Berbicara perjuangan kemerdekaan Indonesia, sulit bagi kita melupakan perjuangan militer dari nama-nama seperti Syaikh Yusuf al-Maqassari, Syaikh Abdul Samad al-Falimbani, Pangeran Diponegoro, Kyai Modjo, Sentot Ali Bahsya, Jendral Soedirman, dan lain sebagainya. Berbicara tentang usaha mempertahankan kemerdekaan Indonesia, sulit rasanya melupakan Fatwa Jihad KH. Hasyim Asy’ari (sebagai ketua umum partai MASYUMI) dan perjuangan laskar santri.

Dan, berbicara mengenai perjuangan umat Islam dalam memperjuangkan agama dan negaranya, khususnya di masa politik etis, sulit rasanya melewatkan perjuangan para ulama lewat berbagai institusi pendidikan bernama pesantren. Snouck Hurgronje pernah mengatakan, kalau mau melemahkan umat Islam, haruslah dengan memutuskan mereka dari belenggu agamanya lewat pendidikan dan pengajaran. Hal inilah yang dilakukan oleh Van Lith lewat Kweekschool-nya.

Dalam buku Pesan Perjuangan Seorang Bapak: Percakapan Antar Generasi-nya, Natsir menceritakan bagaimana para ulama yang tersebar ke berbagai penjuru Nusantara mendirikan ragam pesantren sebagai Lembaga jihad mereka. Natsir meyebut ini sebagai strategi uzlah, atau dalam bahasa Dr. Majid Irsan al-Kilani dalam buku Hakadza Jiilu Shalahuddin wa Hakadza ‘Adat al-Quds-nya, disebut sebagai al-insyihab wa al-‘audah. Lebih jauh Natsir mengatakan:

“Bagaimana pun kita melakukan upaya untuk menghadapi politik etis yang terselubung itu. Reaksi pertama ialah datang dari para ulama kita. Ulama kita melakukan ‘uzlah’, melakukan hijrah mental, menyendiri begitu. Dengan baik-baik, dengan tidak melawan secara fisik, karena senjata sudah tidak ada lagi. Ia meninggalkan kota-kota besar supaya jangan pemuda-pemuda ini terpengaruh oleh upaya-upaya penjajah. Jadi kita bawa generasi muda kita ke pinggir-pinggir kota, ke desa-desa, ke gunung atau ke pantai, sehingga tidak terpengaruh oleh kehidupan di kota besar. Nah, di tempat-tempat terasing itulah para ulama membuka pesantren-pesantren. Dari apa yang sudah saya kemukakan tadi, jelas terlihat bahwa pesantren adalah lembaga yang dikembangkan dalam rangka perjuangan bangsa Indonesia. Dengan demikian, pesantren bukan saja merupakan Lembaga pendidikan, tetapi mempunyai peran yang penting dalam perjuangan nasional. Waktu itu, misalnya, dalam rangka menanamkan jiwa anti penjajah, para santri tidak boleh memakai dasi, haram hukumnya, karena menyerupai penjajah, orang-orang Barat. Pantalon juga haram, musti pakai sarung. Kita memang melakukan ‘uzlah’ baik secara fisik ataupun secara spiritual. Pesantren-pesantren ini mempunyai alam pemikiran sendiri, alam perasaan sendiri, yang berbeda dengan apa yang di kota-kota yang dipengaruhi oleh politik asosiasi dari Belanda. Mungkin kalau kita memandang larangan pakaian itu dari segi fikh dan dalam konteks sekarang, kita akan tersenyum. Tapi sebagai metode perjuangan, dan dalam konteks penjajahan waktu itu, cara yang dipakai para ulama kita dengan uzlah-nya ini merupakan pemikiran yang amat cerdik, kalau tidak kita katakan ‘briliant’” (M. Natsir, Pesan Perjuangan Seorang Bapak: Percakapan Antar Generasi, 2019: 41-42).

Sejalan dengan Natsir, pada 28 November 1928, di Majalah Wasita, Jilid 1 No. 2, Ki Hajar Dewantara sampai menulis satu artikel berjudul “Sistem Pondok dan Asrama Itulah Sistem Nasional.” Dan dalam tulisannya yang lain, Ki Hajar juga mengkritik habis-habisan model pendidikan kaum kolonial.

Jika menelaah dua tulisan tersebut, kita bisa menyimpulkan bahwa ia sangat yakin kalau model pendidikan ala pesantren jauh lebih baik dari model pendidikan kaum penjajah. Karena pesantren mempunyai satu elemen yang tidak dipunyai sekolah-sekolah Belanda, yakni pendidikan atau penanaman nilai yang akan melahirkan para pejuang, bukan sekadar buruh pabrik.

Ia menegaskan bahwa, “Mulai jaman dahulu hingga sekarang rakyat kita mempunyai rumah pengajaran yang juga menjadi rumah pendidikan, yaitu kalau sekarang ‘pondok pesantren’, kalau jaman kabudan dinamakan ‘pawiyatan’ atau ‘asrama’. Ada pun sifatnya pesantren atau pondok dan asrama yaitu rumah kyai guru (Ki Hajar), yang dipakai buat pondokan santri-santri (cantrik-cantrik) dan buat rumah penjaga juga. Di situ karena guru dan murid tiap-tiap hari, siang dan malam berkumpul jadi satu, maka pengajaran dengan sendiri selalu berhubungan dengan pendidikan.”

Tidak berhenti sampai di situ, sebagai kritik terhadap model pendidikan kaum kolonial, penggagas Taman Siswa ini menyatakan, “Pendidikan yang selama ini diterima orang Indonesia dari Barat jauh lebih kebal terhadap pengaruh-pengaruh politik kolonial; singkatnya, ialah pendidikan yang ada hanya untuk kepentingan pemerintah kolonial; dan ini sifatnya tetap semenjak zaman VOC meskipun di bawah politik etika. Tetapi anehnya, banyak priyayi atau kaum bangsawan yang senang dan menerima model pendidikan seperti ini dan mengirimkan anak-anak mereka ke sekolah yang hanya mengembangkan intelektual dan fisik dan semata-mata hanya memberikan surat ijazah yang hanya memungkinkan mereka menjadi buruh… Pendidikan dalam semangat kolonial telah mencegah terciptanya masyarakat sosial mandiri dan merdeka lahir batin, hanya menghasilkan suatu kehidupan yang tergantung kepada bangsa-bangsa Barat. Keadaan ini tidak mungkin hanya diselesaikan dengan konfrontasi fisik melalui gerakan-gerakan politik, tapi memerlukan bibit-bibit gaya hidup yang merdeka, ditanamkan dalam jiwa rakyat melalui sistem pendidikan untuk seluruh rakyat, yakni sistem pendidikan nasional.” (Lihat Adian Husaini, Perguruan Tinggi Ideal di Era Disrupsi: Konsep, Aplikasi, dan Tantangannya, 2019: 65-68. Lihat juga https://www.adianhusaini.net/pak-nadiem-inilah-pesan-ki-hajar-dewantara/).

Maka jelaslah bagaimana pesantren menjadi basis perjuangan sekaligus model pendidikan ideal, lebih-lebih di zaman sekarang. Menurut Adian Husaini, model pesantren adalah model pendidikan Nabi sekaligus model pendidikan yang telah melahirkan empat generasi gemilang: generasi sahabat, Shalahuddin al-Ayyubi, Muhammad al-Fatih, dan santri 1945.

Dan model pendidikan inilah yang juga dipilih (secara tidak langsung) oleh Natsir semenjak menolak mengambil beasiswa kuliah di perguruan tinggi Belanda jurusan ilmu hukum. Mungkin, langkah ini cukup kontroversial, meskipun sebetulnya orang tua beliau menerima dengan lapang dada. Namun faktanya, langkah inilah yang justru membentuk Natsir muda menjadi seorang tokoh Islam yang layak untuk disegani dan diperhitungkan. Sebab, saat itulah ia berguru langsung kepada tiga tokoh Islam yang sangat terkemuka (A. Hassan, H. Agus Salim, dan Syaikh Ahmad Surkati) sembari menceburkan dirinya ke tengah-tengah umat demi menyelesaikan berbagai macam probem yang sedang terjadi.

Bisa dibilang, inilah titik balik dan fase terpenting dalam biografi Mohammad Natsir. Ia yang awalnya hanya seorang anak pegawai rendahan, di kemudian hari, karena pilihan fenomenalnya itu, justru menjelma menjadi manusia luar biasa. Sampai-sampai perdana menteri Jepang, Takeo Fukuda, harus mengatakan bahwa, berita meninggalnya pak Natsir lebih dahsyat dari bom atom yang menghujani Hiroshima dan Nagasaki oleh. Dan inilah yang menurut Husaini, membuktikan bahwa Natsir bukan semata-mata produk zaman yang tidak bisa dihadirkan kembali. Menurutnya, Natsir adalah produk pendidikan bermodelkan pesantren ini.

Tapi menurutnya, sebuah lembaga pendidikan hanya bisa disebut pesantren atau lembaga yang menerapkan model pesantren, apabila menerapkan enam hal ini: (1) Ada keteladanan kyai dan ustadz. (2) Menanamkan adab atau akhlak. (3) Ada program tafaqquh di al-Din. (4) Menanamkan ruh dakwah/jiwa perjuangan. (5) Menanamkan jiwa kemandirian. (6) Memberikan pemahaman yang benar tentang pemikiran-pemikiran kontemporer.

Terkait dengan ciri yang keempat, Natsir tidak hanya menanamkan ruh itu kepada murid-muridnya, tapi juga telah ia amalkan. Tidak hanya lewat politik dan institusi pendidikan, Natsir juga sangat peduli dengan dakwah-dakwah di berbagai pulau terpencil, seperti daerah-daerah transmigrasi yang menjadi sasaran kristenisasi. Kepedulian itu tidak hanya ada dalam diri beliau, tapi juga ditularkan kepada murid-muridnya. Itulah mengapa biasanya, Natsir sering mengkader dai-dai muda dengan men-training mereka selama 40 hari untuk kemudian dikirim di daerah-daerah terpencil yang jauh dari perkotaan.

Husaini mengatakan bahwa ia pernah bertemu langsung dengan dai-dai didikan Natsir di Batumarta, Palembang tahun 2010. Saat itu ia diajak pergi ke sana oleh ketua Dewan Dakwah, KH. Syuhada Bahri. Saat mendegar kisah-kisah mereka, baik dari Bahri maupun muridnya langsung, spontan rasa kagum Husaini pun memuncak. Sampai akhirnya, semua kisah yang ia dengar itu, diabadikan dalam satu tulisan berjudul Mujahid-Mujahid Batumarta (https://insists.id/mujahid-mujahid-batumarta-1/ dan https://insists.id/mujahid-mujahid-batumarta-2/).

Jika kita membaca tulisan beliau, maka akan sangat tergambar dengan jelas betapa hebat dan seriusnya Natsir mencetak dai-dai yang sangat berani menyuarakan dakwah Islam di tempat-tempat yang mungkin menurut kebanyakan dari kita, sangat tidak pantas untuk disinggahi. Artinya kepedulian beliau akan dakwah, meliputi berbagai macam lapis, mulai dari pendidikan, politik, sampai ke tengah hutan.

Maka tidak salah jika natsir mendapat penghargaan sebagai tokoh dakwah Islam yang sangat berpengaruh sebagaimana Abu al-Hasan Ali al-Nadwi oleh King Faisal. Tentu apa yang sudah beliau lakukan ini belum berakhir hingga hari ini. Sebab, Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID) Mohammad Natsir masih melanjutkan itu.

Husaini pun mengelaborasi enam ciri itu menjadi tiga prinsip yang mesti diterapkan oleh semua pendidikan Islam, khususnya pesantren. Tiga hal itu ialah: Tanamkan adab atau akhlak, utamakan ilmu fardhu ‘ain, dan pilih ilmu fardhu kifayah yang tepat, sesuai dengan kapasitas akalnya dan sesuai dengan kebutuhan umat. Penekanannya ada pada yang pertama.

Alasan pertama, karena, nilai-nilai adab inilah yang akan menentukan masa depan negeri ini. Ingatlah, negeri ini tidak akan rusak oleh kejahatan orang-orang bodoh. Tapi negeri ini akan menemui ajalnya tatkala orang-orang pintar telah menggunakan ilmunya untuk memuaskan syahwat dan hawa nafsu mereka.

Kedua, karena nilai-nilai adab inilah yang tidak bisa digantikan oleh teknologi apapun di era disrupsi ini. Berbeda dengan pengajaran atau transfer of knowledge yang bisa dengan mudah digantikan oleh internet. Maka, mau tidak mau kita harus kembali kepada sistem yang pendidikan yang ideal, yaitu sistem pendidikan pesantren.

Sampai hari ini, jumlah pesantren yang terdaftar di kementrian agama ada 28.000. Bahkan menurut Ahmad Heriawan, di Jawa Barat saja ada 12.000 pesantren. Kita juga tahu bahwa 100 persen pondok pesantren adalah milik masyarakat dan satu persen pun pemerintah tidak punya.

Maka, sudah saatnya kita menerapkan model pendidikan—yang berpijak pada enam ciri tersebut yang kemudian dielaborasi menjadi tiga prinsip pendidikan Islam yang ideal itu—demi lahirnya generasi gemilang baru yang mampu melanjutkan perjuangan “bapak-bapak” kita dulu.
Husaini sampai mengatakan, “Siapapun presidennya, siapapun menterinya, insyaallah lembaga pendidikan kita apalagi pondok pesantren itu harus mampu merumuskan program-programnya sendiri, kurikulumnya sendiri, dan itu dimungkinkan”

Titik tekannya bukan pada pesantrennya, melainkan pada model pendidikan pesantren. Maka sebetulnya, model pendidikan seperti itu sangat mungkin untuk diterapkan di setiap perguruan tinggi Islam dan seharusnya mudah untuk diterapkan oleh seluruh orang tua di rumahnya masing-masing. Dan ini sekaligus menjadi PR tersendiri bagi setiap orang tua untuk menjadi guru yang bisa mendidik dan mengajar bagi anak-anak mereka.

Terakhir, untuk merealisasikan pendidikan ideal ini, jangan sampai kita melupakan satu unsur yang paling penting, yakni guru dan ruhnya. Semegah apapun bangunannya, serapi apapun kurikulumnya, tanpa guru juga ruhnya, pendidikan takkan bernilai sama sekali dan takkan ada yang patut dibanggakan darinya.

Itulah mengapa salah satu amanah Pak Natsir, ialah untuk senantiasa melahirkan guru-guru hebat yang ikhlas dan rela berkorban demi agama dan negara. Sama seperti sebelumnya, pemikiran ini juga dituliskannya dengan judul Perguruan Kita Kekurangan Guru! tahun 1938 dan dimuat dalam Majalah Pandji Islam. Salah satu kalimat penting dalam tulisan tersebut adalah kalimat yang beliau kutip dari Dr. G.J. Nieuwenhuis: “Suatu bangsa tidak akan maju, sebelum ada diantara bangsa itu segolongan guru yang suka suka berkurban untuk keperluan bangsanya!” (2008: 94).

‘Ala kulli hal, dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional 2020 ini, secara tersirat ketua umum Dewan Dakwan Islamiyah Indonesia periode ini hendak menyatakan, “Saatnya pesantren dan santri menunjukkan taringnya!”

************

Kamis, 22 Oktober 2020

At-Taqwa College Cilodong-Depok

Penulis: Fatih Madini
(Mahasiswa At-Taqwa College Depok, Penulis Buku dan Kontributor mujahiddakwah.com)

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)