“…mulailah pendidikan kepada murid dengan hal Sakral terlebih dahulu, kemudian satukanlah pendidikan tersebut dengan pendidikan yang berkaitan hal profan harapannya adalah ketika pendidikan sakral sudah tertanam dalam jiwa murid maka Ia akan lebih hat-hati dalam memberi porsi terhadap hal-hal yang profan.”

Dalam dunia pendidikan banyak sekali tantangan yang dihadapi salah satu projek terbesar dalam dunia pendidikan adalah pendidikan Akhlaq, dimana pendidikan ini menjadi fokus dimasa kini, karena perlahan perkembangan dunia dalam teknologi semakin pesat dan tak terbendung tetapi perkembangan akhlaq, karakter, sifat, budi luhur manusia semakin merosot.

Dapat kita rasakan banyaknya fenomena yang kadang diluar nalar manusia, seperti anak menuntut ibunya dalam pengadilan, seorang murid melawan gurunya secara fisik, Hakim dapat disuap, uang dapat menembus birokrasi dan regulasi, Dewan Perwakilan Rakyat menjadi arena perebutan kekuasaan bukan perebutan kebaikan dalam menyampaikan aspirasi rakyat dsb.

Jika kita menelisik lebih dalam apa yang membuat manusia sekarang lebih condong profan dalam memandang sesuatu? Dan manusia sekarang meninggalkan unsur-unsur sakral dalam kehidupanya?

Mungkin dapat diberi hipotesa bahwa pendidikan di era sekarang lebih mementingkan kebutuhan materi secara profan bukan kebutuhan jiwa secara sakral.

Misalkan dalam materi pendidikan formal sekarang, pelajaran Agama nilai nilai Ilahiyah seakan menjadi pelengkap dalam sekolah bukan menjadi fokus utama dalam pendidikan.

Sedangkan Pelajaran lain diberi porsi lebih bertujuan untuk menunjang kemampuan murid secara kognitif, dari hal ini terlihat seakan-akan pelajaran agama dimarjinalkan dan dikesampingkan dalam Pendidikan.

Sehingga terbentuk suatu mindset pragmatis dalam menjalani masa pendidikannya, “saya sekolah kedokteran agar dapat kerja yang layak”, “Saya sekolah tehnik agar cepat kerja. dll

Menjalani masa pendidikan hanya untuk sebatas ingin kerja dan mendapat uang. Terjadinya mindset seperti ini karena dari mulai belajar sudah dihadapkan dengan pola pendidikan yang Profan bukan pola pendidikan yang sakral.

Memang kebutuhan akan pekerjaan adalah hal yang penting tetapi hal semacam ini harus diimbangi dengan spiritualitas dalam jiwa yang kuat dan luhur, agar nantinya ketika seorang murid telah berhasil menyelesaikan jenjang pendidikannya bukan hanya sebatas kerja yang akan didapat, tetapi ada unsur sakral dan spiritualitas jiwa.

Lalu bagaimana cara untuk menanggulangi ketimpangan ini? Salah satu solusinya adalah dengan mengintegrasikan antara pelajaran umum dan pelaran agama, agar kognitif selalu dikawal oleh spriritualitas jiwa.

Contohnya sekolah-sekolah yang berbasis Islam didalamnya terdapat pelajaran Agama Islam dan pelajaran umum keduanya dipadukan, tidak ada yang dimarjinalkan dan tidak ada yang dikesampingkan semuanya beriringan berjalan.

Seperti halnya juga dalam pola pendidikan pesantren yang seluruhnya dibaluti dengan suasana sakral karena Masjid sebagai pusat pergerakan, asrama sebagai pusat kehidupan bermasyarakat, dan Kiayi sebagai figur utama dalam membimbing dan mengarahkan santri. Diatas hanya Allah di bawah hanya tanah, jiwa dan raga selalu terpaut dengan Allah.

Dalam Islam tidak ada pemisah antara hal profan dan Sakral, keduanya terpadu, seimbang, dan terintegrasi dan berlanjut pada internalisasi dalam diri.

Maka dalam tulisan ini penulis tidak memihak pada satu hal sakral saja dan melupakan profan, tetapi keduanya tidak bisa dipisahkan. Ini terjadi karena dalam prinsip Islam terdapat satu prinsip yaitu “Jika seorang Muslim mencari Dunia saja maka Akhirat akan terlupakan, tetapi jika seorang muslim mencari Akhirat maka Hal dunia akan mengikutinya”.

Dan penulis berkesimpulan, mulailah pendidikan kepada murid dengan hal Sakral terlebih dahulu, kemudian satukanlah pendidikan tersebut dengan pendidikan yang berkaitan hal profan harapannya adalah ketika pendidikan sakral sudah tertanam dalam jiwa murid maka Ia akan lebih hat-hati dalam memberi porsi terhadap hal-hal yang profan.

************

Penulis: Ustadz Alvin Qodri Lazuardy, S.Ag
(Alumni UNIDA Gontor, Pengasuh PP. Muh. Ahmad Dahlan Tegal dan Kontributor mujahiddakwah.com)

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)