Sabtu, 17 Oktober 2020, kami para santri At-Taqwa College Depok (Atco) diajak oleh pimpinan kami, ustadz Adian untuk pergi berkunjung ke Dewan Da’wah Islamiyyah Indonesia atau biasa dikenal sebagai DDII. Sebenarnya kami tidak mengikuti acara apa-apa, hanya ustadz Adian saja yang akan mengikuti rapat kerja dengan para pengurus DDII lainnya. Namun berhubung ustadz Adian sudah resmi terpilih jadi ketua umum DDII dan kami memang juga belum pernah sekalipun berkunjung ke sana, maka diajaklah kami untuk mengunjungi perpustakaan DDII.

Kami berangkat sekitar pukul 8 pagi dan karena DDII berlokasi lumayan jauh dari Pondok kami, tepatnya di Jakarta Pusat, kami menempuh waktu sekitar 30 menit sampai 1 jam untuk sampai ke lokasi.

DDII memiliki perpustakaan seperti umumnya dan berukuran lumayan besar. Sesampainya di sana, teman kami Fatih dan Azzam menyerahkan buku karangan mereka untuk disimpan di perpustakaan tersebut.

Lalu kami dipersilahkan untuk melihat-lihat dan membaca buku yang tersedia di sana. Di sana tersedia banyak rak yang berisi berbagai macam jenis buku, seperti Aqidah, Fiqh, sejarah, aliran-aliran, kitab-kitab, dan banyak lagi yang lainnya.

Di sana juga ada ruangan khusus serba-serbi Mohammad Natsir, sang pendiri DDII. Ruangan khusus itu berisi karya-karyanya, skripsi, tesis, disertasi, biografi, juga koleksi foto-fotonya. Dan di samping ruangan Mohammad Natsir itu juga tersedia ruangan khusus HM. Rasjidi yang juga berisi koleksi buku-buku beliau seperti halnya ruangan Mohammad Natsir.

Kami menetap di sana hingga adzan Zhuhur berkumandang. Lalu kami pun melaksanakan Shalat Zhuhur di masjid DDII terlebih dahulu sebelum akhirnya kembali ke pondok.

Pak Zulfi Syukur – Mantan Sekretaris pribadi M. Natsir – pernah mengatakan bahwa “Dewan Da’wah adalah buah hati Pak Natsir setelah Masyumi.”
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
Ungkapan itu bukan sembarangan. Ketika konflik PRRI meletus pada 1958, Masyumi yang dikambing hitamkan oleh pemerintah pusat, semakin kehilangan ruhnya kala Pak Natsir dan beberapa rekan politiknya dijebloskan ke penjara. Hingga pada 1960, Masyumi mundur dari pentas perpolitikan nusantara.
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
Seiring dengan runtuhnya Orde Lama, Pak Natsir kemudian dibebaskan. Namun, arus politik yang berbeda, ternyata tak kunjung memberikan momentum untuk membangkitkan Masyumi. Akhirnya, dengan sisa kekuatannya, Pak Natsir bersama para legenda Masyumi lainnya seperti Prof. H.M. Rasjidi, mendirikan satu “rumah” perjuangan baru untuk umat Islam: Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (est. 1967).
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
8 tahun mendekam di penjara, membuat Pak Natsir merasa bertanggung jawab atas kesemuan gerakan umat Islam di Indonesia. Perasaan itu menuntut beliau bergerak cepat untuk menyatukan dukungan dari berbagai organisasi Islam di Indonesia. Alhamdulillah, melalui mushawarah alim ulama dan tokoh-tokoh Nasional dan daerah tanggal 26 Februari 1967, Dewan Da’wah berdiri dengan bangga.
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
Dengan kecerdasan, kharisma, dan skill kepemimpinan yang diberikan Allah pada beliau, Dewan Da’wah mampu menjadi angin segar bagi masyarakat Muslim di Indonesia, bahkan dunia Islam secara luas.

Tujuan organisasi ini tidaklah mudah, yaitu membentengi dan membela aqidah serta meningkatkan kefahaman Ummat terhadap nilai-nilai Islam dalam segala aspek kehidupan : Aqidah, Ibadah, Akhlaq dan Muamalah termasuk politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan. (sumber: website resmi DDII).

Dewan Da’wah sejak awal sudah menjadi milik umat Islam Indonesia. Menurut cerita dari Pak Zulfi Syukur, pada dekade 80-an kantor Dewan Da’wah setiap harinya bisa lebih ramai dari kantor Samsat. Menariknya, baik tamu dari kalangan pejabat yang mengurus kegiatan politik tingkat tinggi, maupun masyarakat kecil yang mungkin hanya ingin bersalaman dengan Pak Natsir, diberikan satu ruangan tunggu yang sama.
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
Sampai suatu ketika, Pak Natsir sedang menerima rombongan pengurus Masjid di ruangannya. Karena asyik mengobrol, beliau mengabaikan para pejabat yang tengah menunggu di luar, hingga seseorang di antara mereka jengkel dan protes kepada beliau.

Mendengar pejabat itu, Pak Natsir hanya tersenyum, “Bukankah dari mereka pekerjaan kita? Tanpa mereka kita bukan apa-apa,” ucap beliau dengan gayanya yang bersahaja.
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
Dewan Da’wah adalah warisan penting dari Pak Natsir, untuk itu, sudah waktunya kita – anak muda Muslim Indonesia – mengenal dan melanjutkan apa yang beliau impikan untuk umat.
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
Mari berperan dengan ilmu dan keikhlasan!
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
*************

Kantor Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia, 17 Oktober 2020.

Penulis: Zein Addien & Azzam Habibullah
(Mahasiswa At-Taqwa College)

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)