Ustadz Umar Soleh, dari lahir hingga menyelesaikan Sekolah Menengah Atas. Ia lahir dari binaan salah satu ulama Kharismatik Sulsel. K.H. Ahmad Marzuki Hasan di Sinjai Selatan. Sala satu tokoh Muhammadiyah Sulawesi Selatan sekaligus pendiri Pondok Pesantren Darul Istiqomah.

Ustadz Umar bin Saleng bin Bambang bin Lambu atau yang lebih dikenal dengan nama Ustadz Umar Soleh rahimahullah salah satu kader awal Wahdah Islamiyah yang lahir di Bonto Pe’da lingkungan Caile Bikeru Sinjai Selatan pada 31 Desember 1966 dari seorang ayah yang bernama Soleh dan Ibu bernama Puang Bonti.

Beliau adalah anak ke lima dari enam bersaudara. Lahir dari keluarga sederhana yang agamis, meskipun hidup sederhana kedua orang tua Ustadz Umar Soleh senantiasa memumuk nilai-nilai pendidikan kepada seluruh anak-anaknya. Ustadz Umar Soleh mulai bersekolah menempuh jenjang-jenjang pendidikannya di SD 43 Bikeru Sinjai Selatan selama 6 tahun. Bakatnya dalam dakwah mulai muncul saat beliau masih duduk di bangku kelas 4 SD.

Saat itu, sering kali beliau mengumpulkan kawan-kawannya lalu beliau berceramah di hadapan mereka. Walaupun kawan-kawannya hanya menertawai jika Ustadz Umar kecil mulai menampakkan gaya berceramahnya. Selain skill dakwahnya mulai muncul, skill bisnisnya sejak kecil sudah mulai nampak. Sejak SD Ustadz Umar sudah belajar mandiri, mengumpulkan penghasilan sendiri dengan jualan belimbing di sekolah yang hasilnya digunakan untuk melanjutkan pendidikan ke SMP.

Setelah menamatkan jenjang sekolah dasar, beliau sangat berkeinginan melanjutkan jenjang pendidikannya di pesantren, akan tetapi harapan beliau belum bisa terealisasi karena adanya beberapa kendala. Oleh karena itu, tidak ada pilihan kecuali melanjutkan pendidikan di sekolah terdekat di kampung halamannya yaitu pada Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri Bikeru.

Saat berada di jenjang pendidikan inilah, kedekatannya dengan nilai-nilai syariat Islam semakin terpupuk, secara khusus setelah beliau banyak mengikuti pengajian yang dibawakan oleh K.H. Ahmad Marzuki Hasan di Sinjai Selatan. Tokoh gerakan Muhammadiyah Sulawesi Selatan sekaligus pendiri Pondok Pesantren Darul Istiqomah inilah yang banyak mempengaruhi cara berfikir Ustadz Umar Soleh sejak masih remaja.

Kegiatan-kegiatan pengajian sang kiai hampir tidak pernah ditinggalkan oleh Ustadz Umar sejak duduk di bangku SMP, tidak kenal pagi, siang ataupun malam, jika sang kiai sedang berada di Sinjai Selatan khususnya di wilayah tempat tinggal Ustadz Umar, kesempatan tidak pernah disia-siakan dengan selalu menghadiri dalam majelis. Wajar jika pola pikir keagamaannya sangat kental dengan guru yang sangat dikaguminya itu. Bahkan apa saja yang ia dapatkan dari tempat pengajiannya mulai didakwahkan kepada orang lain.

Selain nilai-nilai Islam yang terus tumbuh dalam diri ustd Umar, kepiawaian dalam berbisnis semakin meningkat. Jika di SD beliau berdagang belimbing, di SMP beliau mulai jualan dan bisnis buku.

Memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi yaitu Sekolah Menengah Atas (SMA), beliau kembali melanjutkan pendidikannya di sekolah negeri tepatnya di SMA Negeri 1 Bikeru. Di sekolah, beliau termaksud murid yang rajin dan kritis terhadap apa saja yang terjadi di sekolahnya, khususnya berkenanan dengan hal yang berkaitan dengan syariat Islam.

Semakin lama beliau belajar dari K.H. Marzuki Hasan, semakin tertanam prinsip-prinsip Islam dalam hidupanya. Di masa SMA inipun, beliau hampir tidak pernah absen menghadiri kegiatan pengajian K.H. Marzuki Hasan. Ustadz Umar dengan setia mengikuti setiap pengajian yang dilaksanakan oleh gurunya di desanya ataukah di desa-desa tetangga.

Bapak Massiara kakak Ustadz Umar Soleh mengenang adiknya mengatakan bahwa sering kali Ustadz Umar harus dicari di malam hari karena lambat pulang ke rumah, setelah dicari ternyata beliau sedang mengikuti pengajian Kiai Marzuki yang dilaksanakan pada malam hari. Hal seperti ini sering kali terjadi, karena Ustadz Umar biasanya meninggalkan rumah tanpa menyampaikan ke orang tua karena kawatir dilarang keluar malam untuk mengikuti pengajian.

Selama duduk di bangku SMA, selain memperdalam pemahaman agamanya, skill dagangnya pun semakin meningkat. Selain jualan buku, ketika itu ia juga berjualan rokok akan tetapi tidak digelutinya lama. Ustadz Umar ketika itu menyampaikan kepada sang Kakak akan meninggalkan jualan rokok karena menurutnya jika ia berjualan rokok lambat laun ia pun akan menjadi perokok. Akhirnya beliau meninggalkan aktivitasnya ini dan fokus jualan buku.

Memasuki kelas 2 SMA, terjadi satu peristiwa yang menyebabkan Ustadz Umar nampak “frustasi” dan harus memilih untuk meninggalkan atau berhenti dari sekolah. Alkisah, idealisme pemahamannya jauh berbeda dengan realitas yang dihadapi khususnya di sekolah. Ustadz Umar beberapa kali memberikan masukan kepada guru-gurunya secara khusus guru olahraga agar siswi tidak dibiarkan menggunakan pakaian training, selain itu beliau selalu menyuarakan agar siswi-siswi semestinya menggunakan jilbab saat bersekolah.

Akan tetapi usaha dan upayanya belum membuahkan hasil, beliau seakan tertekan di dalam lingkungan sekolah yang penuh dengan siswi-siswi yang tidak berjilbab, ia tidak tahan melihat kondisi tersebut sehingga mengalami semacam tekanan. Karena suaranya tidak dihiraukan oleh sekolah, bersama dengan kawannya ia pun berjalan kaki dari Sinjai Selatan ke Sinjai kota ingin berjumpa dengan kepala bagian pendidikan ketika itu untuk menyampaikan keluhan sekaligus usulannya tentang kondisi siswi-siswi di sekolahnya.

Dalam kondisi yang demikian, keluarga menganggap Ustadz Umar telah “strees” karena kondisi tersebut. Ia berjalan jauh hanya menggunakan sarung sambil selempang tas. Sering kali dilarang keluar rumah tetapi beliau tidak menghiraukan, bahkan meloncat dari jendela dan kabur dari rumah. Karena sering “bentrok” pendapat dengan guru-gurunya terkhusus ketika itu guru olahragnya beliau pun berhenti dan memilih pindah ke sekolah yang dianggap lebih bisa mengakomodir sistem yang difahaminya.

Akhirnya beliau pun memilih pindah ke Madrasah Aliyah Negeri (MAN) di Sinjai Utara, disanalah beliau menyelesaikan pendidikannya dan selanjutnya berhijrah ke kota Makassar melanjutkan pendidkan strata satunya di IAIN Makassar.

Ustadz Umar Soleh sejak kecil dikenal sebagai seorang anak yang pendiam memiliki karakter tenang tetapi bersamaan dengan itu Ia dikenal sebagai anak yang sangat ulet bekerja membantu kedua orang tua. Sejak sekolah dikenal sangat Mandiri mencari pendapatan dan penghasilan sehingga tidak menyusahkan kedua orang tuanya.

Sumber / Referensi:
1. Massiara (Kakak Ustadz Umar Soleh)
2. Syamsir (Adik Ustadz Umar Soleh)
3. Fatmawati (Istri Ustadz Umar Soleh)
4. Yasir Massi (keponakan Ustadz Umar Soleh)
5. Akram Umar (Anak pertama Ustadz Umar Soleh)

***********

Bersambung, Insya Allah..

Makassar, 16 Oktober 2020

Penulis: Ustadz Syandri Syaban, Lc., M.Ag
(Almuni Internasional Islamic University Islamabad Pakistan, Dosen STIBA Makassar dan Kontributor mujahiddakwah.com)

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)