencar di sektor kebudayaan ini pun mendapat bantuan dari organisasi kebudayaan PNI yaitu LKN (Lembaga Kebudayaan Nasional).

D.N. Aidit gembong PKI pertama, Ruslan Abdulgani dan segenap pendukung pemerintah diperkenankan menjadi Djubir Usman –Djuru Bicara Usdek Manipol- , dimana-mana mereka berpidato dengan menjadikan Masyumi bulan-bulanannya. Setiap pidato Aidit dan Nyoto, diberitakan dengan gencar melalui corong mereka, koran “Harian Rakyat” dan “Bintang Timur” dan lambat laun kantor berita resmi pemerintah seperti “Antara” dan “RRI” juga mulai dipengaruhi oleh PKI.

Situasi semakin memanas, bersamaan dengan gencarnya serangan terhadap umat Islam melalui sektor kebudayaan, aksi-aksi mahasiswa PKI menuntut pembubaran HMI. Hamka kemudian memanggil tokoh-tokoh HMI di antaranya Sulastomo, Ekki Sahruddin dan Mar`ie Muhammad. Mereka mengadakan rapat di aula masjid Al Azhar, untuk mengatur pergerakan dakwah dalam situasi yang semakin kritis. Hanya ABRI dan Jenderal Nasution yang ketika itu menjadi tameng menjaga mereka dari struktural negara.

Namun PKI juga kian agresif, dan presiden Soekarno juga selalu memihak mereka. Sehingga timbul aksi sepihak PKI yang kemudian mendiskreditkan Angkatan Darat. Jenderal Nasution mulai tersingkir, kedudukannya sebagai KASAD digantikan oleh Jenderal A.Yani, Muchlas Rowi sebagai Pusroh Islam Angkatan Darat dan penanggung jawab majalah Gema Islam, juga dikirim ke Amerika. Maka majalah Gema Islam pun semakin melemah dan harus hidup sendiri.

Hingga pada suatu kesempatan Hamka mendapat serangan, karyanya mendapat cacian selama berbulan-bulan, melalui gerakan kebudayaan LEKRA dan harian “Bintang Timur” yang memuat tuduhan bahwa Hamka melakukan plagiat atas karya sastranya “Tenggelamnya Kapal Van der Wijck” dengan cara yang sangat lcik. Hamka kemudian ditangkap, bukan karena soal karya sastra, atau dakwahnya. Namun beliau terkena undang-undang anti subversif, yaitu tuduhan mengadakan kerjasama hendak membunuh Presiden Soekarno.

Namun setelah nyata tidak ada bukti dan tuduhan itu adalah fitnah belaka, bukannya ditahan paling lama satu tahun sebagaimana dalam Pen.Pres.no.11/1963. Melainkan Hamka mendapatkan penahanan hingga dua tahun empat bulan. Sehingga tampaklah bahwa penangkapan ini hanyalah bagian dari cara untuk menyingkirkan seseorang yang dipandang sebagai musuh politik oleh rezim yang sedang berkuasa. Tidak hanya Hamka, banyak tokoh-tokoh bangsa yang mendapatkan fitnah dan menjadi tahanan politik rezim Orde Lama.

Zaman bergilir, ada yang naik dan ada yang jatuh, kekuasaan Allah pergilirkan. Maka saat terjadi perubahan politik, rezim Orde Lama jatuh akibat konflik yang dilakukan kaum komunis yang telah banyak membunuh para Jenderal, hingga digagalkan oleh Angkatan Darat. Saat rezim berganti pada era Orde Baru. Hamka kemudian dibebaskan beserta semua tahanan politik Orde Lama. Maka tampaklah kebenarannya, bahwa ambisi dan kejahatan politik Orde Lama telah banyak merugikan masyarakat dan negara.

Para tokoh bangsa kemudian mengadakan tasyakuran di Masjid Agung Al Azhar pada 14 Agustus 1966, sebagai bentuk kesyukuran karena Allah masih memberikan nikmat untuk dapat melewati masa kelam kediktatoran Soekarno yang terpengaruh PKI dan dibebaskannya tahanan politik untuk dapat melanjutkan perjuangan di masa Orde Baru. Prawoto, Rum, Kasman Sigodimedjo, Assaat, Burhanuddin Harahap, Yunan Nasution, M. Natsir, Fakih Usman, Isa Anshari, Muttaqien, Imron Rosyidi, Amelz, Omar Tusin dan lainnya adalah para tokoh bangsa dan pemimpin pergerakan, merupakan bekas tahanan politik yang hadir dalam tasyakuran tersebut.

M.Natsir dan dan Prawoto Mangkusasmito berpidato tentang makna kesyukuran dan nikmat dari Allah, di hadapan ribuan ummat Islam yang telah memadati kompleks Masjid Al Azhar. Acara tersebut mendapatkan sambutan yang luar biasa dari masyarakat, kemudian diberitakan secara besar di media-media. Salah satunya dalam Surat Kabar Harian Angkatan Bersenjata milik negara pada Selasa, 16 Agustus 1966:

“Pertemuan Tasyakuran sebagai rasa syukur kepada Tuhan atas terhindarnya Bangsa Indonesia dan dibebaskannya oleh Pemerintah beberapa tahanan politik baru-baru ini, seperti yang telah diberitakan “Angakatan Bersenjata” beberapa hari yang lalu, minggu kemarin ternyata telah mendapat sambutan yang luar biasa dari masyarakat ibukota khususnya dari ummat Islam, sehingga Masjid Agung Al Azhar dengan halamannya yang sebegitu luas tidak mampu menampung antusias dari masyarakat yang betul-betul telah merindukan para tahanan politik korban fitnah Gestapu/PKI dan durno-durnonya.

Nampaklah Masjid Agung Al Azhar tersebut menjadi arena yang penuh berjubel manusia yang hanya ingin melihat dan terutama hendak mendengar suara Bapak-bapaknya yang telah bertahun-tahun lamanya meringkik di tahanan politiknya kaum kontra keadilan dan kebenaran. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan berjejal-berjejal manusia yang kepanasan karena harus berdiri di luar, bahkan di lapangan karena aula masjid sendiri telah menjadi penuh padat, sedang para petugas sendiri Nampak kewalahan oleh keadaan yang sedemikian hebatnya. Namun demikian rakyat yang berjubel itu tampak tenang dan tetap mengikuti jalannya acara dengan penuh khidmat.” (M. Natsir dan Prawoto Mangkusasmito, “Sjukur dan Ni`mah: Tasjakkur di Mesjid Agung”, Djakarta: Bulan Bintang, 1966)

Masjid Agung Al Azhar beserta Hamka dan para tokoh bangsa, telah menginisiasi satu pengaruh dan perubahan besar dari masjid. Masjid Agung Al Azhar tidak hanya menjadi tempat beribadah yang nyaman bagi banyak masyarakat muslim di ibukota. Namun ia juga telah menjadi ruang bermukim dari perubahan sosial dan saksi bisu perguliran sejarah dari hiruk pikuknya kekuasaan negara yang pernah rapuh pada masanya. Sehingga masjid tersebut menjadi basis untuk menghimpun kekuatan baru dan perbaikan yang tidak terlepas dari pertolongan dan keyakinan kepada Allah Subhanahu wata`ala.

***********

Penulis: Bambang Galih Setiawan
(Alumni Ma`had Aly Imam Ghazaly Surakarta, Penulis Buku Pemikiran dan Perjuangan M.Natsir dan Hamka dalam Pendidikan)

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)