Kaum Pluralis Agama dari berbagai penganut agama sering mengutip ucapan tokoh­tokoh Hindu untuk mendukung pendapat mereka. Sukidi, seorang propagandis Pluralisme Agama dari kalangan liberal di Muhammadiyah, misalnya, menulis dalam satu artikel di media massa :  

“Dan, konsekuensinya, ada banyak kebenaran (many truths) dalam tradisi dan agama­agama. Nietzsche menegasikan adanya Kebenaran Tunggal dan justru bersikap afirmatif terhadap banyak kebenaran. Mahatma Gandhi pun seirama dengan mendeklarasikan bahwa semua agama ­ entah Hinduisme, Buddhisme, Yahudi, Kristen, Islam, Zoroaster, maupun lainnya­ adalah benar.

Dan, konsekuensinya, kebenaran ada dan ditemukan pada semua agama. Agama­agama itu diibaratkan, dalam nalar pluralisme Gandhi, seperti pohon yang memiliki banyak cabang (many), tapi berasal dari satu akar (the One). Akar yang satu itulah yang menjadi asal dan orientasi agama­agama. Karena itu, mari kita memproklamasikan kembali bahwa pluralisme agama sudah menjadi hukum Tuhan (sunnatullâh) yang tidak mungkin berubah. Dan, karena itu, mustahil pula kita melawan dan menghindari. Sebagai muslim, kita tidak punya jalan lain kecuali bersikap positif dan optimistis dalam menerima pluralisme agama sebagai hukum Tuhan. (Jawa Pos, 11 Januari 2004).  

Dalam paparannya tentang Hinduism dari bukunya, The World’s Religions, Prof. Huston Smith juga menulis satu sub­bab berjudul “Many Paths to the Same Summit”. Huston Smith menulis:   “Early on, the Vedas announced Hinduism’s classic contention that the various religions are but different languages through which God speaks to the human heart. “Truth is one; sages call it by different names.” (Terjemahan bebasnya: Sejak dulu, kitab­kitab Veda menyatakan pandangan Hindu klasik, bahwa agama­ agama yang berbeda hanyalah merupakan bahasa yang berbeda­beda yang digunakan Tuhan untuk berbicara kepada hati manusia. Kebenaran memang satu; orang­orang bijak menyebutnya dengan nama yang berbeda­beda).25  

Untuk memperkuat penjelasannya tentang sikap ‘Pluralistik’ agama Hindu, Huston Smith juga mengutip ungkapan ‘orang suci Hindu’ abad ke­19, Ramakrishna, yang mencari Tuhan melalui berbagai agama: Kristen, Islam, dan Hindu. Hasilnya, menurut Ramakrishna, adalah sama saja. Maka ia menyatakan:

“God has made different religions to suit different aspirations, times, and countries. All doctrines are only so many paths; but a path is by no means God Himself. Indeed, one can reach God if one follows any of paths with whole­ hearted devotion.” (Terjemahan bebasnya: Tuhan telah membuat agama­agama yang berbeda­beda untuk memenuhi berbagai aspirasi, waktu, dan negara. Semua doktrin hanyalah merupakan banyak jalan; tetapi satu jalan tidak berarti Tuhan itu sendiri. Sesungguhnya, seseorang dapat mencapai Tuhan jika ia mengikuti jalan mana saja dengan sepenuh hati).26

Penjelasan tentang agama Hindu yang dilakukan oleh berbagai kalangan Pluralis Agama, tampaknya membuat kaum Hindu merasa ‘gerah’ dan tidak tenang. Maka, mereka pun melakukan perlawanan, dengan membantah pendapat­ pendapat kaum Pluralis Agama. Salah satu buku yang secara keras membantah paham Pluralisme Agama, adalah buku Semua Agama Tidak Sama, terbitan Media Hindu tahun 2006.

Dalam buku ini paham Pluralisme Agama disebut sebagai paham ‘Universalisme Radikal’ yang intinya menyatakan, bahwa “semua agama adalah sama”. Buku ini diberi kata pengantar oleh Parisada Hindu Dharma, induk umat Hindu di Indonesia.  

Editor buku ini, Ngakan Made Madrasuta menulis kata pengantarnya dengan judul “Mengapa Takut Perbedaan?” Ngakan mengkritik pandangan yang menyamakan semua agama, termasuk yang dipromosikan oleh sebagian orang Hindu Pluralis yang suka mengutip Bagawad Gita IV:11:   “Jalan mana pun yang ditempuh manusia ke arah­Ku, semuanya Aku terima.”  

Padahal, jelas Ngakan: “Yang disebut “Jalan” dalam Gita adalah empat yoga yaitu Karma Yoga, Jnana Yoga, Bhakti Yoga, dan Raja Yoga. Semua yoga ini ada dalam agama Hindu, dan tidak ada dalam agama lain. Agama Hindu menyediakan banyak jalan, bukan hanya satu – bagi pemeluknya, sesuai dengan kemampuan dan kecenderungannya.”27  

Bagian pertama buku ini memuat tulisan Giridhar Mamidi yang diberi judul “Semua Agama Sederajat? Semuanya Mengajarkan Hal Yang Sama?”. Di sini, penulis berusaha membuktikan bahwa semua agama tidaklah sama. Hanyalah orang­ orang Hindu yang suka menyatakan, bahwa semua agama adalah mengajarkan hal­hal yang sama. Bahkan, Bharat Ratna Bhagavandas menulis satu buku berjudul “The Essential Unity of Religions” (Kesatuan Esensial dari Semua Agama). Mahatma Gandhi pun mendukung gagasan ini.28  

Dr. Frank Gaetano Morales, seorang cendekiawan Hindu, mengecam keras orang­ orang Hindu yang menyama­nyamakan agamanya dengan agama lain. Biasanya kaum Hindu Pluralis menggunakan “metafora gunung” (mountain metaphor), yang menyatakan:   “Kebenaran (atau Tuhan atau Brahman) berada di puncak dari sebuah gunung yang sangat tinggi. Ada berbagai jalan untuk mencapai puncak gunung, dan dengan itu mencapai tujuan tertinggi. Beberapa jalan lebih pendek, yang lain lebih panjang. Jalan itu sendiri bagaimana pun tidak penting. Satu­satunya yang sungguh penting, adalah para pencari semua mencapai puncak gunung itu.”29  

Morales menjelaskan, bahwa tidak setiap agama membagi tujuan yang sama, konsepsi yang sama mengenai ‘Yang Absolut’, atau alat yang sama untuk mencapai tujuan mereka masing­masing. Tapi, ada banyak ‘gunung’ filosofis yang berbeda­beda, masing­masing dengan klaim mereka yang sangat unik untuk menjadi tujuan tertinggi upaya spiritual seluruh manusia. Universalisme Radikal – yang menyatakan bahwa semua agama adalah sama – adalah doktrin yang sama sekali tidak dikenal dalam agama Hindu tradisional.30  

Menurut Morales, gagasan persamaan agama dalam Hindu menjadi populer saat disebarkan oleh sejumlah tokoh Hindu sendiri. Ia menyebut nama Ram Mohan Roy (1772­1833) yang dikenal dengan ajaran­ajarannya yang sinkretik. Roy yang juga pendiri Brahmo Samaj, dipengaruhi ajaran­ajaran Gereja Unitarian,s ebuah sekte atau denominasi agama Kristen heterodoks. Sebagai tambahan mempelajari agama Kristen, Islam, dan Sansekerta, dia belajar bahasa Ibrani dan Yunani dengan impian untuk menerjemahkan Bibel dalam bahasa Bengali. Ia mengaku sebagai ‘pembaru Hindu’ dan memandang agama Hindu melalui kaca mata kolonial Kristen yang telah dibengkokkan.

Lebih jauh Morales menulis: “Kaum misionaris Kristen memberi tahu Roy bahwa agama Hindu tradisional adalah satu agama barbar yang telah menimbulkan penindasan, ketahyulan, dan kebodohan kepada rakyat India. Dia mempercayai mereka… Dalam semangat misionaris untuk mengkristenkan agama Hindu, kaum ‘pembaru’ Hindu ini bahkan menulis satu traktat anti­Hindu dikenal sebagai The Precepts of Jesus: The Guide to Peace and Happiness (Ajaran­ajaran Yesus: Penuntun kepada Kedamaian dan Kebahagiaan). Dari kaum misionaris Kristen ini secara langsung Roy mendapat bagian terbesar dari ide­idenya, termasuk ide anti­Hindu mengenai kesamaan radikal dari semua agama.”31  

Penggani Roy berikutnya adalah Debendranath Tagore dan Kashub Chandra Sen, yang mencoba menggabungkan lebih banyak lagi ide­ide Kristen ke dalam neo­ Hinduisme. Sen bahkan lebih jauh lagi meramu kitab suci Brahmo Samaj yang berisi ayat­ayat dari berbagai tradisi agama yang berbeda, termasuk Yahudi, Kristen, Islam, Hindu dan Budhis. “Dengan kejatuhan Sen ke dalam kemurtadan anti­Hindu dan megalomania, gerakan ini menurun secara drastis dalam pengaruh pengikutnya,” tulis Morales.

Pada abad ke­19, muncul dua tokoh Universalis Radikal dari Hindu, yaitu Ramakrisna (1836­1886) dan Vivekananda (1863­1902). Disamping dipengaruhi oleh akar­akar tradisi Hindu, Ramakrishna juga meramu ide dan praktik ritualnya dari agama­ agama non­Vedic, seperti Islam dan Kristen Liberal. Sekalipun tetap melihat dirinya sebagai seorang Hindu, Ramakrishna juga sembahyang di masjid­masjid dan gereja­ gereja dan percaya bahwa semua agama ditujukan pada tujuan tertinggi yang sama.   Gagasan Ramakrishna dilanjutkan oleh muridnya yang sangat terkenal, yaitu Swami Vivekananda.

Tokoh ini dikenal besar sekali jasanya dalam mengkampanyekan agama Hindu di dunia internasional. Tetapi, untuk menyesuaikan dengan unsur­unsur modernitas, Vivekananda juga melakukan usaha yang melemahkan agama Hindu otentik dari leluhur mereka dan mengadopsi ide­ide asing seperti Universalisme Radikal, dengan harapan memperoleh persetujuan dari tuan­tuan Eropa yang memerintah mereka ketika itu.

Vivekananda mengadopsi gagasan semacam Universalisme Radikal yang bersifat hirarkis yang mendukung kesederajatan semua agama, sementara pada saat yang bersamaan mengklaim bahwa semua agama sesungguhnya sedang berkembang dari gagasan religiositas yang lebih rendah menuju satu mode puncak tertinggi, yang bagi Vivekananda ditempati oleh Hindu. Morales mencatat  :  

‘’Sekalipun Vivekananda memberi kontribusi besar untuk membantu orang Eropa dan Amerika non­Hindu untuk memahami kebesaran agama Hindu, Universalisme Radikal dan ketidakakuratan neo­Hindu yang ia kembangkan juga telah mengakibatkan kerusakan besar.’’32  

Pada akhirnya Morales menyimpulkan, bahwa gagasan Universalisme Radikal yang dikembangkan oleh sementara kalangan Hindu adalah sangat merugikan agama Hindu itu sendiri. Ia menulis :  

“Ketika kita membuat klaim yang secara sentimental menenangkan, namun tanpa pemikiran bahwa “semua agama adalah sama”, kita sedang tanpa sadar mengkhianati kemuliaan dan integritas dari warisan kuno ini, dan membantu memperlemah matrix filosofis/kultural agama Hindu sampai pada intinya yang paling dalam. Setiap kali orang Hindu mendukung Universalisme Radikal, dan secara bombastik memproklamasikan bahwa “semua agama adalah sama”, dia melakukan itu atas kerugian besar dari agama Hindu yang dia katakan dia cintai.”33  

Ketika Hindu menolak paham “persamaan agama”, maka itu bukan sikap yang mudah, sebab pada bagian lain dari buku ini, agama Hindu juga dikatakan sebagai “agama pluralistik”. Itu karena di dalam agama Hindu sendiri, terdapat begitu banyak agama dan perbedaan yang sangat besar antara satu dengan lainnya, dimana satu dengan yang lain merupakan agama yang berbeda-­beda.

Ditulis dalam buku ini:   “Agama Hindu adalah agama pluralistik di dunia. Ia mengajarkan bahwa ada banyak jalan, banyak orang suci, dan banyak kitab suci, dan bahwa tidak ada agama dapat mengklaim memiliki kebenaran eksklusif. Ini tidaklah berarti bahwa agama Hindu tidak mengakui satu kesatuan atas kebenaran. Sebaliknya agama Hindu mengakui satu kesatuan total dan mendalam tapi satu kesatuan yang cukup luas  untuk mengijinkan keberagaman dan mengintegrasikan keserbaragaman, seperti banyak daun dari sebatang pohon beringin yang besar….

Agama Hindu dibangun di atas keberagaman dan di dalam dirinya memiliki satu variasi yang mengagumkan, dari guru­guru dan ajaran­ajaran dari apa yang tampak sebagai bentuk­bentuk yang amat primitif sampai kepada filosofi spiritual dan praktik­ praktik yoga yang paling abstrak. Seseorang dapat mengatakan bahwa terdapat lebih banyak agama di dalam Hindu daripada di luarnya. Agama Hindu mempunyai lebih banyak Dewa dan Dewi, lebih banyak pustaka suci, lebih banyak orang suci, maharesi, dan avatara dibandingkan dengan agama­agama utama dijadikan satu.”34  

Tetapi, pluralisme ini diakui masih dalam internal Hindu. Karena itu, mereka menolak pandangan kaum Hindu modern yang menyatakan, bahwa semua agama adalah satu, bahwa mereka semua pada akhirnya adalah sama, dan semuanya sama baiknya. Selanjutnya dikatakan:  

‘’Mereka melihat kepada agama­agama yang berbeda sebagai hanya sekedar jalan alternatif untuk mencapai tujuan yang yang sama, tidak lebih dari nama­nama yang berbeda untuk hal yang sama. Ini telah menyebabkan mereka mencampurdukkan agama­agama yang berbeda menjadi satu, sering dengan wiweka yang kecil, mencoba menjadikan semua hal untuk semua orang.

Sementara pandangan mereka mungkin dimotivasi oleh satu upaya yang tulus untuk menciptakan keselarasan agama dan perdamaian dunia, hal ini telah menimbulkan banyak distorsi. Di atas semua itu pandangan bahwa semua agama adalah sama telah melawan pendekatan pluralistik dari tradisi Hindu. Menjadikan semua agama sama adalah satu penolakan atas pluralisme dan dapat melahirkan bentuk lain dari intoleransi.’’35  

Catatan Kaki:

25. Huston Smith, The World’s Religions, (New York: Harper CollinsPubliser, 1991), hal. 73.
26. Ibid, hal. 74.
27. Ngakan Made Madrasuta (ed), Semua Agama Tidak Sama, (Media Hindu, 2006) hal. xxx.
28. Ibid, hal. 3.
29. Ibid, hal. 22.
30. Ibid, hal. 23.
31. Ibid, hal. 45­46.
32. Ibid, hal. 48­51.
33. Ibid, hal. 106.
34. Ibid, hal. 209­210.
35. Ibid, hal. 213

***********

Bersambung, Insya Allah..

Penulis: Dr. Adian Husaini
(Pendiri INSISTS, Ketua Program Doktor UIKA Bogor, Penulis Buku dan Pendiri Pesantren At-Takwa Depok)

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)