Sehari sebelum Ustadz Usman Laba meninggal dunia, beliau masih menyempatkan diri berangkat ke toko bangunan untuk membayar beberapa tunggakan pondok, sekaligus mampir di bank untuk mengambil dana yang akan diperuntukkan sebagai Tunjangan Hari Raya (THR) pembina dan petugas pondok. Setelah kembali ke kompleks pesantren, sore itu juga beliau membagikan THR kepada seluruh pembina.

Sore hari tersebut, pondok juga kedatangan tamu yang bertujuan membawakan iftor (buka puasa) untuk seluruh penghuni pesantren. Semua berbuka bersama, Ustadz Usman kelihatan sangat sehat bugar. Seperti biasanya, ustaz sangat aktif melayani tamu, menyapa dan diskusi ringan dengan mereka, sambil sesekali tetap mengarahkan santri untuk masuk ke dalam masjid persiapan berbuka puasa. Ketika waktu berbuka tiba, para tamu dan pembina berbuka puasa bersama ustaz sambil melanjutkan perberbincang mereka.

Malam ke-14 Ramadhan, menjelang dimulainya salat Tarawih, Ustadz Usman mendatangi salah satu pembina pondok yang juga keponakan beliau yaitu Umar Syam memintanya untuk menggantikan memimpim salat karena mengeluhkan sakit tenggorokan. Akan tetapi karena Umar Syam tidak begitu siap, ia hanya menyampaikan ke Ustadz Usman, “saya tidak siap ustaz, hafalan saya untuk juz ini tidak begitu lancar”. Oleh sebab itu, Ustaz tetap “memaksakan diri” memimpin salat meskipun dengan tenggorokan yang agak bermasalah.

Memasuki malam ke-15 Ramadhan 1440 H, beliau masih memimpin salat tarwih. Akan tetapi, malam itu tidak seperti biasanya dimana sebelum berdiri melanjutkan salat witir beliau menyempatkan diri memberikan beberapa taujihat (nasehat) kepada para jamaah yang hadir sekaligus menyapa santri ikhwah dan akhwat sambil mengatakan “saya mencintai kalian karena Allah” selain itu beliau juga mengingatkan jamaah untuk memanfaatkan sisa-sisa hari mulia di bulan Ramadhan sebaik mungkin.

Karena hari itu bertepatan dengan masuknya waktu liburan untuk seluruh santri/santriwati, beliaupun menyampaikan nasehat khususnya untuk seluruh santri dan santriwati “untuk anak-anakku semua, besok kalian sudah bisa pulang (liburan) dan saya wasiatkan untuk tetap menjaga hafalan jangan sampai HP atau TV “memakan” hafalan kalian, teruslah murajaah hafalan kalian dan teruslah bertakwa kepada Allah karena kematian pasti akan menjumpai setiap yang bernyawa dimanapun ia berada. Pada malam itu beliau juga pamit kepada seluruh penghuni pondok, karena memang beliau esok harinya terjadwal akan berangkat melaksanakan ibadah umroh.

Masih sangat segar dalam ingatan penghuni pondok untaian nasehat beliau malam itu dan akan terus menjadi kenangan indah bagi seluruh yang hadir. Diantara nasehat tersebut adalah untuk memanfaatkan momentum Ramadhan sebaik mungkin dengan mengutip hadis Jibril dimana Nabi Sallallahu A’laihi Wassalam sebanyak tiga kali mengucapkan amin, amin, amin.

Hadis tersebut adalah hadis dari sahabat yang mulia Jabir Radhiyallahu a’nhu, bahwasanya Rasulullah naik ke mimbar. Ketika beliau naik ke anak tangga pertama, kedua, dan ketiga beliau mengucapkan, “Amiin”. Lalu para sahabat bertanya: Wahai Rasulullah, kami semua mendengar engkau berkata: Amiin, amiin, amiin. Beliau menjawab, ”Ketika aku menaiki tangga pertama, Jibril datang kepadaku dan berkata: Celakalah seorang hamba yang mendapati bulan Ramadan namun dosanya tidak diampuni. Maka Aku pun berkata: Amiin. Kemudian Dia (Jibril) berkata: Celakalah seorang hamba, jika mendapati kedua atau salah satu orang tuanya masih hidup, namun keberadaan kedua orang tuanya tidak membuatnya masuk ke dalam surga. Aku pun berkata: Amiin. Kemudian Dia (Jibril) berkata: Celakalah seorang hamba, jika namamu disebutkan dihadapannya tapi dia tidak bershalawat untukmu. Maka Aku pun berkata: Amiin.

Hadis ini dikisahkan lengkap oleh beliau sebagai motivasi bagi jamaah untuk serius memaksimalkan diri memanfaatkan momentum bulan suci nan mulia Ramadhan. Setelah itu beliau melanjutkan untaian nasehat-nasehat terakhirnya dengan menyebutkan ayat-ayat tentang kematian:

Pertama beliau mengutip ayat dalam surah an Nisa ayat 78.

أَيْنَمَا تَكُونُواْ يُدْرِككُّمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنتُمْ فِي بُرُوجٍ مُّشَيَّدَةٍ

Artinya: “Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh….”

Setelah itu, beliau menyebutkan ayat kedua dari surah Al Ankabut ayat 57.

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ثُمَّ إِلَيْنَا تُرْجَعُونَ ﴿٥٧﴾

Artinya: “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan”.

Setelah menyampaikan untaian-untaian nasehat terakhirnya, Ustadz Usman Laba menutup pesannya dengan meminta kesediaan seluruh penghuni pondok untuk tetap tinggal sejenak di lingkungan pesantren. Beliau mengatakan “walaupun besok kalian semua sudah jadwalnya pulang, tetapi saya berharap jangan ada yang meninggalkan pondok karena masih ada sumbangan iftor yang harus dipertanggung jawabkan laporan dan dokumentasinya kepada donatur” setelah itu barulah beliau tutup dan melanjutkan salat witir.

Keesokan harinya saat masuknya waktu sahur, beliau masih sempat menyiapkan hidangan sahur untuk keluarga, walaupun memang subuh itu sedikit aneh karena semua anak-anaknya tidak ada nafsu makan sama sekali. Ketika waktu subuh telah masuk, beliau mengimami salat berjamaah di masjid pondok. Setelah melaksanakan salat, nampak sesuatu yang berbeda pada diri beliau, kebiasannya sehabis salat Subuh beliau zikir dan murojaah atau menerima setoran hafalan santri kemudian setelah itu salat Duha lalu meninggalkan mesjid.

Adapun Subuh itu, sehabis salat beliau langsung balik ke kamarnya. Sebagaimana yang diInformasikan Ummu Thol’at (istri Ustadz Usman Laba) ketika sang suami masuk kamarnya, beliau mengeluhkan sakit di dada, dalam kondisi demikian sang istri pun memijit titik rasa sakit sang suami di dadanya, sampai akhirnya merasa lebih nyaman lalu Ummu Thol’at meninggalkan sang suami yang beristirahat sembari mengatakan “sehat-sehatki Abah karena mauki pergi umroh”. Sekitar pukul 08.30 pagi, Ummu Thol’at memanggi-manggil sang suami karena salah satu santriwati ingin meminta izin.

Akan tetapi karena panggilan tidak direspon, akhirnya Ummu Thol’at masuk ke tempat peritirahatan suaminya, membangunkan dengan menyentuh badannya, tetapi sang istri agak heran karena badan suaminya agak dingin. Akhirnya ia pun menyuruh Maemunah anak keempatnya untuk memanggil pamannya yaitu (ayah Umar Syam kakak sulung ustaz Usman yang ketika itu berada di pondok dalam rangka membantu pembangunan.

Bergegas Maemunah berangkat menyampaikan kepada sang paman (Abdul Halim bin Laba) bahwa abahnya (ayahnya) dibangunkan tapi tidak respon dan kakinya terasa dingin. Mendengarkan itu, Abdul Halim bin Laba tanpa pikir panjang berlari lalu masuk kamar melihat kondisi adiknya. Sesampainya di kamar, ia sangat kaget kemudianmenyentuh badan adiknya yang sudah Nampak dingin dan kaku. Menyaksikan kondisi tersebut, sang kakak secara spontan mengatakan “innalillah” ustaz sudah meninggal dunia.

Bapak Abdul Halim seketika itu juga, keluar dari kamar Ustaz Usman kemudian menyampaikan informasi kesedihan itu kepada seluruh keluarga. Keluarga-keluarga yang berada di pondok pun ketika itu segera berkumpul di sisi ustaz Usman dan semua memijat badan beliau untuk memastikan keadaan beliau Karena saat itu sebagaian belum percaya bahwasanya Ustaz telah meninggal dunia.

Bagaimana tidak, ustaz Usman yang baru saja bersama mereka di Subuh hari, tiba-tiba diinfokan meninggal dunia. Akan tetapi setelah -+10 menit kata Umar Syam, kami berusaha meyakinkan apa yg kami saksikan, barulah kami yakin jika ustaz Usman telah pergi mendahului kami. Di saat itulah, suasana menjadi begitu berbeda, semua meneteskan air mata melepas sosok yang sangat disayangi dan dicintai.

Kepergian Ustadz Usman begitu cepat tersebar ke seluruh tataran kader Wahdah Islamiyah, hari itu, mulai dari tingkat pimpinan Wahdah Islamiyah, warga sekitar, kolega pembagungan pesantren, sampai santri-santri dari seluruh tinggkatan yang sempat merasakan didikan Ustadz Usman Laba hadir melepaskan sosok pendidik yang berdedikasi tinggi ini.

Lokasi Pondok ketika itu dipenuhi dengan peziarah yang ingin bersama melepas kepergian beliau untuk selama-lamanya. Banyaknya orang yang hadir ketika itu semoga menjadi tanda kebaikan-kebaikan yang telah ditanamkannya selama hidup.

Setelah dimandikan dan disalati “pejuang tahfidz” ini pun dibawa dan kembali disalatkan di masjid Kampus Stiba kemudian selanjutnya dibawa ke pekuburan Baqi’. Pengantar jenazah begitu banyak yang saling beriringan menghantarkan jenazahnya ke peristirahatan terakhir. Kalimat-kalimat perpisahan di pekuburan disampaikan langsung oleh ketua harian Wahdah Islamiyah yaitu Ustaz Rahmat Abd. Rahman. Rahimaullah Ustaz Usman Laba.

***********

Bersambung, Insya Allah..

Makassar, 3 Oktober 2020

Penulis: Ustadz Syandri Syaban, Lc., M.Ag
(Almuni Internasional Islamic University Islamabad Pakistan, Dosen STIBA Makassar dan Kontributor mujahiddakwah.com)

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)